Oleh A.Halim R
QUOTA yang ditetapkan oleh Depag RI bagi jamaah haji Kalbar tahun 2007 (1428 H) ini adalah sebanyak 2.314 orang. Sementara yang mendaftar untuk naik haji sudah belonggok. Apa boleh buat bila 6.800 jamaah terpaksa menunggu: antre! Kalau dihitung-hitung, menurut Kakandepag Kalbar Drs H Rasmi Satar, yang antre naik haji baru tuntas pemberangkatannya pada tahun 2010. Entah berapa ribu lagi yang bakal antre berikutnya. Mungkin karena “penggemar” naik haji terlalu besar, maka Depag RI mengeluarkan kebijaksanaan: yang sudah pernah naik haji jangan mendaftar lagi! Beri kesempatan kepada yang belum pernah melaksanakannya.
Seorang teman Mat Belatong yang biasa ngengkol sepeda tiap Jumat dari kawasan Kota Baru ke Masjid Mujahiddin Pontianak, beberapa waktu menghilang. Tahu-tahu muncul lagi di masjid mengenakan gamis! Rupanya dia ikut naik haji pada musim haji tahun 2006 (1427 H) lalu! Rupanya naik haji bukan tergantung orang bermobil atau bersepeda, bukan mesti pejabat dan orang kaya. Yang berkelindan becek di pasar ikan bisa naik haji juga!
“Ade gak ente merase kelaparan di padang Arafah, seperti yang diberitekan di tivi dan dikelohkan banyak jamaah haji tu?” tanya Mat Belatong menggamit lutut kawan yang bergamis. Ternyata jawabannya enteng,”Ah, itulah orang kite. Kalau tak makan nasik tetap bekabar belom makan. Sehingge, dah makan barang laen pon maseh terase lapar!” Nyaris Mat Belatong ngelakak tertawa di dalam masjid.
Tatkala mengantar mayat seorang rekan ke kuburan, Mat Belatong berkata kepada temannya yang biasa disapa Yos Dolly. Nama sebenarnya Yusof Dolek, tetapi karena punya grup orkes dangdut, namanya di-selebritis-kannya menjadi: Yos Dolly.
“Jon, ente dah cukop, pegilah!” ucap Mat Belatong. Sang rekan menjawab,”Pegi kemane?” Mat Belatong menjawab,”Mekah!”
Yos Dolly menjawab,”Aa, iyelah nantiklah ana mendaftar untok berangkat tahon depan.”
“Merampot jak nak berangkat tahon depan. Naek haji sekarang ni antre. Mendaftar sekarang bise-bise baru berangkat 2 – 3 tahon agik! Bagosnye ente umrah jak dolok laki-bini, ongkosnye sekitar 10 – 12 juta satu orang. Ade pemberangkatan umrah tiap bulan sekarang ni!” ujar Mat Belatong.
Yos Dolly tampak berpikir. ”Aa, iye. Kalau dah macam itu, bile agik nak berangkat,” ucapnya sembari menunjuk ke kuburan teman yang tengah ditimbus tanah. Sebab usia yang dikubur, Yos Dolly dan Mat Belatong hampir sebaya.
Percakapan di kuburan ini diceritakan kembali oleh Mat Belatong kepada Boy, anaknya. Kebetulan habis Jumatan, Mat Belatong mampir ke rumah anaknya yang telah berumah-tangga sendiri: rindu kepada cucu.
Anaknya tampak berpikir, setelah mendengar cerita tersebut. Kemudian anaknya berkata,”Kalau begitu Boy berangkatkan jaklah mak mertue Boy untok umrah. Kalau ndak, bise-bise jadi penyesalan. Sebab orang tue tu malar jak becakap: Anak aku yang mane jak yang bise memberangkatkan aku pegi haji. Bagos diumrahkan jak dolok.”
Ketika ibu mertuanya diberi tahu, berangkat umrah minggu depan, betapa kagetnya perempuan yang usianya telah kepala enam itu. “Aku kepengen naek haji bukan umrah!” ucap orang tua itu. “Udah, ibu berangkat umrah dolok. Soal naek haji belakangan, kalau ade duet baru naek haji,” balas Boy.
Tekacal-ganyahlah orang tua itu, karena tiba-tiba saja harus ke Tanah Suci yang diidamkan.
Belum pulang ibu mertuanya dari Tanah Suci, Boy sudah bermimpi: dirinya mengenakan pakaian ihram, melakukan tawaf mengelilingi kakbah!
Abdullah ibn Mubarak (lahir: 736 M – ayahnya Turki, ibunya Persia) dalam tidurnya di Mekah setelah menunaikan ibadah haji, bermimpi didatangi dua orang malaikat. Ia bertanya kepada malaikat itu,”Berapa orang yang diterima hajinya kali ini?” Malaikat menjawab,”Tak seorang pun, kecuali seorang kuli di Damaskus yang bernama Ali ibn Mawaffaq yang tak jadi berangkat haji!”
Pulang dari Mekah, Abdullah ibn Mubarak langsung ke Damaskus mencari Ali ibn Muwaffaq. Ketika bertemu, Abdullah menceritakan tentang mimpinya. Dan ia bertanya, apa “keistimewaan” yang telah diperbuat oleh Ali ibn Mawaffaq.
Ali ibn Mawaffaq bercerita: Sudah 30 tahun aku ingin menunaikan ibadah haji. Aku menabung 350 dirham dari setiap hasil kerjaku. Tahun ini aku berniat berangkat menunaikan ibadah haji. Pada suatu hari ada seorang wanita baik-baik yang sedang hamil mencium bau masakan dari rumah tetangganya. Ia berkata kepadaku,”Pergilah ke sana dan mintakan sedikit makanan tetangga itu untukku.” Aku mendatangi rumah tetangganya itu, dan menerangkan maksud kedatanganku. Tetangganya itu justru meneteskan air mata. Ia berkata,”Semua anakku tidak makan selama tiga hari. Dan tadi aku melihat seekor keledai mati, lalu kuambil, kupotong dan kumasak. Makanan itu tidak halal untukmu!” Aku jadi gelisah mendengar ucapan ini. Kemudian aku mengeluarkan 350 dirham yang rencananya untuk ongkos ke Mekah. Saya memberikan uang itu kepadanya sembari berkata: Belanjakanlah uang ini untuk anak-anakmu. Inilah hajiku!
Syaikh Abu Yazid Al-Busthami (wafat: 877 M) suatu ketika dalam perjalanannya berpapasan dengan seorang lelaki miskin. “Kemana engkau mau pergi?” tanya lelaki itu. “Mau menunaikan ibadah haji,” jawab Abu Yazid. “Berapa bekal yang engkau bawa?” tanya lelaki itu. “Dua ratus dirham,” jawab Abu Yazid. “Berikan uang itu kepadaku,” pinta lelaki itu,”aku seorang lelaki miskin yang menanggung satu keluarga. Kelilingilah aku tujuh kali, itulah hajimu!”
Abu Yazid melakukan apa yang diminta oleh lelaki miskin itu. Ia sadar, menolong sesama yang sedang memerlukan sekali lebih berarti di mata Allah dibandingkan menunaikan ibadah haji. Setelah itu, ia lalu balik ke rumahnya, mengurungkan niat berhaji.
Sufyan Al-Tsauri (lahir: 715 M di Kufah) telah 40 kali naik haji. Pada suatu hari ia bertemu dengan seorang pemuda yang mengeluh karena tak mampu melaksanakan ibadah haji. Melihat keadaan tersebut, Sufyan berkata,”Aku telah 40 kali melaksanakan ibadah haji. Aku akan melimpahkan semua ibadah hajiku kepadamu. Maukah engkau melimpahkan keluhan itu kepadaku?”
“Ya, aku bersedia,” jawab pemuda itu.
Pada suatu malam Sufyan bermimpi, ada suara yang berkata: Engkau telah beruntung dalam transaksi itu. Bila keuntungan itu dibagi-bagikan kepada semua jamaah haji yang hadir di padang Arafah, maka mereka akan menjadi kaya!” ***
Tegur-sapa: telp (0561) 771770 – HP 085252000995
Saturday, September 29, 2007
Cerita Naik Haji
Posted by
MAT BELATONG
at
9:39 AM
1 comments
Saturday, September 22, 2007
Mat Belatong dan SMS Ramadan

Oleh A. Halim R
SEBUAH kegembiraan lain dirasakan Mat Belatong tatkala menyambut bulan Ramadan 1428 H. Di HP-nya betepek ucapan: Marhaban ya Ramadan dst. Di dunia maya – angkasa – bertaburan getaran elekronik yang dikirim oleh para tukang pantun, tukang syair dan pujangga dadakan. Pesan-pesan tersebut di antaranya ada yang tertuju ke telefon genggam milik Mat Belatong. Ia yang belum lama keluar dari “bawah tempurung” untuk memasuki “era ponsel” membenarkan ucapan Mat Ketumbi alias Ketuk sahabat kentalnya. “HP banyak gunenye Jon! Kalau ente sesat mudah orang ncarik, kalau ente kemane-mane ana gampang monitor,” ucap Ketuk.
Awal-awal ber-HP ia mendapat SMS dari Ketuk,”Posisi ente di mane Jon?” Mat Belatong menjawab,”Di depan tivi, mendengar berite gempa!” Ketuk ngesak, sebab “posisi” maksudnya: berada di mana, di pasar, di warung kopi si Ameng atau di rumah!
Untuk membalas kekesalan hatinya Ketuk SMS lagi,”Tivi ente merek ape, berape inci, antene model ape?!” Mendapat pertanyaan seperti itu, Mat Belatong “naik spaning”, langsung ngebel dan ngomong,”Celake ape awak betanyak soal tivi, soal antenna. Memangnye awak tak pernah masok ke romah aku, nengok tivi aku?! Butakke ape!?” Ketuk tekeruk-keruk ketawa di depan HP-nya. Mat Belatong makin ngesak dan mematikan HP-nya ketimbang membuang-buang pulsa.
Menyambut awal Ramadan, Mat Belatong iseng-iseng mengirim SMS kepada Ketuk. Isinya sama dengan SMS untuk dikirim atau untuk membalas SMS Ramadan yang masuk ke HP-nya: Marhaban ya Ramadan – bulan yang penuh berkah. Kami sekeluarga mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa, semoga kita dilimpahi rahmat, rida, taufik, hidayah, maghfirah dan kesehatan ruhani-jasmani yang prima. Mohon maaf lahir-batin. Wass wr wb.
Kalimat SMS itu bukan orisinil buah pikirannya, melainkan di-edit dari salah satu SMS yang masuk ke HP-nya.
Ketuk langsung membalas: Maaf, Anda salah sambung. Nama saya bukan Marhaban atau Ramadan.
Mendapat jawaban seperti itu, Mat Belatong ngesak. “Ketuk celake nak mampos! Orang ngirem SMS bagos-bagos, dijawabnye macam celake! Nempah budak tu!” omel Mat Belatong.
Mendengar suaminya beleter, Laila istri Mat Belatong coba menyabarkannya. Ia merunut kembali pokok-pangkal persoalan. Akhirnya ia berkata,”Mungkin nomor itu bukan nomor Ketuk agik Bang. Mungkin gak Ketuk dah menjual HP sekalian kartunye dengan kawan-kawan si Ameng yang nonmuslim!”
“Ketuk tu memang celake. Kalau HP dah dijual, kasik tahulah aku, ndakke die tiap ari ke sinik!” ucap Mat Belatong masih ngangat.
Belum hilang cerita manas-nya, tiba-tiba Ketuk muncul di muka pintu, mengucap salam,”Assalamu alaikum!” Walaupun masih manas, Mat Belatong terpaksa menjawab salam tersebut: karena menjawab salam hukumnya wajib, memberi salam hukumnya sunat. “Ketuk celake, dah kau jualke ape HP burok kau tu!” sambungnya.
Ketuk ngelakak tertawa. “Kalau ade yang nak beli mahal, boleh ana jual. Barang antik tu Jon!” jawab Ketuk sambil tertawa.
“Kalau belom dijual, ngape pulak awak jawab SMS aku macam itu!?” sambar Mat Belatong. Ketuk kembali tekeruk-keruk ketawa. Sambil memegang perutnya menahan tawa, Ketuk berkata,”Ente ni yang beragam, ngirem SMS macam itu ke ana! Ndakke kite ni tiap ari betemu. Ucapkan sekarang kalimat itu ke ana, tak osah pakai SMS.”
Mat Belatong terdiam. Kemudian ia berpikir: mengucap “marhaban ya Ramadan” kepada orang yang jauh, kepada yang dekat tak terucapkan! Tidakkah ini sebuah kelalaian: baru kunjung-mengunjungi dan bermaaf-maafan setelah lebaran! Waktu bersempit-sempitan di tengah arena dan gaung takbir salat Id orang tak mau berkenalan dan bersalaman sesama ikhwan. Usai khutbah: bedebu balek! Pertanda apa ini?
Kini, beragam pesan singkat berupa ucapan selamat menyambut Marhaban, eh Ramadan bisa dikirim kepada saudara, handai-tolan lewat SMS. Ada yang berupa pantun, syair maupun kalimat-kalimat puitis. Ternyata pantun dan syair – karya sastra zaman Tok Adam – bisa berjalan seiring dengan kemajuan teknologi, tidak mati tergilas globalisasi! Termasuk “ikan sepat, ikan gabos”-pun bisa masuk HP! Celakanya, karena belum mahir memencet tombol HP, yang dialami Mat Belatong: nak cepat, jadi terapos!
Dari seorang pelukis wanita di Bali, Mat Belatong menerima SMS berbunyi: Ikrar penyelamat adalah “sahadat”, senam paling menyehatkan “salat”, hadiah paling baik “zakat”, diet paling sempurna “puasa”, perjalanan paling indah “haji”, media paling mulia “Al-Quran, lagu paling indah “azan”, mandi paling bersih “wudu”, khayalan paling baik “zikir dan taubat”, doa paling bermanfaat “salawat”, hati paling bersih tanpa “prasangka buruk”, insan terpuji “mutaki”.
Mendapat SMS itu Mat Belatong termenung. Pelukis wanita yang kesehariannya itu seperti tak ambil pusing soal agama – dan biasa dicandainya – kini menasihatinya! Mulia dan berat harapannya kepada Mat Belatong. Ternyata secara diam-diam ia berharap Mat Belatong menjadi seorang muslim yang “kaffah” – totalitas! Ia tak ingin sahabatnya: masok nerake!
Tergagap-gagap Mat Belatong balas menulis: Makkaseh Lia atas petunjok dan siraman ruhaninye. Semoge semuenye itu dapat saye lakukan satu demi satu, tahap demi tahap. Selamat menjalankan ibadah puase, mohon maaf laher-baten, wass wr wb.
Dari sekian banyak SMS karya pujangga dadakan – kalau bukan musiman – yang masuk ke HP Mat Belatong, yang paling mengesankan adalah SMS dari Sultan Sintang. Bunyinya begini: Ass wr wb. Ya Allah muliakanlah Saudaraku ini, bahagiakan keluarganya, berkahi rezekinya & kesehatannya, kuatkan imannya, tinggikan derajatnya, eratkan tali persaudaraan kami & kabulkan doanya. Dalam menyambut bulan suci Ramadan, mohon dibukakan pintu maaf buat kami & keluarga. Amin ya Rabbal alamin. Wassalam Sultan Sintang.
Ketuk juga mendapat SMS yang sama. “Jon,” ucap Ketuk,”Tuanku Sultan mendoekan kite, mintak kepada Allah agar kite beduak dimuliakan, ditinggikan derajat!” Mat Belatong menjawab,”Amin, mudah-mudahan dikabolkan Allah. Sebab selamak ini tak pernah ade pejabat tinggi yang mendoekan kite, malar kite jak diajak khatib nadahkan tangan untok mendoekan para pemimpin dan pembesar.”
Ketuk ngelakak tertawa, kemudian berkata,”Kalau kite beduak dah menjadi orang mulia dan berderajat tinggi, lalu ape kerje kite Jon?” Mat Belatong langsung menjawab,”Tinggal bekipas jak, tesandar di korsi burok!”
Ketuk protes,”Kalau maseh bekipas, maseh dudok di korsi burok, ape gak bedenye dengan sekarang?” Mendengar ucapan Ketuk, Mat Belatong langsung menukas,”Udah Ketuk, Tuanku Sultan bukan bedoe atau mintak kepada gubernur, tapi kepada Allah. Kalau mintak dengan gubernur, boleh awak berharap kipas berganti AC, kursi burok berganti sofa. Mintak kepada Allah tentu laen maknanye. Mane yang awak pileh, bekipas dengan AC, dudok di korsi legislatif, atau mulia dan berderajat tinggi di sisi Allah!?”
Sambil tertunduk dan mengangguk-angguk Ketuk menjawab,”Iyelah kalau begitu. Rasulullah jak tak bekorsi, tak bekipas. Di romah, kalau kepanasan, paling bukak baju.”
Seorang wartawan muda mengirim SMA, eh SMS: Si Hamdan kerje di media massa, Cek Mat kerje di Malaysia, bulan Ramadan telah tiba, selamat menjalankan ibadah puasa.
Mat Belatong tekeruk-keruk tertawa. Sempat-sempatnya ia memasukkan si Hamdan dan Cek Mat yang sudah innalillah itu ke dalam HP-nya. Tapi mungkin Hamdan dan Cek Mat yang lain.
Ade jak ide budak-budak tu mbuat “joke” menyambut Ramadan, pikir Mat Belatong. Namun dari kesemua SMS yang masuk itu – dari yang serius hingga yang lucu, dari yang bagus hingga yang rancu (macam: pantun si Tukul – pen) – Mat Belatong menyimpulkan, bahwa kesemuanya berharap: Mat Belatong puasa, jangan tak puasa! Semuanya berharap ia selamat dalam menjalankan ibadah puasa, bukan mendapat musibah karena puasa. Tak ada yang mengharapkan rumahnya roboh kena gempa ketika berpuasa. ***
(Pontianak, 15 September 2007 ).
Tegur-sapa: Telf (0561) 771770 – HP 085252000995.
Versi cetak muat di Borneo Tribune, Minggu 23 September 2007
Posted by
MAT BELATONG
at
9:48 AM
0
comments
Mat Belatong dan Kurma

Oleh A.Halim R
KARENA hidupnya bersahaja, Mat Belatong tak pernah berkeinginan yang “neka-neka”. Bahkan untuk makan sehari-hari saja, ia tidak ingin mengatur istrinya untuk membeli ini dan itu untuk lauk-pauk mereka. Tatkala ada sesuatu keinginan yang berkenaan dengan makanan yang terbit dari seleranya, ia segera membunuhnya dan melupakannya. Kendati bukan orang Arab, ia menyenangi buah kurma – tanpa pernah mengatakannya kepada seseorang pun – melainkan hanyalah setelah tulisan ini.
Suatu hari, ia mendapat dua kotak (kemasan) buah kurma dari Bujang Rambo. Bagus, empuk dan tidak lengket.
Setelah memakan beberapa butir kurma itu, ia berkata kepada istrinya,”Korme ni bagos.Tengok mereknye, tengok di mane Bujang tu beli.”
Nurlaila istrinya mengamati kemasan kurma itu. Ada tertera harga Rp 6.000,- ada merek Mall Mataso!
Cerita kurma yang satu ini selesai tak berbuntut, sampai kurma itu pesai dimakan Mat Belatong 4 – 5 butir sehari. Hari-hari selanjutnya tak ada kurma yang muncul! Ada sesuatu yang tak koneks: tak nyambung. Padahal tatkala mengatakan kalimat tersebut kepada istrinya, di hati Mat Belatong: ada “udang di balik batu”. Maksudnya: Cobe gak beli korme macam ini untok aku!
Ia “menyembunyikan” kehendaknya, keinginannya, dengan kalimat seperti itu. Tidak berkata langsung: Beli korme yang macam ini untok aku!
Bahwa kemudian ternyata tak sebutir kurma pun yang dibelikan istrinya, bahwa “kalimat terselubung”-nya tak nyambung: tak ada urusannya lagi. Itu urusan Allah! Biarlah ia “terliur-liur”, itu pun Allah yang mengatur!
Beberapa hari sebelum tanggal 1 Ramadan 1428 H, Mat Belatong kedatangan tamu H Amrannurrahim Al-Ayyubi, abang sepupunya. Pembaca jangan panik, kalau mendengar Mat Belatong bersepupu dengan seorang zuriat Al-Ayyubi yang seakan masih bernasab dengan seorang panglima perang Islam masa lampau: Salahuddin Al-Ayyubi. Sebab Mat Belatong sendiri kalau ditelusur-galur bernama:Ahmad ibnu Ramli Al-Rasyid! Seakan masih punya alur kekeluargaan dengan Sultan Harun Al-Rasyid – Khalifah Baghdad – yang sering “dialoi” oleh Abu Nawas! Masalah ini tak perlu dipusingkan, sebab nasab dan nasib orang memang bermacam-ragam. Dan bukankah semua manusia itu tergolong: Bani Adam!? Termasuk Bani Israil, yang tukang bunuh orang Palestina itu.
Kembali ke kurma, gesah punya gesah akhirnya pembicaraan antara Al-Ayyubi dan Al-Rasyid sampai ke soal puasa, pasar juadah, dan berbuka puasa. Mat Belatong Al-Rasyid menyinggung, betapa dalam kehidupan sehari-harinya ia selalu berperang melawan hawa nafsu. Sehingga tak aneh bila selalu: tutup pintu! Takut nafsu nyelonong masuk! Si nafsu itu memang benar: musuh manusia nomor satu! Sampai-sampai ia sendiri tak ingin memasukkan “keinginan”-nya ke dalam daftar menu sehari-hari di rumah mereka, apalagi menu untuk berbuka puasa.
“Aek puteh…pon jadilah,” ucapnya. Padahal tatkala mengucapkan kalimat ini, ada keinginannya untuk menambah pula dengan: 2 – 3 butir kurma. Tapi “kurma” tak dilisankannya, cuma ada di dalam hati. Ia membunuh keinginannya, karena tak ingin memperturutkan “nafsu”-nya berbuka puasa dengan buah kurma.
Tak sampai satu jam setelah Al-Ayyubi pulang, Mat Belatong kedatangan tamu: Jamil Al-Beting (dari: Kampung Beting!). Kedatangannya hanya sekadar mengantar sebuah kotak yang berisi: kurma!
Mat Belatong terperangah menyaksikan “kerja Allah”. Berkali-kali terbukti, bila ia membunuh kehendak seleranya untuk memakan sesuatu: Allah “mengupah”-nya dengan sesuatu itu! Sesuatu mendatanginya tanpa perlu dicari dan dibeli!
Usai salat isyak, Mat Belatong membuka kotak kurma tersebut dan memakan beberapa butir. Alamak, kurma yang sangat bagus: lunak dan lemak! Daging buahnya tebal dan tidak lengket. Serasa kurma Madinah!
Mat Belatong mengamati kotak kurma yang berukuran sekitar 23 x 10 x 4,5 cm itu. Di kemasannya tertulis besar: Bamdates. Di salah satu sisinya tertulis: No Preservatives, No Additives, Packed & Exported by Badr Day Co – Tehran, Iran! Wow, ia telah mendapat kurma dari negeri para Mullah dan Ayatollah!
Mat Belatong segera menghubungi Jamil Al-Beting lewat telepon. “Mel, di mane awak beli korme tu Mel!?” tanyanya. Jamil bertanya,”Ngape Bang Mat?” Mat Belatong menjawab,”Korme tu bagos, lemak sekali. Di mane aku bise beli, berape hargenye?”
Dari seberang Jamil menjawab,”Bang Mat perlu berape banyak? Korme tu sengaje didatangkan oleh Abdurrahman.”
“Abdurrahman Faloga yang ngajar tasawuf tuke?” tanya Mat Belatong. “Iye Bang Mat,” jawab Jamil.
Kemudian, seperti enggan menyebutkan harga barang pemberiannya, Jamil berucap,”Hargenye Rp 40 ribu sekotak. Bang Mat perlu berape kotak, biar saye belikan.”
Mendengar jawaban demikian dari Jamil, Mat Belatong berucap,”Sekotak agiklah untok aku bebukak puase.” Jamil membalas,”Aa, nantik saye antarkan.”
Setelah dialog dengan Jamil Al-Beting itu usai, beberapa saat kemudian Mat Belatong berpikir keras. Hatinya gelisah: ternyata ia telah merancang tentang sesuatu yang hendak dimakannya tatkala berbuka puasa. Itu tidak boleh terjadi! Ia khawatir, puasanya hanya membuahkan: lapar, dahaga dan letih belaka!
Daripada berlarut-larut diliputi kebimbangan, ia kembali menghubungi Jamil. “Mel, soal korme tu lupakkan jak. Jangan beli agik!” ucap Mat Belatong. Agak kaget Jamil menjawab,”Ngape pulak Bang Mat?”
Mat Belatong berucap,”Sekotak yang tadik hadiah dari Allah lewat perantaraan awak. Sedangkan pesanan aku, berasal dari nafsu! Aku tak akan memperturotkan nafsu. Cukoplah sekotak itu bagiku.” Jamil yang paham dengan tabiat Mat Belatong menjawab,”Iyelah kalau begitu.”
Setelah itu Mat Belatong merasa lega, tiada beban dalam menjalani Ramadan. Ia serahkan semua persoalannya kepada Allah. ***
Pontianak, 15 September 2007 ).
Tegur-sapa: Telf (0561) 771770 – HP 085252000995
Versi cetak muat di Borneo Tribune, Minggu 16 September 2007
Posted by
MAT BELATONG
at
9:42 AM
0
comments
Friday, July 27, 2007
MAT BELATONG DAN 300 MELAYU
Oleh A. Halim R
SUATU pagi, Mat Ketumbi datang ke rumah Mat Belatong. Kebetulan Mat Belatong tengah nyerongkong di kursi menghadapi kopi.
Sebuah tas kresek hitam diletakkan Mat Ketumbi di meja, di hadapan rekannya. Setengah berteriak ia berkata kepada istri Mat Belatong yang berada di ruang belakang,”Gud moning selamat pagi, kepalak pening mintak kopi!”
Tas kresek dibuka, isinya lepat lau! Mat Ketumbi tahu benar traditional breakfast – sarapan pagi – kesukaan rekannya itu. Kalau bukan lepat lau, lopes telanjang: tak pakai kelapa parut!
“Ini tentulah lepat lau Mak Long Lijah!“ komentar Mat Belatong.
“Iyelah, siape agik. Kalau lepat lau orang laen, nantik ente bekate tak nyaman pulak!” jawab Mat Ketumbi.
Setelah kopi yang ditunggu-tunggunya datang, Mat Ketumbi buka cerita,”Jon, ente tahu ndak, yang datang halal bihalal ke Balairung Sari Rumah Melayu di Kote Baru Pontianak tu, Sabtu 3 Desember 2005 lalu, sekitar 300-an orang! Sedangkan yang datang waktu silaturrahmi dan halal bihalal Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan di GOR Pangsuma, Minggu 4 Desember 2005 lalu, sekitar 5000-an orang! Terakher ni, Minggu 11 Desember 2005, halal bihalal masyarakat Madura di gedong PCC (Pontianak Convention Center – pen) dihadiri sekitar 1000 undangan! Ana piker banyaklah Melayu di Pontianak ni, rupenye dah tinggal sikit!”
Mat Belatong yang tengah mengunyah lepat lau, agak tekanjat. Setelah menelan lepat lau, disulor aek kopi ia bertanya,”Awak hader ke sanak ke Ketuk!?”
Mat Ketumbi menjawab,”Tadak, ana cume bace di koran!“
Kemudian Mat Ketumbi melanjutkan,”Padahal hari Jumat 2 Desember 2005, MABM – Majelis Adat Budaya Melayu – ade memuat undangan di suratkabar, yang diteken H Abang Imien Thaha dan Dr H Chairil Effendi MS, masing-masing selaku Ketue Umum dan Sekretaris Umum MABM Kalbar! Isiknye: Demikian informasi ini kami sampaikan sebagai undangan, atas kehadiran Bapak/Ibu/Sdr(i) dengan nilai semangat kebersamaan dalam persaudaraan kami ucapkan banyak terim kasih.”
Mat Belatong tampak menyimak baik-baik kalimat yang diucapkan sahabatnya.
Setelah berpikir sejenak sampai keningnya berkerut, Mat Belatong berkata,”Kalau begitu bunyinye, undangan itu memang tadak ditujukan untok masyarakat Melayu, tapi buat personel pengurus MABM jak! Die kan cume bilang atas kehadiran Bapak/Ibu/Sdr(i). Kalau die mengundang masyarakat Melayu, tentu kalimatnye laen, mungkin bunyinye begini: atas kehadiran Bapak/Ibu/Sdr(i) warga Melayu, atau atas kehadiran Bapak/Ibu/Sdr(i) zuriat Melayu.”
Lebih lanjut Mat Belatong berkata,”Dan orang pon same maklom, yang namenye majelis, itu kan pemahamannye atau maknanye: sekelompok orang yang ade di dalam suatu majelis. Contohnye: MUI – Majelis Ulama Islam – atau Majelis Taklim Masjid Al-Mursalat Perumnas I Pontianak. Ibaratnye, orang-orang yang dudok di majelis itu fardu kifayah, bukan fardu ain. MUI bukan berarti semue orang Islam. Kalau MUI ngadekan rapat, tentu muslim laen tak perlu ikot. Begitu pulak kalau MUI ngadekan halal bihalal, bukan mustahel hanye untok kalangan personel MUI, baek MUI tingkat provinsi maupun MUI tingkat kabupaten dan kota. Pon begitu ugak kalau Majelis Taklim Masjid Al-Mursalat nak ngundang seluroh warga Perumnas I Pontianak, die haros bekate: Mengharapkan kehadiran Bapak/Ibu/Sdr(i) warga Perumnas I Pontianak!”
“Begitu pulak dengan Majelis Adat Budaya Melayu. Menurot pikeran ana yang bodo ni, yang diuros oleh majelis ini, ye cume adat budaya. Sebenarnye kedudokan MABM ini – karena die memakai istilah majelis – hanyelah macam majelis yang ade di tuboh NU itu! Die cume sebuah organ. Perlu ade satu organisasi induk, lalu dilengkapi dengan berbagai macam majelis. Ade Majelis Perekonomian dan Pemberdayaan Zuriah Melayu, ade Majelis Peningkatan SDM Zuriah Melayu dan laen-laen agik. Tapi aku pon dah tak tahu agik Ketuk e, mane yang benar mane yang sangsot. Sebab zaman ini memang dah zaman sangsot. Sampai-sampai kabinet pon macam sangsot gak. Kabinet cucok-cabot, kabinet tukar-taker. Boleh terjadi, setiap setengah tahon ganti menteri, setiap tahon ganti kabinet! Macam orang nyobe sepatu di mall. Belom agik aset negara, aset Pemprov, aset Pemkab, aset Pemkot, boleh ditukar-taker dengan pengusaha dan swasta, boleh ditukar guling!” tambah Mat Belatong.
Sambil mengunyah lepat lau dan menggaruk-garuk lehernya, Mat Ketumbi berkata,”Iyelah, semule ana piker undangan MABM tu buat seluroh zuriat Melayu. Rupenye untok die-die jak, iyelah kalok begitu.”
Kemudian Mat Belatong berucap,”Sebuah undangan terbuka, tanpa menyebutkan warga, niscaya membingungkan orang. Bukan mustahil undangan tersebut terbatas untuk personel majelis, yang tidak diketahui alamat jelasnya.”
Mendengar “kuliah” Mat Belatong itu, Mat Ketumbi bertanya,”Macam mane pulak dengan care ngundang orang sampai melimpah ruah di GOR Pangsuma tu!“
Sambil menghembuskan asap rokoknya Mat Belatong menjawab,”Itu laen Ketuk, itu: Silaturrahmi Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan. Judulnye jak dah mengundang: keluarga! Siapa yang masih merasa sebagai keluarga, merasa bertanggung jawab untuk datang! Kecuali yang tak mau lagi dianggap keluarga ataupun zuriat!”
Sambil mengangguk-anggukkan kepala, Mat Ketumbi berucap,”O, kalau begitu si iyelah! Mule-mule ana piker, ngape pulak halal bihalal Melayu orangye cume 300-an orang, sedangkan halal bihalal Sulawesi Selatan sampai 5000-an orang. Madura jak sampai 1000-an orang. Memangnye Melayu dah sikit di Pontianak ni!? Kalau cume tinggal 300-an ditambah kite beduak, kalau sebulan mati sekok, udah dapat dihitong tinggal berape tahon agik Melayu ni habes! Kalau memang begitu keadaannye perlu diusolkan ke WWF, biar masok daftar Appendix I CITES. Perlu ade terobosan, agar dilakukan penangkaran secepatnye terhadap Melayu! Macam ikan silok tu, biar tak punah-ranah. Sebab kalau Melayu sampai hilang di Bumi Pontianak, kasihan Datok Hang Tuah. Sebab beliau tu dah pesan: Tak Melayu hilang di bumi!“
Mendengar omongan sahabatnya, mata Mat Belatong terbelalak. Kemudian ia berkata,”Celake! Ngape pulak Melayu awak samekan dengan silok, nak dilaporkan ke WWF segale!? Makai istilah tu haros ngerti, becakap tu jangan merampot Ketuk! Yang diuros WWF itu binatang! Ape Melayu nak awak anggap orang utan!?”
Mat Ketumbi langsung menjawab,”Ente gak bekate kalau Melayu tu bukan mustahel ade yang menjadikannye sebagai komoditas! Silok, kan komoditas gak!?“
Mat Belatong geleng-geleng kepala, kemudian berucap,“Iye, iye, ngomong dengan awak ni memang gampang-gampang susah. Dikatekan pintar belom nyampai, dikatekan bodo dah lepas. Sebab kutengok maseh ade agik yang lebeh bodo-bale: siang puase, malam berzina!”
Mat Belatong kemudian terdiam beberapa saat, Mat Ketumbi pun tak ngomong.
Setelah itu, Mat Belatong tersenyum getir dan berkata,“Ketuk, sebetolnye halal bihalal Melayu yang dilaksanakan MABM itu – yang cume dihadiri sekitar 300 orang itu – masalahnye tak sesederhana ape yang ana cakapkan ini. Perlu kajian yang mendalam tentang hal itu kalau ingin menguraikannye. Tapi udahlah Ketuk, untong jak kite sekarang ni maseh bise ketemu lepat lau, lopes. Putu mayang, putu piring, kue merke jak dah payah encariknye! Ade yang peduli dengan Mak Long Lijah, ade yang peduli dengan Kak Ngah Mariam dan laen-laen yang dah terbang dibawak orang ke Brunei, ke Sarawak untok betenun songket di sanak tu!? Nak ngurus ikan paus di laot, ikan gendang-gendis di paret dah punah tak ambek tahu!“ ***
( Pontianak, 12 Desember 2005 )
Posted by
MAT BELATONG
at
10:57 AM
5
comments
Labels: Kolom
MAT BELATONG “LINTAS BANGSA “
Oleh A.Halim R
SUATU malam, Mat Belatong tengah duduk-duduk santai di dalam rumah bersama anak dan istrinya. Pintu rumah memang terbuka.
Tiba-tiba, tanpa diketahui kapan masuknya, tanpa memberi salam, tanpa permisi, telah berdiri di dalam rumahnya seorang lelaki bertopi jungle dan bersepatu cowboy, hidung mancung berkulit putih!
Mat Belatong tertegun menatap sosok orang aneh itu, tapi kemudian setengah berteriak ia berkata,“Fausstooo!“
Dan orang itupun berkata,“Oh, Mettt!“
Mat Belatong berangkulan erat beberapa saat dengan pria kulit putih itu. Kemudian lelaki kulit putih itu bersalaman juga dengan anak-istri Mat Belatong.
Tanpa disadari air mata berlinang di pelupuk mata Mat Belatong, demikian juga dengan orang kulit putih itu.
Sedikit pun tak terbayangkan oleh Mat Belatong, ia bisa bertemu lagi dengan pria Itali yang pernah menjadi sahabat kentalnya itu.
Betapa tidak, keduanya telah lama sekali berpisah. Fausto, pada zaman Orde Baru, karena sesuatu dan lain masalah (mungkin sengaja dibuat-buat oleh sesuatu pihak), diusir pergi dari bumi Indonesia sebagai manusia: persona non grata – orang yang tidak disukai!
Tatkala akan berangkat meninggalkan Pontianak, Fausto ingin menyalami Mat Belatong terakhir kali sebelum meninggalkan Bumi Khatulistiwa ini. Namun Mat Belatong menolak salam tersebut. Mat Belatong berkata,“No Fausto, aku tak ingin bersalaman sekarang. Tapi nanti, bila kita bertemu kembali! You harus kembali!“
Perasaan keduanya luluh. Air mata merebak di mata masing-masing.
Tatkala itu, di dada Mat Belatong bergemuruh sebuah protes! Kenapa Fausto diusir, kenapa ia tidak boleh tinggal di Indonesia, kenapa di muka bumi ini ada batas negara, kenapa manusia tidak boleh tinggal di mana ia suka. Bukankah ini bumi Allah yang memang diperuntukkan bagi makhluknya!? Manusia berkelakuan zalim dan egois sehingga bumi Tuhan dibagi-bagi dan diberi berbatas-batas!
“Antaraku dan Fausto, tiada batas etnik, tiada batas bangsa dan negara! Kami dua anak manusia yang bersahabat, punya hati dan rasa: yang telah lepas bebas dari warna kulit dan etnik!“ jerit Mat Belatong di hatinya.
Ketika itu, sebuah kenyataan pahit harus ditelan. Sebuah persahabatan murni terasa mengiris hati tatkala harus berpisah!
Keduanya memang bersahabat kental, punya hobi yang sama, punya karakter yang tak jauh berbeda, walau berlainan etnik dan kebangsaan.
Bila tiga hari saja Fausto tak melihat dan berbicara dengan Mat Belatong, ia merasa rindu dan pasti berkunjung ke rumah Mat Belatong. Demikian pula dengan Mat Belatong.
Pria Itali itu tinggal di Villa Itali, di Jalan Suhada Pontianak. Di situ ia membeli berbagai binatang yang dibawa orang, sehingga tak terasa, di sekeliling rumahnya telah hadir kandang-kandang binatang, mirip kebun binatang kecil – min zoo!
“Saya terpaksa beli binatang-binatang ini Met, sebab saya kasihan. Bukan pada orangnya, tapi pada binatangnya. Saya takut kalau binatang itu sampai jatuh ke tangan orang yang tidak menyayangi binatang. Bisa tersiksa dan teraniaya dia!” ucap Fausto.
Di tangan Fausto, bila ada satwa yang sakit, ia bersedia memanggil dokter hewan untuk mengobatinya. Dan ia mempelajari, mencatat berbagai sifat dan makanan yang diberikan kepada satwa tersebut. Tengah malam buta pun ia bersedia turun, dan memberi makan satwa peliharaannya, bila diketahuinya satwa tersebut tergolong jenis binatang malam.
Pernah suatu hari, Fausto datang ke rumah Mat Belatong tergesa-gesa dengan sepeda motor besarnya.
“Met, kita ke villa sekarang juga! Ada tamu istimewa yang luar biasa!“ ucapnya.
Tergesa-gesa Mat Belatong berpakaian, kemudian keduanya berangkat ke Jalan Suhada.
Tak ada seorang pun tamu di Villa Itali itu, selain keluarga Fausto dan para pembantunya. Fausto masuk ke kamar berganti pakaian. Kini ia bertelanjang dada, berkain sarung yang digulung di perutnya hingga pertengahan betis.
Kemudian ia mengajak Mat Belatong keluar, menuju ke salah satu kandang binatang.
“Luar biasa Met dia! Dia sangat jinak dan manis!” ucap Fausto menunjuk kepada seekor biawak besar yang telah dimasukkannya ke dalam kandang.
Tak cukup dengan bicara, kemudian pria Itali itu masuk ke kandang biawak dan mengelus-elus kepalanya. Mat Belatong jadi mengerti kenapa Fausto berkain sarung. Rupanya ingin bermain dengan binatangnya! Memang begitulah “adat” Fausto, bila ia bergaul dengan satwa kesayangannya!
Namun tiba-tiba saja sang biawak mengibaskan ekornya menghantam Fausto yang lagi jongkok di sisinya. Fausto memekik, sembari berdiri dan memegang alat vitalnya!
Setelah keluar dari kandang, sambil tertawa ia berkata,”Ia tidak menggigit, tapi memukul! Saya jadi tahu sekarang, berhati-hatilah terhadap ekor biawak! Dan ia pasti tidak sengaja memukul bagian yang terlarang!”
Mat Belatong sempat terkejut juga, tapi akhirnya sama-sama ketawa, sebab pukulan sang biawak tidak terlalu fatal akibatnya!
Binatang-binatang peliharaan Fausto itulah yang “dihibahkan” kepada Gubernur Kalbar Soedjiman, yang kemudian melahirkan Bunbin di Sungai Raya Pontianak itu. Termasuk Sunaryo, satu keluarga pembantu rumah tangga Fausto ikut hijrah dari Villa Itali ke Bunbin tersebut, sebagai pemelihara binatang!
Kini Fausto Oriccio, secara mengejutkan dan tanpa dinyana sama sekali telah hadir di rumah Mat Belatong. Masih tetap dengan gaya lama, masih tetap fasih berbahasa Indonesia! Ia menepati janjinya, ia memenuhi harapan Mat Belatong!
Belasan tahun ia telah meninggalkan Indonesia, pulang ke negaranya. Dan ia memboyong istrinya – Linda, wanita Pontianak – dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ibano Valerio Oriccio.
“You keterlaluan Fausto, datang ngejot-ngejotkan tak bekabar! You masih Fausto yang dulu juga, tak berubah-ubah!“ ucap Mat Belatong.
“You juga tidak berubah Met. Saya sengaja ingin bikin kejutan. Dan topi ini sengaja saya pakai, biar kelihatan seperti waktu kita masih sering masuk hutan dulu!“ jawab Fausto.
Fausto, seperti biasa, kalau bertemu langsung nyerocos bercerita. Seakan-akan, tak ada yang tak menarik di dunia ini untuk diceritakan. Barang kecik pon kalau diceritakan oleh Fausto jadi besar, jadi menarik!
Dan ternyata ia bukan baru datang dari Itali, tetapi dari Kapuas Hulu!
Ternyata, setiba di Jakarta dari Itali ia tidak langsung ke Pontianak, tetapi ngelayap dulu ke Samarinda, memudiki Sungai Mahakam, lalu berjalan kaki dari Kaltim tembus ke hulu Kapuas! Fausto memang “petualang sejati”.
Ternyata ia juga pernah bertualang ke hutan Brazilia, di wilayah Sungai Amazone!
“Di Brazil saya bertemu dengan orang Indian, yang prototip wajah maupun postur tubuhnya sangat mirip dengan orang Dayak,“ cerita Fausto.
Fausto, memang “tergila-gila“ dengan budaya Dayak, sampai-sampai anaknya pun diberi nama Ibano, yang berasal dari kata: Iban!
Dalam sebuah kesempatan menyela, Mat Belatong bertanya,”Bagaimana kabar Linda sekarang!“
“Wow Met, Linda sekarang sudah berbulu!“ jawab Fausto.
”Itulah ente, tegile-gile miare orangutan, sampai bini awak sorang tumboh bulu!“ ucap Mat Belatong.
“Oh no Met! Bukan berbulu seperti orangutan, tapi berbulu seperti umumnya orang Itali. Dia beradaptasi dengan cuaca di Itali yang ada musim dingin!“ jawab Fausto.
“Tadak! Ini pasti salah you Fausto, bini tak dikasik kumbuk, tak diberek selimot tebal! Pasti Linda tu kesejukan, sementara awak ngander keliling dunie!“ bantah Mat Belatong.
“Iya Met, mengenal dunia memang menarik. Di hulu Sungai Mahakam saya bertemu dengan orang-orang Dayak Penihing. Dan mereka yang mengantar saya berjalan sampai ke hulu Kapuas melewati perbatasan Kalbar – Kaltim. Dan orang-orang Penihing itu ikut saya turun sampai ke Putussibau,” ungkap Fausto.
“Met, orang-orang Penihing itu waktu mengantar saya membawa pukat dan jala! Kalau sampai waktu istirahat, dan perlu masak, mereka menangkap ikan. Untuk tempat kami bermalam, mereka cepat sekali membuat pondok. You tahu Met, orang-orang Dayak itu kalau memerlukan sesuatu selalu masuk hutan! Perlu tali, perlu sayuran, perlu api, perlu obat, mereka masuk hutan sebentar. Hutan itu seperti super market bagi mereka!” cerita Fausto.
“Fausto, apa yang you ceritakan telah you nikmati sendiri! You keterlaluan Fausto, kenapa you tidak ajak saya!?“ tukas Mat Belatong.
“Sorry Met, saya tidak sengaja. Saya hanya coba-coba untuk ke Pontianak lewat Kaltim!” jawab Fausto tertawa.
“Berjalan dengan orang-orang Penihing, menyenangkan. Mereka periang, pandai berpantun dan bercerita, suka humor,” tambah Fausto.
“Iya, saya cuma jadi pendengar, telior-lior! Saya tahu orang Penihing, dan saya pastikan jalan yang you lewati itu adalah jalan yang pernah dilewati oleh Dr Anton W Nieuwenhuis pada tahun 1894. Tapi ekspedisi orang-orang Belanda itu, dari Kalbar ke Kaltim. Saya punya bukunya!” ucap Mat Belatong.
“Oh ya, berarti you juga sudah berjalan walaupun lewat sebuah buku!“ jawab Fausto sambil tertawa.
“Ah Fausto, apalah artinya membaca sebuah buku dibandingkan dengan makrifat, atau pengenalan seperti yang you saksikan dan rasakan! Buku hanya membuat saya pandai berdalil, sedangkan you telah melakukan perjalanan (thariqah) dan perjuangan keras (mujahadah), untuk mencapai pengenalan yang sesungguhnya (makrifat). You telah mengambil ilmu dari telaganya, sedangkan saya cuma menciduknya dari ember ‘Syaikh’ Dr Nieuwenhuis! Ini baru makrifat dunia, betapa susahnya. Belum lagi makrifat Ketuhanan,” ucap Mat Belatong. ***
( Pontianak, 17 November 2005 )
Posted by
MAT BELATONG
at
10:56 AM
0
comments
Labels: Kolom
MUSANG MATI DIPATUK AYAM
Oleh A. Halim R
SUATU hari Mat Belatong ditanya rekannya: Untuk flash back – kilas balik – tahun 2005 ini, cerita apa yang paling menonjol?
Tanpa berpikir panjang Mat Belatong langsung menjawab,”Musang mati dipetok ayam!“
“Eh, benar sikitlah Bang Mat, ana ni betanyak benar, bukan begurau. Mungkin sepanjang sejarah pers di dunie belom pernah ade wartawan yang menemukan kasus macam itu. Pon setahu ana belom pernah ade suratkabar yang melansir berite macam itu!“ jawab sang rekan.
“Aa, itulah kitak. Kalau negeri ini pernah dihebohkan oleh cerite Ikan Gabos Telok Pak Kedai, Kucing Beranak Tupai, Waria Bunting di Putussibau, Pokok Kayu Bise Ngasik Sinjie, Wak Latuk Nangkap Jin, dan selonggok kabar aneh laennye, ngape pulak kitak tak tahu dengan cerite Musang Mati Dipetok Ayam?“ ucap Mat Belatong.
“Macam mane pulak ceritenye tu Bang Mat. Kalau kesah Musang Bejanggot, pernah pulak ana bace dalam cerite Abu Nawas,” jawab sang rekan.
“Aa, kalau awak dah bace kesah Musang Bejanggot yang nak ngincar bini Abu Nawas tu, cerite Musang Mati Dipetok Ayam pon hamper-hamper same gak! Rupenye cerite musang ni, dah ade sejak zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad, sampailah ke zaman kite ni. Hanye sajak, model musangnye macam-macam. Figur musangnye, die cobe kamuflase dengan berbagai ragam atribut yang dipakainye. Ade yang bejanggot, ade yang bejubah, ade yang bedasi, ade yang bersafari, ade yang besongkok, ade pulak yang makai baju koko!” ucap Mat Belatong.
Sang rekan ngelakak tertawa, kemudian berkata,“Aa, teros Bang Mat, tampaknye cerite Bang Mat ni menarek. Dan ana dah mulai nyambong rasenye. Itu kan musang yang makan daging illegal?!“
Mat Belatong sembari mengunyah lepat lau, berucap,”Alah, yang namenye musang tu dah pastilah makan daging ilegal, daging haram! Memangnye binatang musang tu pernah miare ayam sorang? Kecuali musang piaraan ana di rumah, yang ana piare dari bayi. Semue makanannye halal, baek susu vitalac, daging, ikan ataupon pisang nipah!”
Setelah menghirup kopi Mat Belatong berkata,”Dan karene kitak pon dah tahu dengan cerite ini, ana rase tak perlulah agik ana cerite panjang lebar!“
“Mane pulak boleh begitu Bang Mat! Bang Mat udah buat judul yang orisinal: Musang Mati Dipetok Ayam. Kesah mesti dilanjotkan Bang Mat, kalau tadak kempunan ana ni!“ jawab sang rekan. “Kempunannye tak seberape, tapi ngesaknye tu yang tak abes-abes!“ lanjut sang rekan.
“Ah, awak ni pandai jak mancing-mancing aku. Kalau kesahnye sangsot macam mane!?” jawab Mat Belatong.
“Udahlah Bang Mat, yang namenye kesah musang, dari zaman dolok sampai kini, pasti kesah sangsot. Justru tegal sangsotnye tu, jadi kesah! Dan cerite Bang Mat ni bakal memperkaye khazanah kesah musang di dunie!“ bujuk sang rekan.
Akhirnya, setelah menelan tukuk terakher lepat lau di tangannya, dan disulor dengan aek kopi, Mat Belatong pun bukak cerite:
Sahdan, di sebuah negeri antah lebih banyak daripade berasnye, berkuasalah seekor musang. Sang musang bertahta di atas pahar kebesarannya yang bertatahkan tahayul dan kemunafikan. Di sekelilingnya duduk delapan bomoh (dukun – pen) yang menempati delapan penjuru mata angin!
Tiada berlaku di negeri itu: adat bersendikan syarak, syarak berpayung Kitabullah. Dan tiada berlaku di negeri itu, keputusan diambil dari butir-butir kebijaksanaan, musyawarah dan mufakat, melainkan dari “wangsit”, petunjuk dukun yang konon berasal dari bisikan gaib!
Begitu berkelindannya sang musang dengan bomoh, jin, dan tahayul, sehingga ilmu yang diamalkannya benar-benar “jadi”. Sehingga “nyawa”-nya sendiri bisa ia simpan di sebuah cembul (kotak kecil – pen).
Dengan menaruh nyawa di cembul wasiat yang diberikan “jin Funky” yang rambutnya mirip model rambut Indian Comanche dalam cerita Karl May itu, keamanan jiwanya tak akan terusik. Hidupnya akan menongkat langit, tiada bahaya kematian mengancam dirinya, selama cembul itu tersimpan di tempat yang aman.
Lebih daripada itu, ke dalam cembul itu pula ia menyimpan alat vitalnya, yang sangat ia sayangi dan banggakan.
Si musang penguasa ini seperti juga halnya dengan raja-raja di India masa lampau, suka berburu. Kalau raja-raja zaman dahulu berburu naik gajah, yang diburu binatang buas seperti harimau, macan dan lain-lain, si musang spesialisasinya: berburu ayam!
Kalau berburu, dia naik kereta besi mulus mengkilap!
Orang ribut karena sudah banyak yang mati karena flu burung, sang musang bagaikan tak terusik. Jangankan terhadap virus avian influensa dan anthrax, dengan malaikat Izrail pun ia tak takut!
Kalau sudah bertemu ayam rupawan, baik ayam kampung, ayam bangkok, ayam ras, ayam arab, ayam jepang, ayam cina, ayam belanda, semua ingin dirasanya. Kalaupon dah ketadak-tadakan, burong puyuh pon jadilah disempal-sempalkan!
Sampailah pada suatu hari, si musang bertemu dengan seekor ayam yang berpenampilan bagaikan Chinese monal pheasant (Lophophorus lhuysii) yaitu sejenis merak! Di belantika unggas, ayam yang satu ini memang terbilang cantik, tapi liar dan ganas. Kehidupannya memang di belantara.
Si musang bukan lagi telior-lior, bahkan liornye sampai netes dengan lidah tejolor-jolor. Si ayam, karena masih temasuk bangsa unggas juga, pandai pula meniru tingkah burung dara: jinak-jinak merpati!
Si musang sambil terliur-liur melantunkan lagu dangdut: Lebih baik kau bunuh aku dengan pedangmu, daripada kau bunuh aku dengan cintamu!
Pandai dia merayu, nak mintak bunoh segale macam, padahal UUD gak! Ujong-ujongnye daging!
Dan yang ditemukan musang kali ini, memang bukan sebarang ayam. Selain jam terbangnya sudah tinggi, pun sudah berpengalaman malang-melintang di dunia kang ow: dunia persilatan!
Jadi seluruh sepak terjangnya, sudah penuh perhitungan, penuh taktik dan perencanaan matang! Lebih daripada itu, ayam yang satu ini pun punya ilmu, tak kalah dari ilmu musang!
Dalam perburuan ayam kali ini, si musang memang babak-belur juga. Ayam yang satu ini tak mau mendekat kalau cuma diberi makan beras. Ia tak mau makan padi atau jagung, tapi butir-butiran permata, emas dan bekebat-kebat duit!
Dalam perburuan yang semakin intens, akhirnya dapat juga si musang menikmati daging ayam itu. Namun ayam tersebut pandai akal, tak maok dibunoh mentah-mentah macam ayam laen. Pon, die memang punye ilmu sengkelet!
Setiap kali si musang ingin menerkamnya, diberinya sekerat daging dari tubuhnya. Begitulah berlangsung sejumlah kali, sekian lama. Namun bagian tubuh yang dikerat itu dagingnya bisa tumbuh kembali! Kabarnya si ayam memperoleh ilmu ini dari seekor cecak! Sebab ayam tersebut melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana cecak mengelabui kucing. Ekornya diputuskannya, dibiarkan melentet-lentet, untuk menarik perhatian kucing. Sementara sang cecak dah bedebu lari.
Ekor yang diberikan kepada kucing, tak ada masalah, bisa tumbuh lagi!
Karena tingkah ayam yang demikian ini, si musang sampai menyanyikan lagu dangdut lagi: Sungguh mati aku jadi penasaran, sampai mati akan terus kuperjuangkan!
Karena kenyamanan, akhirnya si musang sampai kepada stadium ketergantungan terhadap daging ayam tersebut. Macam pemadat narkoba!
Namun demikian ia pun menyadari – setelah koceknye tebebas dan tebengkas – bahwa ia harus lepas dari ketergantungan itu. Sebab untuk umpan ayam itu, ongkosnya mahal amat!
Biar gak tegegar-gegar ia coba menahan rasa ketagihan itu. Tapi tentu saja sang ayam tak ingin dicampakkan begitu saja. Tak ingin ia melepaskan musang tersebut, sebab di matanya musang itu tak lebih dari: keponjen duit!
Sampailah pada suatu bulan Ramadan, si musang tegegar-gegar ketagihan. Celakanya lagi bak orang ngidam, ia ingin berbuka puasa dengan daging ayam! Buah kurma tak ditoleh sama sekali! Ditambah pula dengan sang ayam yang “ngoling” teros, ngirem sinyal: daging dah siap saji!
Namun dalam perjamuan daging kali ini, sang ayam merengek-rengek manja, minta agar cembul wasiat milik musang itu, diserahkan kepadanya. Biar ia saja yang menyimpannya. Selain lebih aman, agar ia tak pernah lagi merasa jauh dari musangnya.
Sang musang tak banyak cakap, dengan mate tekejam-kejam, cembul itu pun dilepaskannya dari pinggangnya yang selama ini dijadikan kendit bersama setepek azimat lainnya! Musang itu menurut saja tatkala cembul nyawanya diminta ayam.
Sejak itu, sebagai upah durhakanya kepada Allah, ia takluk di bawah ceker ayam!
Ia ingin lari – karena tak mampu lagi menghadiahkan butiran permata, emas dan berkebat-kebat duit kepada sang ayam – namun ayam tak ingin melepaskannya. Hubungan mereka menjadi tegang, kemesraan menjadi bara api. Ucapan “cinta” menjadi dendam!
Dan kini, dengan modal cembul wasiat di tangannya, sang ayam bisa berbuat sekehendaknya terhadap si musang.
Sebuah tragedi dan ironi pun terjadi: ayam mematuk dan nyesah musang itu sampai mati! Sampai tak bermuka lagi musang itu!
“Demikianlah kesah musang mati dipetok ayam. Ana kesahkan cerite ini bukan untok ape-ape, tapi untok diambek pelajaran darinye. Sebab dari sebuah fabel – cerita binatang – seperti kesah ‘Kalilah wa Dimnah’, pon orang dapat mengambek pelajaran!” ucap Mat Belatong mengakhiri ceritanya. ***
( Pontianak, 30 November 2005)
Posted by
MAT BELATONG
at
10:53 AM
0
comments
Labels: Kolom
MAT BELATONG DAN MELAYU
Oleh A. Halim R
SUATU hari Mat Belatong dan Mat Ketumbi sama-sama menyimak sebuah lagu Melayu berjudul “Hang Tuah” yang dilantunkan oleh penyanyi cantik asal Riau, Iyeth Bustami.
Yang namanya Mat Ketumbi, kalau sudah mendengar suara Iyeth yang merdu dan manja itu, bisa sampai telior-lior. Iyeth Bustami memang penyanyi favoritnya!
Iyeth melantunkan syairnya:
Tersebut sudah dalam hikayat
Laksamana Hang Tuah setia amanah
Menjunjung harkat juga martabat
Jangan Melayu buang zuriat
Dang Merdu bunda berjasa
Melahirkan putra perkasa
Hang Tuah laksamana satria
Teladan negeri dan bangsa
Dari Bintan Kepulauan Riau
Gaung baktimu ke segenap rantau
Walau kini kau telah tiada
Fatwamu tiada kan punah
Tuah sakti hamba negeri
Esa hilang dua terbilang
Patah tumbuh hilang kan berganti
Tak kan Melayu hilang di bumi
Engkau susun jari sepuluh
Menghatur sembah duduk bersimpuh
Halus budi resam Melayu
Hang Tuah, oh Hang Tuah
Usai mendengar lagu tersebut, Mat Ketumbi menarik napas panjang. Kemudian ia berkata,”Mendengar lagu ini Jon, ana jadi sadar kalau ana ni anak Melayu. Kalau jak ana ni laher jaman Hang Tuah, tentulah ana ikot begabong dengan die, biar gak naek kapal kayu dari Pemangkat pegi ke sanak!“
Mat Belatong yang masih tercenung meresapi kalimat-kalimat syair tersebut tersentak mendengar ucapan Mat Ketumbi.
“Benar sikit cakap awak tu Ketuk! Jangan nak sebarang ngakuk Melayu sekarang ni!“ ucap Mat Belatong.
Balik Mat Ketumbi tekanjat, kemudian berkata,”Eh, ape pulak pasal Melayu sekarang ni!?“
Kemudian Mat Belatong menjawab,”Ape buktinye awak tu Melayu!? Kenal ndak dengan Abang Imien Thaha Ketue MABM Kalbar, kenal ndak dengan pengurus-pengurus organisasi Melayu yang dah betepek tu!?”
Mat Ketumbi menjawab jujur,”Mane pulak ana kenal. Ente kan tahu ana ni siape!“
Lebih lanjut Mat Belatong berkata,”Awak ngakuk-ngakuk Melayu, padahal bukan mustahel, dalam daftar zuriat Melayu orang-orang itu, awak tak masok! Boleh jadi, awak ni anak Melayu yang udah dibuang zuriatnye! Melayu sekarang ni pon dah macam-macam. Ade Melayu Arus Atas, ade Melayu Arus Bawah!“
“Hah, awak cakap ape tu Jon? Kalau tak masok Melayu, ana ni masok ape jak!?“ tanya Mat Ketumbi heran.
“Ketuk, Ketuk. Melayu sekarang ni dah jadi barang elit! Bukan mustahel ade yang menjadikannye sebagai komoditas!“ ucap Mat Belatong.
Kembali Mat Ketumbi tekanjat, lalu berkata,”Melayu jadi komoditas!?”
Setelah berpikir sejenak, Mat Ketumbi melanjutkan omongannya,”Baruk ngerti ana, kalau Melayu tu boleh jadi komoditas ekspor. Pantas jak banyak PJTKI ilegal yang menjual budak-budak kite ke luar negeri!“
”Ketuk, Ketuk. Ngomong dengan awak ni gampang-gampang susah. Barang mudah bise jadi rumet!” jawab Mat Belatong.
Tanpa mempedulikan omongan Mat Belatong, si Ketuk bertanya,”Cobe jelaskan dengan ana, ape pulak tu Melayu Arus Atas, Melayu Arus Bawah. Setahu ana, di masjed tak ade Melayu model begitu. Ana bebas masok ke saf atas, kalau ana dolok datang. Pon tak ade yang melarang ana kalau nak dudok di saf bawah!”
“Ketuk, Ketuk,” ucap Mat Belatong geleng-geleng kepala. “Ente ni tadak pekak macam si Bolot, tapi ngomong dengan awak ni same gak ngomong dengan si Bolot. Kemane arah cakap orang, kemane cakap awak!“ lanjutnya.
Kemudian Mat Belatong berkata,“Udahlah, awak tak perlu masok Melayu Arus Atas atau Arus Bawah, awak tak tepakai! Awak bukak jaringan baru: Melayu Arus Mudik jak! Kerje ringan, sekali setahon waktu nak ngadap lebaran. Ente koordinir budak-budak kite, untok mempermudah arus mudik. Ente cari sponsor kaye dermawan, awak hubungi instansi LLAJR, awak hubungi perusahaan bus, lalu awak ator bagaimane semue pemudik memperoleh kemudahan dan kelancaran, dengan harge karcis dapat lebeh murah karena disubsidi orang kaye dermawan!”
Setelah menghirup kopi Mat Belatong berkata,”Tapi udahlah Ketuk, itu tentu membuat kapalak awak lebeh pening agik! Dan yang sebenar-benar Melayu, betol ugak cakap awak tu, macam di masjed! Tak ade arus atas, tak ade arus bawah, sebab adat Melayu bersendikan syarak : hukom Islam!”
Kemudian Mat Belatong berkata,”Tapi awak tak perlu kecik ati, kalau tak diakuek Melayu oleh organisasi-organisasi Melayu itu. Demi untok menunjokkan identitas Melayu awak, kite boleh buat organisasi laen, misalnye MABM Reformasi, atau wadah sendirik misalnye: Zuriat Melayu Bersatu! Sebagai rajenye boleh kite ajak Matse Yakob – yang biase jadi Raje Mendu – itu. Sebagai Perdana Menteri boleh ana, sebagai Datok Laksamane boleh Mat Ketumbi dengan gelar Datok Laksamane Raje di Laot!“
“Tadak Jon, ana tak maok jadi Laksamane Raje di Laot! Ana tak maok mati dibunoh!” ucap Mat Ketumbi. “Ana jadi khadam pon jadilah,” lanjutnya.
“Tadak, itu semue tak perlu terjadi. Melayu tak perlu banyak organisasi. Diakuek atau tadak, ente tetap Melayu. Biarpon MABM misalnye telah buang zuriat terhadap kite. Sebab kite lebeh tue dari semue organisasi Melayu itu. Mat Ketumbi lebeh tue dari MABM. Kalau tadak Mat Ketumbi-Mat Ketumbi yang Melayu ini di Kalbar, tak kan ade orang-orang tu dapat melaherkan organisasi Melayu! Hanye kite berharap, jangan Mat Ketumbi-Mat Ketumbi yang ade di daerah ini diatasnamekan jak untok kepentingan secupak orang yang ambek kepentingan dengan care mengatasnamekan Melayu! Kalau itu yang terjadi, marwah Melayu akan tepurok, Melayu dipandang mereng, tegal orang-orang yang ngakuk Melayu tapi tak beradab Melayu!“ ucap Mat Belatong.
“Sebagai sebuah organisasi, Lembayu boleh bubar, MABM boleh lebor, organisasi Melayu yang laen pon boleh tekubor. Sebab sebuah negara besar macam Uni Soviet jak bise tinggal name, tembok Berlin pon bise roboh. Namun Mat Ketumbi: patah tumbuh hilang kan berganti, tak kan Melayu hilang di bumi. Yang perlu ditegakkan, citra Melayu seperti halnya akhlak Hang Tuah: Tuah sakti hamba negeri, esa hilang dua terbilang, halus budi resam Melayu!” ungkap Mat Belatong.
“Itulah die Melayu!“ sambut Mat Ketumbi.
“Iye, itulah Melayu,” ucap Mat Belatong,”tecermin dalam akhlak, adat dan budaya! Tak sekadar sebuah organisasi bermerek Melayu! Belanda pun dia, Dayak pun dia, Batak pun dia, Jawa pun dia, Sunda pun dia, Padang pun dia, Cina pun dia, tatkala ia ikut menopang akhlak, adat dan budaya Melayu, maka jangan tolak dia! Rasakan dia sebagai dusanak dekat! Adapun wujud dukungan, bisa berupa penggunaan bahasa Melayu, rasa kesetiakawanan, rasa kebersamaan dalam menghadapi sesuatu masalah, keikutsertaan dalam berkesenian, dan lain-lain. Ia telah menerapkan salah satu pedoman kerukunan hidup bersama dalam sebuah masyarakat: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung! Begitu juga sebaliknya tatkala seorang anak Melayu berada di negeri orang, jangan lupa pepatah lama itu. Dan jangan tekanjat bila para ahli bahasa dunia, menggolongkan bahasa Melayu Sanggau, Sintang, Melawi dan Kapuas Hulu ke dalam grup bahasa Ibanik! Masuk grup bahasa Dayak Iban! Dan inilah: ragam Melayu!” ***
( Pontianak, 12 November 2005 )
Posted by
MAT BELATONG
at
10:50 AM
0
comments
Labels: Kolom


