Selamat Datang di portal Mat Belatong

Friday, July 27, 2007

MAT BELATONG DAN “HIJAU BUMIKU“

Oleh A. Halim R

SEBUAH kebiasaan Mat Belatong, setiap kali ada bertemu kawan atau kenalan yang baru datang dari daerah pedalaman Kapuas, semisal Sanggau, Sintang, Kapuas Hulu, selalu ia bertanya: Air pasang atau surut!?
Kalau mendengar pasang, apalagi pasang kuat, apalagi tembok sampai lapot (jalan sampai tergenang), Mat Belatong berdoa:Ya Allah, jangan terlalu lama pasang ini, cukuplah untuk sekadar membersihkan muka bumimu dari segala macam hama, cukuplah untuk membesarkan anak-anak ikan yang baru memijah, cukuplah sekadar membunuh gulma untuk menjadi rabuk tanah. Kalau pasang lama, hamba kasihan para penoreh karet tidak bisa bekerja. Dan yang terlebih hamba takutkan penebangan kayu makin bersimaharajalela! Air pasang makin mempermudah mereka mengeluarkan hasil tebangan ke sungai-sungai kecil, untuk kemudian keluar ke Sungai Kapuas!
Tatkala dikatakan air surut, apalagi sampai kelihatan pasir dasar sungai, Mat Belatong berdoa: Ya Allah hamba mohon jangan sampai kemarau berlama-lama, sebab kehidupan makhluk air-Mu sangat terancam. Danau-danau di Tayan, di Sintang, dan Kapuas Hulu menjadi kering, tanah dasar danau menjadi kerontang dan merekah. Yang tersisa, tinggal alur air yang kecil dan sempit, dengan air keruh bewarna coklat. Dan di mana-mana telah terpasang beragam alat penangkap ikan, bahkan telah menganga ribuan serok “waring“ penangkap anak ikan semua ukuran! Dan ikan-ikan yang hidup pun ketiadaan makanan, kecuali memangsa sesamanya! Lebih dari itu, bermunculan ribuan mesin Dong Feng di sepanjang sungai, menyauk emas menebar merkuri!
“Ya Allah, aku menjadi saksi kesemuanya ini, tanpa dapat berbuat apa-apa. Kudengar tangis bumi, kudengar tangis rimba. Kusaksikan pohon rebah satu demi satu, kudengar lengkingan terakhir dari banyak margasatwa tatkala mengakhiri hidupnya! Wewangian rimba telah berganti dengan sengaknya bau bensin dan solar, bisikan angin dan nyanyian margasatwa telah berganti dengan deru chainsaw dan logging truck! Kemurnian air sungai dan danau-Mu telah tercemar oleh racun dan tuba! Surga yang Engkau ciptakan di bumi telah hancur sia-sia karena kerakusan sementara manusia!“ ucap Mat Belatong mengadu kepada Tuhannya.
Syukurlah dalam keadaan hati luluh-lantak seperti muka bumi Kalbar ini, Mat Belatong masih terhibur membaca sebuah slogan di belakang baju kaus seseorang hamba Allah: Hijau Bumiku.
Mat Belatong berpikir, mungkin ada yang mentertawakan slogan itu, bahkan ingin menambah dua kata di belakangnya: Hijau Mataku!
Kalau sudah “hijau mataku“ tentu yang terbayang adalah: duit! Dan untuk duit, banyak orang rela mengorbankan manusia dan makhluk lain, menimbulkan kerusakan di muka bumi! Karena duit, orang bisa lupa mati, menafikan kehidupan akhirat!
Padahal, sebatang pohon, bukan cuma milik manusia, tapi juga diperuntukkan Allah bagi berbagai makhluk ciptaannya. Dari akar, batang, daun, bunga hingga buahnya.
Sebatang pohon tengkawang yang tumbuh di pinggir sungai, bukan hanya bisa memberi manfaat kepada manusia, tetapi juga menghidupi serangga, kancil, babi, termasuk ikan dan lain margasatwa.
Tatkala rimba telah hilang, sirna pulalah segala makhluk yang mengambil manfaat darinya, hilanglah mata rantai lingkaran kehidupan yang ada di sana. Keseimbangan alam goncang, musim tak berjalan normal, pasang-surut air tak beraturan lagi!
Mat Belatong pernah terpana menyaksikan padang hilalang seluas mata memandang di Kecamatan Ella, dekat Bukit Baka, di bibir perbatasan Kalbar-Kalteng. Di sana, terasa sebuah kesunyian yang mencekam, di tengah teriknya matahari.
Tiada seekor satwa yang terlihat, tiada cericit burung, tiada seekor unggas pun yang berani melintas di tengah lautan hilalang itu. Tiada tempat berteduh, tiada tempat hinggap!
Akan begitukah masa depan permukaan bumi Kalbar. Akan masih adakah mata air di muka bumi yang demikian itu. Bahkan sungai pun akan kehilangan hulunya!
Perbuatan manusia hari ini akan dirasakan akibatnya esok, perbuatan aniaya sang ayah akan diderita oleh anaknya kelak!
Dan tatkala Allah bertindak, bencana alam datang, semuanya tergulung bencana. Termasuk yang tidak berbuat aniaya!
Kalaupun terjadi penghijauan hari ini – seperti yang diajak oleh sebuah slogan -- sebaiknya bukan sekadar penghijauan asal hijau! Melainkan rehabilitasi terhadap hutan dan rimba Kalbar yang telah musnah. Kendati berdikit-dikit, tapi berkesinambungan. Seyogianya, jangan tampal bumi Kalbar yang sudah banyak plontos dan botak itu dengan tanaman asing. Melainkan dengan bibit tanaman lokal, yang memenuhi keinginan: penghijauan terlaksana, dijadikan duitpun bisa. Lebih dari itu, bermakna pula sebagai rehabilitasi terhadap habitat margasatwa, rehabilitasi terhadap populasi margasatwa Kalbar yang kian punah! Bukan cuma manusia yang menikmatinya, tapi juga makhluk Allah yang lain!
Alangkah baiknya bila setiap daerah, kabupaten di Kalbar ini merehabilitasi hutannya dengan tanaman ungggulan masing-masing. Tak dirawat baikpun bisa tumbuh, apalagi jika dirawat baik seperti perlakuan kita terhadap tanaman asing, tentu ia akan memberikan manfaat maksimal!
Ada yang menanam kayu belian, ada yang menanam berbagai jenis meranti, ada yang menanam jambu mete, ada yang bertanam coklat, ada yang bertanam melinjo, karet dan lain-lain. Tanamlah sesuatu yang penjualannya bisa dilakukan oleh petani sendiri, tidak tergantung kepada sesuatu pihak atau penampung. Terutama untuk daerah perbatasan, tanamlah sesuatu yang dapat dilego sendiri ke luar negeri oleh petani. Jangan dulu berbicara “pajak tak masuk“, tapi biarkan dulu masyarakat meraih kesejahteraannya! Tatkala petani berduit, anaknya bersekolah dan pintar, itu sebuah investasi besar untuk masa depan Kalbar. Pemasukan pajak akan datang sendiri!
Tatkala reboisasi, pemanfaatan lahan diperuntukkan bagi tanaman monokultur “asing” semisal sawit, bertanyalah kepada para petani lokal di daerah Ngabang, Perindu dan beberapa daerah lain. Apa yang telah didatangkan sawit kepada mereka? Dan bertanyalah kepada mereka, lahan di pinggir jalan itu sudah milik siapa? Masih milik merekakah, atau sudah tergadai dan terjual kepada orang-orang yang masih ada kait-mengaitnya dengan perusahaan sawit bersangkutan!
Sebuah “penghinaan“ telah diderita petani sawit lokal, ongkos angkutan buah sawit ke pabrik per kg bisa lebih mahal dari harga pembelian buah sawit segar yang dilakukan oleh pihak perusahaan (pabrik). Dan adakah kebun sawit bisa menjadi habitat margasatwa, selain tikus dan bangsa kecoa? Tanah macam apa yang tersisa dari bekas kebun sawit yang tidak produktif itu lagi?
Dan tatkala demam penanaman pohon jati melanda sementara orang, adakah ini benar menjanjikan? Niscaya jati yang dihasilkan tidaklah sekualitas jati Jawa, sama halnya batang kelapa Kalbar tak sama kekuatannya dengan kelapa Jawa! Kecuali itu, adakah manfaatnya untuk margasatwa?
Lalu, apa kabar dengan proyek reboisasi akasia di daerah Kebebu Nanga Pinoh – berpuluh tahun lalu – yang sering benar “terbakar“?!
Mat Belatong tak lupa, sampai salah seorang insinyur karyawan perusahaan yang menangani proyek tersebut bunuh diri terjun dari jembatan Kapuas Pontianak!
Proyek ini salah satu cermin tempat berkaca!
Sungguh benar bila penanaman pohon engkaras (pohon biang getah gaharu) digalakkan di daerah ini. Sungguh benar bila orang Dayak Bukat dan Punan diajak ke Jawa untuk belajar membuat rumah walet, agar mereka tak begitu tergantung lagi dari walet gua! Banyak hal yang bisa dibuat, asal tulus dan berpikir.
“Hijau Bumiku, Hijau Mataku“ mungkin sebuah slogan yang paling kena untuk kita saat ini. Apalah maknanya sebuah semboyan, tatkala pembabatan hutan, pengrusakan alam terpampang di depan mata aparat, dan pejabat (baik sipil maupun bersenjata), namun ia tidak berbuat sesuatupun! Sama seperti yang dilakukan Mat Belatong, namun berbeda! Diam-nya Mat Belatong memanjatkan doa, diamnya aparat dan pejabat kejatuhan keponjen (kantung duit – pen) hijau!
Sebuah riwayat menceritakan, pada suatu malam Imam Al-Ghazali bermimpi, Allah memperlihatkan surga kepadanya. Sang Iman bertanya-tanya, amal kebajikan apa yang telah dilakukannya sehingga Allah berkenan memperlihatkan surga kepadanya? Adakah karena ia telah menulis kitab Ihya Ulumuddin yang terkenal itu?
Suatu malam ia bermimpi, Allah berkata kepadanya: Lupakah engkau pada suatu ketika engkau menulis, seekor lalat telah masuk ke dalam tempat dawatmu? Dan engkau mengeluarkannya, lalu membersihkannya dengan penuh rasa kasih sayang. Dan engkau melepaskannya dan membiarkannya terbang!
Sang Imam termangu. Kiranya rasa kasih sayang yang ditebarkan kepada sesama makhluk, lebih bermakna dari mengarang Kitab Ihya Ulumuddin?! ***

(Pontianak, 10 Juli 2005)

No comments: