Selamat Datang di portal Mat Belatong

Monday, November 26, 2007

Kisah "Nabi Baru" dan Jamaahnya


Oleh A. Halim R

PERTENGAHAN Oktober 2007 – usai puasa Ramadan 1428 H – negara Indon eh INA dihebohkan oleh kedatangan seorang “nabi baru” bernama Ahmad Mushaddeq yang meluncur lewat aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah! Kedatangannya disambut hangat oleh ratusan pengikut di Padang Sumatera Barat, dan Bogor Jawa Barat. Busana kebesarannya pun macam orang Barat: berdasi, berjas lengkap, bersepatu mengkilap, bersongkok hitam model khas Indonesia. Perawakannya tegap, wajahnya ada sedikit serupa: Saddam Husein mantan Presiden Irak!

Di Pasar Sungai Jawi, Sungai Bangkong, Parit Pekong, sampai ke Sungai Adong Pontianak, masyarakat pambar! Seorang bibi penjual sayuran di Pasar Sungai Jawi memprovokasi: Bagos kite keremos jak mukenye ramai-ramai, kan die tu bise ditengok, bise dipegang!
Mat Belatong dan Ketuk alias Mat Ketumbi mengikuti dengan serius dan seksama berita kedatangan “nabi baru” lewat tayangan tivi. Mereka merasa aneh, berita yang berkenaan dengan “nabi baru” itu hanya gencar di layar Trans TV, sementara di stasiun tivi lainnya minim sekali, apalagi di suratkabar yang terbit di daerah ini. Adakah “nabi baru” Ahmad Mushaddeq itu hanya “teken kontrak” dengan Trans TV untuk membuat rekaman filem, atau melansir rekaman kamera video tentang dirinya dari tempat tersembunyi? Mungkin iya.
Mat Belatong dan Ketuk berusaha memaklumi hal itu. Sebab Nabi Muhammad saja pada awalnya membaiat dan menyebarkan ajaran Islam secara sembunyi-sembunyi dari tempat yang tersembunyi. Kaum kafir Quraisy sangat ganas dan memusuhinya tatkala itu. Bukan seperti dai-dai kondang masa kini yang diundang ke sana-sini, sama sekali tak berhadapan dengan pihak yang memusuhi. Anehnya lagi ada khatib yang “ngomel” di mimbar masjid terhadap umat Islam yang sudah mau salat dan ikhlas masuk masjid!
Apa yang dilakukan oleh Mushaddeq dan Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang disiarkan oleh Trans TV itu seperti sedemikian terbuka, bahkan seakan “menantang” dialog dan “debat” dengan para ulama Islam. Ketuk dan Mat Belatong penyandang gelar S5 (séngét, selembe, sepok, sekalor, selebor) merasa heran. Kemana para ulama terkemuka, kemana para ahli tafsir Al-Quran, dai kondang, dan “dai gaul” di negeri ini? Tak mampukah melakukan “debat terbuka” dengan Ahmad Mushaddeq? Adakah semuanya bertameng dan bersembunyi di belakang MUI (Majelis Ulama Indonesia). Padahal: untuk menetapkan hari Lebaran: beragam. Ngadap Mushaddeq: diam?
Ketuk mencatat dari pemberitaan tivi, MUI tak bersedia melakukan dialog dengan “nabi baru” Ahmad Mushaddeq. Sejak awal Oktober 2007 lalu, MUI telah menyatakan: Al-Qiyadah Al-Islamiyah sebagai aliran sesat!
Sedikit kecewa, Ketuk berkata,”Tak bisakah Mushaddeq itu dilawan dialog terbuka oleh pada ulama, ahli tafsir dan dai kondang kita, biar dia: KO, sekak-mat! Sehingga dia benar-benar merasa kalah dan bersalah. Para pengikutnya pun hilang kepercayaan terhadapnya, tak mau lagi ikut Mushaddeq, lalu kembali dengan sadar kepada ajaran Islam yang benar. Umat Islam yang imannya rapuh, bisa menjadi teguh! Zaman dulu saja, kusir pandai berdebat, konon pula para anbia, aulia dan ulama! Tidakkah untuk mengadakan debat terbuka itu tinggal konteks saja Trans TV.”

Mat Belatong menjawab,”Udah Ketuk, itu bukan takar kite mempercakapkannye. Nantik jadi salah pulak!”
Ketuk sempat mencatat, beberapa “amalan” (praktik) yang dilakukan oleh pengikut AL-Qiyadah tersebut. Mereka mengucapkan “sahadat” (persaksian) yang berbunyi: Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Al-Mahdi Al-Maw’ud, saya bersaksi bahwa Anda Al-Masih Al-Maw’ud. (Baca secara lisani saja, jangan ditasdik dengan hati dan ditaati dengan fi’li – perbuatan – kecuali kalau mau jadi pengikut “nabi baru” Ahmad Mushaddeq! Pun maaf, kalau petikan kalimat “sahadat” ini ada kesalahan. Sebab Ketuk memang: agak pekak beruang, bukan pekak berduit! – pen).
Tampak di layar tivi burok Mat Belatong: sang “nabi” dan pengikut yang dibaiatnya bersalaman bagaikan orang yang “berpanco”.
Dalam cacatan Ketuk, Mushaddeq mengaku berpegang kepada Kitab Suci Al-Quran, tetapi tidak mengakui Al-Hadis (ucapan Nabi Muhammad selain yang tertera di dalam Al-Quran – pen). Mushaddeq mengaku bahwa Al-Quran sudah ada di kepalanya, ruh Al-Quran sudah turun kepadanya. Ia menakwilkan ayat-ayat Al-Quran berdasarkan semua ilmu tafsir. Mendasarkan ajarannya kepada ayat-ayat yang muhkamat (terang, jelas artinya) dan menakwilkan ayat-ayat mutasyabihat (kurang terang dan kurang jelas artinya). Kecuali itu ajarannya berdasarkan rukyah (penyaksian mata jasmani) dan kasyaf (penyaksian mata ruhani), termasuk petunjuk lewat mimpi. “Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad juga menerima wahyu lewat mimpi,” demikian ucapan Mushaddeq yang dicatat Ketuk. Mushaddeq mengaku pula bahwa ia telah menerima “wahyu kenabian” sejak awal 2001, dan baru memproklamasikan diri sebagai “nabi” setelah enam tahun kemudian. Dewasa ini ia mengaku sedang berada pada “periode Al-Makkiyah” (periode ketika Nabi Muhammad menerima wahyu tatkala masih berada di Mekah, sebelum melakukan hijrah ke Madinah – pen).
Mereka tidak salat lima waktu, melainkan hanya salat malam (qiyamul lail). “Nabi Muhammad baru salat lima waktu setelah 13 tahun, sejak menerima wahyu pertama,” ucap Mushaddeq yang dicatat Ketuk.
Nurlaila istri Mat Belatong mengatakan bahwa ia mendengar berita di tivi, Ahmad Mushaddeq dan pengikutnya tidak membaca surat Al-Fatihah ketika salat.
Menurut Drs M Zain Plt Kepala Taman Budaya Kalbar, ia mendengar lewat siaran tivi bahwa Mushaddeq dan pengikutnya hanya melakukan puasa selama tiga hari.
Jumat 26 Oktober 2007 berita Trans TV menyebutkan bahwa dua jamaah Al-Qiyadah Al-Islamiyah masing-masing bernama Mujiono dan Mamat telah ditangkap polisi di Jakarta karena mengedarkan selebaran yang berisi penodaan terhadap agama. Salah seorang warga Cengkareng di Jakarta mengaku bahwa ia pernah ditawari untuk menjadi pengikut Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Dengan membayar Rp 700.000,- bisa masuk surga! (Duit “setoran ke surga” ini tidak jelas, apakah akan masuk kocek Mujiono atau Mamat, atau setoran ke kocek “nabi baru” Ahmad Mushaddeq – pen).
Sebuah berita tivi mengabarkan pula bahwa Ahmad Mushaddeq yang kini berusia 63 tahun, pernah menjadi pelatih bulutangkis nasional (1971 – 1982), dan bukan berasal dari kalangan santri.
Minggu 28 Oktober 2007 beberapa stasiun tivi memberitakan bahwa hari Sabtu 27 Oktober 2007, lima pengikut Al-Qiyadah menyatakan insyaf dan mengucap dua kalimat sahadat (pernyataan masuk Islam) di Masjid Al-Wustha Padang disaksikan oleh Ketua MUI Padang. Ketua MUI Padang mengimbau agar 3000 lebih pengikut aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah di Padang bertobat. Menurut Ketua MUI Padang, keberadaan aliran yang bernabikan Ahmad Mushaddeq itu terbongkar pertengahan Ramadan 1428 H lalu. Sabtu 27 Oktober 2007 itu pula masyarakat Islam di Pamijahan Gunung Bunder (Bogor) mengadakan demo teaterikal “membunuh nabi baru Ahmad Mushaddeq”. Mereka menolak tudingan bahwa Gunung Bunder sebagai pusat kegiatan aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Sebab tak ada warga Gunung Bunder yang jadi pengikut Ahmad Mushaddeq. Mereka meminta agar polisi secepatnya menangkap H Salam alias Ahmad Mushaddeq itu.
Juga pada hari yang sama 18 orang pengikut “nabi baru” di Kebon Jeruk Jakarta minta pengamanan ke Polsek Kebon Jeruk. Mereka ketakutan mendengar akan diserang oleh sebuah ormas Islam. Dua pengikut lainnya akan menyusul menyerahkan diri.
Seorang warga di Kompleks Perumahan Sunrise Garden Jakarta Barat mengungkapkan, dalam praktiknya pengikut aliran Al-Qiyadah itu mengajak warga setempat masuk aliran mereka lewat SMS (pesan singkat telefon genggam). Kalau tak mau: dianggap musyrik (orang yang menyekutukan Allah atau penyembah selain Allah).
Menurut pengakuan Hadi Pratikno salah seorang pimpinan Al-Qiyadah yang sudah ditahan polisi di Jakarta, pengikut aliran tersebut di Indonesia berjumlah sekitar 50 ribu orang. Mereka ada di Jogja, Batam dan beberapa kota lainnya di Indonesia.
Senin 29 Oktober 2007, tivi Trans 7 memberitakan markas Al-Qiyadah Al-Islamiyah di Sidoarun (Sleman – Jogja) telah di serang oleh sebuah ormas Islam. Enam orang pengikut Mushaddeq telah ditangkap polisi, diamankan di Polres Sleman. Warga setempat mengaku keberadaan aliran itu telah meresahkan masyarakat sejak dua bulan lalu, dan diduga telah masuk ke wilayah tersebut sejak tahun 2005.
Diberitakan pula bahwa markas Al-Qiyadah Al-Islamiyah di Desa Cimindal Bogor yang berupa sebuah vila lengkap dengan kolam renang telah ditinggalkan Mushaddeq dan para pengikutnya.
Selasa 30 Oktober 2007, ramai tivi memberitakan: Senin malam 29 Oktober 2007 istri dan anak Mushaddeq dibawa ke Kantor Polda Metro Jaya. Istri “nabi baru” itu bernama Gin Kasan Harjo (nama asli: Waginem!). Dan pada malam itu juga Mushaddeq yang betapok entah di mana menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya. Ia digiring masuk ke Kantor Polda Metro Jaya tak menjawab sepatah pun pertanyaan wartawan. Rambutnya agak kusut tanpa songkok, ubun-ubun agak sulah, namun masih bisa tersenyum. Jas dan dasi tak tampak lagi. Empat dari 12 orang “sahabat nabi baru” itu tertangkap pula oleh polisi. Pada malam yang sama dua pengikut Al-Qiyadah Al-Islamiyah ditangkap polisi di Surabaya.
Di Bandar Lampung, anggota jamaah yang bernama Asmadi Asyikin dan Mustafa pun diamankan polisi. Di Cilacap, Surip Maliono dan istrinya Ida Farmawati bersama seorang jamaah lainnya digelandang ke kantor polisi. Pada hari yang sama markas Al-Qiyadah di Pancoran Jakarta digempur massa, enam orang jamaahnya diangkut ke Polres Jakarta Selatan. Di Padang, seorang pengikut Mushaddeq mengaku ikut aliran Al-Qiyadah gara-gara ikut pengajian di kantor mereka.
Di tengah hiruk-pikuk berita penangkapan Mushaddeq dan para jamaahnya itu, Selasa 30 Oktober 2007 Lia Eden pemimpin aliran “kerajaan tuhan” yang mengaku dirinya jelmaan malaikat Jibril, keluar dari penjara! Ia yang yang meramu berbagai ajaran agama dan ingin melenyapkan ajaran Islam dari muka bumi, divonis dua tahun penjara oleh pengadilan di Jakarta Desember 2005 lalu. Kurang dari dua tahun ternyata ia telah bebas, dan pulang ke rumahnya di Jalan Mahoni Kelurahan Bungur – Cempaka Putih Jakarta. Kalau Mushaddeq mengaku dirinya sebagai “Al-Mahdi Al-Maw’ud” maka Lia Eden telah lebih dulu mengangkat anaknya yang bernama Abdurrahman sebagai Imam Mahdi!
Keluar dari penjara Lia Eden mengatakan bahwa ia dan pengikutnya akan terus menjalankan keyakinannya. Dakwaan sebagai pembawa “aliran sesat” telah ia bayar dengan hukuman dua tahun penjara.
Rabu 31 Oktober 2007, ramai tivi memberitakan: Lia Eden mengurung diri di kamar, tak mau ditemui wartawan dan menolak diberitakan secara luas. Sejumlah pengikut ajaran “kerajaan tuhan” yang berada di rumah Lia Eden, mau menerima wartawan dan menyatakan bahwa keyakinan mereka tidak berubah. Beberapa warga setempat mengakui, bahwa kembalinya Lia Eden ke lingkungan mereka tidak ada masalah. Sebab Lia Eden dan pengikutnya tak ada menghasut warga untuk mengikuti ajarannya.
Tanggal 31 Oktober 2007, Polda Metro Jaya menetapkan Mushaddeq dan dua kawannya sebagai: tersangka penyesatan agama!
Hari-hari selanjutnya pesawat tivi diramaikan dengan berita penangkapan dan penyerahan diri (minta perlindungan – pen) jamaah Al-Qiyadah Al-Islamiyah kepada polisi di berbagai kota dan provinsi di Indonesia.
Ketuk dan Mat Belatong mengira-ngira, kalau Elia Khadam eh Lia Eden yang mengajarkan aliran sesat dan ingin menghapuskan agama Islam telah mendapat ganjaran dua tahun penjara, entah berapa pula yang diterima Mushaddeq. Mungkin di bawah 22 bulan, sebab ia “hanya” mengubah “sahadat rasul”, masih berkitab kepada Al-Quran dan tidak bertekad “memerangi” Islam. Mungkin reken-mereken hukuman ini pun telah dipikirkan oleh Mushaddeq sebelum memproklamasikan diri sebagai Al-Mahdi Al-Maw’ud. Boleh pikir, kalau mengaku “nabi” bisa mendatangkan deposito sekitar Rp 5 miliar saja (baik dari dalam maupun luar negeri), bukankah keluar dari penjara masih ada restan-nya untuk hidup berleha-leha?
Ketuk dan Mat Belatong berpikir, Mushaddeq dan para sahabatnya termasuk orang “hebat”. Kalau benar mereka telah berhasil menyahadatkan – walau sesat – sekitar 50 ribu pengikutnya dari berbagai suku bangsa dan etnik di negeri ini, tentu dia punya strategi dan metode dakwah yang tinggi, pembicara yang piawai, punya pemahaman yang “hebat” – walau sesat – terhadap ayat-ayat Al-Quran! Apa tak “hebat”: mampu meyakinkan orang sebanyak itu untuk mengikuti ajarannya! Dari budak kecik sampai orang tua, dari mahasiswa, guru agama sampai pengusaha kaya!
“Ente udah mbawak berape orang untok membaca sahadat masok Islam ke kantor agama, Jon?” tanya Ketuk kepada sahabatnya. Mat Belatong diam: merasa tersindir!
Fatwa ulama dan tekanan fisik massa memang telah “mengalahkan” Lia Eden, Mushaddeq beserta jamaahnya secara jasmani, mungkin juga lisani. Namun adakah mereka benar-benar telah “terkalahkan” hingga ke hati nurani sehingga menerima Islam dengan penuh keikhlasan murni? Entahlah.
Jumat 9 November 2007 malam, tiba-tiba Mushaddeq bikin “pambar” lagi di layar Metro TV. Bertempat di lantai dua gedung kriminal Polda Metro Jaya, dihadiri Pengurus MUI Pusat, Qurasy Shihab – ahli tafsir Al-Quran – dan wartawan, Mushaddeq bertobat! (baca: bertobat, bukan berobat! – pen).
Dia mengucap dua kalimat sahadat: Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah.. Ia menyatakan: menarik seluruh pernyataan yang telah diucapkannya, dan akan terus berdakwah bersama para pengikutnya! Tak ada “debat kusir” Mushaddeq ditayangkan, mungkin memang ia tak ingin lagi berdialog apalagi berdebat. Ia hanya ingin ber-“tobat”, mungkin juga: berobat! Ia mengaku sebagai manusia biasa, bukan nabi atau rasul, hanyalah sekadar seorang dai! Tampak di layar tivi entah siapa-siapa berpeluk-pelukan mesra dengan Mushaddeq: bak menyambut orang pulang haji! Hilang cerita jadi Al-Mahdi Al-Maw’ud, balik mengakui: Muhammad Rasulullah!
Adakah Mushaddeq ngeri juga dengan “ancang-ancang” hukuman 20 tahun penjara yang “diteriakkan” sementara manusia di Indonesia? Entahlah! Kalau dihukum dua tahun penjara: mungkin masih tahan juga bahu memikul, ada gunanya juga modal terkumpul! Kalau 20 tahun penjara: alamak, mungkin awak “gem” di penjara!
Bagaimana dengan para jamaahnya?
Lucu, tragis, ironis, miris! Ada jamaah di beberapa daerah di Indonesia yang ngotot: bersikukuh tetap mengakui Mushaddeq sebagai nabi, padahal “nabi”-nya sudah “membelot”. Sebagian lainnya mungkin: berbakul-bakul sumpah-seranahnya kepada “Wak Salam” suami Waginem. Ayo, siapa lagi menyusul mau jadi “nabi” atau, labi-labi? ***

(Tulisan ini sengaja dibuat sebagai catatan, mungkin ada manfaatnya untuk menyambut Al-Mahdi dan “nabi baru” lagi – pen).

(Pontianak, 10 November 2007).

2 comments:

Jethro said...

Nurlaila istri Mat Belatong mengatakan bahwa ia mendengar berita di tivi, Ahmad Mushaddeq dan pengikutnya tidak membaca surat Al-Fatihah ketika salat.
Menurut Drs M Zain Plt Kepala Taman Budaya Kalbar, ia mendengar lewat siaran tivi bahwa Mushaddeq dan pengikutnya hanya melakukan puasa selama tiga hari.
Jumat 26 Oktober 2007 berita Trans TV menyebutkan bahwa dua jamaah Al-Qiyadah Al-Islamiyah masing-masing bernama Mujiono dan Mamat telah ditangkap polisi di Jakarta karena mengedarkan selebaran yang berisi penodaan terhadap agama. Salah seorang warga Cengkareng di Jakarta mengaku bahwa ia pernah ditawari untuk menjadi pengikut Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Dengan membayar Rp 700.000,- bisa masuk surga! (Duit “setoran ke surga” ini tidak jelas, apakah akan masuk kocek Mujiono atau Mamat, atau setoran ke kocek “nabi baru” Ahmad Mushaddeq – pen).
---------------

itu yg bikin rakyat jadi pekak badak, katanya katanya dengar di tivi dengar di majalah baca di radio ... pada prinsipnya semua orang semua umat semua agama sedang menunggu entah itu namanya imam mahdi, pari kesit, satria piningit, juru selamat, bla bla bla yg laen. Tapi tatkala ada anak manusia yang menawarkan dirinya, damnnnn semua meludah, tanpa cari tahu dulu elmunya, tanpa cari tau dulu apa visi misinya, apa pegangannya, yg penting kalo gak sama dengan apa yang diyakininya, status tertolak. Kalo begitu caranya mah kaga ngikutin sunnah para rosul, jadi baik yang mengklaim rosul dan yang menolak rosul itu sama-sama menggenapi ayat-ayat Alloh, karena memang kedatangan Utusan-Nya pasti ada yg menantang, banyak yang menantang, mayoritas yg menantang, demokrasi yang menentang sistem ke-esa-an hukum Allah. 42.13

Jethro said...

Nurlaila istri Mat Belatong mengatakan bahwa ia mendengar berita di tivi, Ahmad Mushaddeq dan pengikutnya tidak membaca surat Al-Fatihah ketika salat.
Menurut Drs M Zain Plt Kepala Taman Budaya Kalbar, ia mendengar lewat siaran tivi bahwa Mushaddeq dan pengikutnya hanya melakukan puasa selama tiga hari.
Jumat 26 Oktober 2007 berita Trans TV menyebutkan bahwa dua jamaah Al-Qiyadah Al-Islamiyah masing-masing bernama Mujiono dan Mamat telah ditangkap polisi di Jakarta karena mengedarkan selebaran yang berisi penodaan terhadap agama. Salah seorang warga Cengkareng di Jakarta mengaku bahwa ia pernah ditawari untuk menjadi pengikut Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Dengan membayar Rp 700.000,- bisa masuk surga! (Duit “setoran ke surga” ini tidak jelas, apakah akan masuk kocek Mujiono atau Mamat, atau setoran ke kocek “nabi baru” Ahmad Mushaddeq – pen).
---------------

itu yg bikin rakyat jadi pekak badak, katanya katanya dengar di tivi dengar di majalah baca di radio ... pada prinsipnya semua orang semua umat semua agama sedang menunggu entah itu namanya imam mahdi, pari kesit, satria piningit, juru selamat, bla bla bla yg laen. Tapi tatkala ada anak manusia yang menawarkan dirinya, damnnnn semua meludah, tanpa cari tahu dulu elmunya, tanpa cari tau dulu apa visi misinya, apa pegangannya, yg penting kalo gak sama dengan apa yang diyakininya, status tertolak. Kalo begitu caranya mah kaga ngikutin sunnah para rosul, jadi baik yang mengklaim rosul dan yang menolak rosul itu sama-sama menggenapi ayat-ayat Alloh, karena memang kedatangan Utusan-Nya pasti ada yg menantang, banyak yang menantang, mayoritas yg menantang, demokrasi yang menentang sistem ke-esa-an hukum Allah. 42.13