<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386</id><updated>2011-07-28T15:20:17.994-07:00</updated><category term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG</title><subtitle type='html'>Dari Kampung Paret Kalot Ribot tak jauh dari Kampung Paret Gadoh</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>44</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-6837777434891483155</id><published>2007-12-04T00:24:00.000-08:00</published><updated>2007-12-04T00:25:36.010-08:00</updated><title type='text'>Sirna Mufakat Hilang Bulat</title><content type='html'>Oleh A. Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   ZAMAN dahulu kala orang-orang tua sudah mengenal peribahasa yang berbunyi: bulat air dalam pembuluh, bulat kata dalam mufakat. Air yang tak berotak itu saja bisa bulat kalau masuk ke dalam pembuluh, apalagi kata – yang muncul dari banyak mulut dan otak  – bila dibawa ke dalam permufakatan: bisa menjadi bulat!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun manusia masa kini, karena salah makan – termakan “reformasi” dan terinfeksi virus “demokrasi” – pepatah lama tak dipakai lagi. Atas nama “reformasi &amp; demokrasi” yang dibawa angin “globalisasi” dari Barat, semua yang berbau lama walaupun peninggalan nenek-moyang, dianggap: basi, tidak trendy!&lt;br /&gt;   Sampai-sampai otak pun jadi “blank” kena virus. Dalam keadaan seperti itulah “buih-buih di lautan” mudah terseret arus kemana saja. Ditambah pula ada yang memberi petuah sesat: beda pendapat adalah rahmat! Maka  semakin suburlah perbedaan pendapat, semakin jauh dari: bulat kata dalam mufakat. Tak mau mufakat, tak akan diperoleh kata yang bulat. Yang tak bisa bulat itu: tempoyak! Malar nak meleber jak,  padannye: henyakkan ke dalam  tempayan!&lt;br /&gt;   Entah karena ingin menuai rahmat – mungkin pula ditimpa laknat – akhirnya dalam senika hal kita selalu mengetengahkan: beda pendapat! Ngetrend pemeo baru: banyak kepala banyak pendapat! Sah-sah saja beda pendapat! Alhasil, beda pendapat yang mencuat! Tak pernah ingin mufakat untuk menghasilkan: kata yang bulat.&lt;br /&gt;   Coba lihat kambing: bukan hanya kata – mbeekk – yang bulat mufakat, yang keluar dari pantat kambing pun bisa: bulat-bulat. Banyak orang yang  berhitung memutar biji tasbih, pahadal kambing tak pernah berhitung memproduksi “biji tasbih”. (Maaf. Mungkin ini kata berlebih, jangan jadikan debat dan dalih, hanya ungkapan rasa sedih,  keluar dari hati yang pedih! – pen).  &lt;br /&gt;   Berhadapan dengan situasi seperti ini, Ketuk alias Mat Ketumbi berkata,”Bagos kite tak bekepalak jak, jadi tak banyak pendapat! Barangkali bise gak kata menjadi bulat!”        &lt;br /&gt;   Mat Belatong terkejut dan membelalakkan mata kepada Ketuk. Tapi kemudian ia berkata,”Mungkin iye Ketuk. Kalau semue orang tak bekepalak, memang tak banyak omong agik, tinggal koroh jak keluar dari lobang tenggorokan!”&lt;br /&gt;   Kini balik Ketuk yang bingung dan bertanya,”Biseke orang idop tak bekepalak, Jon?” Mat Belatong ngelakak tertawa. “Awak tengok jak batu babi di Nanga Sepauk Sintang tu! Tegal tak bekepalak lalu disebot batu babi, padahal awalnya bekepalak sapi, peninggalan Hindu zaman bahari!” jawab Mat Belatong. Ketuk mengangguk-angguk. Kemudian ia berkata seperti untuk diri sendiri,”Tegal tak berkepala, sapi lalu disebut babi. Jangan-jangan manusia ‘tak berkepala’ pun jadi babi juga!”&lt;br /&gt;   Mat Belatong tekeruk-keruk tertawa. Ketuk tengah “tak berkepala”, lagi error! Dalam keadaan seperti itu  “kesimpulan” yang dibuatnya pun sering absurd dan error!&lt;br /&gt;   Bukan cuma Ketuk yang sering membuat kesimpulan error, sekarang pun banyak tukang buat kesimpulan yang membingungkan. Malah ada yang mengatasnamakan “survei”. Karena tergolong “tukang”, maka hasil survei pun bisa juga: tergantung pesanan! Tahun 1970-an di Kabupaten Sintang pernah terjadi: Satuan Pemukiman Transmigrasi di Mensiku terpaksa penghuninya “bubrah” ataupun dipindahkan ke lokasi lain, karena lokasi yang mereka tempati tak bisa dipakai untuk bertani! Lahan berpasir kwarsa! Padahal “layak” menurut hasil survei yang dilakukan jauh hari sebelumnya!    &lt;br /&gt;   Demikian juga yang terjadi dua hari sebelum Pilkada Gubernur Kalbar 15 November 2007 lalu. Tiba-tiba saja kabar terbaca, sebuah lembaga survei ekspos berita, tentang perimbangan suara di Pilkada, membuat rakyat bertanya-tanya. Rakyat jadi pambar dan bingung, karena kerja “tukang tenung”, hasil survei dilansir bergaung, rakyat pening kuping berdengung. Apa yang terjadi setelah itu, hasil survei sangat tak jitu, membuat pambar tak tentu rudu, untung rakyat tak beramuk-bertinju. Syukurlah rakyat sudah dewasa, ditempa musibah adu-domba, sudah letih bersilang-sengketa, menerima hasil Pilkada dengan legawa. Orang Kalbar pantas dipuji, tak mudah lagi diprovokasi, tak membabi-buta ikut politisi, aman dan damai dijunjung tinggi. Buruk kerja terima sendiri, banyak orang tak percaya lagi, hasil survei ditanggap apriori, tak perlu dipakai- dipedomani. Kini apa pun boleh dibeli, hasil survei maupun trofi, termasuk ijazah perguruan tinggi, piagam penghargaan apatah lagi.   &lt;br /&gt;   Waktu kandidat debat publik, ada telunjuk dilentik-lentik, itu selubung kampanye politik, muncul dari akal yang licik. Kalau awak bisa begitu, orang bisa lebih daripada itu, kalau semua macam itu, akan timbul haru dan biru. Orang lain tak macam itu, karena hati lebih bermutu, sportif dijunjung aturan dipandu, itulah demokrasi yang dituju. Sandrina Malakiano sampai menegur, karena awak tak pakai atur, awak bukan lagi bau kencur, tapi orang public figure. Mat Belatong rasa beramak muka, Mat Ketumbi mengurut dada, melihat tingkah begitu rupa, kenapa begitu kelakuannya. Sangat sukarkah bersikap sportif, semua aturan bukanlah fiktif, mengajak orang menjadi tertib, agar tak bertinju macam sidang legislatif. Kalau orang lain berbuat begitu, tak perlu awak meniru-niru, jaga perbuatan hati dan kalbu, tunjukkan contoh akhlak bermutu.&lt;br /&gt;   Namun kembali kepada padah, banyak kepala banyak tingkah, bagai dah hilang akhlakul karimah, tokoh panutan dicari payah. Ulama-umara hampir serupa, bermain politik dalam arena, umat bingung nak ikut yang mana, tingkah-laku sama tak kena. &lt;br /&gt;Tua muda sama tak beri, bertindak untuk senang sendiri, mabuk kepayang lupa mati, halal-haram tak ingat lagi. Rakyat pun krisis kepercayaan, karena terjadi krisis ketokohan, jalan pintas lalu dilakukan, rakyat memilih jadi demonstran. Huru-hara di seluruh negeri, perang dan demo menjadi-jadi, bencana alam di sana-sini, adakah itu yang dicari? &lt;br /&gt;   Tuhan sudah beri peringatan, kalau tak sadar laknat dijatuhkan, ulama-umara mabuk sanjungan, rakyat pun bagai hilang ingatan. Mana ulama mana selebritis, payah dipilah payah ditapis, siraman ruhani membuat miris, hadirin menangis bagai histeris. Adakah itu histeria massa, hanyut orasi bersama-sama, baru sadar suatu ketika, karena petuah dai idola. Histeria massa orang kata, mabuk orasi terangsang rasa, banyak orang bisa laksana, termasuk Bung Karno: Ganyang Malaysia! &lt;br /&gt;   Tatkala awak sujud bersunyi, tidakkah terasa Allah hadiri, air mata meleleh sendiri, mungkin itu lebih terpuji. Menangis bukan terangsang orang, melainkan diri sadar seorang, air mata berlinang-linang, kasih Allah sangat dikenang.   &lt;br /&gt;   Di akhir madah kami nak saji, Syair Sultan Syarif Matani, Raja Ketapang zaman bahari, pujangga piawai kocak berperi: &lt;br /&gt;   Berjenis rupa serban dan songkok, ada ke kening ada ke tengkok, muda serupa tua yang bongkok, kaidah baru banyak ditokok. Penuh dan sesak di tepi parit, serban tersenget jubah mengeret, adalah juga rupa prajurit, ada yang rupa Jawa Pleret.    Berbagai rupa jenis pakaian, putih dan hitam ada sekalian, hijau dan merah seperti bayan, tidak terkenal sangku dan rakyan. ***&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;* Syair Sultan Syarif: 643 bait (1895 M).&lt;br /&gt;                                                                                           (Pontianak, 28 November 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-6837777434891483155?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/6837777434891483155/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=6837777434891483155' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/6837777434891483155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/6837777434891483155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/12/sirna-mufakat-hilang-bulat.html' title='Sirna Mufakat Hilang Bulat'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-9040622120932568438</id><published>2007-11-26T01:11:00.000-08:00</published><updated>2007-11-26T01:15:16.184-08:00</updated><title type='text'>Kisah "Nabi Baru" dan Jamaahnya</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_LoyykEpgpQQ/R0qOibbyHFI/AAAAAAAAABA/NvWsTc1DNG8/s1600-h/Matbelatong.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_LoyykEpgpQQ/R0qOibbyHFI/AAAAAAAAABA/NvWsTc1DNG8/s200/Matbelatong.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137075047100456018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh A. Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   PERTENGAHAN Oktober 2007 – usai puasa Ramadan 1428 H – negara Indon eh INA dihebohkan oleh kedatangan seorang “nabi baru” bernama Ahmad Mushaddeq yang meluncur lewat aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah! Kedatangannya disambut hangat oleh ratusan pengikut di Padang Sumatera Barat, dan Bogor Jawa Barat. Busana kebesarannya pun macam orang Barat: berdasi, berjas lengkap, bersepatu mengkilap, bersongkok hitam model khas Indonesia. Perawakannya tegap, wajahnya ada sedikit serupa: Saddam Husein mantan Presiden Irak!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di Pasar Sungai Jawi, Sungai Bangkong, Parit Pekong, sampai ke Sungai Adong Pontianak, masyarakat pambar! Seorang bibi penjual sayuran di Pasar Sungai Jawi memprovokasi: Bagos kite keremos jak mukenye ramai-ramai, kan die tu bise ditengok, bise dipegang!&lt;br /&gt;   Mat Belatong dan Ketuk alias Mat Ketumbi mengikuti dengan serius dan seksama berita kedatangan “nabi baru” lewat tayangan tivi. Mereka merasa aneh, berita yang berkenaan dengan “nabi baru” itu hanya gencar di layar Trans TV, sementara di stasiun tivi lainnya minim sekali, apalagi di suratkabar yang terbit di daerah ini. Adakah “nabi baru” Ahmad Mushaddeq itu hanya “teken kontrak” dengan Trans TV untuk membuat rekaman filem, atau melansir rekaman kamera video tentang dirinya dari tempat tersembunyi? Mungkin iya.   &lt;br /&gt;   Mat Belatong dan Ketuk berusaha memaklumi hal itu. Sebab Nabi Muhammad saja pada awalnya membaiat dan menyebarkan ajaran Islam secara sembunyi-sembunyi dari tempat yang tersembunyi. Kaum kafir Quraisy sangat ganas dan memusuhinya tatkala itu. Bukan seperti dai-dai kondang masa kini yang diundang ke sana-sini, sama sekali tak berhadapan dengan pihak yang memusuhi. Anehnya lagi ada khatib yang “ngomel” di mimbar masjid terhadap umat Islam yang sudah mau salat dan ikhlas masuk masjid!    &lt;br /&gt;   Apa yang dilakukan oleh Mushaddeq dan Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang disiarkan oleh Trans TV itu seperti sedemikian terbuka, bahkan seakan “menantang” dialog dan “debat” dengan para ulama Islam. Ketuk dan Mat Belatong penyandang gelar S5 (séngét,  selembe, sepok, sekalor, selebor) merasa heran.  Kemana para ulama terkemuka, kemana para ahli tafsir Al-Quran, dai kondang, dan “dai gaul” di negeri ini? Tak mampukah melakukan “debat terbuka” dengan Ahmad Mushaddeq? Adakah semuanya bertameng dan bersembunyi di belakang MUI (Majelis Ulama Indonesia). Padahal: untuk menetapkan hari Lebaran: beragam. Ngadap Mushaddeq: diam?  &lt;br /&gt;   Ketuk mencatat dari pemberitaan tivi, MUI tak bersedia melakukan dialog dengan “nabi baru” Ahmad Mushaddeq. Sejak awal Oktober 2007 lalu, MUI telah menyatakan: Al-Qiyadah Al-Islamiyah sebagai aliran sesat!  &lt;br /&gt;   Sedikit kecewa, Ketuk berkata,”Tak bisakah Mushaddeq itu dilawan dialog terbuka oleh pada ulama, ahli tafsir dan dai kondang kita, biar dia: KO, sekak-mat! Sehingga dia benar-benar merasa kalah dan bersalah. Para pengikutnya pun hilang kepercayaan terhadapnya, tak mau lagi ikut Mushaddeq, lalu kembali dengan sadar kepada ajaran Islam yang benar. Umat Islam yang imannya rapuh, bisa menjadi teguh! Zaman dulu saja, kusir pandai berdebat, konon pula para anbia, aulia dan ulama! Tidakkah untuk mengadakan debat terbuka itu tinggal konteks saja Trans TV.”    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Mat Belatong menjawab,”Udah Ketuk, itu bukan takar kite mempercakapkannye. Nantik jadi salah pulak!”&lt;br /&gt;   Ketuk sempat mencatat, beberapa “amalan” (praktik) yang dilakukan oleh pengikut AL-Qiyadah tersebut. Mereka mengucapkan “sahadat” (persaksian) yang berbunyi: Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Al-Mahdi Al-Maw’ud, saya bersaksi bahwa Anda Al-Masih Al-Maw’ud. (Baca secara lisani saja, jangan  ditasdik dengan hati dan ditaati dengan fi’li – perbuatan – kecuali kalau mau jadi pengikut “nabi baru” Ahmad Mushaddeq! Pun maaf, kalau petikan kalimat “sahadat” ini ada kesalahan. Sebab Ketuk memang: agak pekak beruang, bukan pekak berduit! – pen).&lt;br /&gt;   Tampak di layar tivi burok Mat Belatong: sang “nabi” dan pengikut yang dibaiatnya bersalaman bagaikan orang yang “berpanco”.&lt;br /&gt;   Dalam cacatan Ketuk, Mushaddeq mengaku berpegang kepada Kitab Suci Al-Quran, tetapi tidak mengakui Al-Hadis (ucapan Nabi Muhammad selain yang tertera di dalam Al-Quran – pen). Mushaddeq mengaku bahwa Al-Quran sudah ada di kepalanya, ruh Al-Quran sudah turun kepadanya. Ia menakwilkan ayat-ayat Al-Quran berdasarkan semua ilmu tafsir. Mendasarkan ajarannya kepada ayat-ayat  yang muhkamat (terang, jelas artinya) dan menakwilkan ayat-ayat mutasyabihat (kurang terang dan kurang jelas artinya). Kecuali itu ajarannya berdasarkan rukyah (penyaksian mata jasmani) dan kasyaf  (penyaksian mata ruhani), termasuk petunjuk lewat mimpi. “Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad juga menerima wahyu lewat mimpi,” demikian ucapan Mushaddeq yang dicatat Ketuk. Mushaddeq mengaku pula bahwa ia telah menerima “wahyu kenabian” sejak awal 2001, dan baru memproklamasikan diri sebagai “nabi” setelah enam tahun kemudian. Dewasa ini ia mengaku sedang berada pada “periode Al-Makkiyah” (periode ketika Nabi Muhammad menerima wahyu tatkala masih berada di Mekah, sebelum melakukan hijrah ke Madinah – pen). &lt;br /&gt;   Mereka tidak salat lima waktu, melainkan hanya salat malam (qiyamul lail). “Nabi Muhammad baru salat lima waktu setelah 13 tahun, sejak menerima wahyu pertama,” ucap Mushaddeq yang dicatat Ketuk.&lt;br /&gt;   Nurlaila istri Mat Belatong mengatakan bahwa ia mendengar berita di tivi, Ahmad Mushaddeq dan pengikutnya tidak membaca surat Al-Fatihah ketika salat.&lt;br /&gt;   Menurut Drs M Zain Plt Kepala Taman Budaya Kalbar, ia mendengar lewat siaran tivi bahwa Mushaddeq dan pengikutnya hanya melakukan puasa selama tiga hari.   &lt;br /&gt;   Jumat 26 Oktober 2007 berita Trans TV menyebutkan bahwa dua jamaah Al-Qiyadah Al-Islamiyah masing-masing bernama Mujiono dan Mamat telah ditangkap polisi di Jakarta karena mengedarkan selebaran yang berisi penodaan terhadap agama. Salah seorang warga Cengkareng di Jakarta mengaku bahwa ia pernah ditawari untuk menjadi pengikut Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Dengan membayar Rp 700.000,- bisa masuk surga! (Duit “setoran ke surga” ini tidak jelas, apakah akan masuk kocek Mujiono atau Mamat, atau setoran ke kocek “nabi baru” Ahmad Mushaddeq – pen).&lt;br /&gt;   Sebuah berita tivi mengabarkan pula bahwa Ahmad Mushaddeq yang kini berusia 63 tahun, pernah menjadi pelatih bulutangkis nasional (1971 – 1982), dan bukan berasal dari kalangan santri.     &lt;br /&gt;   Minggu 28 Oktober 2007 beberapa stasiun tivi memberitakan bahwa hari Sabtu 27 Oktober 2007, lima pengikut Al-Qiyadah menyatakan insyaf dan mengucap dua kalimat sahadat (pernyataan masuk Islam) di Masjid Al-Wustha Padang disaksikan oleh Ketua MUI Padang. Ketua MUI Padang mengimbau agar 3000 lebih pengikut aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah di Padang bertobat. Menurut Ketua MUI Padang, keberadaan aliran yang bernabikan Ahmad Mushaddeq itu terbongkar pertengahan Ramadan 1428 H lalu. Sabtu 27 Oktober 2007 itu pula masyarakat Islam di Pamijahan Gunung Bunder (Bogor) mengadakan demo teaterikal “membunuh nabi baru Ahmad Mushaddeq”. Mereka menolak tudingan bahwa Gunung Bunder sebagai pusat kegiatan aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Sebab tak ada warga Gunung Bunder yang jadi pengikut Ahmad Mushaddeq.  Mereka meminta agar polisi secepatnya menangkap H Salam alias Ahmad Mushaddeq itu.&lt;br /&gt;   Juga pada hari yang sama 18 orang pengikut “nabi baru” di Kebon Jeruk Jakarta minta pengamanan ke Polsek Kebon Jeruk. Mereka ketakutan mendengar akan diserang oleh sebuah ormas Islam. Dua pengikut lainnya akan menyusul menyerahkan diri. &lt;br /&gt;   Seorang warga di Kompleks Perumahan Sunrise Garden Jakarta Barat mengungkapkan, dalam praktiknya pengikut aliran Al-Qiyadah itu mengajak warga setempat masuk aliran mereka lewat SMS (pesan singkat telefon genggam). Kalau tak mau: dianggap musyrik (orang yang menyekutukan Allah atau penyembah selain Allah). &lt;br /&gt;   Menurut pengakuan Hadi Pratikno salah seorang pimpinan Al-Qiyadah yang sudah ditahan polisi di Jakarta, pengikut aliran tersebut di Indonesia berjumlah sekitar 50 ribu orang. Mereka ada di Jogja, Batam dan beberapa kota lainnya di Indonesia.&lt;br /&gt;   Senin 29 Oktober 2007, tivi Trans 7 memberitakan markas Al-Qiyadah Al-Islamiyah di Sidoarun (Sleman – Jogja) telah di serang oleh sebuah ormas Islam. Enam orang pengikut Mushaddeq telah ditangkap polisi, diamankan di Polres Sleman. Warga setempat mengaku keberadaan aliran itu telah meresahkan masyarakat sejak dua bulan lalu, dan diduga telah masuk ke wilayah tersebut sejak tahun 2005.       &lt;br /&gt;   Diberitakan pula bahwa markas Al-Qiyadah Al-Islamiyah di Desa Cimindal Bogor yang berupa sebuah vila lengkap dengan kolam renang telah ditinggalkan Mushaddeq dan para pengikutnya.&lt;br /&gt;   Selasa 30 Oktober 2007, ramai tivi memberitakan: Senin malam 29 Oktober 2007 istri dan anak Mushaddeq dibawa ke Kantor Polda Metro Jaya. Istri “nabi baru” itu bernama Gin Kasan Harjo (nama asli: Waginem!). Dan pada malam itu juga Mushaddeq yang betapok entah di mana menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya. Ia digiring masuk ke Kantor Polda Metro Jaya tak menjawab sepatah pun pertanyaan wartawan. Rambutnya agak kusut tanpa songkok, ubun-ubun agak sulah, namun masih bisa tersenyum. Jas dan dasi tak tampak lagi. Empat dari 12 orang “sahabat nabi baru” itu tertangkap pula oleh polisi. Pada malam yang sama dua pengikut Al-Qiyadah Al-Islamiyah ditangkap polisi di Surabaya.  &lt;br /&gt;   Di Bandar Lampung, anggota jamaah yang bernama Asmadi Asyikin dan Mustafa pun diamankan polisi. Di Cilacap, Surip Maliono dan istrinya Ida Farmawati bersama seorang jamaah lainnya digelandang ke kantor polisi. Pada hari yang sama markas Al-Qiyadah di Pancoran Jakarta digempur massa, enam orang jamaahnya diangkut ke Polres Jakarta Selatan. Di Padang, seorang pengikut Mushaddeq mengaku ikut aliran Al-Qiyadah gara-gara ikut pengajian di kantor mereka.&lt;br /&gt;   Di tengah hiruk-pikuk berita penangkapan Mushaddeq dan para jamaahnya itu, Selasa 30 Oktober 2007 Lia Eden pemimpin aliran “kerajaan tuhan” yang mengaku dirinya jelmaan malaikat Jibril, keluar dari penjara! Ia yang yang meramu berbagai ajaran agama dan ingin melenyapkan ajaran Islam dari muka bumi, divonis dua tahun penjara oleh pengadilan di Jakarta Desember 2005 lalu. Kurang dari dua tahun ternyata ia telah bebas, dan pulang ke rumahnya di Jalan Mahoni Kelurahan Bungur – Cempaka Putih Jakarta. Kalau Mushaddeq mengaku dirinya sebagai “Al-Mahdi Al-Maw’ud” maka Lia Eden telah lebih dulu mengangkat anaknya yang bernama Abdurrahman sebagai Imam Mahdi!&lt;br /&gt;   Keluar dari penjara Lia Eden mengatakan bahwa ia dan pengikutnya akan terus menjalankan keyakinannya. Dakwaan sebagai pembawa “aliran sesat” telah ia bayar dengan hukuman dua tahun penjara.&lt;br /&gt;   Rabu 31 Oktober 2007, ramai tivi memberitakan: Lia Eden mengurung diri di kamar, tak mau ditemui wartawan dan menolak diberitakan secara luas. Sejumlah pengikut ajaran “kerajaan tuhan” yang berada di rumah Lia Eden, mau menerima wartawan dan menyatakan bahwa keyakinan mereka tidak berubah. Beberapa warga setempat mengakui, bahwa kembalinya Lia Eden ke lingkungan mereka tidak ada masalah. Sebab Lia Eden dan pengikutnya tak ada menghasut warga untuk mengikuti ajarannya. &lt;br /&gt;   Tanggal 31 Oktober 2007, Polda Metro Jaya menetapkan Mushaddeq dan dua kawannya sebagai: tersangka penyesatan agama!      &lt;br /&gt;   Hari-hari selanjutnya pesawat tivi diramaikan dengan berita penangkapan dan penyerahan diri (minta perlindungan – pen) jamaah Al-Qiyadah Al-Islamiyah kepada polisi di berbagai kota dan provinsi di Indonesia.    &lt;br /&gt;   Ketuk dan Mat Belatong mengira-ngira, kalau Elia Khadam eh Lia Eden yang mengajarkan aliran sesat dan ingin menghapuskan agama Islam telah mendapat ganjaran dua tahun penjara, entah berapa pula yang diterima Mushaddeq. Mungkin di bawah 22 bulan, sebab ia “hanya” mengubah “sahadat rasul”, masih berkitab kepada Al-Quran dan tidak bertekad “memerangi” Islam. Mungkin reken-mereken hukuman ini pun telah dipikirkan oleh Mushaddeq sebelum memproklamasikan diri sebagai Al-Mahdi Al-Maw’ud. Boleh pikir, kalau mengaku “nabi” bisa mendatangkan deposito sekitar Rp 5 miliar saja (baik dari dalam maupun luar negeri), bukankah keluar dari penjara masih ada restan-nya untuk hidup berleha-leha? &lt;br /&gt;   Ketuk dan Mat Belatong berpikir, Mushaddeq dan para sahabatnya termasuk orang “hebat”. Kalau benar mereka telah berhasil menyahadatkan – walau sesat – sekitar 50 ribu pengikutnya dari berbagai suku bangsa dan etnik di negeri ini, tentu dia punya strategi dan metode dakwah yang tinggi, pembicara yang piawai, punya pemahaman yang “hebat” – walau sesat – terhadap ayat-ayat Al-Quran! Apa tak “hebat”: mampu meyakinkan orang sebanyak itu untuk mengikuti ajarannya! Dari budak kecik sampai orang tua, dari mahasiswa, guru agama sampai pengusaha kaya!&lt;br /&gt;   “Ente udah mbawak berape orang untok membaca sahadat masok Islam ke kantor agama, Jon?” tanya Ketuk kepada sahabatnya. Mat Belatong diam: merasa tersindir!    &lt;br /&gt;   Fatwa ulama dan tekanan fisik massa memang telah “mengalahkan” Lia Eden, Mushaddeq beserta jamaahnya secara jasmani, mungkin juga lisani. Namun adakah mereka benar-benar telah “terkalahkan” hingga ke hati nurani sehingga menerima Islam  dengan penuh keikhlasan murni? Entahlah.&lt;br /&gt;   Jumat 9 November 2007 malam, tiba-tiba Mushaddeq bikin “pambar” lagi di layar Metro TV. Bertempat di lantai dua gedung kriminal Polda Metro Jaya, dihadiri Pengurus MUI Pusat,  Qurasy Shihab – ahli tafsir Al-Quran – dan wartawan, Mushaddeq bertobat! (baca: bertobat, bukan berobat! – pen). &lt;br /&gt;   Dia mengucap dua kalimat sahadat: Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah.. Ia menyatakan: menarik seluruh pernyataan yang telah diucapkannya, dan akan terus berdakwah bersama para pengikutnya! Tak ada “debat kusir” Mushaddeq ditayangkan, mungkin memang ia tak ingin lagi berdialog apalagi berdebat. Ia hanya ingin ber-“tobat”, mungkin juga: berobat! Ia mengaku sebagai manusia biasa, bukan nabi atau rasul, hanyalah sekadar seorang dai! Tampak di layar tivi entah siapa-siapa berpeluk-pelukan mesra dengan Mushaddeq: bak menyambut orang pulang haji! Hilang cerita jadi Al-Mahdi Al-Maw’ud, balik mengakui: Muhammad Rasulullah!&lt;br /&gt;   Adakah Mushaddeq ngeri juga dengan “ancang-ancang” hukuman 20 tahun penjara yang “diteriakkan” sementara manusia di Indonesia? Entahlah! Kalau dihukum dua tahun penjara:  mungkin masih tahan juga bahu memikul, ada gunanya juga modal terkumpul! Kalau 20 tahun penjara: alamak, mungkin awak “gem” di penjara!&lt;br /&gt;   Bagaimana dengan para jamaahnya?&lt;br /&gt;   Lucu, tragis, ironis, miris! Ada jamaah di beberapa daerah di Indonesia yang ngotot: bersikukuh tetap mengakui Mushaddeq sebagai nabi, padahal “nabi”-nya sudah “membelot”. Sebagian lainnya mungkin: berbakul-bakul sumpah-seranahnya kepada “Wak Salam” suami Waginem. Ayo, siapa lagi menyusul mau jadi “nabi” atau, labi-labi? ***       &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;   (Tulisan ini sengaja dibuat sebagai catatan, mungkin ada manfaatnya untuk menyambut Al-Mahdi  dan “nabi baru” lagi – pen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                           (Pontianak, 10 November 2007).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-9040622120932568438?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/9040622120932568438/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=9040622120932568438' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/9040622120932568438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/9040622120932568438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/11/kisah-nabi-baru-dan-jamaahnya.html' title='Kisah &quot;Nabi Baru&quot; dan Jamaahnya'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_LoyykEpgpQQ/R0qOibbyHFI/AAAAAAAAABA/NvWsTc1DNG8/s72-c/Matbelatong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-6994620277800743004</id><published>2007-11-05T01:52:00.000-08:00</published><updated>2007-11-05T01:55:17.617-08:00</updated><title type='text'>Pilkada dan MTQ XXII Kalbar</title><content type='html'>Oleh A. Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   MAT BELATONG dan Ketuk (sapaan akrab: Mat Ketumbi) tengah terlibat dalam dialog terbatas berkenaan dengan “peta politik” di Kalbar dewasa ini yang kian memanas. Panas amat ndak juga, sebab rakyat kian dewasa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sistem Pilkada yang masih berlaku dewasa ini – di mana kandidat disyaratkan harus diusung oleh partai politik – tampak parpol jadi komoditas penting. Bagaikan gadis cantik di “menara gading” (walaupun retak-retak!). &lt;br /&gt;   Ironisnya, yang terjadi kini: bukan parpol yang memilih siapa yang pantas diusung naik pahar, tapi kandidat yang minta diusung. Kandidat yang melamar parpol, kandidat yang minta didukung jadi pemimpin. Tak peduli, resikonya: harus jadi “kuli kontrak”, menandatangani “kontrak politik” dengan parpol. Babak-belur keluar duit berpuluh-puluh miliar, bukan masalah. Sebab setelah duduk, duit tinggal diciduk dan ditangguk, untungnya jelas: minimal berpuluh kali tumpuk. &lt;br /&gt;   Dalam “bisnis”, tak ada orang yang mau rugi. Pemeo “biar tekor asal kesohor” sudah ketinggalan zaman! Falsafah “balik modal pun jadi” membuat perusahaan: stagnant dan bankrupt! Bisnis ya bisnis. Menipu dan meracuni orang dengan permen, tahu, ikan asin, buih mulut ber-formalin, bukan masalah.&lt;br /&gt;   Demikian juga dengan “bisnis politik”. Kandidat bukan cuma jadi “pancur duit” bagi DPD partai, tetapi juga jadi “bulan-bulanan” DPP partai.&lt;br /&gt;   Dengan sistem Pilkada yang demikian ini, jelas: cost yang mesti dihamburkan oleh kandidat jadi membengkak. Belum lagi yang perlu ditaburkan untuk meraih simpati rakyat, baik dalam kampanye terselubung maupun terbuka. Babar-belur memang! &lt;br /&gt;   Imbalannya – kalau sudah duduk di singgasana – niscaya: giliran rakyat yang babak belur! Duit proyek tak berketentuan, infrastruktur di daerah tak teperhatikan, dana pembangunan untuk kepentingan rakyat jadi korban! Keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat cuma impian. &lt;br /&gt;   Padahal pada zaman Rasulullah dan kekhalifahan masa lampau: jabatan tak akan diberikan kepada orang yang meminta! &lt;br /&gt;   Bukan apa-apa, Rasulullah takut si pemegang jabatan masuk neraka, rakyat sengsara dan teraniaya! Rasulullah atau khalifah yang memberi mandat: masuk hukum sebahat!&lt;br /&gt;   Tapi itu cerita “zaman dulu” waktu neraka “masih ada”. Sekarang bukankah neraka “cuma ada dalam cerita”. Seberapa banyak sih orang di dunia ini yang masih berpikir tentang mati, apalagi mempercayai kehidupan setelah mati? Tatkala banyak orang menderita dan mati karena permen formalin: emangnya gua pikirin – kata produser.&lt;br /&gt;   Di antara orang-orang “kuno” yang mempercayai “dongeng kehidupan dan kematian” itu adalah Mat Belatong dan Ketuk.   &lt;br /&gt;   Berkenaan dengan peta politik di daerah ini, Ketuk berucap,”UJ poligami Jon, teken kontrak kawen dengan 8 partai! Partai yang berkoalisi pon begitu gak: salome, satu lobang (duit) rame-rame!&lt;br /&gt;   Mat Belatong yang “buta informasi” bertanya,”UJ tu ape, Ketuk? Mobel pekap burok yang ade merek UJ besak di depannye ituke? Mobel sebutik tu memang PD-nye kuat, biar burok: maseh sanggop merayap di jalan kota Pontianak!” &lt;br /&gt;   Ketuk menggaruk-garuk kening tak gatal, kemudian berucap,”Iye UJ tu mobel pekap burok, LHK tu toko elektronik, OSO tu pompa bensin, IL tu illegal logging!”&lt;br /&gt;   Ketuk berpikir, sungguh tak ada guna-gunanya orang menghadirkan berbagai media informasi di daerah ini bagi Mat Belatong. Tak dibaca dan didengarnya! Belum selesai Ketuk berpikir, tiba-tiba Mat Belatong berkata,”Ade faedahnyeke Ketuk, kite ni ngomong peta politik. Ndakke tadak kite omongkan pon,  mesen politik tu jalan teros. Jangan-jangan kite pulak yang dilanyaknye!”  &lt;br /&gt;   Ketuk menjawab,”Pilkada 15 November 2007 mendatang, punye makna signifikan, Jon! Bukan cume pemilehan Gubernur Kalbar, tapi Walikota Singkawang gak, untok periode 2008 – 2013. Di pundak yang menang tertanggong sukses-tadaknye pelaksanaan MTQ XXII Tingkat Provinsi Kalbar tahun 2009 di Singkawang!”&lt;br /&gt;   Sambil mengangkat kain sarungnya dan membuka kancing baju kokonya, Mat Belatong mengangkat dan mencangkungkan sebelah kakinya di kursi. Kemudian ia berkata,”Iyelah, kalau signifikan kate awak, tentulah maknanye penting. Apelagik tekaet dengan MTQ. Cume setan dan iblis yang mengharapkan pelaksanaan MTQ tu hancor-lebor!”   &lt;br /&gt;   Ketuk berkata dalam hati,”Disebot MTQ, nyambong pulak die!” Lebih lanjut Ketuk berkata lewat mulutnya,”Makenye Jon, momen Pilgub November 2007 ini penting. Sebab di tangan gubernur yang baru ini nantik tergantong berape besar dana yang dialerkan Pemprov Kalbar ke Singkawang untok pelaksanaan MTQ itu. Lebeh daripade itu, siape Walikota Singkawang yang terpileh pada Pilkada November 2007 ini, dielah yang mesti punye kreativitas tinggi dan keikhlasan besar untok penyiapan dana penyelenggaraan MTQ yang lumayan besar itu. Lelehan dana dari Pemprov sangat tak bise diharapkan:  entah-entah mencapai sepersepuloh dari keselurohan dana yang diperlukan. Untok MTQ Tingkat Nasional Perguruan Tinggi se-Indonesia di Untan beberape waktu lalu jak, sampai saat pembukaan MTQ, duet dari Pemprov Kalbar belom keluar! Tapi itulah, walau pon dana besar belom tentu menjamin kesuksesan dan kesemarakan penyelenggaraan sebuah MTQ. Dana besar pon, kalau tapah melulu yang mengelolanye, atau salah perencanaan, bise jadi percume gak!”&lt;br /&gt;   Ketuk beranjak ke dapur membawa gelas, untuk membuat kopi sendiri. Sebab yang tersisa di gelasnya cuma keredak kopi. “Sorry Mbok Laila, saye self service!”, ucap Ketuk kepada istri Mat Belatong yang tengah nyiang sayok keladi.&lt;br /&gt;   Setelah duduk kembali di hadapan Mat Belatong, Ketuk langsung berkata,”Pelaksanaan MTQ XXI Tingkat Provinsi Kalbar di Putussibau Kapuas Hulu 2 – 10 Maret 2005 lalu,  terbilang sangat baik dan sukses. Bahkan terhadap acara yang disuguhkan pada malam pembukaan dan penutupan, banyak yang berkomentar: spektakuler! Ada tarian masal, pesta kembang api, dan permainan sinar laser yang sebelumnya tak pernah terjadi di MTQ tingkat provinsi maupun nasional! Lebih dari 20-an mobil yang berisi kepala dinas dan instansi Kota Singkawang konvoi bersama ke Putussibau untuk menghadiri malam penutupan MTQ XXI itu. Mereka terkejut mendengar kabar bahwa acara malam taaruf dan malam pembukaan MTQ XXI itu, sangat memukau! Pelayanan akomodasi, konsumsi dan transportasi bagi para kafilah dari masing-masing kontingen, sangat perfek. Mereka ingin “belajar” dari Kapuas Hulu, sebab mereka yang bakal jadi panitia MTQ XXII kelak. Dan lebih terkaget-kaget lagi mereka setelah menyaksikan apa yang disuguhkan pada malam penutupan itu. Mereka masih berkomunikasi dengan publik lewat selembar spanduk dengan tulisan: Kota Singkawang Siap Menjadi Tuan Rumah MTQ XXII Kalbar. Padahal Putussibau telah berbicara kepada publik lewat tulisan sinar laser yang bisa disorotkan ke tengah lapangan, ke bumbungan kompleks mimbar tilawah, bahkan ke kumpulan asap pecahan kembang api di langit! Sebetulnya tak perlu ada lagi bentangan spanduk yang bisa membuat risih pemandangan di tengah fasilitas elektronik yang tersedia. Tinggal pesan saja kepada panitia, Singkawang mau  titip pesan apa kepada publik. Tinggal diketik dalam sekejap di komputer, kemudian dibentangkan di lapangan lewat sorotan sinar laser. Ataupun bisa memanfaatkan dua layar besar infocus yang terbentang di kiri-kanan lapangan!” &lt;br /&gt;   Mat Belatong ternganga dan terliur-liur mendengar cerita Ketuk. Liurnya belum sempat diseka, ketika Ketuk lebih lanjut berkata,”Akankah pelaksanaan MTQ XXII Kalbar di Singkawang tahun 2009 nanti diselenggarakan oleh Walikota Singkawang – Awang Ishak – bila ia terpilih kembali dalam Pilkada 15 November 2007 mendatang? Apa yang akan dibuatnya untuk MTQ tersebut, bolehkah kita berharap banyak kepadanya?”&lt;br /&gt;   Mat Belatong menyeka liur dengan lengan baju kokonya, sementara Ketuk menghela napas panjang. Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing. Pikiran menerawang:  mengingat sosok Awang! ***  &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;                                                                                               (Pontianak, 20 Agustus 2007). &lt;br /&gt;Versi cetak dimuat di Borneo Tribune, tanggal 4 November 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-6994620277800743004?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/6994620277800743004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=6994620277800743004' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/6994620277800743004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/6994620277800743004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/11/pilkada-dan-mtq-xxii-kalbar.html' title='Pilkada dan MTQ XXII Kalbar'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-2667530558295013873</id><published>2007-11-02T20:08:00.000-07:00</published><updated>2007-11-02T20:09:54.907-07:00</updated><title type='text'>Babi Makan Ikut Kera</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_LoyykEpgpQQ/RyvmeESxRRI/AAAAAAAAAA4/tSTzVpg7xig/s1600-h/Matbelatong.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_LoyykEpgpQQ/RyvmeESxRRI/AAAAAAAAAA4/tSTzVpg7xig/s200/Matbelatong.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5128446004914373906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh  A.Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   ADA SEBUAH pepatah lama Cina, yang kalau diterjemahkan secara bebas, artinya kurang lebih berbunyi: babi makan ikut kera!&lt;br /&gt;   Kisahnya, nun di dalam hutan sana serombongan kera – bisa sampai 50-60 ekor – sedang merambah hutan mencari makanan berupa daun-daunan ataupun buah-buahan. Mereka berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Sejumlah induk kera tentu ada pula yang menggendong bayi yang bergantung di dadanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawahnya – di tanah – berjalan pula rombongan babi mengikuti kera-kera di atasnya. Mereka mengharapkan buah-buahan sisa makanan kera yang dijatuhkan ke tanah! Kalau nasib untung, didapat pula buah-buah yang masih bagus dan masak, yang gugur sendiri tatkala si kera meloncat dari satu dahan ke dahan lain. Rombongan babi ini pun ada pula yang anak-beranak. Kepada babi-babi muda sudah mulai diajar: bagaimana salah satu alternatif  mencari makan! Kalau susah mencari makanan sendiri, ikut kera pun jadilah!&lt;br /&gt;   Hidup dan mencari makan seperti ini, apakah tergolong kolusi, simbiosis, pemulung, tak perlu dipikirkan.&lt;br /&gt;   Sebagai sebuah pepatah, tentu saja pepatah Cina di atas bukan untuk menyindir bangsa babi, melainkan menyindir bangsa manusia!&lt;br /&gt;   Kalau kita mau mencermati kehidupan di muka bumi ini, maka ada manusia yang berperan seperti kera, ada pula yang berperan sebagai babi!&lt;br /&gt;   Yang berperan menjadi kera antara lain mereka yang mencari makan pada jalur-jalur yang bertentangan dengan hukum, kaidah agama, etika, susila dan adat kebiasaan manusia beradab! Contohnya, membuka lapak judi, permainan biliar-ketangkasan terselubung, tempat prostitusi, kopi pangku, diskotek-karaoke plus, panti pijat terselubung, penyelundupan, illegal logging, PETI, penjualan miras, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;   Di tempat-tempat seperti itulah banyak babi-babi menumpang mencari makan! Mereka bukan karyawan perusahaan tersebut, sebab para karyawan hanya tergolong monyet-monyet kecil peserta rombongan kera!&lt;br /&gt;   Yang jadi babi – yang menumpang mencari makan di tempat-tempat serupa itu – bukan lain adalah sementara oknum aparat dan pejabat, baik ABRI, Polri, penegak hukum, PNS,  preman dan lain-lain!&lt;br /&gt;   Si kera pun termasuk “arif”, sadar bahwa pekerjaannya salah. Oleh karena itu, cincai-lah, bagi-bagi rezeki tak masalah. Setiap akhir bulan ia mengantar “ang pao” atau “sopui” kepada para petinggi. Setiap malam sedekah Rp 5 atau Rp 10 ribu kepada petugas patroli, tak masalah!   &lt;br /&gt;   Itulah budaya kera dan babi, yang telah merasuk ke hati hingga tulang sum-sum banyak orang di daerah ini, bahkan negara ini. Dan tentu masih ada beragam macam pekerjaan yang dilakukan babi di luar itu. Namanya juga babi – makhluk omnivora: pemakan segala – selain mencari makan ikut kera, tentu semua cara halal baginya untuk memperoleh makanan, terlebih untuk memperkaya diri sendiri. Apakah yang dilakukannya itu menyebabkan sendi-sendi  hukum, ekonomi, sosial-budaya di daerah dan negara  ini menjadi kropos, ia tak peduli! Karena banyaknya “babi” itulah Indonesia merupakan salah satu negara di muka bumi ini, yang menempati peringkat atas dalam hal korupsi, pun termasuk ranking dalam hal keberantakan akhlak! &lt;br /&gt;   Seorang Brigjen Polisi bernama Nanan Sukarna – Kapolda Kalbar – telah menggumpalkan tekad  Anti KKN ke hatinya, dan ia menyematkan Pin Anti KKN ke dada kanan pakaian seragam setiap anggota polisi di daerah ini. Ia ingin memberantas kelakuan babi!&lt;br /&gt;   Ragukah kita kepada tekad Nanan yang demikian itu?&lt;br /&gt;   Nanan tak perlu diragukan. Ia seorang lekaki yang keras dalam prinsip, lembut dalam berbicara, tegas dalam tindakan.&lt;br /&gt;   Ia bertekad untuk membawa jajaran kepolisian di Kalbar keluar dari “zaman jahiliah”, seperti yang diungkapkannya pada Peringatan Ulang Tahun PWI Cabang Kalbar belum lama ini.&lt;br /&gt;   Di tengah-tengah “budaya babi” inilah Nanan ingin berbuat. Tak bisa “memanusiakan babi” di seluruh strata sosial di daerah ini, di lingkungan kepolisian dulu pun jadilah.  &lt;br /&gt;   Ini pasti bukan pekerjaan ringan. Sebuah kebenaran mutlak dari Allah yang dipikulkan ke pundak Muhammad SAW saja, mendapat tantangan berat dari kalangannya sendiri: kaum jahiliah kafir Quraisy!&lt;br /&gt;   Nanan tentu akan berhadapan dengan para Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sikat., Abu Sembat, Abu Belanat, Abu Peras, Abu Pungli, sampai Abu Gosok, baik dari kelas prajurit maupun kelas perwira di lingkungannya.&lt;br /&gt;   Bukan hal yang gampang bagi seseorang untuk keluar dari “kebabiannya” untuk menjadi manusia baik-baik, orang yang berakhlak mulia. Tentu tak mudah untuk meninggalkan kebiasaan nyaman – tanpa merasa bersalah dan berdosa – melakukan pekerjaan menyimpang, memakan barang haram dan subhat!&lt;br /&gt;   Namun sebuah tekad mulia yang dilakukan dengan segenap upaya, tanpa pernah putus asa, niscaya telah memperoleh ganjaran kebaikan dari Allah. Terlepas dari berhasil atau tidak.&lt;br /&gt;   Jalan yang ingin ditempuh Nanan adalah: shirathal mustaqim – jalan yang lurus!&lt;br /&gt;   Alangkah indahnya, bila dari hari ke hari barisan Nanan makin banyak pengikutnya, makin panjang shaf-nya. Barisan ini niscaya akan membuat risih, kian mempersempit gerakan dan sepak terjang “polisi Abu Jahal Cs” itu. &lt;br /&gt;   Dengan pasukan takwa yang bersahaja, namun bertekad baja itulah pasukan Muhammad SAW bisa meruntuhkan kekaisaran Romawi di Konstantinopel di sebelah barat, dan menundukkan Persia di sebelah timur!&lt;br /&gt;   Dengan pasukan yang ber-pin “Allah” di keningnya,”Muhammad” di dadanya, atau ber-pin rosario di dadanya, kita berharap barisan Nanan bisa membersihkan sifat “kebabian” di lingkungannya, dan memberangus “babi” yang berkeliaran di rimba kebiadaban! &lt;br /&gt;   Sehingga tak ada lagi pemeo di tengah masyarakat: lapor kehilangan kambing, kerbau pun jadi hilang! Sehingga tak ada lagi ucapan meremehkan: selama ayam masih makan beras, gampang urusannya! &lt;br /&gt;   Dalam sejarah pergantian pemimpin teras penegak hukum di daerah ini bukan rakyat tak bisa “membaca”, banyak di antaranya: pada awal masa jabatannya menggertak dan seperti benar-benar ingin menegakkan hukum. Namun setelah berkenalan dengan sikon Kalbar, ternyata semangatnya menjadi tapai!&lt;br /&gt;   Sehingga karenanya, masyarakat sudah jemu mengucapkan pemeo lama: maklumlah sapu baru, belum kenal Kalbar dia!&lt;br /&gt;   Dan bukan mustahil, gertak sambal demikian itu: ada udang di balik cabek! Maksudnya sekadar memproklamirkan diri kepada tauke-tauke kera, agar menoleh kepada dirinya. Agar datang kepadanya, berkenalan! Buntut-buntutnya: BMIK juga – babi makan ikut kera – ber-cincai ria, berkelindan menguras Kalbar! Sampai ada cerita: Pajero bodong (tanpa surat) asal Sarawak masuk container nyelonong ke Jakarta!&lt;br /&gt;   Itu yang ketahuan, yang tak ketahuan tentu jumlahnya seperti pengidap virus HIV! Itu yang berbentuk mobil atau sepeda motor besar. Yang berbentuk duit wallahu alam bissawab.    &lt;br /&gt;   Sehingga di Nanga Pinoh ada perenggoh (pepatah) pelesetan: Tut wuri handayani, datang maik putut, pulang maik goni! Tut wuri handayani, datang membawa putut (bungkusan kecil), pulang membawa karung goni!    &lt;br /&gt;   Semoga saja yang demikian ini telah menjadi cerita lama dari sebuah negeri antah-berantah yang “jahiliah”.&lt;br /&gt;   Dan semoga saja, Nanan tidak pernah menjadi “tapai” dalam hidupnya, melainkan seorang Bayangkara tulen, pengemban setia Tri Brata! Ia perlu didukung oleh seluruh jajarannya, sehingga kolom SMS suratkabar di daerah ini tak didominasi oleh SMS kepada Kapolda Kalbar!&lt;br /&gt;   Rakyat mendambakan polisi yang memancarkan aura indah dari tubuhnya, menempuh jalan kebajikan dalam tingkah-polah hidupnya! Tugasnya menjadi ibadah, berbuah husnul khatimah di akhir hayatnya, jannah di hari akhiratnya!  ***&lt;br /&gt;                                                                                     &lt;br /&gt;                                                                                               ( Pontianak 26 Januari 2006 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-2667530558295013873?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/2667530558295013873/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=2667530558295013873' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/2667530558295013873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/2667530558295013873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/11/babi-makan-ikut-kera.html' title='Babi Makan Ikut Kera'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_LoyykEpgpQQ/RyvmeESxRRI/AAAAAAAAAA4/tSTzVpg7xig/s72-c/Matbelatong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-4850655690120726541</id><published>2007-11-02T20:07:00.001-07:00</published><updated>2007-11-02T20:08:17.248-07:00</updated><title type='text'>Untan Rasulullah dan Keledai Nasruddin</title><content type='html'>Oleh  A.Halim  R.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   SEKITAR 1400 tahun yang lalu, ketika rombongan hijrah Nabi Muhammad SAW pertama kali tiba di Yastrib (Madinah), beliau dielu-elukan oleh hampir semua warga Madinah. Semua mata menatapnya dengan penuh kerinduan, semua pintu rumah terbuka, berharap nabi yang mulia itu sudi menginap di tempat mereka.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata Rasulullah tinggal di sebuah desa berjarak sekitar dua mil dari Madinah, yaitu di Desa Qubak. Di sinilah beliau mendirikan masjid pertama, yang hingga kini dikenal sebagai Masjid Qubak.&lt;br /&gt;   Kemudian beliau menunggang untanya keluar. Para pemimpin kota Yastrib berusaha agar beliau mau berhenti, dan masing-masing mereka memohon dan menawarkan agar Rasulullah sudi menginap di rumahnya.&lt;br /&gt;   Rasulullah menjawab permohonan mereka dengan berkata,”Biarkanlah unta ini berjalan sekehendaknya, karena ia diperintah oleh Allah.”&lt;br /&gt;   Unta tersebut terus berjalan diikuti tatapan mata para penyambut. Semuanya berharap agar unta itu berhenti di depan rumahnya. Orang-orang itu mengikuti dengan rasa penasaran.&lt;br /&gt;   Akhirnya sampailah unta itu di sebuah tanah kosong di rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Di situlah ia berhenti dan duduk. Tapi Rasulullah tidak segera turun.&lt;br /&gt;   Tak lama kemudian unta itu memang bangkit lagi dan terus berjalan. Beliau melepas tali kendalinya. Belum jauh berjalan, ternyata unta itu balik lagi dan duduk di tempat semula.&lt;br /&gt;   Tak terkirakan kebahagiaan Abu Ayyub Al-Anshari, dia segera mendekati Rasulullah dan menurunkan barang-barang beliau, membawa masuk ke rumahnya.&lt;br /&gt;   Sekitar 600 tahun yang lalu, seorang tokoh legendaris Turki – Mullah Nasruddin Affandi – bepergian naik keledai. Ia menunggang keledainya dengan punggungnya menghadap ke depan. Orang-orang yang menyaksikan hal itu berkata,”Mullah, cara Anda duduk menunggangi keledai Anda salah!”&lt;br /&gt;   “Tidak,” bantah Mullah Nasruddin,”ini posisi keledainya yang salah!” &lt;br /&gt;   Awal tahun 2006, tokoh kontroversial dari Kampung Paret Kalot Ribot Pontianak – Mat Belatong – naik sepeda motor bertiga dengan istri dan cucunya. Cucunya yang berusia 4 tahun duduk di depan, Mat Belatong duduk paling belakang. Dan Mat Belatong bukannya menghadap ke depan, tetapi menghadap ke belakang, seperti yang dilakukan oleh Mullah Nasruddin! &lt;br /&gt;   Di sepanjang jalan, orang berteriak,”Oii Belatong, nak mampos ke ape!? Kalau awak jatok, orang laen jadi kalot ngangkot awak ke romah saket!”&lt;br /&gt;   Sampai di Mall Mataso (mataso: matahari, bahasa Dayak Taman Kapuas Hulu! Orang Bugis tak perlu heran), mereka parkir.&lt;br /&gt;   Si Toing tukang parkir bertanya,”Bang Mat, ngape pulak Bang Mat beragam macam ini? Pantaslah orang tepekek-kaong!”    &lt;br /&gt;   Sambil menggantungkan helem kerupuknya di stang motor, Mat Belatong menjawab,”Ing, kalau semue kamek ngadap ke depan, siape yang nengok ke belakang kalau ade jambret, atau ade yang khianat meradak dari belakang!? Aku ni membawak cucuk, budak kecik!”&lt;br /&gt;   Setelah berbincang-bincang sebentar dengan tukang parkir itu, Mat Belatong meninggalkan Toing, mengejar istri dan cucunya yang dah  bedebu masuk ke Mall Mataso. Ini tentu karena ulah cucu Mat Belatong. Sebab budak itu kalau dah ke mall, dibuatnya macam rumah sendiri, dijadikannya tempat bermain. Di dalam mall, Mat Belatong kehilangan jejak karena orang begitu ramai. Ia naik eskalator ke lantai dua, tapi tak dapat menemukan cucu dan istrinya. Lalu naik ke lantai tiga, begitu juga keadaannya. Kemudian ia balik lagi ke lantai dasar, juga batang hidung istrinya tak ditemukan.&lt;br /&gt;   Akhirnya, begitulah ia turun-naik berkali-kali lewat eskalator di Mall Mataso.&lt;br /&gt;   Beberapa pria yang berdiri di pangkal eskalator itu berkata,” Bapak ini macam anak saye gak, suke turon-naek eskalator. Tanggak bejalan ni dibuatnye jadi maenan ! Kalau tadak diturotkan die nanges!”   &lt;br /&gt;   Di tangga itu memang terlihat beberapa anak usia 4-5 tahun yang turun-naik di eskalator tersebut. Di bawahnya tampak menunggu beberapa pria, yang sudah pasti ayah bocah tersebut. Ibunya mungkin sedang berbelanja.  &lt;br /&gt;   Seorang dari pria itu berkata,”Benarlah kata Al-Quran, orang kalau sudah tua kelakuannya bakal kembali lagi menjadi budak kecik, kekanak-kanakan, naif ! Contohnya Bapak ini, suke turon-naek eskalator macam budak kecik!” &lt;br /&gt;   Mat Belatong menahan rasa mendengar perkataan itu. Di dalam hatinya ia berkata: Inilah contoh manusia yang berkata seenaknya, berdasarkan apa yang dilihatnya, berdasarkan apa yang tersurat di matanya! Ia berani mengeluarkan komentar, bahkan dengan dalil Kitab Suci, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi!”&lt;br /&gt;   Mat Belatong yang sudah banyak makan garam tanpa yodium dan beragam zat pengawet makanan seperti formalin dalam hidupnya, diam saja.&lt;br /&gt;   Seandainya saja, pada cerita Rasulullah di atas, Nabi Muhammad SAW hanya berkata,”Biarkanlah unta ini berjalan sekehendaknya,” bukan mustahil orang seperti itu akan berkata,”Mengapa pula Nabi mengikuti kehendak unta!? Kalau begitu kita pun mengikuti unta sajalah!?” &lt;br /&gt;   Padahal, walau cuma sepotong kata itu yang diucapkan Rasulullah, tak terlihatkah ada kebijaksanaan yang indah di dalamnya? Betapa Rasulullah tak ingin memilih sebuah rumah pun untuk beliau menginap atas kehendak beliau sendiri. Beliau tak ingin melukai hati semua orang-orang Anshar yang mencintai dan mengelu-elukannya. Biarlah unta saja yang memilih, di mana ia mau ditambatkan. Apakah itu di sebuah rumah bagus atau gubuk reyot.    &lt;br /&gt;   Betapa pula komentarnya terhadap cerita Mullah Nasruddin Affandi di atas!? Bukan mustahil cap “bodo-bale” langsung dilontarkannya kepada tokoh arif yang jenaka itu.&lt;br /&gt;   Tak tahu dia, kalau apa yang dianggapnya “bodo-bale” itu oleh UNESCO – sebuah lembaga di bawah naungan PBB – diberikan perhatian secara khusus. Perhatian yang diberikan UNESCO terhadap tokoh legendaris yang fenomenal itu sesungguhnya perhatian yang cukup langka, terutama bagi tradisi sufisme. Ini menandakan Mullah Nasruddin sudah menjadi milik berbagai bangsa, melintasi batas kultur dan agama!&lt;br /&gt;   Capek naik-turun eskalator, akhirnya Mat Belatong memilih menunggu di pintu keluar mall, duduk di pinggir tangga. Melihat beragam model manusia, busana, tingkah orang yang keluar-masuk mall tersebut,  kepalanya jadi pening!&lt;br /&gt;   Akhirnya ia memilih berjalan ke Kompleks Pasar Sudirman. Kepada Toing tukang parkir ia berpesan,”Ing, kalau mbok kau nak balek, suroh tunggu jak sebentar!” &lt;br /&gt;   Tengah berjalan di pasar tersebut, tiba-tiba ada yang menimpukkan barang ke pundak Mat Belatong. Entah ditimpuk orang dari lantai atas ruko, entah ditimpuk orang dari atas truk yang banyak lalu-lalang di situ, ia tak tahu. Atau memang ada orang yang mengikuti dari belakang, menimpakan barang tersebut ke pundaknya? Bukan mustahil.&lt;br /&gt;   Barang itu berupa karung plastik, bekas karung beras merek “SMS”, jatuh dan betenggek di belakangnya. Agak terbungkuk Mat Belatong “memikul”-nya.&lt;br /&gt;   Ia meminggir ke trotoar, dan menurunkannya dari pundaknya. Beberapa orang yang menyaksikan perbuatan Mat Belatong itu bertanya, “ Ape bende tu Pak?”&lt;br /&gt;   ”Itulah, aku pon tak tahu. Inilah aku nak nengok, ape bende yang dilemparkan orang ke pundak aku ni!” jawab Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Setelah dibuka, ternyata isinya: naif, dosa dan bejat! Semua yang menyaksikan tertawa, termasuk Mat Belatong sendiri.&lt;br /&gt;   “Ape pasal orang melempar bapak dengan bende macam ini?” tanya orang-orang itu.&lt;br /&gt;   “Aku pon tak tahu, mungkin gak orangnye tak kuase agik nyimpan bende macam ini di romahnye, ataupon die dah leteh mikolnye! Lalu dilemparkannye ke aku, disurohnye aku mikol!” jawab Mat Belatong. Orang kembali ngelakak tertawa.&lt;br /&gt;   Kemudian karung itu diikat kembali oleh Mat Belatong, lalu dipikulnya. Kalau dibiarkan di trotoar tentu akan mengotori tempat tersebut.&lt;br /&gt;   Tiba-tiba melintas Bujang Kambeng kawan Mat Belatong, naik sepeda motor. Melihat Mat Belatong terbungkuk-bungkuk memikul karung tersebut, Bujang Kambeng berteriak,”Ape ente pikol tu Jon!?“&lt;br /&gt;   Tak kalah nyaringnya Mat Belatong menjawab,”Naif, dosa dan bejat!”&lt;br /&gt;   Bujang Kambeng yang PNS itu terus berlalu karena lalu-lintas cukup ramai, dan orang-orang yang mendengar jadi tertawa. Mat Belatong tak peduli.&lt;br /&gt;  Sampai di sebuah bak sampah, Mat Belatong menurunkan karung tersebut dan memasukkannya ke dalam bak tersebut.&lt;br /&gt;   Beberapa orang pemulung, menyaksikan perbuatan Mat Belatong itu. Beberapa langkah Mat Belatong beranjak meninggalkan tempat tersebut, para pemulung langsung “menyerbu“ dan berebut membuka karung itu. Setelah dibuka, mereka ketawa terpingkal-pingkal sampai telior-lior sambil berkata,”Celake, rupenye orang itu membuang naif, dosa dan bejatnya!”&lt;br /&gt;   Mat Belatong mendengar, tapi ia diam saja.    &lt;br /&gt;   Kembali ke Mall Mataso, ternyata istri dan cucunya nongol di pintu keluar.&lt;br /&gt;   Pulang ke rumah, Mat Belatong yang memegang stir, sedangkan istrinya duduk di belakang. Kepada Toing yang memandang heran, ia berkata,”Ing, tadik aku dudok ngadap ke belakang, sekarang kamek semue ngadap ke depan. Sebab waktu pegi tadik aku dah tahu bahwa jalan ini aman, balek pon tentu aman gak!” ***&lt;br /&gt;                                                                                            &lt;br /&gt;                                                                                              ( Pontianak, 20 Januari 2005 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-4850655690120726541?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/4850655690120726541/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=4850655690120726541' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/4850655690120726541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/4850655690120726541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/11/untan-rasulullah-dan-keledai-nasruddin.html' title='Untan Rasulullah dan Keledai Nasruddin'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-45506963005511549</id><published>2007-11-02T20:05:00.000-07:00</published><updated>2007-11-02T20:06:24.237-07:00</updated><title type='text'>Negeri yang Disumpah Kera</title><content type='html'>Oleh  A. Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   KATA “reformasi” telah menjadi nasi, kalau bukan menjadi bubur. Jadi makanan sehari-hari. Namun apa hasilnya!? Adakah ia menyehatkan fisik, mental &amp; spiritual, memperindah ruhani &amp; jasmani pemimpin maupun rakyat di negeri ini!? Di Irian, ada yang mati kelaparan karena “makan reformasi”!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyatanya, reformasi membuat banyak orang ingin menjadi Pak Dewan dan Sengkumang!*  Ramai-ramai orang berebut: naik pahar! Tempurung pun ingin naik pahar. Tak dapat pahar besar, pahar kecil pun jadilah! Ini baru iya!&lt;br /&gt;   Reformasi yang membuahkan otonomi daerah itu telah menciptakan raja-raja kecil di daerah, terutama di tingkat kota dan kabupaten!   &lt;br /&gt;   Celakanya yang di kabupaten – mentang-mentang punya wilayah yang luas – setelah  naik pahar lalu menjadikan dirinya sebagai: tuan tanah, tuan rimba! Tak sanggup melahirkan ide brilian dan program jitu yang mendasar, lalu menempuh jalan pintas yang instan: tebang hutan!   &lt;br /&gt;   Bumi dipetak-petak, rimba dibagi-bagi, hutan ditebang dengan dalih: untuk kesejahteraan masyarakat! Tauke oportunis diajak sebahat, rimba dibabat untuk kepentingan sesaat, berpedoman kepada ayat pamungkas: aji mumpung! Tak peduli hal itu akan mewariskan kemiskinan dan malapetaka untuk generasi mendatang!&lt;br /&gt;   Mat Belatong berdiri di atas cadas puncak Bukit Kelam di Sintang. Tiada lagi pepohonan di situ, tinggal batu hitam keras, seperti tempurung kepala kering yang disalai! Telah sirna mata air, telah punah kantong semar (Nepenthes) dari jenis spesial: berbentuk botol!&lt;br /&gt;   Mat Belatong memandang berkeliling, hingga ke tapal batas wilayah Kabupaten Sintang (kini sebagian telah menjadi Kab Melawi).&lt;br /&gt;   Hatinya bagai teriris sembilu menyaksikan pemandangan yang dilihatnya. Sangat memilukan.&lt;br /&gt;   Sebuah gelora hati membuncah dari dadanya, melahirkan teriakan:&lt;br /&gt;   Aku Mendengar dan Akulah Saksi!&lt;br /&gt;   Aku mendengar tangis rimba, aku mendengar tangis bumi, aku mendengar tangis sungai dan danau. Aku mendengar lengkingan terakhir dari banyak satwa tatkala mengakhiri hidupnya!&lt;br /&gt;   Akulah Bumi Kalimantan, yang kini harum rimbanya telah berganti dengan bau bensin dan solar. Yang kini bisikan anginnya telah berganti dengan deru chainsaw dan logging truck. Yang kini kemurnian airnya telah tercemari lumpur dan merkuri.&lt;br /&gt;   Yang kini buminya hancur sia-sia.&lt;br /&gt;   Akulah Bumi Kalimantan yang teraniaya, demi kerakusan dan kehausan harta sebagian manusia!&lt;br /&gt;   Kusaksikan!&lt;br /&gt;   Kini negeriku berbenteng tembok kebohongan, bermahligai ketamakan dan keserakahan, bermenara dengan kezaliman dan aniaya, berhiaskan lampu warna-warni cinta dunia!&lt;br /&gt;   Telah roboh pilar-pilar ketauhidan yang dibangun oleh datuk-moyangku. Telah hancur kampung halaman yang dibangun dengan rasa cinta, telah sirna tembawang kebersamaan, telah tiada lagi ladang kasih sayang. &lt;br /&gt;   Kini.&lt;br /&gt;   Tiada lagi kicau murai dan cucakrawa, tiada lagi nyanyian kelempiyau pagi hari.&lt;br /&gt;   Kicau munafik dan maksiat ada di mana-mana, nyanyian tipu muslihat merasuk anak negeri!&lt;br /&gt;   Inilah bumiku, inilah negeriku, inilah tanah tumpah darahku!&lt;br /&gt;   Mat Belatong terduduk, kemudian terkapar telentang setelah melepaskan kekecewaan yang membuncah dan menggelegak di dadanya.&lt;br /&gt;   Air matanya meleleh, seperti air mata kera yang akan disembelih, seperti air mata monyet yang batok kepalanya akan dibuka untuk diambil otaknya guna memenuhi kerakusan orang-orang kaya di restoran-restoran terkenal di Hongkong dan lain tempat di dunia!&lt;br /&gt;   Air mata seperti itu pula yang meleleh dari mata banyak satwa yang habitatnya dimusnahkan, yang rumah dan gudang  makanannya diroboh dan digusur oleh nafsu angkara manusia!&lt;br /&gt;   Pemusnahan rimba, pemusnahan habitat margasatwa, pemusnahan gen (ciri kehidupan), &lt;br /&gt;pemiskinan sumber daya alam, telah dan terus berlangsung tanpa kendali dan pedoman. Semua ingin menjadi pencuri bilamana ada kesempatan. Baik dia aparat pemerintah, aparat keamanan, aparat penegak hukum, serta tauke-tauke kere maupun kaya!&lt;br /&gt;   Larangan Allah, agar manusia tidak menimbulkan kerusakan di muka bumi, dikalahkan oleh ketajaman mata gergaji mesin, dikalahkan oleh berkarung-karung duit, dan kehausan agar rekening bank terus terisi dengan transfer duit dari segenap penjuru! &lt;br /&gt;   Tatkala sebuah pohon tumbang, beratus anakan bibit tumbuhan luluh dan remuk tertimpa, beratus satwa baik serangga sampai pukang, trenggiling dan lain-lain mati terhempas dan terhimpit karenanya.&lt;br /&gt;   Adakah kenikmatan, kekayaan, dan kemuliaan yang diperoleh dari perbuatan aniaya bakal kekal selamanya!? Niscaya tidak! &lt;br /&gt;   Ada Tuhan kan? Dia ada bukan karena Anda percaya, dan mengadakan-Nya! Dia bukan penaka patung Lata dan Uzza yang dibuat dan disembah oleh kafir Quraisy masa lampau! Dia Maha Zat Yang Niscaya Ada (Zat Wajibul Wujud), meski Anda tak mempercayai dan meniadakan-Nya. Dia Maha Besar bukan karena Anda membesarkan-Nya, Dia tidak kecil walaupun Anda mengecilkan dan menyepelekan-Nya! Dia Al-Muhayimin: Maha Pengamat yang selalu menyaksikan!&lt;br /&gt;   Dia: Al Haq – Maha Kebenaran – Yang Maha Benar dengan segala firman-Nya.  &lt;br /&gt;   Pun Dia Ar-Rahman: Yang Maha Pengasih kepada sekalian makhluk-Nya. Namun Dia juga Al-Muntaqim: Sang Pembalas dosa dengan siksaan!&lt;br /&gt;   Bukan Allah tak menyaksikan tangis kera, bukan Allah tak merasa getaran  kepedihan  dari satwa yang teraniaya.&lt;br /&gt;   Air mata kera menetes ke “hadirat” Allah, duka nestapa seekor kera niscaya menyentuh Arasy Tuhan!&lt;br /&gt;   Saksikan!&lt;br /&gt;   Sumpah kera telah datang, menghunjam para pejabat, aparat, tauke durjana! Tak tampakkah, bahwa para “orang mulia” pembabat hutan telah gemetaran ketakutan, telah jantungan, sementara yang lain telah masuk kerangkeng bagaikan kera di kandang binatang!&lt;br /&gt;   Saksikan wahai insan: harimau mati meninggalkan belangnya, manusia mati meninggalkan curriculum vitae : riwayat hidup-nya!&lt;br /&gt;   Orang bijaksana, ingin “mati berkafan cindai”: mati dengan nama baik penuh kehormatan. Orang durjana niscaya: mati berkafan kenistaan, meninggalkan nama dan sejarah busuk!  &lt;br /&gt;   Namun itu, belumlah seberapa. Menolong seekor lalat, Al-Ghazali diganjar surga. Betapa pula menganiaya, membunuh, memusnahkan flora &amp; fauna makhluk Allah, menimbulkan kerusakan di muka bumi!?  &lt;br /&gt;   Dia ada – dipercayai atau tidak – Dia Al-Muntaqim: Sang Pembalas dosa dengan siksaan! Di dunia bisa berupa peringatan, cobaan bahkan azab, di akhirat sebuah keniscayaan: lebih dahsyat! &lt;br /&gt;   Sumpah kera telah menimpa sebuah negeri: berhuma langkar, di romah kenak sampar, turon ke aik ditangkap boyak, ke rimbak dipantok ular!&lt;br /&gt;   Makna sumpah kera dalam bahasa Sintang itu adalah: berladang gersang, di rumah kena penyakit sampar, turun ke air ditangkap buaya, ke rimba dipatuk ular!&lt;br /&gt;   Tatkala sumpah duka naik ke langit, Allah menumpahkannya ke bumi, mengenai seluruh penghuni negeri itu kalau tak ada lagi orang alim di situ yang dikasihi Allah. &lt;br /&gt;   Saksikanlah, berhuma langkar : telah mulai terjadi, dengan serangan hama belalang kembara! Di romah kenak sampar : api dan virus pelbagai penyakit bakal bersimaharajalela! Turon ke aik ditangkap boyak :  karena buaya telah punah, tunggu saja bencana lewat merkuri! Ke rimbak dipantok ular : karena rimba dan ular telah langka, lihat saja kebohongan, hasad, iri-dengki, fitnah dan perkataan berbisa ada di mana-mana!   &lt;br /&gt;   Inilah negeriku, tanah tumpah darahku! ***&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;* Gila pangkat, gila pujian.&lt;br /&gt;                                                                 Pontianak, 13 April 2004 – 29 Desember 2005 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-45506963005511549?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/45506963005511549/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=45506963005511549' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/45506963005511549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/45506963005511549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/11/negeri-yang-disumpah-kera.html' title='Negeri yang Disumpah Kera'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-4766582757732564750</id><published>2007-11-02T20:04:00.001-07:00</published><updated>2007-11-02T20:05:20.042-07:00</updated><title type='text'>Minyak Angin Pelampong</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_LoyykEpgpQQ/RyvlZUSxRQI/AAAAAAAAAAw/oZyhrlE_H1A/s1600-h/Matbelatong.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_LoyykEpgpQQ/RyvlZUSxRQI/AAAAAAAAAAw/oZyhrlE_H1A/s200/Matbelatong.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5128444823798367490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh  A.Halim  R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   BEBERAPA tahun silam, di pelampung penyeberangan Jalan Bardan Pontianak, terdapat sebuah reklame unik berbentuk botol besar: botol miyak angin! Botolnya genting di tengah. Tegal reklame ini di  kakilima dan pasar Pontianak, timbul pemeo: minyak angin pelampong! Ini menambah jumlah pemeo yang telah ada sebelumnya: angin pokol angin! &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Kapuas Hulu yang lalu-lalang dengan motor bandong ke Pontianak, ada yang menyebut minyak angin jenis itu sebagai: minyak gontin! Minyak (berbotol ) genting! Dan ini pun telah menambah pemeo lama yang sudah ada: tin-tin telinga tikus, biar gontin anang putus! Ting-ting telinga tikus biar genting jangan putus!&lt;br /&gt;   Dan pemeo “minyak angin pelampong” serta “angin pokol angin” sering benar diucapkan Mat Belatong ketika mematikan tivinya bila menyaksikan segala macam dialog yang ditayangkan di layar pesawat tivi! Dan masih ditambahnya lagi dengan kalimat,“Membuat kepalak pening jak!” &lt;br /&gt;   Sikap Mat Belatong yang demikian ini mungkin mewakili sebagian masyarakat Indonesia yang sudah jemu “makan omongan dan pidato”! Sudah jemu menyaksikan adegan “silat lidah”, yang buntut-buntutnya: angin pukul angin juga! Dan celakanya orang lain disuruh untuk mendengar! &lt;br /&gt;   Kini, meskipun reklame “minyak angin pelampong” telah roboh, namun budaya yang ditinggalkannya  makin marak! Budaya “minyak angin pelampong”: botol besak,  isik tadak! Bahkan tampaknya dijadikan oleh sebagian orang sebagai modal untuk meraih kursi merek “Sengkumang”*&lt;br /&gt;   Tak salah bila ada orang luar negeri berkata,”Bangsa Indonesia sekarang ini baru belajar ngomong, baru belajar berpikir!”  &lt;br /&gt;    Lho, usia 60-an tahun kok baru belajar ngomong dan berpikir!? Ada yang beralasan: karena lidahnya dikunci, mulutnya diplester, otaknya dibekukan dengan cairan indoktrinasi (barangkali sejenis: formalin!) pada masa “kekaisaran” Soekarno dan Soeharto!&lt;br /&gt;   Kalau dilihat dari usia, bangsa Indonesia memang sudah terbilang tua. Mereka yang lahir tahun 1945 saja sudah pada beruban rambutnya, kecuali yang mengamalkan ilmu “pembohongan publik”. Yang disebut terakhir ini rambutnya tetap hitam-legam: disemir!&lt;br /&gt;   Kalau rambut saja sudah dimanipulasi dan dijadikan sebagai salah satu atribut topeng untuk melakukan pembohongan, apalagi dalam perbuatan dan tindakan lain! Setiap penggunaan topeng niscaya punya tendensi! Tanya diri sendiri, Allah mengetahui diri   lebih daripada diri sendiri!&lt;br /&gt;   Dan kini tampaknya, di pelampung penyeberangan itu perlu dibangun sebuah botol baru, mungkin juga berbentuk kaleng atau jeriken, sesuai dengan isu terbaru yang tengah menderu-deru bertiup sekarang ini, yaitu: biodisel!&lt;br /&gt;   Orang-orang ahli pertanian, ekonomi, politikus, perdagangan, perbankan dan lain-lain, dengan gegap-gempita menyatakan keyakinannya bahwa Kalimantan Barat bisa menjadi: tambang biodisel! Bahan bakar masa depan pengganti BBM solar!&lt;br /&gt;   Untuk merealisir hal itu, lima juta hektar lahan kritis di daerah ini akan ditanami: jarak pagar!&lt;br /&gt;   Entah siapa yang berhasil “ngipas wal ngibau” para “ahli” ini wallahu alam bissawab! Mudah-mudahan bukan karena masih mengidap penyakit lama “ABS”. Atau, karena melihat “pancuran duit” yang bersedia diarahkan Pemerintah Pusat ke daerah ini lewat proyek jarak pagar!? Kalau fokusnya cuma itu, maka bisa terjadi: pagar  makan jarak!&lt;br /&gt;   Hasil rapat para “ahli” tanggal 5 Januari 2006 lalu yang melibatkan HA Aspar SE, Ir Idwar Hanis, H Ali Nasrun SE,MEc, Dr Saeri Sagiman, Falal, Toni, Memet Agustiar SE dan lain-lain itu, telah menelurkan: Tim Pengembangan Jarak Pagar Kalbar (Tim PJPK). Selaku Ketua Tim PJPK, adalah Ir Idwar Hanis Kepala Dinas Perkebunan Kalbar. Tim ini akan mempersiapkan terbentuknya Badan Pengembangan Energi Alternatif yang akan disahkan oleh Gubernur Kalbar! Hebat!&lt;br /&gt;   Jarak (Ricinus communis) atau jarak pagar (Jatropha curcas) sebenarnya bukan barang baru bagi masyarakat Kalbar. Nama lokalnya: melekian (Mempawah), atau kemandah (Sanggau ke hulu). Zaman penjajahan Jepang, rakyat membuat minyak dari buahnya untuk menyalakan pelita di samping menggunakan minyak kelapa. Pernah melihat pelita bersumbu tiga dari bahan tembikar? Itulah pelita minyak kelapa! Sebab minyak tanah sama sekali tak ada! Dan masyarakat yang bodo-bale sekali pun tahu (tak perlu hasil penelitian para ahli!) bahwa buah kemandah (minyak kastroli) boleh dipakai sebagai pencahar! Merangsang binatang maupun manusia untuk (maaf): berak-berak! Bisa dehidrasi, muka pucat-pasi, mata cekung-raung orang dibuatnya!  &lt;br /&gt;   Selain jarak pagar, beberapa waktu sebelumnya, telah digaungkan juga ke kuping rakyat, di Kalbar ini – termasuk daerah perbatasan – akan ditanam sejuta hektar kebun sawit. Juga untuk keperluan bahan bakar mesin disel! &lt;br /&gt;   Monumen Botol Biodisel itu perlu diwujudkan untuk menandai “kebulatan tekad” para ahli di daerah ini untuk menjadikan Kalbar sebagai “tambang biodisel”! Sebab hal ini bukan hal yang boleh dianggap kecil, melainkan suatu terobosan teknologi besar, kalau bukan angan-angan dan kebohongan besar!&lt;br /&gt;   Sebab hal serupa tapi tak sama, pernah terjadi di Kab Sintang. Proyek reboisasi dan budidaya pinus pernah dikumandangkan di daerah tersebut, dilaksanakan di daerah Kebebu Nanga Pinoh.   &lt;br /&gt;   Para ahli ekonomi, pejabat daerah, politikus dan lain-lain berkata: lima-enam tahun lagi di Sintang akan berdiri sebuah pabrik korek api dan potlot! Bahan bakunya, yakni itu tadi: pohon pinus! Sintang akan berperan besar untuk memenuhi kebutuhan korek api, potlot, dan tusuk gigi di Indonesia!&lt;br /&gt;   Lebih dua puluh tahun telah berlalu, sebatang korek api pun tak pernah diproduksi  Sintang! Jangan kan korek api, korek kuping saja masih ada yang menggunakan bulu ayam!&lt;br /&gt;   Nyatanya bukan korek api yang diproduksi, tetapi lautan api (kebakaran!) yang sering benar terjadi di proyek reboisasi itu. Arang habis besi binasa, pengelola proyek makin kaya saja!&lt;br /&gt;   Coba waktu program itu digegap-gempitakan, dibuat monumen atau tugu “korek api” di Sintang untuk memperingatinya. Niscaya masyarakat memiliki sebuah “catatan sejarah” untuk generasi berikutnya, pun tercatat pula nama besar personel Tim Pengembangan Pinus Kab Sintang (TPPKS).&lt;br /&gt;   Sehingga tugu itu bisa dilihat dan diingat sampai kini sebagai: Tugu Pengampor! Tugu Pembulak, Tugu Pembual, Tugu “Angin Pokol Angin”!  &lt;br /&gt;   Mat Belatong jadi timbul mual kalau mencium sesuatu yang beraroma “minyak angin pelampong”.&lt;br /&gt;   Dan tampaknya ada pula yang berhasil menjual “minyak angin pelampong” kepada Presiden SBY. Sampai Presiden berharap sangat, Kalbar bisa menjadi tambang biodisel. Sebab persediaan minyak angin, eh minyak bumi Indonesia diprediksikan hanya cukup untuk 15 tahun mendatang.&lt;br /&gt;   Yang Mat Belatong tak habis heran, kenapa orang-orang pintar di daerah ini bisanya cuma menjadi: Pak Turut, Pak Panut, Mr Yesman!&lt;br /&gt;   Akasia kata orang, akasia juga kata kita. Pinus kata orang, pinus juga kata kita. Sawit kata orang, sawit juga kata kita. Jarak kata orang, “jjj…jjaarak” juga kata kita bersemangat walau mungkin sedikit tergagap!&lt;br /&gt;   “Ngape ndak: jarak pagar kate orang, karet kate kite!” omel Mat Belatong. Menurut alur pikiran Mat Belatong yang “nyleneh”, biar daerah lain saja yang memproduksi biodisel, kita bertanam karet untuk memproduksi ban mobil! Kenapa!? Apakah mobil bisa berjalan tanpa ban, kendati berminyak!? Pernah terjadi – bukan mustahil masih berlangsung hingga kini – perusahaaan crumb rubber di daerah ini sampai membeli karet dari luar negeri untuk memenuhi quota yang diminta rekanan dari luar negeri!&lt;br /&gt;   Lebih dari itu sebuah penyakit yang diidap Mat Belatong adalah: sudah jemu, jenuh, sudah berapa puluh tahun masyarakat di daerah ini didikte dan ditekan terus dari Pusat? Sudah berapa generasi pemimpin dan pejabat di daerah ini yang cuma bisa jadi Pak Turut, jadi pejabat carmuk!&lt;br /&gt;   Dan terus terang saja, tatkala beberapa waktu lalu Gubernur Kalbar  Usman Djafar “memproklamasikan“ daerah Kalbar sudah surplus beras dan bisa menjual beras ke daerah lain, orang-orang di pasar pada tertawa seperti menonton ketoprak humor!    &lt;br /&gt;   “Bagos! Beras petani, kite jual ke daerah laen, sebab beras impor kite belonggok, murah agik!“ ucap mereka tertawa. Aneh, rahasia umum, kok Gebernur tak tahu. Mengisi seluruh gudang Dolog pun para tauke di Kalbar mampu, baik dengan beras impor ilegal maupun legal! Kok bisa-bisanya ada yang “jual kibul” kepada Gubernur dalam keadaan seperti ini! Dan “gayung kibul” itu “disambut” pula oleh Gubernur!  &lt;br /&gt;   Suatu ketika, seorang rekan dari Surabaya berucap,”Bawang putih Kalbar bagus-bagus dan murah, begitu juga langsat, rambutan, manggis, durian. Buah-buahan melimpah di sini. Dan istri saya wanti-wanti pesan: Ke Pontianak jangan lupa bawang putih, Mas!“&lt;br /&gt;   Terjemahkan sendiri sajalah: bawang putih hasil petani Kalbar berkat keberhasilan pembinaan Dinas Pertaniankah itu?&lt;br /&gt;   Tak setelempap kebun bawang putih ada di Kalbar. Asalnya, nun jauh di sana: Argentina! Masuk ke pasaran Kalbar, lewat Sarawak!&lt;br /&gt;   Dan bukan mustahil 15 – 20 tahun mendatang, lakon ketoprak humor paling konyol bermain lagi di Indonesia: orang sudah memproduksi kendaraan energi surya, kita baru bertanam pohon jarak! Orang sudah mengelola bendungan dan PLTA, kita masih berkutat ria dengan PLTD kuno yang biarpet! Alasannya bukan lagi “tali kelayang”, tapi: kebun jarak disikat belalang! Nengok ke zaman Jepang, matehari tak terpandang! Ndakke lebeh mudah bertanam rumpot daripade bertanam jarak: lepaskan sapi bali! ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Gila pangkat, gila pujian.&lt;br /&gt;                                                                                                ( Pontianak, 7 Januari 2006 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-4766582757732564750?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/4766582757732564750/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=4766582757732564750' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/4766582757732564750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/4766582757732564750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/11/minyak-angin-pelampong.html' title='Minyak Angin Pelampong'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_LoyykEpgpQQ/RyvlZUSxRQI/AAAAAAAAAAw/oZyhrlE_H1A/s72-c/Matbelatong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-6491642792662098718</id><published>2007-11-01T18:58:00.000-07:00</published><updated>2007-11-01T18:59:34.238-07:00</updated><title type='text'>Mat Belatong dan Cerita Bini</title><content type='html'>Oleh A. Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   RA NURUL Handayani SH MM Kepala Kejaksaan Negeri Singkawang bertutur mengutip cerita pewayangan Jawa, yang ringkasnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;   Arjuna memiliki empat istri yaitu Subadra, Srikandi, Sulastri dan Larasati. Subadra sebagai pengasuh anak, untuk mendidiknya menjadi anak yang salih. Srikandi sebagai pengaman keselamatan suami, Larasati sebagai pengontrol keuangan rumah tangga, dan Sulastri mampu menjadi pelayan bagi suami.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perempuan harus bisa memiliki keempat karakter tersebut baru sah sebagai yang diper-empu-kan. Sedangkan pria yang merupakan singkatan dari Pemimpin Raja Istri dan Anak, jangan sampai kehilangan status PRIA-nya sehingga menjadi STI (Suami Takut Istri). Kalau lelaki kehilangan PRIA-nya di rumah, jangan heran bila ia lalu menegakkan statusnya di luar rumah dengan cara mencari WIL (Wanita Intim Lain).&lt;br /&gt;   Begitu kata RA Nurul.&lt;br /&gt;   Tapi lain pula pendapat  Mullah  Nasruddin Affandi tokoh legendaris asal Turki.&lt;br /&gt;   Diriwayatkan, pada suatu hari seorang lelaki teman Mullah berkata,”Wanita yang akan saya nikahi: kaya, cantik, gadis, berkelakuan baik dan pandai!”&lt;br /&gt;   Mullah menjawab,”Aku takut Anda tidak akan memperoleh semua kualitas tersebut pada satu istri, kecuali kalau Anda akan menikahi lima wanita!”  &lt;br /&gt;   Di kalangan berang-berang (Lutra cinerea) lebih parah lagi. Meskipun binatang, ia memiliki lebih  banyak persyaratan  yang dikehendakinya dari si betina. Namun buntut-buntutnya, sama saja dengan Arjuna maupun pendapat Mullah Nasruddin. Bukan lagi berbini empat seperti Arjuna, atau lima seperti kata Mullah Nasruddin, melainkan belasan atau konon sampai dua puluh ekor betina!&lt;br /&gt;   Menurut pengamatan Mat Belatong, lebih gila lagi kucing! Satu betina kalau musim kawin, bisa sampai empat-lima ekor jantannya!   &lt;br /&gt;   Mengenai lelaki yang tergolong STI (Suami Takut Istri), menurut pemantauan Mat Belatong tak semuanya bisa menegakkan ke-PRIA-annya pada WIL, tapi tak jarang: mencari WIL pun dia takut! Akhirnya ia stres, lalu rungguk, lalu gem!&lt;br /&gt;   Sejumlah anak tumbuh besar tanpa ayah, tapi untung saja ibunya gagah perkasa, punya karir dan mandiri!&lt;br /&gt;   Isa putra Maryam Alaihis-Salam, ditanya: Mengapa engkau tidak membuat sebuah rumah?&lt;br /&gt;   Beliau menjawab,”Buatkanlah rumah bagiku di atas air yang mengalir!”&lt;br /&gt;   Kemudian ia ditanya lagi: Mengapa engkau tidak mengambil seorang istri?&lt;br /&gt;   Beliau menjawab,”Apa yang dapat kuperbuat terhadap seorang istri yang dapat meninggal?”&lt;br /&gt;   Dari sekian kalimat yang berbicara tentang bini dan istri di atas, tak ada sama sekali menyentuh kata “cinta”!&lt;br /&gt;   Setelah berpikir sampai urat kepalanya timbul, Mat Belatong berkesimpulan: cinta hanya marak di kalangan pedangdut!&lt;br /&gt;   Tegal cinta, ada penyanyi dangdut yang mampu menanggung resiko: baju satu kering di badan, tak kan luntur cintaku padamu!&lt;br /&gt;   Lebih nekat lagi ada yang berani: makan sepiring berdua!&lt;br /&gt;   Padahal, Khalil Gibran (1883 – 1931) penyair dan filosof Libanon sudah berpesan: Saling isilah piala minumanmu, tapi jangan minum dari satu piala. Saling bagilah rotimu, tapi jangan makan dari pinggan yang sama!&lt;br /&gt;   Petuah ini tak berlaku di komunitas dangdut. Mungkin mereka berpendapat: Owalah Gibran, ente cume pandai ngomong jak – tentang anak, tentang bini – padahal ente sorang tak pernah beranak-bebini!&lt;br /&gt;   Akhirnya Mat Belatong berkesimpulan, kalau mau bergelimang cinta, berkelindanlah dengan orang-orang dangdut! Belajarlah cinta dari mereka!&lt;br /&gt;   Tapi celakanya kesimpulan ini disanggah oleh Mat Ketumbi,”Merampot Jon, Raje Dangdut jak berape bininye, berape kali kawen-cerainye!“&lt;br /&gt;   Mat Belatong tekanjat, dan berkata,”Eh Ketuk, diam-diam ente ni jadi pengamat gak rupenye!”&lt;br /&gt;   Selembe Mat Ketumbi menjawab,”Biase, zaman reformasi. Balek belakang, putar lidah, bukan masalah. Macam oknum personel legislatif asal Singkawang tu! Die gak ngomong berpedoman dengan Ten Commandment dari Nabi Musa. Tapi begitu masok Ketapang laen cerite. Timbol masalah, bebar  lapor ke polisi tegal nak dihalap preman! Tak kan ade asap, kalau tadak api! Padahal ape kurangnye Singkawang? Tak ade masalah bagi orang berzina dan berselingkuh. Firman Allah dah dianggap macam:  kerupok mamang! Kenak aek: benyek! Sampai dah macam itu toleransi – kalau bukan  kerapuhan akhlak – sebagian masyarakat Sin Kew Jong. Ngape pulak lalu betingkah, sampai timbol kesah di Tanah Kayong!?”&lt;br /&gt;   Mat Belatong termangu menatap sahabatnya berbicara. “Bijak cakap awak tu Ketuk! Ilmu awak makin betambah, biar pon penampilan belom berobah,” ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Lalu macam mane pendapat awak tentang petuah RA Nurul Handayani Kajari Singkawang tu?” balik Mat Belatong pula yang bertanya.  &lt;br /&gt;   “Gampang Jon, petuah itu harus disosialisasikan dengan cara: memasyarakatkan wayang, mewayangkan masyarakat!” jawab Mat Ketumbi.&lt;br /&gt;   Kening Mat Belatong tampak berkerut mendengar kalimat yang diucapkan rekannya. “Ketuk, cakap awak ni dah macam cakap pejabat. Mudah ngucapkannye, tapi rumet mikerkannye! Jadi susah aku nak ngerti! Cobe jelaskan gak, macam mane arti kate mewayangkan masyarakat tu!” pinta Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Mat Ketumbi menjawab sambil tertawa,”Ente purak-purak Jon, padahal ente lebeh pendekar!”&lt;br /&gt;   “Tadak Ketuk, tolong cakapkan ape maksod kalimat awak tu!” ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Mewayangkan masyarakat, ndak ke artinye: menjadikan masyarakat itu sebagai wayang!? Setiap maen wayang tentulah ade dalangnye! Dalang zaman sekarang tak mesti pakai belangkon, tak mesti bekaen batek dan bebaju surjan. Disurohnye masyarakat besampok, dimaenkannye lakon saling curige, diskenarionye: manajemen konflik! Lalu die pulak tepekek-jeret: ada provokator, suasana tidak kondusif! Ndak ke gitu Jon!?” jelas Mat Ketumbi.&lt;br /&gt;   Mat Belatong berdecak kagum mendengar omongan sahabatnya.&lt;br /&gt;   “Ketuk, dari cakap awak ni, tampaknye dah ade nurul hidayah – bukan RA Nurul – yang masok ke kalbu awak tu! Alhamdulillah, ana bangge dengan kemajuan awak ni Ketuk! “ puji Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Lebih lanjut Mat Belatong bertanya,”Macam mane pulak kalau program memasyarakat wayang digalakkan, lalu banyak lelaki ngambek kesempatan: untok pembenaran  bebini empat macam Pak Raden Arjuna tu!?” &lt;br /&gt;   Mat Ketumbi langsung menjawab,”Penjabaran program memasyarakatkan wayang itu terbatas hanya bagi kaum wanita jak. Boleh dipelopori oleh ibu-ibu dari Kejaksaan Negeri Singkawang. Kemudian lebeh diperluas agik ke seluroh organisasi wanita, termasuk ibu-ibu majelis taklim Singkawang. Harapannye tak laen agar kaum wanita menjadi sadar bahwa mereka harus memiliki empat karakter istri Arjuna macam yang diungkapkan oleh RA Nurul itu! Sebagai pilot proyek boleh kota Singkawang, kalau berhasel boleh diusolkan  jadi program kaum wanita di seluroh Provinsi Kalbar!”&lt;br /&gt;   Kembali Mat Belatong berdecak kagum. Omongan Mat Ketumbi dah macam omongan pejabat, bertabur istilah-istilah asing, tak peduli masyarakat mengerti atau ndak. &lt;br /&gt;   Setelah berpikir sejenak, Mat Belatong berkata,”Tapi bukan mustahel Ketuk, tegal wayang itu lalu banyak pula ibu-ibu yang luluh hatinya, dan menjadi sadar bahwa ia tak mungkin memiliki empat karakter itu sekaligus. Dan mereka rela kalau suaminya melengkapi empat karakter itu dari wanita lain. Singkat kata: mereka rela suaminya kawin lagi! Ibu kita RA Kartini jak bukan istri pertama!”&lt;br /&gt;   Mat Ketumbi langsung menjawab,”Alhamdulillah, keikhlasan yang seperti itulah yang dimiliki oleh perempuan-perempuan mulia istri Rasulullah SAW!”&lt;br /&gt;   Mat Belatong ternganga, dan tak mengira sama sekali omong-omong soal bini lalu sampai pula kepada nabi akhir zaman Muhammad SAW. Yang mengagumkan, ternyata kalbu Mat Ketumbi benar-benar telah mengalami reformasi pencerahan! Bukan reformasi yang kebablasan!    &lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong berkata,”Tapi celaka wahai Ketuk, kalau peluang yang demikian ini dimanfaatkan oleh pria yang tidak bertanggung jawab, yang tidak berpedoman kepada ajaran Rasulullah SAW: tidak adil, zalim lagi aniaya!”&lt;br /&gt;   Jawaban Mat Ketumbi sungguh mengagetkan: Lelaki itu tak lebih baik dari berang-berang, dia bukan umat Muhammad! Di akhirat dia akan berjalan pincang, bukan mustahil menjadi sosok manusia busuk yang lumpuh-layuh!&lt;br /&gt;   Mat Belatong tergemam mendengar jawaban sahabatnya itu. Pun ia tak mengira cerita ini bisa mengalir sendiri: dari Singkawang ke akhirat!&lt;br /&gt;   Kemudian ia berkata,”Udahlah Ketuk, kite stop cerite kite sampai di sini jak. Bise-bise  ade orang yang salah ambek dan memfitnah. Lalu kite beduak dituding: provokator, bejat, jurkam poligami! Sebab tak semue orang pandai ngambek yang tersirat dari yang tersurat!” ***                                                 &lt;br /&gt;                                                                                         ( Pontianak, 26 Desember 2005 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-6491642792662098718?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/6491642792662098718/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=6491642792662098718' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/6491642792662098718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/6491642792662098718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/11/mat-belatong-dan-cerita-bini.html' title='Mat Belatong dan Cerita Bini'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-978232616356187373</id><published>2007-11-01T18:55:00.000-07:00</published><updated>2007-11-01T18:57:10.709-07:00</updated><title type='text'>Mencari Api dalam Sekam</title><content type='html'>Oleh  A. Halim  R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   MAT BELATONG dan Mat Ketumbi tengah melakukan safari (perjalanan – pen) ke kota Singkawang. Kota ini pernah menyandang berbagai predikat yang diberikan kepadanya setiap kali berganti pemimpin. Banyak orang menyebutnya Sin Kew Jong, ada pula yang menggelarinya Kota Amoy. Pada masa pemerintahan “Khalifah” Syafei Djamil pernah diberi predikat “Kota Gayung Bersambut”. Ketika jabatan “khalifah” berada di tangan Uray Rukiyat, kota ini menjadi “Kota Tasbih”.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “Tasbih” adalah sebuah akronim (singkatan). Namun tentu tak sekadar itu yang mungkin dikehendaki Uray Rukiyat. Ada sebuah nuansa yang ingin ia lekatkan ke kota yang dipimpinnya, sehingga image orang (kalau mungkin) terarah kepada: untaian biji-biji tasbih. Barangkali ia ingin mengajak masyarakatnya, mengajak orang-orang yang datang ke Singkawang untuk selalu bertasbih, berzikir, ingat kepada Allah! &lt;br /&gt;   Dan tugu “Tasbih” itu sampai kini belum lagi roboh, masih terpacak pada tempatnya  semula. Namun, dengan dalih menyesuaikan diri dengan sikon yang terjadi akhir-akhir ini,  tampaknya ada pula pihak-pihak yang berkehendak memberi gelar baru kepada kota Singkawang: Kota Api Dalam Sekam! Kalau diakronimkan mungkin jadi: Kopi Lamse! Untung saja bukan: Kopi Pangse alias Kopi Pangku!&lt;br /&gt;   Dalam rangka melacak situs “api dalam sekam” inilah Mat Belatong membawa Mat Ketumbi ke Singkawang. Mat Ketumbi, namanya juga “ketumbi” – yang paling buntut – ikut saja. Ibarat kata orang Jawa, kalau sudah diajak oleh Mat Belatong, Mat Ketumbi ya: swargo nunut, neroko katut! Ke sorge ikot, melabor ke nerake pon terbawa. &lt;br /&gt;   Mereka sudah berkeliling di kota Singkawang, nongkrong di setiap warung kopi untuk mendengar apa yang tengah menjadi topik pembicaraan orang. Perut Mat Ketumbi sampai gembung minum teh es di setiap warung. Tapi tak ada sama sekali orang-orang itu membicarakan: api dalam sekam.&lt;br /&gt;   Di setiap warung Mat Belatong bertanya,”Di mana saya bisa menemukan api dalam sekam!?”   &lt;br /&gt;   Jawaban yang diperolehnya hampir sama: Sinun yo, tampat urang enggiling padi! Di sana, di tempat orang menggiling padi!&lt;br /&gt;   Mat Ketumbi, kakinya sampai meletop, karena berjalan memakai sepatu. Maklum, kaki jarang kena sepatu. Akhirnya ia membeli sandal jepit, sepatu made in Cibaduyut masuk tas kresek!&lt;br /&gt;   Setelah berhari-hari berkeliling kota Singkawang, hampir maghrib mereka kembali ke Hotel Bintang Tujuh, tempat keduanya menginap.&lt;br /&gt;   Setelah makan dan salat isyak, Mat Belatong mengajak Mat Ketumbi keluar kamar.  Dari lantai dua hotel tersebut terlihat di halaman hotel ada belasan wanita PSK (Penjaja “Sate” Keliling – pembaca yang ahli tentu bisa membetulkan kalau ini salah – pen). Juga tampak ada beberapa orang waria. Mereka lagi bercengkrama riang sesamanya. Jam menunjukkan hampir pukul delapan malam.&lt;br /&gt;   Mat Belatong mengajak rekannya menemui orang-orang itu. Namun Mat Ketumbi menolak sembari berkali-kali berucap,”Asytaghfirullah al‘azim, ingat Jon: wala taqrabuz zina! Mintak ampon ya Allah, jangan dekatkan aku kepada zina!”&lt;br /&gt;   Mat Belatong memegang tangan sahabatnya dan berkata,”Tenang Ketuk, jangan takot, jangan gentar Allah bersama kita! Ini Singkawang Ketuk! Di Singkawang ini sebagian orang telah menjadikan firman Allah seperti permen karet! Bise ditarek-ulor, bisa digumpal-gumpal berdasarkan kepentingan. Zina dan selingkuh bukan lagi sebuah aib, bukan lagi hal yang haram dan memalukan, tapi: boleh-boleh saja! Ini berarti bahwa virus permisif – salah satu virus sangat berbahaya produk globalisasi, kalau bukan bentuk kemunafikan – telah merebak di Singkawang! Kalau gelombang tsunami sudah meluluh-lantakkan Aceh secara fisik, kini gelombang permisivisme tanpa disadari telah mulai meluluh-lantakkan moral atau akhlak sebagian masyarakat Singkawang. Permisivisme bukan hanya menyerang sebagian masyarakat awam, tapi juga para guru, ulama dan umara, sampai ke pengurus masjid dan kalangan wanita di majelis pengajian!”&lt;br /&gt;   “Gile, virus ape tu Jon sampai membuat orang menjadikan firman Allah seperti bombon karet!?“ tanya Mat Ketumbi.      &lt;br /&gt;   “Permisivisme adalah suatu paham yang membolehkan, mengizinkan dan melonggarkan orang untuk berbuat sesuatu yang menyimpang dari aturan agama, hukum,  etika dan kebiasaan masyarakat. Kota Singkawang tampaknya sudah mencapai – kalau bukan terjerumus – ke maqam yang demikian itu! Ini berkat kepemimpinan walikota yang sekarang ini! Jadi kalaupun kita nak buat macam-macam di Singkawang, situasi dan kondisinya sangat kondusif! Apa pun yang akan kita buat  boleh-boleh saja, tak akan ada razia polisi, tak ada hujah ulama, tak ada protes majelis pengajian, tak akan dikata-kata dalam khutbah Jumat!” jawab Mat Belatong. &lt;br /&gt;   “Tapi Jon, bagosnye ana tak ikot. Ana nunggu di lobi hotel jak. Biar ente jaklah betale dengan budak-budak tu!” ucap Mat Ketumbi.&lt;br /&gt;   “Tadak Ketuk, awak harus tetap dengan aku, awak menjadi saksi kalau timbol fitnah!” jawab Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Entah jalan ke surga atau neraka yang tengah ditapaki Mat Belatong, terpaksalah Mat Ketumbi ikut. &lt;br /&gt;   Pendek cerita, maka bergabunglah kedua sahabat itu dengan majelis wanita PSK dan waria itu. &lt;br /&gt;   Salah seorang PSK minta dibelikan rokok. Mat Belatong menyodorkan selembar duit Rp 50 ribu, sembari berkata,”Aa, belilah siape yang perlu rokok!”&lt;br /&gt;   “Kalau beli semue, tak cukop duet ni bang! Tambah agiklah!” ucap PSK itu.&lt;br /&gt;   Mat Belatong merogoh koceknya, dan kebetulan yang terkeluar lembaran Rp 50 ribu.    Cepat tangan PSK itu menyambar sambil berucap,”Terima kaseh bang!“     &lt;br /&gt;   Dalam percakapan lebih lanjut, Mat Belatong bertanya,”Kitak-kitak ni ade organisasi atau semacam perkumpulan ndak?”   &lt;br /&gt;   “Sik an beh bang, semuenye begarrak sorang-sorang na ang!” jawab seorang PSK dalam  dialek Melayu Sambas.&lt;br /&gt;   “Kitak tuk urangnye banyak, ibaratnye jadi lampu seri di kota Singkawang: memperindah kota! Tapi mun begarrak sorang-sorang disik kekuatan. Cobelah kitak bantok perkumpolan, misalnye Majelis PSK Kota Singkawang. Bise juak kitak dakkat dangan Pak Walikota, dakkat dangan Pak Kapolres. Bise juak kitak ngeluarkan surat dukungan untok Pak Wali, macam nang dilakukan oleh ibu-ibu majelis pengajian iye!” ucap Mat Belatong coba-coba berdialek Sambas.&lt;br /&gt;   Salah seorang PSK nyeletuk,”Abang ni tim sukses Pak Wali atau provokator!?”&lt;br /&gt;   “Bukan! Aku ni Nordin Top!” jawab Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Semua PSK dan waria itu tertawa. Sambil menunjuk Mat Belatong mereka berkata,”Yo, abang tuk endah-endah inyan. Nordin Top urangnye lawa bang, ade cambangnye! Biarpon dah dicukor, bakkas cambangnye maseh nampak!”&lt;br /&gt;   “Itulah kau, betanyak yang ndak-ndak,” jawab Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong bercerita, bahwa pada tahun 2009 yang akan datang, kota Singkawang akan menjadi tuan rumah MTQ XXII Tingkat Provinsi Kalbar. Perhelatan besar itu akan didatangi oleh banyak manusia dari berbagai kabupaten, termasuk tamu-tamu dari luar daerah. Sebaiknya para PSK dan waria telah menyiapkan diri, jauh hari sebelumnya. “Jadikan dirimu sebagai penghias dan penyemarak kota, bersikap ramah dan berkunjunglah ke tempat-tempat penginapan kontingen MTQ. Tempat-tempat praktik prostitusi, seperti di belakang terminal bus Bengkayang, perlu dibenahi dan mulai berhias diri!”ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;    “Iye ke bang!? Ndakke kalau MTQ kamek-kamek ni dirazia dan diuser polisi!?“ tanya seorang PSK.&lt;br /&gt;   “Tadak! Singkawang telah menjadi kota yang paling kondusif di Indonesia. Anggota polisi berzina, polisi menista orang, pejabat berselingkuh, orang aborsi, semuanya boleh-boleh saja. Berbahagialah kalian, dipimpin oleh para umara dan ulama yang permisif, yang berhasil menciptakan sikon yang sangat kondusif di Singkawang ini,” jawab Mat Belatong.      &lt;br /&gt;   Setelah berbincang lebih lanjut – termasuk tentang sejumlah hal yang off the record – akhirnya Mat Belatong berkata,”Takot cerite kite kepanjangan, sekarang saye beduak permisi dolok nak balek ke kamar. Lamak-lamak ngobrol di sinik pon bise-bise ngabeskan waktu kitak, sebab kitak pon nak bekerje gak. Lalu aku pulak kenak sumpah- seranah tamu yang memerlukan kitak!”&lt;br /&gt;   “Terimak kaseh bang ye, tak perlu kawan ke?“ tanya para PSK itu.&lt;br /&gt;   “Udahlah, terimak kaseh jak. Saye pon dah ade gak kawan. Ini si Ketuk ni!” ucap Mat Belatong.  &lt;br /&gt;   Tatkala sudah berbaring di kamar, sambil matanya terkelip-kelip menatap langit-langit kamar, Mat Ketumbi bertanya,”Macam mane jak ye kabar Nek Aki dan Pak Udak yang naek haji tu sekarang?”&lt;br /&gt;   “Pak Udak, Nek Aki  yang mane?” tanya Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Itu duak orang pejabat Singkawang yang sering masok koran tu!” jawab Mat Ketumbi.&lt;br /&gt;   Setelah mengingat sejenak, Mat Belatong menjawab,”O, yang itu! Berdoalah Ketuk, agar yang satu tidak selalu menyingkap kain sarungnya di sana. Dan semoga yang satu lagi, kalau bertemu dengan wanita-wanita yang menutupi seluruh tubuhnya dengan pakaian hitam dan bercadar hitam di mukanya, tidak berkata: wanita  korengan! Kalau sampai terjadi yang demikian Ketuk, beramak muke seluruh jamaah haji Indonesia, terutama Kalbar!”&lt;br /&gt;   Masih terkelip-kelip, Mat Ketumbi bertanya lagi,”Kalau kite balek ke Pontianak besok, tak ketemulah api dalam sekam tu Jon!?”&lt;br /&gt;   “Tenang Ketuk, perjalanan kite tak sie-sie. Ana dah menemukannye!” jawab Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Berdasarkan survai dan metode manthiq (ilmu logika) versi Hoja Nasruddin Affandi, Mat Belatong  telah menemukan “api dalam sekam” itu.&lt;br /&gt;   Sebuah korelasi yang jelas terlihat, kota Singkawang sangat kondusif bagi “api dalam sekam”. Api dalam sekam itu bukan lain adalah: sikap permisif pejabat dan sebagian masyarakat Singkawang! Sikap yang demikian itu bagaikan api dalam sekam membakar moral dan akhlak mereka sendiri! &lt;br /&gt;   Singkawang sangat kondusif untuk kehidupan permisif! Dan itu telah dipelopori oleh tokoh puncak eksekutif! Sebuah keniscayaan: lahar atau kotoran yang mengalir dari puncak gunung, akan mengalir dan merembes ke bawahnya! ***&lt;br /&gt;                                                          &lt;br /&gt;                                                                                          ( Pontianak, 21 Desember 2005 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi cetak dimuat Borneo Tribune (4/11)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-978232616356187373?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/978232616356187373/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=978232616356187373' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/978232616356187373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/978232616356187373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/11/mencari-api-dalam-sekam.html' title='Mencari Api dalam Sekam'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-5892985441331597347</id><published>2007-11-01T18:52:00.000-07:00</published><updated>2007-11-01T18:54:04.335-07:00</updated><title type='text'>Refleksi “Merdeka” versi Mat Belatong</title><content type='html'>Oleh A. Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   MAT BELATONG duduk mencangkung di sebuah batang kayu di tepian sungai. Batang tersebut jika dilihat dari bentuknya, mungkin sisa-sisa rakit kayu yang terbuang: sudah afkir, tak laku lagi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menatap permukaan air sungai yang mengalir tenang, tetapi keruh. Ia tengah mencari bayangan wajahnya sendiri di permukaan air itu. Ia tengah melakukan refleksi,  mencari wajah “kemerdekaan” yang ada di dirinya yang telah berusia 62 tahun. Ia berharap bisa membaca apa yang mungkin terpantul lewat wajahnya di situ! Adakah pertambahan usia di wajahnya kian menampakkan kearifan, atau malah kian keriput dan menakutkan?&lt;br /&gt;   Namun ia tak menemukan wajahnya di air yang keruh kekuningan itu. Ia coba memasukkan tangannya sebatas siku ke dalam sungai. Apa yang terlihat? Telapak tangannya sendiri tak kelihatan! Air sungai sudah sangat keruh!&lt;br /&gt;   Niscaya telah terjadi sesuatu pada sungai, pada bumi Kalbar dalam jangka waktu 30 tahun terakhir ini. Dulu, masa kanak-kanak, bila ia mandi berlimbur dan menyelam di Sungai Kapuas, Sekayam maupun Melawi, kelebat kawan yang sama menyelam masih bisa terpandang dalam jarak 2 – 2,5  meter. Tatkala haus, tanpa ragu ia dan kawan-kawannya mencauk air dengan kedua tangan untuk kemudian meneguknya. &lt;br /&gt;   Kini sungai kian keruh mungkin akibat muka bumi termakan erosi, karena rimba kian lingkis. Diperburuk pula dengan pertambangan emas tanpa izin (PETI) yang terus marak dan mengganas hampir di semua batang air dan pinggir sungai di daerah ini. Menyauk emas, menebar merkuri kian menjadi-jadi!&lt;br /&gt;   Mat Belatong ingat, pada tahun 2005 lalu seorang peneliti dari Universitas Tanjungpura Pontianak berteriak lantang: Sungai Kapuas telah tercemar merkuri di atas ambang batas!&lt;br /&gt;   Ironis, belum lama ini, peneliti yang sama berteriak lain: Sungai Kapuas bebas merkuri!&lt;br /&gt;   Mat Belatong terpaksa berburuk sangka: sebab pernyataan itu bertentangan dengan logika dan fakta! Adakah sang peneliti berhasil dirangkul dan “dijinakkan”? Sehingga meneriakkan: pesan sponsor berbau politis(?). Maklum, pemilihan gubernur akan berlangsung 15 November 2007. Isu kehancuran lingkungan  dan merkuri bisa merusak reputasi kandidat incumbent kalau dimunculkan oleh kontestan lain! Ada pula yang berdalih: isu merkuri jangan dipambar, nanti wisatawan takut ke Kalbar! (Bahwa otak orang Kalbar akan betukuk dan labil macam air raksa, mungkin tak perlu dipikirkan!)&lt;br /&gt;   Sungguh aneh? Apa mungkin dalam waktu dua tahun lebih, sungai di Kalbar bisa bebas merkuri? Sementara semua orang tahu, jumlah mesin Dong Feng yang masuk ke Kalbar dan PETI makin bertambah dan kian marak dari tahun ke tahun!? &lt;br /&gt;    Terakhir, seorang peneliti lain dari universitas yang sama  tanggal 23 Agustus 2007 berteriak lantang lewat media massa: Sungai Kapuas tercemar merkuri 40 kali dari batas normal. Di sepanjang Sungai Kapuas terdapat sekitar 2800 titik PETI! (Apa sudah termasuk yang ribuan juga di sepanjang Sungai Melawi? – pen) &lt;br /&gt;    Ditambahkankan pula oleh peneliti yang bernama Profesor Alamsyah Hasan Basri, bahwa setiap tahun masuk 30 – 40 ton merkuri dari Malaysia lewat perbatasan Kabupaten Sintang – Sarawak.  &lt;br /&gt;   Mat Belatong termenung menatap sungai: ia mencari makna “merdeka” di air keruh itu!&lt;br /&gt;   Tentara Jepang dan Belanda yang memegang senjata, memang telah hengkang dari negeri ini. Tuan Honda, Tuan Takeda, spion Jepang yang berlagak “Mat Kodak” tahun 1940-an memang tak tampak lagi di Kalbar atau Indonesia. Kalau pun ada mungkin sebagai “Mat Kodak” turis mancanegara asal Jepon. Tapi berbagai produk Jepang merek Honda, Suzuki dll, memadati jalan dan supermarket di Indonesia!&lt;br /&gt;   Karena kebodohan, ribuan orang “dibunuh” Tuan Honda dan kendaraan produksi Jepang setiap tahun di Nusantara ini. Dulu (1944 – 1945) Jepang membunuh orang pintar di Kalbar, sekarang Jepang “membunuh” orang bodoh! Sementara Tuan Van Huis, Van Mock sudah lama mati.  &lt;br /&gt;   Di sungai yang keruh itu Mat Belatong melihat, betapa bangsa ini terutama yang bermukim di daerah Kalimantan Barat: masih dijajah kebodohan, kemiskinan dan pengangguran!&lt;br /&gt;   Kebodohan dalam makna “jahiliah” bukan hanya berkenaan dengan manusia berpendidikan rendah, tak sekolah, tetapi juga manusia berpendidikan tinggi: intelek, terpelajar tapi berakhlak jahiliah! Contoh nyata: penipu, pencuri, pungli, munafik, koruptor, hasad, khianat, iri, dengki, loba, rakus, tamak, zalim, zina, bengis, aniaya! Abu Jahal atau Pak Pandir (nama asli: Amru ibn Hisyam) adalah orang terpandang dan “intelektual” di kalangan kaumnya: kafir Quraisy! Pak Jahal orang terhormat dan berpengaruh. Hasad dan hasutnya dipakai benar oleh orang-orang yang memusuhi kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad.      &lt;br /&gt;   Kemiskinan, bukan hanya berkenaan dengan orang papa dan tak berpunya, tetapi juga berkenaan dengan orang kaya yang merasa miskin: terus-menerus haus harta, tamak, loba, serakah dan kikir! Duit negara, bantuan untuk pengungsi dan orang miskin dilahap: Abu Lahab! Pak Lahab orang kaya dan terpandang dalam masyarakat kafir Quraisy pada zaman Rasulullah.&lt;br /&gt;   Abu Jahal dan Abu Lahab, bukan cuma ada di dalam Al-Quran dan zaman Rasulullah belaka, tetapi juga di zaman Indonesia merdeka! Pak Abu memang banyak di negeri ini. Mereka adalah orang-orang yang tak bisa – atau sengaja tak mau – menarik garis pemisah antara hitam dan putih. Mereka berkelindan hidup di ranah abu-abu: ke hitam masuk, ke putih pun menyelinap! Rezeki abu-abu – subhat, tak jelas halal dan haram – disikat! Malah yang jelas haram pun diembat! &lt;br /&gt;   Pokok pangkal kesemuanya ini adalah karena: menafikan Tuhan Yang Maha Esa! Menafikan ajaran agama!&lt;br /&gt;   Tatkala sila pertama dari Pancasila saja diabaikan, tak akan pula sila lain terhayati dalam kehidupan sehari-hari. Buntut-buntutnya: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia – cuma mimpi! Kesejahteraan rakyat: melarat!&lt;br /&gt;   Akan halnya pengangguran, adalah buah dari ketidakadilan sosial, produk: pemimpin, pejabat, aparat jahiliah di negeri ini.&lt;br /&gt;   Tengah Mat Belatong melakukan refleksi, tiba-tiba nongol Ketuk alias Mat Ketumbi. Ia memang  mencari sahabatnya Mat Belatong. Melihat rekannya nyerongkong di pinggir sungai itu, Ketuk bertanya,”Ente ncarik ape Jon?” Tanpa menoleh, Mat Belatong menjawab,”Nak nengok wajah kemerdekaan!”&lt;br /&gt;   Ketuk ngelakak tertawa. Kemudian ia berkata,”Kalau nak nengok wajah kemerdekaan bukan di tepi sungai ni Jon! Di sanak tu, di Istana Merdeka, di depan Kantor Gubernur, di Sungai Jawi nengok banci panjat pinang! Di banyak tempat, ibu-ibu maen bal pakai kaen sarong! Sampai tengah malam butak pon, maseh ade yang tepekek-kaong dengan suare bedeper bau nage: lombak karaoke! Tak peduli azan isyak, pekek-jeret pakai mik dengan  musik lebam-lebum mengalahkan suare azan dan imam salat! Kenak pulak 17 Agustus 2007 ni bertepatan dengan bulan Syakban 1428 H. Amalan bulan Syakban: tanding maen remi, maen gaplek sampai suboh! Kemerdekaan udah dinikmati oleh seluroh lapisan masyarakat, Jon!”&lt;br /&gt;   Mat Belatong berdiri menatap sahabatnya. “Iyeke Ketuk!? Jadi abes Agustus ni tak ade agiklah kite nengok jeriken antre minyak tanah, pemulung dan pengemis? Tak ade agik orang misken,  pengangguran, putus sekolah dan preman?” tanyanya.&lt;br /&gt;   Sambil tertawa Ketuk menjawab,”Kalau soal itu sih jalan teros! Entah bile berentinye!”&lt;br /&gt;   Mat Belatong menunduk sesaat, kemudian menatap langit dan berkata,”Aku merasa pilu Ketuk menyaksikan kegembiraan rakyat dalam merayakan hari proklamasi kemerdekaan ini. Sangat menyedihkan, bila permainan rakyat itu hanyalah kegembiraan sesaat untuk melupakan derita hidup yang tengah dipikul. Sesaat bisa melupakan utang yang belum terbayar, melupakan kepahitan hidup dengan penghasilan di bawah Rp 1 juta sebulan. Sesaat bisa tertawa, melupakan bahwa di rumah anak-anak  hanya makan dengan lauk sepotong indomie yang diberi berkuah banyak. Sesaat bisa tertawa, melupakan diri tak punya pekerjaan, melupakan kemiskinan, melupakan bahwa: besok makan apa……….” ***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                                                                                               (Pontianak, 27 Agustus 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi cetak dimuat Borneo Tribune (28/10)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-5892985441331597347?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/5892985441331597347/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=5892985441331597347' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/5892985441331597347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/5892985441331597347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/11/refleksi-merdeka-versi-mat-belatong.html' title='Refleksi “Merdeka” versi Mat Belatong'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-1692414158894359643</id><published>2007-11-01T18:50:00.000-07:00</published><updated>2007-11-01T18:51:40.469-07:00</updated><title type='text'>Beda Pendapat adalah Rahmat?</title><content type='html'>Oleh: A.Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   DI NEGERI ini sangat banyak orang pintar dan ahli, payah dipungkiri. Bukan hanya yang duduk di kursi eksekutif dan legislatif, bahkan sampai kepada yang numpang duduk di kursi warung kopi! Demikian juga dalam hal mengeluarkan statemen dan fatwa. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pihak yang merasa paling berkompeten dan berkuasa dalam mengeluarkan fatwa. Sampai-sampai terjadi sesuatu pada Ramadan! Sepakat di awal, tak sepakat di akhir! Untuk menetapkan akhir Ramadan, dan bermulanya tanggal 1 Syawal, satu kaum memberikan fatwa berdasarkan “mata” (rukyat), satu kaum berdasarkan “otak” (hisab – hitungan kalender falakiyah). Semacam lagi: inkamur rukyat, yaitu metode rukyat dengan beberapa kriteria dan syarat yang berdasarkan kesepakatan bersama antara Menteri Agama Indon eh INA, Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura. &lt;br /&gt;   Di antara ahli rukyat dan hisab itulah terdapat: rakyat dan tukang isap (rokok!). Bingung, mau ikut yang mana!? &lt;br /&gt;   Padahal untuk penetapan tanggal 1 Syawal (Idulfitri) ini: halal dan haram taruhannya! Tatkala satu pihak menetapkan hari Jumat tanggal 12 Oktober 2007 sebagai 1 Syawal 1428 H, maka pastilah “haram” orang berpuasa pada tanggal 12 Oktober itu. &lt;br /&gt;   Tatkala pihak lain menetapkan hari Sabtu tanggal 13 Oktober 2007 sebagai Hari Raya Idulfitri, niscaya “tidak benar” mereka yang sudah berbuka puasa pada tanggal 12 Oktober 2007 itu! Mereka harus membayar “utang” puasanya! Orang lain masih berpuasa, mereka sudah salat Id dan makan-minum.&lt;br /&gt;   Inkamur rukyat pun ternyata “kesepakatan” yang tak harus disepakati. Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam ternyata salat Idulfitri hari Jumat 12 Oktober 2007, sementara Menteri Agama RI dan MUI (Majelis Ulama Indonesia) menetapkan Sabtu 13 Oktober 2007. Jauh hari sebelumnya Ketua Pengurus Pusat Muhammadiah – berdasarkan hisab – sudah mengumumkan tanggal 1 Syawal 1428 H jatuh pada hari Jumat 12 Oktober 2007. &lt;br /&gt;   Ada pula kabar, ada kaum di Indonesia yang melaksanakan salat Idulfitri hari Kamis tanggal 11 Oktober 2007. Islam juga, yaitu antara lain: penganut Tarikat Naqsyabandiah di Padang (Sumbar) dan jamaah Majelis An-Nadzir di Gowa (Sulsel). Yang disebut terakhir ini berciri: jubah hitam, peci runcing dan rambut dipacar pirang! Penetapan Idulfitri dua kaum ini acuannya bukan rukyat bukan hisab, tetapi: kondisi alam!&lt;br /&gt;   Lebih seru lagi, penganut Tarikat Naqsyabandiah di Blitar dan Jombang (Jatim) salat Id pada hari Minggu 14 Oktober 2007. Patokannya terbilang “hisab” juga, yaitu memadukan kalender Islam dengan kalender Jawa! Entah kapan pula puasanya bermula! Nama tarikat boleh sama, isi kepala boleh berbeda! &lt;br /&gt;   Melihat gelagatnya bukan tak mungkin suatu ketika di Indonesia orang bisa menemukan Idulfitri berlangsung Senin – Minggu, atau Senin ketemu Senin. Yang sudah terjadi tahun 2007 M (1428 H) ini: Kamis – Minggu! Tinggal: Senin, Selasa, Rabu. Banyak paham, banyak ragam – banyak aliran, banyak penampilan! Adakah umat Islam Indonesia telah menjadi “artis” dengan prinsip: yang penting “different”, tampil beda!? &lt;br /&gt;   Untung saja masalah ini tidak sampai menimbulkan huru-hara!&lt;br /&gt;   Untuk menengahi, agar tak menimbulkan sengketa, entah siapa meluncurkan fatwa: beda pendapat adalah rahmat. Ungkapan lengkapnya: Perbedaan (pendapat) di antara umatku adalah rahmat. &lt;br /&gt;   Kalimat yang terakhir ini dinisbahkan sebagai: perkataan Nabi Muhammad Rasul Allah. Namun apa kata DR Muhammad Fuad Syakir dalam kitabnya “Laisa min Qaulin Nabi”. Mengutip berbagai pendapat dari sejumlah ulama ternama masa lampau, Fuad Syakir mengingatkan, kalimat tersebut bukanlah perkataan Nabi Muhammad, melainkan ucapan Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq. Al-Qasim lahir pada masa kekhalifahan Imam Ali bin Abu Thalib, meninggal pada tahun 107 H. (Bukan mustahil, ucapan Al-Qasim itupun telah “dipelintir” oleh entah siapa, sehingga bernada sebagai ucapan Nabi Muhammad. Lihat kata: di antara umatku – pen).  &lt;br /&gt;   DR Muhammad Fuad Syakir mngutip pendapat Ibnu Hazam (kitab: Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam) sebagai berikut: Pendapat ini termasuk ucapan yang berpotensi paling merusak. Sebab, jika saja berbeda adalah rahmat, maka kesepakatan adalah murka. Sungguh ini tidak boleh diucapkan oleh seorang muslim. Pasalnya, hanya ada dua term (istilah, batasan): bersepakat atau berbeda, rahmat atau murka.&lt;br /&gt;   Al-Albani (kitab: Silsilah Al-Hadis Ad-Daifah Al-Mauduah) berkata mengenai masalah ini,”Perbedaan adalah perilaku tercela dalam syariat Islam. Yang wajib dilakukan adalah sebisa mungkin berupaya untuk terbebas dari kondisi tersebut. Sebab kondisi ini merupakan faktor lemahnya umat. &lt;br /&gt;   Adapun hadis sahih yang berkaitan dengan konteks masalah di atas, adalah hadis Al-Bukhari yang bersumber dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata,”Aku pernah mendengar bacaan ayat (Al-Quran) seorang lelaki yang berbeda dari yang aku dengar dari Nabi. Aku kemudian lalu memegang tangannya, lalu menghadap Rasulullah bersamanya. Rasulullah berkata: Kalian berdua baik.”&lt;br /&gt;   Syu’bah berkata,”Aku menduga Rasul mengatakan: Janganlah kalian berselisih paham. Sungguh, terdapat kaum sebelum kalian yang berselisih paham, (akhirnya) mereka musnah.”&lt;br /&gt;  Di akhir penjelasannya DR Muhammad Fuad Syakir mengatakan: Perbedaan yang terlarang adalah sikap bermusuhan dan mencari-cari kesalahan. Sedangkan perbedaan pendapat mengenai suatu teori tidak dipermasalahkan. Oleh karena itu Rasulullah berkata,”Kalian berdua baik,” kepada Ibnu Mas’ud dan si lelaki pembaca Al-Quran, padahal keduanya berselisih paham dalam bacaan.&lt;br /&gt;   Mat Belatong dan Ketuk (sapaan akrab: Mat Ketumbi) bingung. Apakah penetapan akhir Ramadan (permulaan Syawal) yang berbeda itu termasuk: berselisih paham mengenai sebuah teori, berselisih paham dalam bacaan, yang dibolehkan?&lt;br /&gt;   Mereka tak mau ambil resiko, karena memang tak punya ilmu tentang hal itu. Rukyat tak mudah, hisab pun payah. Ada lembaga yang sangat berkompeten dalam hal ini yaitu: Departemen Agama RI, dan MUI. Mereka punya ahli yang cakap di bidangnya, sengaja dibentuk oleh Pemerintah RI, sengaja ditunjuk oleh kalangan ulama Islam di Indonesia. Depag dan MUI seyogianya yang paling pantas mengeluarkan fatwa untuk kalangan muslim di Indonesia, sehingga umat muslim tidak terombang-ambing di antara pendapat yang berbeda, tidak salat Id di dua, tiga atau empat masa. Umat Islam pun seyogianya tidak lebih fanatik kepada aliran atau organisasi massa daripada Departemen Agama dan Majelis Ulama! Begitulah kira-kira “impian” Mat Belatong dan Ketuk yang: pintar belom sampai, bodo dah lepas. Meski dengan kadar otak pas-pasan, bukan mereka tak berpikir tatkala melihat kenyataan: satu akidah, bersepakat payah!  &lt;br /&gt;   Kalau sekadar Rahmat yang berbeda pendapat: lumrah. Ada Rahmad Sugandi, ada Rahmat Kalifah, ada Rahmat Barzanji, ada si Amat yang dah balik ke rahmatullah. Ada fardu ain, ada fardu kifayah, pemimpin berpilah, rakyat susah. Katak di bawah tempurung, ulama tak kompak umat bingung! ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                               (Pontianak, 19 Oktober 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;versi cetak dimuat Borneo Tribune (21/10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-1692414158894359643?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/1692414158894359643/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=1692414158894359643' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/1692414158894359643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/1692414158894359643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/11/beda-pendapat-adalah-rahmat.html' title='Beda Pendapat adalah Rahmat?'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-9000943358106331889</id><published>2007-10-10T01:33:00.000-07:00</published><updated>2007-10-10T01:35:07.685-07:00</updated><title type='text'>Ketuk Sudah Diakui Melayu</title><content type='html'>Oleh A.Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   PAGI hari itu, dalam acara coffee morning Mat Belatong dan Ketuk (sapaan akrab: Mat Ketumbi), si Ketuk menyatakan kegembiraannya, bahwa ia diundang dan hadir dalam acara Halal Bihalal MABM (Majelis Adat Budaya Melayu) Kalbar yang diselenggarakan Sabtu 25 November 2006, pukul 14.00 WIB di Balairungsari Rumah Melayu, Kota Baru Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Bagos gak acara tu diadekan tengah hari bedengkang, dah lepas jam makan. Tak perlu ngasik orang makan, dan ana pon ade gak waktu untok besalen oplet berape kali dari Paret Kalot Ribot ni ke Kota Baru,” ucap Ketuk.&lt;br /&gt;   “Dengan adenye undangan itu, awak udah sah diakuek sebagai warga Melayu Ketuk, bukan agik golongan salamander: ikan bukan, katak pon bukan!” jawab Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Iye Jon, kalau ana tinggal di Paret Wak Katak, tentulah ana ni katak. Kalau tinggal di Pulau Nyamok, tentulah ana ni bangse agas!” jawab Ketuk agak tersungging.&lt;br /&gt;   Mat Belatong tertawa, sambil menghembuskan asap rokok, berbentuk kue donat atau 0. Ketuk makin ngesak. Ditepaunya bulatan-bulatan asap itu hingga berantakan!&lt;br /&gt;   “Jon, soal identitas dan jati diri penting Jon! Ana paling tak maok jadi iyuk kiye-kiye. Dipandang ekok macam iyuk, dipandang depan macam ikan parik!” ucap Ketuk.&lt;br /&gt;   “ Iye Ketuk, awak memang bukan golongan iyuk, tapi golongan parik. Cobe gak awak becermen, muke awak kasap macam kulet parik,” jawab Mat Belatong sambil tertawa.&lt;br /&gt;   Setelah berpikir sejenak, Ketuk berkata,”Mule-mule, ana ni ragu gak. Apeke ana ni diundang sebagai warga Melayu, atau warga ape. Sebab ana tengok, yang hader di Balairong Melayu tu ade gak orang Cine, Mendure, Buges, Sundak, entah ape agik. Ade gak Acui Simanjaya dari Forum Lintas Etnis.”&lt;br /&gt;   “Waktu organisasi-organisasi tu disebot oleh Abang Imien Thaha, semue ketue-ketuenye bediri. Ana pon dah siap-siap gak nak bediri, kalau disebot dari Forum Lintas Batas, atau Lintas Kapuas, kalau tak ade yang maok bediri! Barangkali di situk letak ana! Sebab yang namenye forum sekarang ni, bukan agik betepek, dah belampar macam  orang jual buah jering (jengkol). Bau dan rupe dah macam-macam!” tambah Ketuk.&lt;br /&gt;   Mat Belatong tertawa.&lt;br /&gt;   “Lalu ana tengok undangan ana,” lanjut Ketuk,” yang ditules cume name ana tanpa embel-embel organisasi. Aa, udahlah piker ana, tentulah ana ni digolongkan ke dalam grup Melayu, walaupon baju telok belangak dan kaen corak insang ana tak nyimpan!”&lt;br /&gt;   “Hebat awak Ketuk, dah masok majeles! Lalu ape jak cerite hari itu yang menarek?” ucap Mat Belatong.   &lt;br /&gt;   Si Ketuk tertawa. Kemudian ia berkata,”Hadirin ngelakak ketawak Jon, waktu MC kesasol ngomong: Kepada Bapak Datok Haji Abang Imien Thaha kami persilahkan! Sampai ade undangan yang tekeruk-keruk ketawak sambel ngomong: Ini bapaknye atauke datoknye yang dipersilahkan!? Ade pulak yang bekate: Udah disebot Datok, Datok jaklah, jangan agik disebot Bapak. Sadar dengan kesalahannye, MC perempuan yang poreh tu tak agik nyebot Bapak, tapi Datok jak!”&lt;br /&gt;   Mat Belatong tekial-kial tertawa, dan berucap,”Inilah Ketuk, salah satu contoh, macam mane susahnye orang Melayu nak menunjokkan identitas diriknye Melayu. Ngomong pon dah salah-salah -- sampai sangsot -- tak ingat agik dengan bahase awak sorang! Hilang kepribadian terseret arus globalisasi!”&lt;br /&gt;   Lebih lanjut Mat Belatong berkata,”Kite beduak Ketuk, diakuek Melayu ataupon bukan, tapi lewat halaman ini udah melakukan sikit upaya – kalau tak layak disebot perjuangan kecik -- bagi kemaslahatan Melayu. Kite cobe memasokkan dialek Melayu ke halaman koran, cobe ngasik identitas bagi sebuah koran yang terbet di daerah ini. Cobe mengetengahkan kembali susonan atau ragam kalimat Melayu yang asli, bukan sekadar mengaleh kalimat bahasa Indonesia ke ‘bahasa Melayu’ dengan care mengganti huruf a menjadi e. Pon kite cobe menimbolkan kembali, memperkenalkan kembali khazanah kosa kata Melayu lamak yang udah terpendam, terlupakan, terkikis oleh zaman. Mudah-mudahan ape yang kite buat ade maknenye, walaupon oleh cerdik-cendekia daerah ini dipandang sebelah mate pon tadak! Tak perlu kecik ati, sebab kite berkomunikasi dengan masyarakat Kalbar, sekaligus memperkenalkan dialek Melayu kepada masyarakat luar!”&lt;br /&gt;   Ketuk terdiam. Benarkah ia telah berjuang untuk Melayu? Ngomong setiap pagi sambil minum kopi, bisakah menjadi pahlawan? Pahlawan atau bukan, yang penting: semoga  saja ia bukan tergolong orang yang mengatasnamakan Melayu, menunggangi masyarakat Melayu untuk kepentingan pribadi ataupun golongan. &lt;br /&gt;   Melihat Ketuk diam, Mat Belatong berkata,”Ape agik Ketuk yang lucu-lucu hari itu!?”&lt;br /&gt;   Setelah menghela napas panjang, Ketuk berucap,”Gubernur Usman Jafar memberikan ‘pemaparan’ tentang keberhasilan  yang telah dicapai Kalbar selama masa jabatannya dalam kurun waktu sekitar empat setengah tahun terakhir ini. Termasoklah keberhasilan memperoleh penghargaan dari Presiden SBY dalam hal: ketahanan pangan! Kalbar udah swasembada pangan, udah tak perlu agik mendatangkan beras dari luar! Di buntot ‘pemaparan’ itu Pak Gubernur sempat pulak ngomong: Ini bukan kampanye!” &lt;br /&gt;   Mendengar cerita Ketuk itu, Mat Belatong berucap,”Ndakke awak ade cerite Ketuk, enam ribu masyarakat Kecamatan Serawai dan Embalau di Kabupaten Sintang terancam lapar tegal gagal panen akibat serangan belalang!?”&lt;br /&gt;   Tertawa, Ketuk menjawab,”Aa, iye Jon! Di tengah kecukupan pangan, ade sekelompok rakyat yang lapar! Di sebelah rumah orang yang makan kenyang, ade tetangga yang kebuloran dan busong lapar!”&lt;br /&gt;   “Ituke yang namenye ketahanan pangan, sementara menghadapi serangan Tuanku Buntak dan laskar hama tak berdaya!? Belum lagi terhadap kondisi alam dan perubahan cuaca yang sukar dibaca!” tambah Mat Belatong. “Itu ketahanan pangan yang rentan, sebab sewaktu-waktu bise tebalek jadi kelaparan! Mestikah kita tak perlu impor beras untuk berjaga-jaga? Jangan berjudi dan bermain-main dengan perut rakyat!” lanjutnya.&lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong bercerita,”Di Jawe, Ketuk, saking takotnye petani terhadap hama tikus, sampai tak berani nyebot tikos tu tikos. Sampai-sampai tikos disebot: Den Bagus! Same dengan awan panas yang meluncor dari kepundan Merapi, lalu disebot: wedhus gembel atau kambing miskin! Jadi kalau si Parto Japon tu ngomong dengan awak: Monggo Den Bagus, jangan nak bangge! Mungkin awak perlu balas dengan kalimat: Inje celurut! Awak tikos, die celurut!” &lt;br /&gt;   “Jon, jadi-jadilah ngolok tu,” jawab Ketuk,”ape hubongannye segale macam hama tu dengan ana!? Ape ente nak ngamalkan ilmu sakat ala Nu’aiman  bin Amru al-Anshari itu!? Sampai kawan pon dijualnye, ditukar dengan onte!? Untong jak ade Abu Bakar ngambek balek!”&lt;br /&gt;   Mat Belatong tertawa. Kemudian ia berkata,”Ketuk, sayang kawan dicanda-canda, sayang anak ditimang-timang. Dan kite yang tak punye ni Ketuk, kadang-kadang dianggap hama oleh mereka yang kaya dan mapan. Nengok kite jak die nyingker, dikirenye kite ni nak mintak, nak merampok jak! Padahal tak semua orang miskin bersedia meletakkan tangan di bawah. Rasulullah jak tak mau makan sedekah, kecuali sedikit dari barang hadiah, selebihnya disedekahkan lagi!”&lt;br /&gt;   Ketuk diam, tampak berpikir. Setelah itu ia berkata,”Malah para pejabat dan aparat   yang ana tengok banyak mengamalkan prinsip ‘kecik telapak tangan, parabola ditadahkan’ terhadap pemberian sopoi dan sogok dari para bos dan tauke curang. Duet dari bos peternak babi, agen miras, bandar judi pon dilantak. Tak peduli haram dan subhat! Padahal Rasulullah berkata: Sesungguhnya jika Allah mengharamkan sesuatu pada suatu kaum, maka Allah juga mengharamkan hasil penjualannya.”&lt;br /&gt;   Mat Belatong balik terdiam. Dalil yang dicari-carinya dari sejumlah kitab -- namun tak bertemu -- ternyata dengan ringan meluncur dari mulut Ketuk!&lt;br /&gt;   Ketuk yang dikatakannya bermuka kasap seperti kulit pari, ternyata bermulut bagaikan mata air sumber hikmah!&lt;br /&gt;   Melihat rekannya diam, Ketuk mengeluarkan pitutur,”Melayu dan adat budayanya, hanyalah sebuah pigmen dari warna-warni pelangi dunia. Dia perlu ada, demikian juga pigmen warna lainnya, agar tercipta pelangi dunia yang indah. Lewat warna-warni pelangi dunia itu, insan disuruh membaca tentang: sebuah maha kreativitas dari Sang Maha Pencipta, Sang Maha Maestro! Tak satu berhak menyingkirkan yang lainnya, tak satu berhak merasa mulia dari yang lainnya. Tatkala kincir pelangi berputar di tangan Allah, yang ada hanya satu warna: putih! Sirna warna, sirna rupa, sirna beda! Capailah itu, masuklah ke dalam kalbu masing-masing. Tatkala telah diketahui hakikat warna-warni dunia -- hakikat diri -- niscaya semua makhluk bisa ditatap dengan rasa cinta dan kasih-sayang!” &lt;br /&gt;   Mat Belatong ternganga. Tampak di matanya, muka Ketuk tidak lagi kasap, tapi bercahaya! ***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                                                                                           ( Pontianak, 03 Desember 2006 )&lt;br /&gt;Versi cetak dimuat di harian Borneo Tribune, tanggal 7 Oktober 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-9000943358106331889?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/9000943358106331889/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=9000943358106331889' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/9000943358106331889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/9000943358106331889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/10/ketuk-sudah-diakui-melayu.html' title='Ketuk Sudah Diakui Melayu'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-5617886716518048843</id><published>2007-09-29T09:39:00.000-07:00</published><updated>2007-09-29T09:40:28.728-07:00</updated><title type='text'>Cerita Naik Haji</title><content type='html'>Oleh A.Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   QUOTA yang ditetapkan oleh Depag RI bagi jamaah haji Kalbar tahun 2007 (1428 H) ini adalah sebanyak 2.314 orang. Sementara yang mendaftar untuk naik haji sudah belonggok. &lt;span class="fullpost"&gt;Apa boleh buat bila 6.800 jamaah terpaksa menunggu: antre! Kalau dihitung-hitung, menurut Kakandepag Kalbar Drs H Rasmi Satar, yang antre naik haji baru tuntas pemberangkatannya pada tahun 2010. Entah berapa ribu lagi yang bakal antre berikutnya. Mungkin karena “penggemar” naik haji terlalu besar, maka Depag RI mengeluarkan kebijaksanaan: yang sudah pernah naik haji jangan mendaftar lagi! Beri kesempatan kepada yang belum pernah melaksanakannya.&lt;br /&gt;   Seorang teman Mat Belatong yang biasa ngengkol sepeda tiap Jumat dari kawasan Kota Baru ke Masjid Mujahiddin Pontianak, beberapa waktu menghilang. Tahu-tahu muncul lagi di masjid mengenakan gamis! Rupanya dia ikut naik haji pada musim haji tahun 2006 (1427 H) lalu! Rupanya naik haji bukan tergantung orang bermobil atau bersepeda, bukan mesti pejabat dan orang kaya. Yang berkelindan becek di pasar ikan bisa naik haji juga!&lt;br /&gt;   “Ade gak ente merase kelaparan di padang Arafah, seperti yang diberitekan di tivi dan dikelohkan banyak jamaah haji tu?” tanya Mat Belatong menggamit lutut kawan yang bergamis. Ternyata jawabannya enteng,”Ah, itulah orang kite. Kalau tak makan nasik tetap bekabar belom makan. Sehingge, dah makan barang laen pon maseh terase lapar!” Nyaris Mat Belatong ngelakak tertawa di dalam masjid.&lt;br /&gt;   Tatkala mengantar mayat seorang rekan ke kuburan, Mat Belatong berkata kepada temannya yang biasa disapa Yos Dolly. Nama sebenarnya Yusof Dolek, tetapi karena punya grup orkes dangdut, namanya di-selebritis-kannya menjadi: Yos Dolly. &lt;br /&gt;   “Jon, ente dah cukop, pegilah!” ucap Mat Belatong. Sang rekan menjawab,”Pegi kemane?” Mat Belatong menjawab,”Mekah!”&lt;br /&gt;   Yos Dolly menjawab,”Aa, iyelah nantiklah ana mendaftar untok berangkat tahon depan.”&lt;br /&gt;   “Merampot jak nak berangkat tahon depan. Naek haji sekarang ni antre. Mendaftar sekarang bise-bise baru berangkat 2 – 3 tahon agik! Bagosnye ente umrah jak dolok laki-bini, ongkosnye sekitar 10 – 12 juta satu orang. Ade pemberangkatan umrah tiap bulan sekarang ni!” ujar Mat Belatong. &lt;br /&gt;   Yos Dolly tampak berpikir. ”Aa, iye. Kalau dah macam itu, bile agik nak berangkat,” ucapnya sembari menunjuk ke kuburan teman yang tengah ditimbus tanah. Sebab usia yang dikubur, Yos Dolly dan Mat Belatong hampir sebaya. &lt;br /&gt;   Percakapan di kuburan ini diceritakan kembali oleh Mat Belatong kepada Boy, anaknya. Kebetulan habis Jumatan, Mat Belatong mampir ke rumah anaknya yang telah berumah-tangga sendiri: rindu kepada cucu.&lt;br /&gt;   Anaknya tampak berpikir, setelah mendengar cerita tersebut. Kemudian anaknya berkata,”Kalau begitu Boy berangkatkan jaklah mak mertue Boy untok umrah. Kalau ndak, bise-bise jadi penyesalan. Sebab orang tue tu malar jak becakap: Anak aku yang mane jak yang bise memberangkatkan aku pegi haji. Bagos diumrahkan jak dolok.” &lt;br /&gt;   Ketika ibu mertuanya diberi tahu, berangkat umrah minggu depan, betapa kagetnya perempuan yang usianya telah kepala enam itu. “Aku kepengen naek haji bukan umrah!” ucap orang tua itu. “Udah, ibu berangkat umrah dolok. Soal naek haji belakangan, kalau ade duet baru naek haji,” balas Boy.&lt;br /&gt;   Tekacal-ganyahlah orang tua itu, karena tiba-tiba saja harus ke Tanah Suci yang diidamkan.&lt;br /&gt;   Belum pulang ibu mertuanya dari Tanah Suci, Boy sudah bermimpi: dirinya  mengenakan pakaian ihram, melakukan tawaf mengelilingi kakbah!     &lt;br /&gt;   Abdullah ibn Mubarak (lahir: 736 M – ayahnya Turki, ibunya Persia) dalam tidurnya di Mekah setelah menunaikan ibadah haji, bermimpi didatangi dua orang malaikat. Ia bertanya kepada malaikat itu,”Berapa orang yang diterima hajinya kali ini?” Malaikat menjawab,”Tak seorang pun, kecuali seorang kuli di Damaskus yang bernama Ali ibn Mawaffaq yang tak jadi berangkat haji!”&lt;br /&gt;   Pulang dari Mekah, Abdullah ibn Mubarak langsung ke Damaskus mencari Ali ibn Muwaffaq. Ketika bertemu, Abdullah menceritakan tentang mimpinya. Dan ia bertanya, apa “keistimewaan” yang telah diperbuat oleh Ali ibn Mawaffaq.&lt;br /&gt;   Ali ibn Mawaffaq bercerita: Sudah 30 tahun aku ingin menunaikan ibadah haji. Aku menabung 350 dirham dari setiap hasil kerjaku. Tahun ini aku berniat berangkat menunaikan ibadah haji. Pada suatu hari ada seorang wanita baik-baik yang sedang hamil mencium bau masakan dari rumah tetangganya. Ia berkata kepadaku,”Pergilah ke sana dan mintakan sedikit makanan tetangga itu untukku.” Aku mendatangi rumah tetangganya itu, dan menerangkan maksud kedatanganku. Tetangganya itu justru meneteskan air mata. Ia berkata,”Semua anakku tidak makan selama tiga hari. Dan tadi aku melihat seekor keledai mati, lalu kuambil, kupotong dan kumasak. Makanan itu tidak halal untukmu!” Aku jadi gelisah mendengar ucapan ini. Kemudian aku mengeluarkan 350 dirham yang rencananya untuk ongkos ke Mekah. Saya memberikan uang itu kepadanya sembari berkata: Belanjakanlah uang ini untuk anak-anakmu. Inilah hajiku!&lt;br /&gt;   Syaikh Abu Yazid Al-Busthami (wafat: 877 M) suatu ketika dalam perjalanannya berpapasan dengan seorang lelaki miskin. “Kemana engkau mau pergi?” tanya lelaki itu. “Mau menunaikan ibadah haji,” jawab Abu Yazid. “Berapa bekal yang engkau bawa?” tanya lelaki itu. “Dua ratus dirham,” jawab Abu Yazid. “Berikan uang itu kepadaku,” pinta lelaki itu,”aku seorang lelaki miskin yang menanggung satu keluarga. Kelilingilah aku tujuh kali, itulah hajimu!”&lt;br /&gt;   Abu Yazid melakukan apa yang diminta oleh lelaki miskin itu. Ia sadar, menolong sesama yang sedang memerlukan sekali lebih berarti di mata Allah dibandingkan menunaikan ibadah haji. Setelah itu, ia lalu balik ke rumahnya, mengurungkan niat berhaji.&lt;br /&gt;   Sufyan Al-Tsauri (lahir: 715 M di Kufah) telah 40 kali naik haji. Pada suatu hari ia bertemu dengan seorang pemuda yang mengeluh karena tak mampu melaksanakan ibadah haji. Melihat keadaan tersebut, Sufyan berkata,”Aku telah 40 kali melaksanakan ibadah haji. Aku akan melimpahkan semua ibadah hajiku kepadamu. Maukah engkau melimpahkan keluhan itu kepadaku?”&lt;br /&gt;   “Ya, aku bersedia,” jawab pemuda itu.&lt;br /&gt;   Pada suatu malam Sufyan bermimpi, ada suara yang berkata: Engkau telah beruntung dalam transaksi itu. Bila keuntungan itu dibagi-bagikan kepada semua jamaah haji yang hadir di padang Arafah, maka mereka akan menjadi kaya!” ***  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegur-sapa: telp (0561) 771770 – HP 085252000995                                                                                                   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-5617886716518048843?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/5617886716518048843/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=5617886716518048843' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/5617886716518048843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/5617886716518048843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/09/cerita-naik-haji.html' title='Cerita Naik Haji'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-7487227755149703668</id><published>2007-09-22T09:48:00.001-07:00</published><updated>2007-09-27T09:19:40.280-07:00</updated><title type='text'>Mat Belatong dan SMS Ramadan</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_LoyykEpgpQQ/Rvfhn44jbjI/AAAAAAAAAAM/GpeP2URzRpk/s1600-h/Matbelatong.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_LoyykEpgpQQ/Rvfhn44jbjI/AAAAAAAAAAM/GpeP2URzRpk/s200/Matbelatong.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5113803977303223858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh A. Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBUAH kegembiraan lain dirasakan Mat Belatong tatkala menyambut bulan Ramadan 1428 H. Di HP-nya betepek ucapan: Marhaban ya Ramadan dst. Di dunia maya – angkasa – bertaburan getaran elekronik yang dikirim oleh para tukang pantun, tukang syair dan pujangga dadakan. Pesan-pesan tersebut di antaranya ada yang tertuju ke telefon genggam milik Mat Belatong. Ia yang belum lama keluar dari “bawah tempurung” untuk memasuki “era ponsel” membenarkan ucapan Mat Ketumbi alias Ketuk sahabat kentalnya. “HP banyak gunenye Jon! Kalau ente sesat mudah orang ncarik, kalau ente kemane-mane ana gampang monitor,” ucap Ketuk.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Awal-awal ber-HP ia mendapat SMS dari Ketuk,”Posisi ente di mane Jon?” Mat Belatong menjawab,”Di depan tivi, mendengar berite gempa!” Ketuk ngesak, sebab   “posisi” maksudnya: berada di mana, di pasar, di warung kopi si Ameng atau di rumah!&lt;br /&gt;Untuk membalas kekesalan hatinya Ketuk SMS lagi,”Tivi ente merek ape, berape inci, antene model ape?!” Mendapat pertanyaan seperti itu, Mat Belatong “naik spaning”, langsung ngebel dan ngomong,”Celake ape awak betanyak soal tivi, soal antenna. Memangnye awak tak pernah masok ke romah aku, nengok tivi aku?! Butakke ape!?” Ketuk tekeruk-keruk ketawa di depan HP-nya. Mat Belatong makin ngesak dan mematikan HP-nya ketimbang membuang-buang pulsa.&lt;br /&gt;Menyambut awal Ramadan, Mat Belatong iseng-iseng mengirim SMS kepada Ketuk. Isinya sama dengan SMS untuk dikirim atau untuk membalas SMS Ramadan yang masuk ke HP-nya: Marhaban ya Ramadan – bulan yang penuh berkah. Kami sekeluarga mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa, semoga kita dilimpahi rahmat, rida, taufik, hidayah, maghfirah dan kesehatan ruhani-jasmani yang prima. Mohon maaf lahir-batin. Wass wr wb.&lt;br /&gt;Kalimat SMS itu bukan orisinil buah pikirannya, melainkan di-edit dari salah satu SMS yang masuk ke HP-nya.&lt;br /&gt;Ketuk langsung membalas: Maaf, Anda salah sambung. Nama saya bukan Marhaban atau Ramadan.&lt;br /&gt;Mendapat jawaban seperti itu, Mat Belatong ngesak. “Ketuk celake nak mampos! Orang ngirem SMS bagos-bagos, dijawabnye macam celake! Nempah budak tu!” omel Mat Belatong.&lt;br /&gt;Mendengar suaminya beleter, Laila istri Mat Belatong coba menyabarkannya. Ia merunut kembali pokok-pangkal persoalan. Akhirnya ia berkata,”Mungkin nomor itu bukan nomor Ketuk agik Bang. Mungkin gak Ketuk dah menjual HP sekalian kartunye dengan kawan-kawan si Ameng yang nonmuslim!”&lt;br /&gt;“Ketuk tu memang celake. Kalau HP dah dijual, kasik tahulah aku, ndakke die tiap ari ke sinik!” ucap Mat Belatong masih ngangat.&lt;br /&gt;Belum hilang cerita manas-nya, tiba-tiba Ketuk muncul di muka pintu, mengucap salam,”Assalamu alaikum!” Walaupun masih manas, Mat Belatong terpaksa menjawab  salam tersebut: karena menjawab salam hukumnya wajib, memberi salam hukumnya sunat. “Ketuk celake, dah kau jualke ape HP burok kau tu!” sambungnya.&lt;br /&gt;Ketuk ngelakak tertawa. “Kalau ade yang nak beli mahal, boleh ana jual. Barang antik tu Jon!” jawab Ketuk sambil tertawa.&lt;br /&gt;“Kalau belom dijual, ngape pulak awak jawab SMS aku macam itu!?” sambar Mat Belatong. Ketuk kembali tekeruk-keruk ketawa. Sambil memegang perutnya menahan tawa, Ketuk berkata,”Ente ni yang beragam, ngirem SMS macam itu ke ana! Ndakke kite ni tiap ari betemu. Ucapkan sekarang kalimat itu ke ana, tak osah pakai SMS.”&lt;br /&gt;Mat Belatong terdiam. Kemudian ia berpikir: mengucap “marhaban ya Ramadan” kepada orang yang jauh, kepada yang dekat tak terucapkan! Tidakkah ini sebuah kelalaian: baru kunjung-mengunjungi dan bermaaf-maafan setelah lebaran! Waktu bersempit-sempitan di tengah arena dan gaung takbir salat Id orang tak mau berkenalan dan bersalaman sesama ikhwan. Usai khutbah: bedebu balek! Pertanda apa ini?&lt;br /&gt;Kini, beragam pesan singkat berupa ucapan selamat menyambut Marhaban, eh Ramadan bisa dikirim kepada saudara, handai-tolan lewat SMS. Ada yang berupa pantun, syair maupun kalimat-kalimat puitis. Ternyata pantun dan syair – karya sastra zaman  Tok Adam – bisa berjalan seiring dengan kemajuan teknologi, tidak mati tergilas globalisasi! Termasuk “ikan sepat, ikan gabos”-pun bisa masuk HP! Celakanya, karena belum mahir memencet tombol HP, yang dialami Mat Belatong: nak cepat, jadi terapos!&lt;br /&gt;Dari seorang pelukis wanita di Bali, Mat Belatong menerima SMS berbunyi: Ikrar penyelamat adalah “sahadat”, senam paling menyehatkan “salat”, hadiah paling baik “zakat”, diet paling sempurna “puasa”, perjalanan paling indah “haji”, media paling mulia “Al-Quran, lagu paling indah “azan”, mandi paling bersih “wudu”, khayalan paling baik “zikir dan taubat”, doa paling bermanfaat “salawat”, hati paling bersih tanpa “prasangka buruk”, insan terpuji “mutaki”.&lt;br /&gt;Mendapat SMS itu Mat Belatong termenung. Pelukis wanita yang kesehariannya itu seperti tak ambil pusing soal agama – dan biasa dicandainya –  kini menasihatinya! Mulia dan berat harapannya kepada Mat Belatong. Ternyata secara diam-diam ia berharap Mat Belatong menjadi seorang muslim yang “kaffah” – totalitas! Ia tak ingin sahabatnya: masok nerake!&lt;br /&gt;Tergagap-gagap Mat Belatong balas menulis: Makkaseh Lia atas petunjok dan siraman ruhaninye. Semoge semuenye itu dapat saye lakukan satu demi satu, tahap demi tahap. Selamat menjalankan ibadah puase, mohon maaf laher-baten, wass wr wb.&lt;br /&gt;Dari sekian banyak SMS karya pujangga dadakan – kalau bukan musiman – yang masuk ke HP Mat Belatong, yang paling mengesankan adalah SMS dari Sultan Sintang. Bunyinya begini: Ass wr wb. Ya Allah muliakanlah Saudaraku ini, bahagiakan keluarganya, berkahi rezekinya &amp; kesehatannya, kuatkan imannya, tinggikan derajatnya, eratkan tali persaudaraan kami &amp; kabulkan doanya. Dalam menyambut bulan suci Ramadan, mohon dibukakan pintu maaf buat kami &amp; keluarga. Amin ya Rabbal alamin. Wassalam Sultan Sintang.&lt;br /&gt;Ketuk juga mendapat SMS yang sama. “Jon,” ucap Ketuk,”Tuanku Sultan mendoekan kite, mintak kepada Allah agar kite beduak dimuliakan, ditinggikan derajat!” Mat Belatong menjawab,”Amin, mudah-mudahan dikabolkan Allah. Sebab selamak ini tak pernah ade pejabat tinggi yang mendoekan kite, malar kite jak diajak khatib nadahkan tangan untok mendoekan para pemimpin dan pembesar.”&lt;br /&gt;Ketuk ngelakak tertawa, kemudian berkata,”Kalau kite beduak dah menjadi orang mulia dan berderajat tinggi, lalu ape kerje kite Jon?” Mat Belatong langsung menjawab,”Tinggal bekipas jak, tesandar di korsi burok!”&lt;br /&gt;Ketuk protes,”Kalau maseh bekipas, maseh dudok di korsi burok, ape gak bedenye dengan sekarang?” Mendengar ucapan Ketuk, Mat Belatong langsung menukas,”Udah Ketuk, Tuanku Sultan bukan bedoe atau mintak kepada gubernur, tapi kepada Allah. Kalau mintak dengan gubernur, boleh awak berharap kipas berganti AC, kursi burok berganti sofa. Mintak kepada Allah tentu laen maknanye. Mane yang awak pileh, bekipas dengan AC, dudok di korsi legislatif, atau mulia dan berderajat tinggi di sisi Allah!?”&lt;br /&gt;Sambil tertunduk dan mengangguk-angguk Ketuk menjawab,”Iyelah kalau begitu. Rasulullah jak tak bekorsi, tak bekipas. Di romah, kalau kepanasan, paling bukak baju.”&lt;br /&gt;Seorang wartawan muda mengirim SMA, eh SMS: Si Hamdan kerje di media massa, Cek Mat kerje di Malaysia, bulan Ramadan telah tiba, selamat menjalankan ibadah puasa.&lt;br /&gt;Mat Belatong tekeruk-keruk tertawa. Sempat-sempatnya ia memasukkan si Hamdan dan Cek Mat yang sudah innalillah itu ke dalam HP-nya. Tapi mungkin Hamdan dan Cek Mat yang lain.&lt;br /&gt;Ade jak ide budak-budak tu mbuat “joke” menyambut Ramadan, pikir Mat Belatong. Namun dari kesemua SMS yang masuk itu – dari yang serius hingga yang lucu, dari yang bagus hingga yang rancu (macam: pantun si Tukul – pen) – Mat Belatong menyimpulkan, bahwa kesemuanya berharap: Mat Belatong puasa, jangan tak puasa! Semuanya berharap ia selamat dalam menjalankan ibadah puasa, bukan mendapat musibah karena puasa. Tak ada yang mengharapkan rumahnya roboh kena gempa ketika berpuasa. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pontianak, 15 September 2007 ).&lt;br /&gt;Tegur-sapa: Telf (0561) 771770 – HP 085252000995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi cetak muat di Borneo Tribune, Minggu 23 September 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-7487227755149703668?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/7487227755149703668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=7487227755149703668' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/7487227755149703668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/7487227755149703668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/09/mat-belatong-dan-sms-ramadan.html' title='Mat Belatong dan SMS Ramadan'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_LoyykEpgpQQ/Rvfhn44jbjI/AAAAAAAAAAM/GpeP2URzRpk/s72-c/Matbelatong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-2892645484351254504</id><published>2007-09-22T09:42:00.000-07:00</published><updated>2007-09-27T09:18:50.291-07:00</updated><title type='text'>Mat Belatong dan Kurma</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_LoyykEpgpQQ/RvfijY4jblI/AAAAAAAAAAg/sP2DQ6xR5XY/s1600-h/Matbelatong.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_LoyykEpgpQQ/RvfijY4jblI/AAAAAAAAAAg/sP2DQ6xR5XY/s200/Matbelatong.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5113804999505440338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh A.Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARENA hidupnya bersahaja, Mat Belatong tak pernah berkeinginan yang “neka-neka”. Bahkan untuk makan sehari-hari saja, ia tidak ingin mengatur istrinya untuk membeli ini dan itu untuk lauk-pauk mereka. Tatkala ada sesuatu keinginan yang berkenaan dengan makanan yang terbit dari seleranya, ia segera membunuhnya dan melupakannya. Kendati bukan orang Arab, ia menyenangi buah kurma – tanpa pernah mengatakannya kepada seseorang pun – melainkan hanyalah setelah tulisan ini.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, ia mendapat dua kotak (kemasan) buah kurma dari Bujang Rambo. Bagus, empuk dan tidak lengket. &lt;br /&gt;Setelah memakan beberapa butir kurma itu, ia berkata kepada istrinya,”Korme ni bagos.Tengok mereknye, tengok di mane Bujang tu beli.”&lt;br /&gt;Nurlaila istrinya mengamati kemasan kurma itu. Ada tertera harga Rp 6.000,- ada merek Mall Mataso!&lt;br /&gt;Cerita kurma yang satu ini selesai tak berbuntut, sampai kurma itu pesai dimakan Mat Belatong 4 – 5 butir sehari. Hari-hari selanjutnya tak ada kurma yang muncul! Ada sesuatu yang tak koneks: tak nyambung. Padahal tatkala mengatakan kalimat tersebut kepada istrinya, di hati Mat Belatong: ada “udang di balik batu”. Maksudnya:  Cobe gak beli korme macam ini untok aku! &lt;br /&gt;Ia “menyembunyikan” kehendaknya, keinginannya, dengan kalimat seperti itu. Tidak berkata langsung: Beli korme yang macam ini untok aku!&lt;br /&gt;Bahwa kemudian ternyata tak sebutir kurma pun yang dibelikan istrinya, bahwa “kalimat terselubung”-nya tak nyambung: tak ada urusannya lagi. Itu urusan Allah! Biarlah ia “terliur-liur”, itu pun Allah yang mengatur!&lt;br /&gt;Beberapa hari sebelum tanggal 1 Ramadan 1428 H, Mat Belatong kedatangan tamu H Amrannurrahim Al-Ayyubi, abang sepupunya. Pembaca jangan panik, kalau mendengar Mat Belatong bersepupu dengan seorang zuriat Al-Ayyubi yang seakan masih bernasab  dengan seorang panglima perang Islam masa lampau: Salahuddin Al-Ayyubi. Sebab Mat Belatong sendiri kalau ditelusur-galur bernama:Ahmad ibnu Ramli Al-Rasyid! Seakan masih punya alur kekeluargaan dengan Sultan Harun Al-Rasyid – Khalifah Baghdad – yang sering “dialoi” oleh Abu Nawas! Masalah ini tak perlu dipusingkan, sebab nasab dan nasib orang memang bermacam-ragam. Dan bukankah semua manusia itu tergolong: Bani Adam!? Termasuk Bani Israil, yang tukang bunuh orang Palestina itu.&lt;br /&gt;Kembali ke kurma, gesah punya gesah akhirnya pembicaraan antara Al-Ayyubi dan Al-Rasyid sampai ke soal puasa, pasar juadah, dan berbuka puasa. Mat Belatong Al-Rasyid menyinggung, betapa dalam kehidupan sehari-harinya ia selalu berperang melawan hawa nafsu. Sehingga tak aneh bila selalu: tutup pintu! Takut nafsu nyelonong masuk! Si nafsu itu memang benar: musuh manusia nomor satu! Sampai-sampai ia sendiri tak ingin memasukkan “keinginan”-nya ke dalam daftar menu sehari-hari di rumah mereka, apalagi menu untuk berbuka puasa.&lt;br /&gt;“Aek puteh…pon jadilah,” ucapnya. Padahal tatkala mengucapkan kalimat ini, ada keinginannya untuk menambah pula dengan: 2 – 3 butir kurma. Tapi “kurma” tak dilisankannya, cuma ada di dalam hati. Ia membunuh keinginannya, karena tak ingin memperturutkan “nafsu”-nya berbuka puasa dengan buah kurma.&lt;br /&gt;Tak sampai satu jam setelah Al-Ayyubi pulang, Mat Belatong kedatangan tamu: Jamil Al-Beting (dari: Kampung Beting!). Kedatangannya hanya sekadar mengantar sebuah kotak yang berisi: kurma!&lt;br /&gt;Mat Belatong terperangah menyaksikan “kerja Allah”. Berkali-kali terbukti, bila ia membunuh kehendak seleranya untuk memakan sesuatu: Allah “mengupah”-nya dengan sesuatu itu! Sesuatu mendatanginya tanpa perlu dicari dan dibeli!&lt;br /&gt;Usai salat isyak, Mat Belatong membuka kotak kurma tersebut dan memakan beberapa butir. Alamak, kurma yang sangat bagus: lunak dan lemak! Daging buahnya tebal dan tidak lengket.  Serasa kurma Madinah!&lt;br /&gt;Mat Belatong mengamati kotak kurma yang berukuran sekitar 23 x 10 x 4,5 cm itu. Di kemasannya tertulis besar: Bamdates. Di salah satu sisinya tertulis: No Preservatives, No Additives, Packed &amp; Exported by Badr Day Co – Tehran, Iran! Wow, ia telah mendapat kurma dari negeri para Mullah dan Ayatollah!&lt;br /&gt;Mat Belatong segera menghubungi Jamil Al-Beting lewat telepon. “Mel, di mane awak beli korme tu Mel!?” tanyanya. Jamil bertanya,”Ngape Bang Mat?” Mat Belatong menjawab,”Korme tu bagos, lemak sekali. Di mane aku bise beli, berape hargenye?”&lt;br /&gt;Dari seberang Jamil menjawab,”Bang Mat perlu berape banyak? Korme tu sengaje didatangkan oleh Abdurrahman.”&lt;br /&gt;“Abdurrahman Faloga yang ngajar tasawuf tuke?” tanya Mat Belatong. “Iye Bang Mat,” jawab Jamil. &lt;br /&gt;Kemudian, seperti enggan menyebutkan harga barang pemberiannya, Jamil berucap,”Hargenye Rp 40 ribu sekotak. Bang Mat perlu berape kotak, biar saye belikan.”&lt;br /&gt;Mendengar jawaban demikian dari Jamil, Mat Belatong berucap,”Sekotak agiklah untok aku bebukak puase.” Jamil membalas,”Aa, nantik saye antarkan.”&lt;br /&gt;Setelah dialog dengan Jamil Al-Beting itu usai, beberapa saat kemudian Mat Belatong berpikir keras. Hatinya gelisah: ternyata ia telah merancang tentang sesuatu yang hendak dimakannya tatkala berbuka puasa. Itu tidak boleh terjadi! Ia khawatir, puasanya hanya membuahkan: lapar, dahaga dan letih belaka!&lt;br /&gt;Daripada berlarut-larut diliputi kebimbangan, ia kembali menghubungi Jamil. “Mel, soal korme tu lupakkan jak. Jangan beli agik!” ucap Mat Belatong. Agak kaget Jamil menjawab,”Ngape pulak Bang Mat?”&lt;br /&gt;Mat Belatong berucap,”Sekotak yang tadik hadiah dari Allah lewat perantaraan awak. Sedangkan pesanan aku, berasal dari nafsu! Aku tak akan memperturotkan nafsu. Cukoplah sekotak itu bagiku.” Jamil yang paham dengan tabiat Mat Belatong menjawab,”Iyelah kalau begitu.”   &lt;br /&gt;Setelah itu Mat Belatong merasa lega, tiada beban dalam menjalani Ramadan. Ia serahkan semua persoalannya kepada Allah. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 15 September 2007 ).&lt;br /&gt;Tegur-sapa: Telf (0561) 771770 – HP 085252000995&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi cetak muat di Borneo Tribune, Minggu 16 September 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-2892645484351254504?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/2892645484351254504/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=2892645484351254504' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/2892645484351254504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/2892645484351254504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/09/mat-belatong-dan-kurma.html' title='Mat Belatong dan Kurma'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_LoyykEpgpQQ/RvfijY4jblI/AAAAAAAAAAg/sP2DQ6xR5XY/s72-c/Matbelatong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-9213692988903993444</id><published>2007-07-27T10:57:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.339-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG DAN 300 MELAYU</title><content type='html'>Oleh  A. Halim  R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   SUATU pagi, Mat Ketumbi datang  ke rumah Mat Belatong. Kebetulan Mat Belatong tengah nyerongkong di kursi menghadapi kopi.&lt;br /&gt;   Sebuah tas kresek hitam diletakkan Mat Ketumbi di meja, di hadapan rekannya. Setengah berteriak ia berkata kepada istri Mat Belatong yang berada di ruang belakang,”Gud moning selamat pagi, kepalak pening mintak kopi!”&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   Tas kresek dibuka, isinya lepat lau! Mat Ketumbi tahu benar traditional breakfast – sarapan pagi – kesukaan rekannya itu. Kalau bukan lepat lau, lopes telanjang: tak pakai kelapa parut!&lt;br /&gt;   “Ini tentulah lepat lau Mak Long Lijah!“ komentar Mat Belatong.      &lt;br /&gt;   “Iyelah, siape agik. Kalau lepat lau orang laen, nantik ente bekate tak nyaman pulak!” jawab Mat Ketumbi.&lt;br /&gt;   Setelah kopi yang ditunggu-tunggunya datang, Mat Ketumbi buka cerita,”Jon, ente tahu ndak, yang datang halal bihalal ke Balairung Sari Rumah Melayu di Kote Baru Pontianak tu, Sabtu 3 Desember 2005 lalu, sekitar 300-an orang! Sedangkan yang datang waktu silaturrahmi dan halal bihalal Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan di GOR Pangsuma, Minggu 4 Desember 2005 lalu, sekitar 5000-an orang! Terakher ni, Minggu 11 Desember 2005, halal bihalal masyarakat Madura di gedong PCC (Pontianak Convention Center – pen) dihadiri sekitar 1000 undangan! Ana piker banyaklah Melayu di Pontianak ni, rupenye dah tinggal sikit!”&lt;br /&gt;   Mat Belatong yang tengah mengunyah lepat lau, agak tekanjat. Setelah menelan lepat lau, disulor aek kopi ia bertanya,”Awak hader ke sanak ke Ketuk!?”&lt;br /&gt;   Mat Ketumbi menjawab,”Tadak, ana cume bace di koran!“ &lt;br /&gt;   Kemudian Mat Ketumbi melanjutkan,”Padahal hari Jumat 2 Desember 2005, MABM – Majelis Adat Budaya Melayu – ade memuat undangan di suratkabar, yang diteken H Abang Imien Thaha dan Dr H Chairil Effendi MS, masing-masing selaku Ketue Umum dan Sekretaris Umum MABM Kalbar! Isiknye: Demikian informasi ini kami sampaikan sebagai undangan, atas kehadiran Bapak/Ibu/Sdr(i) dengan nilai semangat kebersamaan dalam persaudaraan kami ucapkan banyak terim kasih.”  &lt;br /&gt;   Mat Belatong tampak menyimak baik-baik kalimat yang diucapkan sahabatnya.&lt;br /&gt;   Setelah berpikir sejenak sampai keningnya berkerut, Mat Belatong berkata,”Kalau begitu bunyinye, undangan itu memang tadak ditujukan untok masyarakat Melayu, tapi buat personel pengurus MABM jak! Die kan cume bilang atas kehadiran Bapak/Ibu/Sdr(i). Kalau die mengundang masyarakat Melayu, tentu kalimatnye laen, mungkin bunyinye begini: atas kehadiran Bapak/Ibu/Sdr(i) warga Melayu, atau atas kehadiran Bapak/Ibu/Sdr(i) zuriat Melayu.”&lt;br /&gt;   Lebih lanjut Mat Belatong berkata,”Dan orang pon same maklom, yang namenye majelis, itu kan pemahamannye atau maknanye: sekelompok orang yang ade di dalam suatu majelis. Contohnye: MUI – Majelis Ulama Islam – atau Majelis Taklim Masjid Al-Mursalat Perumnas I Pontianak. Ibaratnye, orang-orang yang dudok di majelis itu fardu kifayah, bukan fardu ain.  MUI bukan berarti semue orang Islam. Kalau MUI ngadekan rapat, tentu muslim laen tak perlu ikot. Begitu pulak kalau MUI ngadekan halal bihalal, bukan mustahel hanye untok kalangan personel MUI, baek MUI tingkat provinsi maupun MUI tingkat kabupaten dan kota. Pon begitu ugak kalau Majelis Taklim Masjid Al-Mursalat nak ngundang seluroh warga Perumnas I Pontianak, die haros bekate: Mengharapkan kehadiran Bapak/Ibu/Sdr(i) warga Perumnas I Pontianak!”&lt;br /&gt;   “Begitu pulak dengan Majelis Adat Budaya Melayu. Menurot pikeran ana yang bodo ni, yang diuros oleh majelis ini, ye cume adat budaya. Sebenarnye kedudokan MABM ini – karena die memakai istilah majelis – hanyelah macam majelis yang ade di tuboh NU itu! Die cume sebuah organ. Perlu ade satu organisasi induk, lalu dilengkapi dengan berbagai macam majelis. Ade Majelis Perekonomian dan Pemberdayaan Zuriah Melayu, ade Majelis Peningkatan SDM Zuriah Melayu dan laen-laen agik. Tapi aku pon dah tak tahu agik Ketuk e, mane yang benar mane yang sangsot. Sebab zaman ini memang dah zaman sangsot. Sampai-sampai kabinet pon macam sangsot gak. Kabinet cucok-cabot, kabinet tukar-taker. Boleh terjadi, setiap setengah tahon ganti menteri, setiap tahon ganti kabinet! Macam orang nyobe sepatu di mall. Belom agik aset negara, aset Pemprov, aset Pemkab, aset Pemkot, boleh ditukar-taker dengan pengusaha dan swasta, boleh  ditukar guling!” tambah Mat Belatong.   &lt;br /&gt;   Sambil mengunyah lepat lau dan menggaruk-garuk lehernya, Mat Ketumbi berkata,”Iyelah, semule ana piker undangan MABM tu buat seluroh zuriat Melayu. Rupenye untok die-die jak, iyelah kalok begitu.”    &lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong berucap,”Sebuah undangan terbuka, tanpa menyebutkan warga, niscaya membingungkan orang. Bukan mustahil undangan tersebut terbatas untuk personel majelis, yang tidak diketahui alamat jelasnya.”&lt;br /&gt;   Mendengar “kuliah” Mat Belatong itu, Mat Ketumbi bertanya,”Macam mane pulak dengan care ngundang orang sampai melimpah ruah di GOR Pangsuma tu!“&lt;br /&gt;   Sambil menghembuskan asap rokoknya Mat Belatong menjawab,”Itu laen Ketuk, itu: Silaturrahmi Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan. Judulnye jak dah mengundang: keluarga! Siapa yang masih merasa sebagai keluarga, merasa bertanggung jawab untuk datang! Kecuali yang tak mau lagi dianggap keluarga ataupun zuriat!”&lt;br /&gt;   Sambil mengangguk-anggukkan kepala, Mat Ketumbi berucap,”O, kalau begitu si iyelah! Mule-mule ana piker, ngape pulak halal bihalal Melayu orangye cume 300-an orang, sedangkan halal bihalal Sulawesi Selatan sampai 5000-an orang. Madura jak sampai 1000-an orang. Memangnye Melayu dah  sikit di Pontianak ni!? Kalau cume tinggal 300-an ditambah kite beduak, kalau sebulan mati sekok, udah dapat dihitong tinggal berape tahon agik Melayu ni habes! Kalau memang begitu keadaannye perlu diusolkan ke WWF, biar masok daftar Appendix I CITES. Perlu ade terobosan, agar dilakukan penangkaran secepatnye terhadap Melayu! Macam ikan silok tu, biar tak punah-ranah. Sebab kalau Melayu sampai hilang di Bumi Pontianak, kasihan Datok Hang Tuah. Sebab beliau tu dah pesan: Tak Melayu hilang di bumi!“&lt;br /&gt;   Mendengar omongan sahabatnya, mata Mat Belatong terbelalak. Kemudian ia berkata,”Celake! Ngape pulak Melayu awak samekan dengan silok, nak dilaporkan ke WWF segale!? Makai istilah tu haros ngerti, becakap tu jangan merampot Ketuk! Yang diuros WWF itu binatang! Ape Melayu nak awak anggap orang utan!?”&lt;br /&gt;   Mat Ketumbi langsung menjawab,”Ente gak bekate kalau Melayu tu bukan mustahel ade yang menjadikannye sebagai komoditas! Silok, kan komoditas gak!?“ &lt;br /&gt;   Mat Belatong geleng-geleng kepala, kemudian berucap,“Iye, iye, ngomong dengan awak ni memang gampang-gampang susah. Dikatekan pintar belom nyampai, dikatekan bodo dah lepas. Sebab kutengok maseh ade agik yang lebeh bodo-bale: siang puase, malam berzina!”    &lt;br /&gt;   Mat Belatong kemudian terdiam beberapa saat, Mat Ketumbi pun tak ngomong.&lt;br /&gt;   Setelah itu, Mat Belatong tersenyum getir dan berkata,“Ketuk, sebetolnye halal bihalal Melayu yang dilaksanakan MABM itu – yang cume dihadiri sekitar 300 orang itu – masalahnye tak sesederhana ape yang ana cakapkan ini. Perlu kajian yang mendalam tentang hal itu kalau ingin menguraikannye. Tapi udahlah Ketuk, untong jak kite sekarang ni maseh bise ketemu lepat lau, lopes. Putu mayang, putu piring, kue merke jak dah payah encariknye! Ade yang peduli dengan Mak Long Lijah, ade yang peduli dengan Kak Ngah Mariam dan laen-laen yang dah terbang dibawak orang ke Brunei, ke Sarawak untok betenun songket di sanak tu!? Nak ngurus ikan paus di laot, ikan gendang-gendis di paret dah  punah tak ambek tahu!“ *** &lt;br /&gt;                                                                                     ( Pontianak, 12 Desember 2005 )&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-9213692988903993444?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/9213692988903993444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=9213692988903993444' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/9213692988903993444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/9213692988903993444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-dan-300-melayu.html' title='MAT BELATONG DAN 300 MELAYU'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-3579381314188458094</id><published>2007-07-27T10:56:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.340-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG “LINTAS   BANGSA “</title><content type='html'>Oleh  A.Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   SUATU malam, Mat Belatong tengah duduk-duduk santai di dalam rumah bersama anak dan istrinya. Pintu rumah memang terbuka.&lt;br /&gt;   Tiba-tiba, tanpa diketahui kapan masuknya, tanpa memberi salam, tanpa permisi, telah berdiri di dalam rumahnya seorang lelaki bertopi jungle dan bersepatu cowboy, hidung mancung berkulit putih!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   Mat Belatong tertegun menatap sosok orang aneh itu, tapi kemudian setengah berteriak ia berkata,“Fausstooo!“&lt;br /&gt;   Dan orang itupun berkata,“Oh, Mettt!“&lt;br /&gt;   Mat Belatong  berangkulan erat beberapa saat dengan pria kulit putih itu. Kemudian lelaki kulit putih itu bersalaman juga dengan anak-istri  Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Tanpa disadari air mata berlinang di pelupuk mata Mat Belatong, demikian juga dengan orang kulit putih itu.&lt;br /&gt;   Sedikit pun tak terbayangkan oleh Mat Belatong, ia bisa bertemu lagi dengan pria Itali yang pernah menjadi sahabat kentalnya itu.&lt;br /&gt;   Betapa tidak, keduanya telah lama sekali berpisah. Fausto, pada zaman Orde Baru, karena sesuatu dan lain masalah (mungkin sengaja dibuat-buat oleh sesuatu pihak), diusir pergi dari bumi Indonesia sebagai manusia: persona non grata – orang yang tidak disukai! &lt;br /&gt;   Tatkala akan berangkat meninggalkan Pontianak, Fausto ingin menyalami Mat Belatong terakhir kali sebelum meninggalkan Bumi Khatulistiwa ini. Namun Mat Belatong menolak salam tersebut.  Mat Belatong berkata,“No Fausto, aku tak ingin bersalaman sekarang. Tapi nanti, bila kita bertemu kembali! You harus kembali!“&lt;br /&gt;   Perasaan keduanya luluh. Air mata merebak di mata masing-masing.&lt;br /&gt;   Tatkala itu, di dada Mat Belatong bergemuruh sebuah protes! Kenapa Fausto diusir, kenapa ia tidak boleh tinggal di Indonesia, kenapa di muka bumi ini ada batas negara, kenapa manusia tidak boleh tinggal di mana ia suka. Bukankah ini bumi Allah yang memang diperuntukkan bagi makhluknya!? Manusia berkelakuan zalim dan egois sehingga bumi Tuhan dibagi-bagi dan diberi berbatas-batas!&lt;br /&gt;   “Antaraku dan Fausto, tiada batas etnik, tiada batas bangsa dan negara! Kami dua anak manusia yang bersahabat, punya hati dan rasa: yang telah lepas bebas dari warna kulit dan etnik!“ jerit Mat Belatong di hatinya.&lt;br /&gt;   Ketika itu, sebuah kenyataan pahit harus ditelan. Sebuah persahabatan murni terasa mengiris hati tatkala harus berpisah! &lt;br /&gt;   Keduanya memang bersahabat kental, punya hobi yang sama, punya karakter yang tak jauh berbeda, walau berlainan etnik dan kebangsaan.&lt;br /&gt;   Bila tiga hari saja Fausto tak melihat dan berbicara dengan Mat Belatong, ia merasa rindu dan pasti berkunjung ke rumah Mat Belatong. Demikian pula dengan Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Pria Itali itu tinggal di Villa Itali, di Jalan Suhada Pontianak. Di situ ia membeli berbagai binatang yang dibawa orang, sehingga tak terasa, di sekeliling rumahnya telah hadir kandang-kandang binatang, mirip kebun binatang kecil – min zoo!&lt;br /&gt;   “Saya terpaksa beli binatang-binatang ini Met, sebab saya kasihan. Bukan pada orangnya, tapi pada binatangnya. Saya takut kalau binatang itu sampai jatuh ke tangan orang yang tidak menyayangi binatang. Bisa tersiksa dan teraniaya dia!” ucap Fausto.&lt;br /&gt;   Di tangan Fausto, bila ada satwa yang sakit, ia bersedia memanggil dokter hewan untuk mengobatinya. Dan ia mempelajari, mencatat berbagai sifat dan makanan yang diberikan kepada satwa tersebut. Tengah malam buta pun ia bersedia turun, dan memberi makan satwa peliharaannya, bila diketahuinya satwa tersebut tergolong jenis binatang malam.&lt;br /&gt;   Pernah suatu hari, Fausto datang ke rumah Mat Belatong tergesa-gesa dengan sepeda motor besarnya.&lt;br /&gt;   “Met, kita ke villa sekarang juga! Ada tamu istimewa yang luar biasa!“ ucapnya.&lt;br /&gt;   Tergesa-gesa Mat Belatong berpakaian, kemudian keduanya berangkat ke Jalan Suhada.&lt;br /&gt;   Tak ada seorang pun tamu di Villa Itali itu, selain keluarga Fausto dan para pembantunya. Fausto masuk ke kamar berganti pakaian. Kini ia bertelanjang dada, berkain sarung yang digulung di perutnya hingga pertengahan betis.  &lt;br /&gt;   Kemudian ia mengajak Mat Belatong keluar, menuju ke salah satu kandang binatang. &lt;br /&gt;   “Luar biasa Met dia! Dia sangat jinak dan manis!” ucap Fausto menunjuk kepada seekor biawak besar yang telah dimasukkannya ke dalam kandang.  &lt;br /&gt;   Tak cukup dengan bicara, kemudian pria Itali itu masuk ke kandang biawak dan mengelus-elus kepalanya. Mat Belatong jadi mengerti kenapa Fausto berkain sarung. Rupanya ingin bermain dengan binatangnya! Memang begitulah “adat” Fausto, bila ia  bergaul dengan satwa kesayangannya! &lt;br /&gt;   Namun tiba-tiba saja sang biawak mengibaskan ekornya menghantam Fausto yang lagi jongkok di sisinya. Fausto memekik, sembari berdiri dan memegang  alat vitalnya! &lt;br /&gt;   Setelah keluar dari kandang, sambil tertawa ia berkata,”Ia tidak menggigit, tapi memukul! Saya jadi tahu sekarang, berhati-hatilah terhadap ekor biawak! Dan ia pasti tidak sengaja memukul bagian yang terlarang!”&lt;br /&gt;   Mat Belatong sempat terkejut juga, tapi akhirnya sama-sama ketawa, sebab pukulan sang biawak tidak terlalu fatal akibatnya!&lt;br /&gt;   Binatang-binatang peliharaan Fausto itulah yang “dihibahkan” kepada Gubernur Kalbar Soedjiman, yang kemudian melahirkan Bunbin di Sungai Raya Pontianak itu. Termasuk Sunaryo, satu keluarga pembantu rumah tangga Fausto ikut hijrah dari Villa Itali ke Bunbin tersebut, sebagai pemelihara binatang!&lt;br /&gt;   Kini Fausto Oriccio, secara mengejutkan dan tanpa dinyana sama sekali telah hadir di rumah Mat Belatong. Masih tetap dengan gaya lama, masih tetap fasih berbahasa Indonesia! Ia menepati janjinya, ia memenuhi harapan Mat Belatong!&lt;br /&gt;   Belasan tahun ia telah meninggalkan Indonesia, pulang ke negaranya. Dan ia memboyong istrinya – Linda, wanita Pontianak – dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ibano Valerio Oriccio.&lt;br /&gt;   “You keterlaluan Fausto, datang ngejot-ngejotkan tak bekabar! You masih Fausto yang dulu juga, tak berubah-ubah!“ ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “You juga tidak berubah Met. Saya sengaja ingin bikin kejutan. Dan topi ini sengaja saya pakai, biar kelihatan seperti  waktu kita masih sering masuk hutan dulu!“ jawab Fausto.&lt;br /&gt;   Fausto, seperti biasa, kalau bertemu langsung nyerocos bercerita. Seakan-akan, tak ada yang tak menarik di dunia ini untuk diceritakan. Barang kecik pon kalau diceritakan oleh Fausto jadi besar, jadi menarik!&lt;br /&gt;   Dan ternyata ia bukan baru datang dari Itali, tetapi dari Kapuas Hulu!&lt;br /&gt;   Ternyata, setiba di Jakarta dari Itali ia tidak langsung ke Pontianak, tetapi ngelayap dulu ke Samarinda, memudiki Sungai Mahakam, lalu berjalan kaki dari Kaltim tembus ke hulu Kapuas! Fausto memang “petualang sejati”.&lt;br /&gt;   Ternyata ia juga pernah bertualang ke hutan Brazilia, di wilayah Sungai Amazone!&lt;br /&gt;   “Di Brazil saya bertemu dengan orang Indian, yang prototip wajah maupun postur tubuhnya sangat mirip dengan orang Dayak,“ cerita Fausto.&lt;br /&gt;   Fausto, memang “tergila-gila“ dengan budaya Dayak, sampai-sampai anaknya pun diberi nama Ibano, yang berasal dari kata: Iban!&lt;br /&gt;   Dalam sebuah kesempatan menyela, Mat Belatong bertanya,”Bagaimana kabar Linda sekarang!“&lt;br /&gt;   “Wow  Met, Linda sekarang sudah berbulu!“ jawab Fausto.&lt;br /&gt;   ”Itulah ente, tegile-gile miare orangutan, sampai bini awak sorang tumboh bulu!“ ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Oh no Met! Bukan berbulu seperti orangutan, tapi berbulu seperti umumnya orang Itali. Dia beradaptasi dengan cuaca di Itali yang ada musim dingin!“ jawab Fausto.&lt;br /&gt;   “Tadak! Ini pasti salah you Fausto, bini tak dikasik kumbuk, tak diberek selimot tebal! Pasti Linda tu kesejukan, sementara awak ngander keliling dunie!“ bantah Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Iya Met, mengenal dunia memang menarik. Di hulu Sungai Mahakam saya bertemu dengan orang-orang Dayak Penihing. Dan mereka yang mengantar saya berjalan sampai ke hulu Kapuas melewati perbatasan Kalbar – Kaltim. Dan orang-orang Penihing itu ikut saya turun sampai ke Putussibau,” ungkap Fausto.     &lt;br /&gt;   “Met, orang-orang Penihing itu waktu mengantar saya membawa pukat dan jala! Kalau sampai waktu istirahat, dan perlu masak, mereka menangkap ikan. Untuk tempat kami bermalam, mereka cepat sekali membuat pondok. You tahu Met, orang-orang Dayak itu kalau memerlukan sesuatu selalu masuk hutan! Perlu tali, perlu sayuran, perlu api, perlu obat, mereka masuk hutan sebentar. Hutan itu seperti super market bagi mereka!” cerita Fausto.      &lt;br /&gt;   “Fausto, apa yang you ceritakan telah you nikmati sendiri! You keterlaluan Fausto, kenapa you tidak ajak saya!?“ tukas Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Sorry Met, saya tidak sengaja. Saya hanya coba-coba untuk ke Pontianak lewat Kaltim!” jawab Fausto tertawa.&lt;br /&gt;   “Berjalan dengan orang-orang Penihing, menyenangkan. Mereka periang, pandai berpantun dan bercerita, suka humor,” tambah Fausto.&lt;br /&gt;   “Iya, saya cuma jadi pendengar, telior-lior! Saya tahu orang Penihing, dan saya pastikan jalan yang you lewati itu adalah jalan yang pernah dilewati oleh Dr Anton W Nieuwenhuis pada tahun 1894. Tapi ekspedisi orang-orang Belanda itu, dari Kalbar ke Kaltim. Saya punya bukunya!” ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Oh ya, berarti you juga sudah berjalan walaupun lewat sebuah buku!“ jawab Fausto sambil tertawa.&lt;br /&gt;   “Ah Fausto, apalah artinya membaca sebuah buku dibandingkan dengan makrifat, atau pengenalan seperti yang you saksikan dan rasakan! Buku hanya membuat saya pandai berdalil, sedangkan you telah melakukan perjalanan (thariqah) dan perjuangan keras (mujahadah), untuk mencapai pengenalan yang sesungguhnya (makrifat). You telah mengambil ilmu dari telaganya, sedangkan saya cuma menciduknya dari ember ‘Syaikh’ Dr Nieuwenhuis! Ini baru makrifat dunia, betapa susahnya. Belum lagi makrifat Ketuhanan,” ucap Mat Belatong. ***&lt;br /&gt;                                                                                     ( Pontianak, 17 November 2005 )&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-3579381314188458094?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/3579381314188458094/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=3579381314188458094' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/3579381314188458094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/3579381314188458094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-lintas-bangsa.html' title='MAT BELATONG “LINTAS   BANGSA “'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-3903872464418480564</id><published>2007-07-27T10:53:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.340-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MUSANG MATI DIPATUK AYAM</title><content type='html'>Oleh A. Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   SUATU hari Mat Belatong ditanya rekannya: Untuk flash back – kilas balik – tahun 2005 ini, cerita apa yang paling menonjol? &lt;br /&gt;   Tanpa berpikir panjang Mat Belatong langsung menjawab,”Musang mati dipetok ayam!“&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;   “Eh, benar sikitlah Bang Mat, ana ni betanyak benar, bukan begurau. Mungkin sepanjang sejarah pers di dunie belom pernah ade wartawan yang menemukan kasus macam itu. Pon setahu ana belom pernah ade suratkabar yang melansir berite macam itu!“ jawab sang rekan.&lt;br /&gt;   “Aa, itulah kitak. Kalau negeri ini pernah dihebohkan oleh cerite Ikan Gabos Telok Pak Kedai, Kucing Beranak Tupai, Waria Bunting di Putussibau, Pokok Kayu Bise Ngasik Sinjie, Wak Latuk Nangkap Jin, dan selonggok kabar aneh laennye, ngape pulak kitak tak  tahu dengan  cerite Musang Mati Dipetok Ayam?“ ucap Mat Belatong. &lt;br /&gt;   “Macam mane pulak ceritenye tu Bang Mat. Kalau kesah Musang Bejanggot, pernah pulak ana bace dalam cerite Abu Nawas,” jawab sang rekan.&lt;br /&gt;   “Aa, kalau awak dah bace kesah Musang Bejanggot yang nak ngincar bini Abu Nawas tu, cerite Musang Mati Dipetok Ayam pon hamper-hamper same gak! Rupenye cerite musang ni, dah ade sejak zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad, sampailah ke zaman kite ni. Hanye sajak, model musangnye macam-macam. Figur musangnye, die cobe kamuflase dengan berbagai ragam atribut yang dipakainye. Ade yang bejanggot, ade yang bejubah, ade yang bedasi, ade yang bersafari, ade yang besongkok, ade pulak yang makai baju koko!” ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Sang rekan ngelakak tertawa, kemudian berkata,“Aa, teros Bang Mat, tampaknye cerite Bang Mat ni menarek. Dan ana dah mulai nyambong rasenye. Itu kan musang yang makan daging illegal?!“&lt;br /&gt;   Mat Belatong sembari mengunyah lepat lau, berucap,”Alah, yang namenye musang tu dah pastilah makan daging ilegal, daging haram! Memangnye binatang musang tu pernah miare ayam sorang? Kecuali musang piaraan ana di rumah, yang ana piare dari bayi. Semue makanannye halal, baek susu vitalac, daging, ikan ataupon pisang nipah!”&lt;br /&gt;   Setelah menghirup kopi Mat Belatong berkata,”Dan karene kitak pon dah tahu dengan cerite ini, ana rase tak perlulah agik ana cerite panjang lebar!“&lt;br /&gt;   “Mane pulak boleh begitu Bang Mat! Bang Mat udah buat judul yang orisinal: Musang Mati Dipetok Ayam. Kesah mesti dilanjotkan Bang Mat, kalau tadak kempunan ana ni!“ jawab sang rekan. “Kempunannye tak seberape, tapi ngesaknye tu  yang tak abes-abes!“ lanjut sang rekan.  &lt;br /&gt;   “Ah, awak ni pandai jak mancing-mancing aku. Kalau kesahnye sangsot macam mane!?” jawab Mat Belatong. &lt;br /&gt;   “Udahlah Bang Mat, yang namenye kesah musang, dari zaman dolok sampai kini, pasti kesah sangsot. Justru tegal sangsotnye tu, jadi kesah! Dan cerite Bang Mat ni bakal memperkaye khazanah kesah musang di dunie!“ bujuk sang rekan.&lt;br /&gt;   Akhirnya, setelah menelan tukuk terakher lepat lau di tangannya, dan disulor dengan aek kopi, Mat Belatong pun bukak cerite:  &lt;br /&gt;   Sahdan, di sebuah negeri antah lebih banyak daripade berasnye, berkuasalah seekor musang. Sang musang bertahta  di atas pahar kebesarannya yang bertatahkan tahayul dan kemunafikan. Di sekelilingnya duduk delapan bomoh (dukun – pen) yang menempati delapan penjuru mata angin!&lt;br /&gt;   Tiada berlaku di negeri itu: adat bersendikan syarak, syarak berpayung Kitabullah. Dan tiada berlaku di negeri itu, keputusan diambil dari butir-butir kebijaksanaan,  musyawarah dan mufakat, melainkan dari “wangsit”, petunjuk dukun yang konon berasal dari bisikan gaib! &lt;br /&gt;   Begitu berkelindannya sang musang dengan bomoh, jin, dan tahayul, sehingga ilmu yang diamalkannya benar-benar “jadi”. Sehingga “nyawa”-nya sendiri bisa ia simpan di sebuah cembul (kotak kecil – pen). &lt;br /&gt;   Dengan menaruh nyawa di cembul wasiat yang diberikan “jin Funky” yang rambutnya  mirip model rambut Indian Comanche dalam cerita Karl May itu, keamanan jiwanya tak akan terusik. Hidupnya akan menongkat langit, tiada bahaya kematian mengancam dirinya, selama cembul itu tersimpan di tempat yang aman.    &lt;br /&gt;   Lebih daripada itu, ke dalam cembul itu pula ia menyimpan alat vitalnya, yang sangat ia sayangi dan banggakan.   &lt;br /&gt;   Si musang penguasa ini seperti juga halnya dengan raja-raja di India masa lampau, suka berburu. Kalau raja-raja zaman dahulu berburu naik gajah, yang diburu binatang buas seperti harimau, macan dan lain-lain, si musang spesialisasinya: berburu ayam!&lt;br /&gt;   Kalau berburu, dia naik kereta besi mulus mengkilap! &lt;br /&gt;   Orang ribut karena sudah banyak yang mati karena flu burung, sang musang bagaikan tak terusik. Jangankan terhadap virus avian influensa dan anthrax, dengan malaikat Izrail pun ia tak takut!&lt;br /&gt;   Kalau sudah bertemu ayam rupawan, baik ayam kampung, ayam bangkok, ayam ras, ayam arab, ayam jepang, ayam cina, ayam belanda, semua ingin dirasanya. Kalaupon dah ketadak-tadakan, burong puyuh pon jadilah disempal-sempalkan! &lt;br /&gt;   Sampailah pada suatu hari, si musang bertemu dengan seekor ayam yang berpenampilan bagaikan Chinese monal pheasant (Lophophorus lhuysii) yaitu sejenis merak! Di belantika unggas, ayam yang satu ini memang terbilang cantik, tapi liar dan ganas. Kehidupannya memang di belantara.&lt;br /&gt;   Si musang bukan lagi telior-lior, bahkan liornye sampai netes dengan lidah tejolor-jolor. Si ayam, karena masih temasuk bangsa unggas juga, pandai pula meniru tingkah burung dara: jinak-jinak merpati! &lt;br /&gt;   Si musang sambil terliur-liur melantunkan lagu dangdut: Lebih baik kau bunuh aku dengan pedangmu, daripada kau bunuh aku dengan cintamu!&lt;br /&gt;   Pandai dia merayu, nak mintak bunoh segale macam, padahal UUD gak! Ujong-ujongnye daging!&lt;br /&gt;   Dan yang ditemukan musang kali ini, memang bukan sebarang ayam. Selain jam terbangnya sudah tinggi, pun sudah berpengalaman malang-melintang di dunia kang ow: dunia persilatan!  &lt;br /&gt;   Jadi seluruh sepak terjangnya, sudah penuh perhitungan, penuh taktik dan perencanaan matang! Lebih daripada itu, ayam yang satu ini pun punya ilmu, tak kalah dari ilmu musang!&lt;br /&gt;   Dalam perburuan ayam kali ini, si musang memang babak-belur juga. Ayam yang satu ini tak mau mendekat kalau cuma diberi makan beras. Ia tak mau makan padi  atau jagung, tapi butir-butiran permata, emas dan bekebat-kebat duit!     &lt;br /&gt;   Dalam perburuan yang semakin intens, akhirnya dapat juga si musang menikmati daging ayam itu. Namun ayam tersebut pandai akal, tak maok dibunoh mentah-mentah macam ayam laen. Pon, die memang punye ilmu sengkelet!&lt;br /&gt;   Setiap kali si musang ingin menerkamnya, diberinya sekerat daging dari tubuhnya. Begitulah berlangsung sejumlah kali, sekian lama. Namun bagian tubuh yang dikerat itu dagingnya bisa tumbuh kembali! Kabarnya si ayam memperoleh ilmu ini dari seekor cecak! Sebab ayam tersebut melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana cecak mengelabui kucing. Ekornya diputuskannya, dibiarkan melentet-lentet, untuk menarik perhatian kucing. Sementara sang cecak dah bedebu lari. &lt;br /&gt;   Ekor yang diberikan kepada kucing, tak ada masalah, bisa tumbuh lagi! &lt;br /&gt;   Karena tingkah ayam yang demikian ini, si musang sampai menyanyikan lagu dangdut lagi: Sungguh mati aku jadi penasaran, sampai mati akan terus kuperjuangkan!&lt;br /&gt;   Karena kenyamanan, akhirnya si musang sampai kepada stadium ketergantungan terhadap daging ayam tersebut. Macam pemadat narkoba!&lt;br /&gt;   Namun demikian ia pun menyadari – setelah koceknye tebebas dan tebengkas – bahwa ia harus lepas dari ketergantungan itu. Sebab untuk umpan ayam itu, ongkosnya mahal amat! &lt;br /&gt;   Biar gak tegegar-gegar ia coba menahan rasa ketagihan itu. Tapi tentu saja sang ayam tak ingin dicampakkan begitu saja. Tak ingin ia melepaskan musang tersebut, sebab di matanya musang itu tak lebih dari: keponjen duit! &lt;br /&gt;   Sampailah pada suatu bulan Ramadan, si musang tegegar-gegar ketagihan. Celakanya lagi bak orang ngidam, ia ingin berbuka puasa dengan daging ayam! Buah kurma tak ditoleh sama sekali! Ditambah pula dengan sang ayam yang “ngoling” teros, ngirem sinyal: daging dah siap saji! &lt;br /&gt;   Namun dalam perjamuan daging kali ini, sang ayam merengek-rengek manja, minta agar cembul wasiat milik musang itu, diserahkan kepadanya. Biar ia saja yang menyimpannya. Selain lebih aman, agar ia tak pernah lagi merasa jauh dari musangnya.&lt;br /&gt;   Sang musang tak banyak cakap, dengan mate tekejam-kejam, cembul itu pun dilepaskannya dari pinggangnya yang selama ini dijadikan kendit bersama setepek  azimat lainnya! Musang itu menurut saja tatkala cembul nyawanya diminta ayam.&lt;br /&gt;   Sejak itu, sebagai upah durhakanya kepada Allah, ia takluk di bawah ceker ayam! &lt;br /&gt;   Ia ingin lari – karena tak mampu lagi menghadiahkan butiran permata, emas dan berkebat-kebat duit kepada sang ayam – namun ayam tak ingin melepaskannya. Hubungan mereka menjadi tegang, kemesraan menjadi bara api. Ucapan “cinta” menjadi dendam!&lt;br /&gt;   Dan kini, dengan modal cembul wasiat di tangannya, sang ayam bisa berbuat sekehendaknya terhadap si musang.&lt;br /&gt;   Sebuah tragedi dan ironi pun terjadi: ayam mematuk dan nyesah musang itu sampai mati! Sampai tak bermuka lagi musang itu!&lt;br /&gt;   “Demikianlah kesah musang mati dipetok ayam. Ana kesahkan cerite ini bukan untok ape-ape, tapi untok diambek pelajaran darinye. Sebab dari sebuah fabel – cerita binatang – seperti kesah ‘Kalilah wa Dimnah’, pon orang dapat mengambek pelajaran!” ucap Mat Belatong mengakhiri ceritanya. ***&lt;br /&gt;                                                                                        ( Pontianak,  30 November 2005)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-3903872464418480564?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/3903872464418480564/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=3903872464418480564' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/3903872464418480564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/3903872464418480564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/musang-mati-dipatuk-ayam.html' title='MUSANG MATI DIPATUK AYAM'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-757616081998445165</id><published>2007-07-27T10:50:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.340-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT  BELATONG  DAN  MELAYU</title><content type='html'>Oleh  A. Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   SUATU hari Mat Belatong dan Mat Ketumbi sama-sama menyimak sebuah lagu Melayu  berjudul “Hang Tuah” yang dilantunkan oleh penyanyi cantik asal Riau, Iyeth Bustami. &lt;br /&gt;   Yang namanya Mat Ketumbi, kalau sudah mendengar suara Iyeth yang merdu dan manja itu, bisa sampai telior-lior. Iyeth Bustami memang penyanyi favoritnya!&lt;br /&gt;   Iyeth melantunkan syairnya:&lt;font class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tersebut sudah dalam hikayat&lt;br /&gt;Laksamana Hang Tuah setia amanah&lt;br /&gt;Menjunjung harkat juga martabat&lt;br /&gt;Jangan Melayu buang zuriat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dang Merdu bunda berjasa&lt;br /&gt;Melahirkan putra perkasa&lt;br /&gt;Hang Tuah laksamana satria&lt;br /&gt;Teladan negeri dan bangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Bintan Kepulauan Riau&lt;br /&gt;Gaung baktimu ke segenap rantau&lt;br /&gt;Walau kini kau telah tiada&lt;br /&gt;Fatwamu tiada kan punah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuah sakti hamba negeri&lt;br /&gt;Esa hilang dua terbilang&lt;br /&gt;Patah tumbuh hilang kan berganti&lt;br /&gt;Tak kan Melayu hilang di bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau susun jari sepuluh&lt;br /&gt;Menghatur sembah duduk bersimpuh&lt;br /&gt;Halus budi resam Melayu&lt;br /&gt;Hang Tuah, oh Hang Tuah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Usai mendengar lagu tersebut, Mat Ketumbi menarik napas panjang. Kemudian ia berkata,”Mendengar lagu ini Jon, ana jadi sadar kalau ana ni anak Melayu. Kalau jak ana ni laher jaman Hang Tuah, tentulah ana ikot begabong dengan die, biar gak naek kapal kayu dari Pemangkat pegi ke sanak!“&lt;br /&gt;   Mat Belatong yang masih tercenung meresapi kalimat-kalimat syair tersebut tersentak mendengar ucapan Mat Ketumbi.&lt;br /&gt;   “Benar sikit cakap awak tu Ketuk! Jangan nak sebarang ngakuk Melayu sekarang ni!“ ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Balik Mat Ketumbi tekanjat, kemudian berkata,”Eh, ape pulak pasal Melayu sekarang ni!?“&lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong menjawab,”Ape buktinye awak tu Melayu!? Kenal ndak dengan Abang Imien Thaha Ketue MABM Kalbar, kenal ndak dengan pengurus-pengurus organisasi Melayu yang dah betepek tu!?”&lt;br /&gt;   Mat Ketumbi menjawab jujur,”&lt;em&gt;Mane pulak ana kenal. Ente kan tahu ana ni siape!“  &lt;br /&gt;   Lebih lanjut Mat Belatong berkata,”Awak ngakuk-ngakuk Melayu, padahal bukan mustahel, dalam daftar zuriat Melayu orang-orang itu, awak tak masok! Boleh jadi, awak ni anak Melayu yang udah dibuang zuriatnye! Melayu sekarang ni pon dah macam-macam. Ade Melayu Arus Atas, ade Melayu Arus Bawah!“ &lt;br /&gt;   “Hah, awak cakap ape tu Jon? Kalau tak masok Melayu, ana ni masok ape jak!?“ tanya Mat Ketumbi heran.   &lt;br /&gt;   “Ketuk, Ketuk. Melayu sekarang ni dah jadi barang elit! Bukan mustahel ade yang menjadikannye sebagai komoditas!“ ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Kembali Mat Ketumbi tekanjat, lalu berkata,”Melayu jadi komoditas!?”&lt;br /&gt;   Setelah berpikir sejenak, Mat Ketumbi melanjutkan omongannya,”Baruk ngerti ana, kalau Melayu tu boleh jadi komoditas ekspor. Pantas jak banyak PJTKI ilegal yang menjual budak-budak kite ke luar negeri!“  &lt;br /&gt;   ”Ketuk, Ketuk. Ngomong dengan awak ni gampang-gampang susah. Barang mudah bise jadi rumet!” jawab Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Tanpa mempedulikan omongan Mat Belatong, si Ketuk bertanya,”Cobe jelaskan dengan ana, ape pulak tu Melayu Arus Atas, Melayu Arus Bawah. Setahu ana, di masjed tak ade Melayu model begitu. Ana bebas masok ke saf atas, kalau ana dolok datang. Pon tak ade yang melarang ana kalau nak dudok di saf bawah!”&lt;br /&gt;   “Ketuk, Ketuk,” ucap Mat Belatong geleng-geleng kepala. “Ente ni tadak pekak macam si Bolot, tapi ngomong dengan awak ni same gak ngomong dengan si Bolot. Kemane arah cakap orang, kemane cakap awak!“ lanjutnya.&lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong berkata,“Udahlah, awak tak perlu masok Melayu Arus Atas atau Arus Bawah, awak tak tepakai! Awak bukak jaringan baru: Melayu Arus Mudik jak! Kerje ringan, sekali setahon waktu nak ngadap lebaran. Ente koordinir budak-budak kite, untok mempermudah arus mudik. Ente cari sponsor kaye dermawan, awak hubungi instansi LLAJR, awak hubungi perusahaan bus, lalu awak ator bagaimane semue pemudik memperoleh kemudahan dan kelancaran, dengan harge karcis dapat lebeh murah karena disubsidi orang kaye dermawan!”&lt;br /&gt;   Setelah menghirup kopi Mat Belatong berkata,”Tapi udahlah Ketuk, itu tentu membuat kapalak awak lebeh pening agik! Dan yang sebenar-benar Melayu, betol ugak cakap awak tu, macam di masjed! Tak ade arus atas, tak ade arus bawah, sebab adat Melayu bersendikan syarak : hukom Islam!” &lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong berkata,”Tapi awak tak perlu kecik ati, kalau tak diakuek Melayu oleh organisasi-organisasi Melayu itu. Demi untok menunjokkan identitas Melayu awak, kite boleh buat organisasi laen, misalnye MABM Reformasi, atau wadah sendirik misalnye: Zuriat Melayu Bersatu! Sebagai rajenye boleh kite ajak Matse Yakob – yang biase jadi Raje Mendu – itu. Sebagai Perdana Menteri boleh ana, sebagai Datok Laksamane boleh Mat Ketumbi dengan gelar Datok Laksamane Raje di Laot!“&lt;br /&gt;   “Tadak Jon, ana tak maok jadi Laksamane Raje di Laot! Ana tak maok mati dibunoh!” ucap Mat Ketumbi. “Ana jadi khadam pon jadilah,” lanjutnya.&lt;br /&gt;   “Tadak, itu semue tak perlu terjadi. Melayu tak perlu banyak organisasi. Diakuek atau tadak, ente tetap Melayu. Biarpon MABM misalnye telah buang zuriat terhadap kite. Sebab kite lebeh tue dari semue organisasi Melayu itu. Mat Ketumbi lebeh tue dari MABM. Kalau tadak Mat Ketumbi-Mat Ketumbi yang Melayu ini di Kalbar, tak kan ade orang-orang tu dapat melaherkan organisasi Melayu! Hanye kite berharap, jangan Mat Ketumbi-Mat Ketumbi yang ade di daerah ini diatasnamekan jak untok kepentingan secupak orang yang ambek kepentingan dengan care mengatasnamekan Melayu! Kalau itu yang terjadi, marwah Melayu akan tepurok, Melayu dipandang mereng, tegal orang-orang yang ngakuk Melayu tapi tak beradab Melayu!“ ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Sebagai sebuah organisasi, Lembayu boleh bubar, MABM boleh lebor, organisasi Melayu yang laen pon boleh tekubor. Sebab sebuah negara besar macam Uni Soviet jak bise tinggal name, tembok Berlin pon bise roboh. Namun Mat Ketumbi: patah tumbuh hilang kan  berganti, tak kan Melayu hilang di bumi. Yang perlu ditegakkan, citra Melayu seperti halnya akhlak Hang Tuah: Tuah sakti hamba negeri, esa hilang dua terbilang, halus budi resam Melayu!&lt;/em&gt;” ungkap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Itulah die Melayu!“ sambut Mat Ketumbi.&lt;br /&gt;   “Iye, itulah Melayu,” ucap Mat Belatong,”tecermin dalam akhlak, adat dan budaya! Tak sekadar sebuah organisasi bermerek Melayu! Belanda pun dia, Dayak pun dia, Batak pun dia, Jawa pun dia, Sunda pun dia, Padang pun dia, Cina pun dia, tatkala ia ikut menopang akhlak, adat dan budaya Melayu, maka jangan tolak dia! Rasakan dia sebagai dusanak dekat! Adapun wujud dukungan, bisa berupa penggunaan bahasa Melayu, rasa kesetiakawanan, rasa kebersamaan dalam menghadapi sesuatu masalah, keikutsertaan dalam berkesenian, dan lain-lain. Ia telah menerapkan salah satu pedoman kerukunan hidup bersama dalam sebuah masyarakat: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung! Begitu juga sebaliknya tatkala seorang anak Melayu berada di negeri orang, jangan lupa pepatah lama itu. Dan jangan tekanjat bila para ahli bahasa dunia, menggolongkan bahasa Melayu Sanggau, Sintang, Melawi dan Kapuas Hulu ke dalam grup bahasa Ibanik!  Masuk grup bahasa Dayak Iban! Dan inilah: ragam Melayu!” ***&lt;br /&gt;                                                                                        &lt;br /&gt;( Pontianak, 12 November 2005 )&lt;/font&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-757616081998445165?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/757616081998445165/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=757616081998445165' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/757616081998445165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/757616081998445165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/kolom-mat-belatong-dan-melayu-oleh.html' title='MAT  BELATONG  DAN  MELAYU'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-7455128333817311435</id><published>2007-07-27T10:49:00.001-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.340-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG, AYAM DAN MUSANG</title><content type='html'>Oleh A.Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMBARI termenung menatap layar monitor komputer yang masih kosong, Mat Belatong membuka winamp untuk mendengarkan beberapa lagu yang telah terekam di sana. Mudah-mudahan di antara lagu yang terdengar, ada yang menggugah rasa, bisa melahirkan sebuah ide untuk tulisan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang penyanyi yang dikagumi Mat Belatong, adalah Siti Nurhaliza.&lt;br /&gt;Siti Nurhaliza, di hati dan rasa Mat Belatong adalah seorang diva Melayu, seorang permata Melayu yang tak hadir di sepanjang kurun waktu. Dia bukan penyanyi hasil didikan manusia yang bisa ditemukan kapan saja. Dia bukan penyanyi biasa, melainkan seorang diva (laksana dewa/dewi – pen) yang sengaja diturunkan secara berkala, mungkin 100 tahun sekali!&lt;br /&gt;Sebuah “syair” lama, terlantun dari suara emas Siti Nurhaliza dalam lagu Kaparinyo:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Orang berinai berhitam kuku&lt;br /&gt;Mandi dijirus si air mawar&lt;br /&gt;Jikalau sampai hasrat hatiku&lt;br /&gt;Racun kuminum jadi penawar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum tersurat dalam hikayat&lt;br /&gt;Ayam keluar mencari musang&lt;br /&gt;Belum tersirat di dalam adat&lt;br /&gt;Bunga keluar mencari kumbang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak lembah bertambah dalam&lt;br /&gt;Nampaknya gunung tinggi bertuah&lt;br /&gt;Semenjak sejarah Hawa dan Adam&lt;br /&gt;Alam berkembang berubah-ubah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasrat nak beli dulang bertepi&lt;br /&gt;Barulah molek untuk hidangan&lt;br /&gt;Hasrat nak cari yang sama sehati&lt;br /&gt;Barulah boleh makan sepinggan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh harum si bunga tanjung&lt;br /&gt;Hati nak petik si bunga mawar&lt;br /&gt;Rindu dan dendam tidak tertanggung&lt;br /&gt;Budi setitik jadi penawar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh melati yang dipetik&lt;br /&gt;Harumnya masyhur seluruh alam&lt;br /&gt;Sungguh pun budi hanya setitik&lt;br /&gt;Langit dan bumi ada di dalam&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menyimak untaian kalimat indah dan dalam di bait ke dua, Mat Belatong termenung.&lt;br /&gt;Betapa di sana, sebuah nasihat untuk anak-cucu telah hadir sejak berabad lampau, dari nenek moyang untuk pemandu para remaja putri.&lt;br /&gt;Belum tersurat dalam hikayat, ayam keluar mencari musang! Belum tersirat di dalam adat, bunga keluar mencari kumbang!&lt;br /&gt;Tegasnya, tak ada hikayat dan adat di dunia Melayu (bangsa Timur umumnya): wanita mengejar, menjual diri kepada lelaki!&lt;br /&gt;Di dunia Timur yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesusilaan, tak ada hikayat dan adat: ayam gentayangan minta terkam musang, bunga keluyuran mintak tanjal kumbang!&lt;br /&gt;Namun apa yang terpentang di depan mata Mat Belatong sekarang ini, begitu buka pintu pagi hari: sudah melihat aurat! Baik laki-laki, apalagi perempuan.&lt;br /&gt;Semahal apa pun pakaian sport yang dipergunakan lelaki muslim untuk olahraga, tatkala ia tidak menutupi pusat hingga lutut, terlarang bagi lelaki tersebut tampil di hadapan orang yang bukan muhrimnya!&lt;br /&gt;Mat Belatong menyaksikan sendiri di Mekah, betapa seorang jamaah haji Indonesia yang turun dari hotel tempatnya menginap untuk membeli sesuatu di deretan toko dekat hotel tersebut diteriaki orang-orang Arab: Haram,…haram!!&lt;br /&gt;Dia diusir balik ke hotelnya terbirit-birit, karena bercelana pendek, tak menutupi seluruh paha hingga lutut!&lt;br /&gt;Seselebor apapun Mat Belatong: tanpa baju, berkain sarung menutupi atas pusat hingga mata kaki, niscaya lebih sopan dan beradab dalam etika Islam – pun di mata Allah – jika dibandingkan pria muslim bercelana pendek merek mahal, namun paha masih terlihat!&lt;br /&gt;Betapa pula dengan aurat wanita Islam dalam etika dan hukum Islam. Belonggok buku fikih dari berbagai mazhab di toko buku! Bacalah.&lt;br /&gt;Adapun yang yang namanya “ayam” sekarang ini, bukan hanya gentayangan mencari “musang”, malah pamer daging di depan musang. Banyak ayam sekarang ini yang sengaja menanggalkan bulunya agar ia bisa memamerkan kemulusan dan kesintalan dagingnya kepada musang! Para ayam berdalih demi modernisasi, globalisasi, mengikuti mode ataupun fesen!&lt;br /&gt;Tingkah ayam yang aneh-aneh, lebih terlihat manakala kita berkunjung ke mall-mall. Aneka rupa ayam ada di sana. Yang hampir-hampir tak berbulu, banyak! Yang berjambul aneh-aneh juga banyak.&lt;br /&gt;Sampai-sampai Mat Belatong tercengang dan berkata kepada istrinya,”Tengok tu makhluk ajaib! Korban zaman dan mode! Mereka tergagap sesat di arus dunia, tak tahu mana yang benar atau salah!“&lt;br /&gt;Ayam-ayam pedaging yang menyingkap atau mencabuti bulunya agar bisa pamer paha, perut, pantat, punggung maupun dada ini, tentu membuat jakun musang turun naik menelan liur!&lt;br /&gt;Akibat melanggar sesuatu yang tak tersurat di dalam hikayat, tak tersirat di dalam adat, meremehkan hukum syariat, tak aneh bila banyak ayam menjadi korban sia-sia.&lt;br /&gt;Lebih dari itu, di akhirat kelak akan diperoleh kenyataan: banyak “ayam” yang masuk neraka ketimbang “musang”! Pun di sana, lebih banyak “bunga” dibandingkan “kumbang”!&lt;br /&gt;Namun demikian, tak selamanya ayam selalu menjadi korban. Berhati-hatilah terhadap ayam yang berani gentayangan mencari musang, yang berani pamer: menjanjikan daging dan kelezatan itu.&lt;br /&gt;Yang demikian ini, mungkin bukan sekadar ayam dara yang baru keluar dari kandang dan masih bloon, tapi bukan mustahil seekor ayam yang sudah “tinggi jam terbang”-nya!&lt;br /&gt;Kini, banyak ayam yang sudah lebih pintar daripada musang! Hal ini dikarenakan si musang coba menawar-nawar firman Allah, dan merasa bahwa duit lebih berkuasa dari firman Allah. Akibatnya, tak sedikit musang yang menjadi lengah, lingau dan bodo-bale.&lt;br /&gt;Dipikirnya, setiap ayam memang santapan musang, lalu main terkam saja!&lt;br /&gt;Terpentang di mata kita betapa banyak ayam keluar dengan jeratnya, untuk mencari musang yang bisa dikadalin dan digombalin.&lt;br /&gt;Musang naik pahar, paling empuk jadi sasaran. Karena selain punya jabatan juga banyak duit, tapi belum berpengalaman dalam berburu ayam, baru mulai masuk dunia “gaul”, masih kuat bloon-nya!&lt;br /&gt;Akibat kalah dalam permainan “gombal-gombalan”, si musang terjerat, sukar melepaskan diri, bisa tinggal seluar katok (celana pendek/dalam – pen). Keluarga kucar-kacir, jabatan gunjang-ganjing, bahkan bisa tepelongkeng dari paharnya!&lt;br /&gt;Bukan pula tak ada terjadi, ayam dan musang yang sudah tinggal sesarang karena diikat tali perkawinan, sudah beranak-pinak, same tak iye jak laki-bini, saling selingkuh, cari guling masing-masing, atau tukar guling!&lt;br /&gt;Kemudian, kita simak pula bait terakhir dari pantun Melayu itu, di mana nenek-moyang berpetuah: Sungguh pun budi hanya setitik, langit dan bumi ada di dalam!&lt;br /&gt;Budi adalah kesadaran nurani yang terdalam di lubuk hati manusia. Tatkala “budi” telah memancar dari lubuk hati seseorang manusia, niscaya perangai dan akhlaknya menjadi terpuji. Dia insan tertuntun!&lt;br /&gt;Budi dalam makna hati nurani, tak lain adalah qalb atau kalbu manusia.&lt;br /&gt;Kalbu atau hati dalam makna inilah yang bisa membuktikan kebenaran dari hadis Qudsyi: Tiada luas bumi-Ku dan langit-Ku, melainkan lebih luas Aku pada hati hamba-Ku yang mukmin, yang takut lagi suci.&lt;br /&gt;Ke sinilah mungkin kaitan petuah nenek-moyang: Sungguh pun budi hanya setitik, langit dan bumi ada di dalam!&lt;br /&gt;Tanpa budi-pekerti, manusia memang tak lebih mulia dari ayam dan musang.&lt;br /&gt;Masih untung jadi satwa ayam dan musang yang sesungguhnya. Sebab tiada perhitungan atau hisab yang dikenakan kepadanya di hari akhirat.&lt;br /&gt;Apa jadinya kalau manusia ayam, manusia musang, tatkala ajal menjemput belum juga sadar dan berubah? ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( Pontianak, 10 November 2005 )&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-7455128333817311435?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/7455128333817311435/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=7455128333817311435' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/7455128333817311435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/7455128333817311435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-ayam-dan-musang.html' title='MAT BELATONG, AYAM DAN MUSANG'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-2078313525239307522</id><published>2007-07-27T10:46:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.340-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG DAN SITUS SEJARAH</title><content type='html'>Oleh A. Halim  R.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   DALAM sebuah kesempatan, Mat Belatong dan sahabat karibnya – Mat Ketumbi – mengadakan perjalanan menyusuri jejak sejarah zaman Tok Adam, mengunjungi peninggalan zaman Hindu dan Budha yang ada di Kalbar ini!&lt;br /&gt;   Kota pertama yang didatangi adalah Sanggau, yang bergelar Kota Dara Nante itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   Dalam kapasitas apa pula Mat Belatong sampai berbuat seperti itu? Sejarawan bukan, orang Dinas Pariwisata bukan, orang Balai Kajian Sejarah bukan, orang Museum pun bukan! Tidak pula sebagai personel dari Perpustakaan Daerah! &lt;br /&gt;   Tatkala ditanya oleh Mat Ketumbi tentang kapasitas dirinya dalam menyusuri situs-situs sejarah itu, Mat Belatong langsung menjawab,“Sebagai khalifah di muka bumi! Dan ana mencintai Kalbar, ana mencintai peninggalan nenek-moyang kite bukan tegal digaji sebagai pegawai. Kalok ente maok tahu isik dade ini, lebeh daripade ape yang ade di dade kaom pegawai tu. Orang-orang tu, kalok pon datang nengok situs sejarah dan begerak, tegal proyek! Ade SPJ! Kalau tadak dana mane begerak! Mane ade orang tu begerak demi cinte macam aku ni Ketuk,  tahu ndak awak?!“&lt;br /&gt;   Mat Ketumbi yang biasa disapa Ketuk itu mengangguk-angguk. Entah paham entah tidak, tapi Mat Ketumbi rela bersakit-sakit, sampai termuntah-muntah naik kendaraan umum demi menemani sahabatnya yang “pening“ Mat Belatong itu!&lt;br /&gt;   “Kite bejalan ni Ketuk, memang ngeluarkan duet, tapi memperkaye batin. Ngambek ilmu langsong dari khazanahnye, bukan dari buku atau pengetahuan orang laen!“ ujar Mat Belatong kepada temannya yang udah telepe-lepe muntah kuning!&lt;br /&gt;   “Ana paham Jon,“ jawab Mat Ketumbi telior-lior,“memang saket encarik ilmu tu!  Maok jadi orang pintar jak telepe-lepe macam ana ni!“&lt;br /&gt;   “Tahan Ketuk, tak ape-ape,” hibur Mat Belatong,”itulah tegalnye sekolah tu mahal!“&lt;br /&gt;   Singkat cerita, maka sampailah mereka ke kota Sanggau.&lt;br /&gt;   “Di sinik ade sebuah peninggalan sejarah yang penting, dan kite perlu bekunjong ke sanak!“ ucap Mat Belatong.   &lt;br /&gt;   Ketika sampai di Sanggau mereka turun di pangkal jembatan Sungai Sekayam. Lalu berjalan belok ke kiri menuju Kampung Sungai Sengkuang, terus masuk Kampung Setompak!   &lt;br /&gt;   Di sana kedua sahabat itu minta diantar oleh seorang warga setempat, menyeberang sungai menggunakan sampan kecil menunju Batu Sampai! Di situ, di lokasi pinggir sungai yang berbatu, terdapat sebuah sungau kecil, lebarnya sekitar delapan meter. Ada air terjun kecil, yang airnya jernih mengalir ke Sungai Sekayam. Lokasi ini sesungguhnya masih terbilang di dalam kota Sanggau. Di situlah terdapat sebuah prasasti peninggalan zaman Hindu!&lt;br /&gt;   Batu Sampai, dalam bahasa daerah Melayu Sanggau bermakna: Batu Sangkut!&lt;br /&gt;   Di bagian atas sungai kecil itu, tampak membelintang sebuah batu besar, seakan “tersangkut” di situ. Air terjun kecil mengucur melewati batu tersebut. Dan di batu itulah tertulis aksara masa lampau, sebuah jejak yang tertinggal dari zaman Hindu! Letaknya dari muara Sungai Sekayam, paling-paling enam kilometer!&lt;br /&gt;   Di tempat itulah Mat Belatong terperangah. Harapan untuk bisa mengelus kembali “kaligrafi” hasil pahatan tangan nenek-moyang masa lampau, hancur seketika!&lt;br /&gt;   Mat Belatong sontak marah, beleter tak tentu pasal! Mat Ketumbi pun ikut geleng-geleng kepala.&lt;br /&gt;   Betapa tidak? Batu bertulis itu telah hilang aksaranya, terpudarkan oleh pahatan-pahatan baru, mungkin menggunakan paku, berganti dengan bermacam-macam nama manusia masa kini! Ini pasti pekerjaan para remaja dan pemuda yang berkunjung ke tempat itu. &lt;br /&gt;   “Ngape budak-budak celake tu tak nules di batu di bawah sinik!?“ seranah Mat Belatong sambil menunjuk sebuah batu datar tempatnya berdiri, persis berada sekitar dua meter di bawah batu bertulis itu. Air yang jatuh dari atas memang menimpa batu datar tersebut. Namun karena batu datar itu cukup lebar, sesungguhnya masih banyak tempat bagi si bodo-bale untuk berbuat usil memperturutkan hawa nafsu vandalisme-nya! Dan ternyata, di batu datar itu tak ada tulisan buatan baru. Yang terjadi malah: memahat, menulis nama menimpa aksara kuno yang ada di situ! Ini jelas: penghancuran terhadap sebuah situs sejarah!&lt;br /&gt;   “Beginilah ceritenye kalau anak-anak sejak SD sampai SLTP atau SLTA tak diajar oleh gurunya untuk menghargai peninggalan sejarah nenek-moyang! Bahkan gurunye pon mungkin butak-tulik gak, tak tahu kalau sebuah peninggalan sejarah yang sangat beharga ada di dalam kota Sanggau sendiri! Yang dijejalkan kepada anak-anak didik, cerita sejarah dari negeri orang, yang dikenalkan kepada anak didik peninggalan sejarah dari negeri orang, nun jauh di sana! Prasasti sejarah di negeri sendiri “sengaja” diabaikan, atau tak diketahui sama sekali. Berat kaki untuk melangkah, berat kepala untuk menoleh, berat hati untuk membuka pintu pemahaman terhadap negeri sendiri! Kini, sebuah peninggalan sejarah Hindu yang tak ternilai, hancur sia-sia karena kebodohan dan keusilan!“ damprat Mat Belatong manas.&lt;br /&gt;   “Hancor Ketuk, hancor hati ana nengok hal macam ini!“ ucap Mat Belatong kepada rekannya Mat Ketumbi.&lt;br /&gt;   “Waktu ana maseh malang-melintang di kota Sanggau sebagai pemuda, sebagai guru SPG dan SMA, membina para remaja dalam berkesenian dan berbudaya, tak separah ini perbuatan anak-anak dan remaja di kota ini. Dan ana sendirik pon menamatkan SD dan SMP di kota Sanggau. Tak sebrutal dan sebodoh ini kelakuan kami!” lanjut Mat Belatong.         &lt;br /&gt;   “Sekitar sepuloh taon yang lalu jak, waktu ana ke sinik, prasasti ini maseh mulus!“ tambahnya.&lt;br /&gt;   Padahal, Prasasti Batu Sampai itu bukan sebuah situs sejarah yang bisa dianggap sepele. Ia memiliki keunikan tersendiri. Di batu datar di bawahnya, bisa dipakai untuk duduk, bertafakur, bermeditasi, bersemadi! Dan ia bukan sekadar batu tulis kecil, yang mudah diangkat dan dipindahkan. Ia begitu spesial, aksaranya terpahat di permukaan batu tempat air terjun mengalir! Ia sebuah “lembaran kitab“ yang ukurannya sekitar 2 x 4 meter. Sedangkan ukuran batu yang sesungguhnya sukar diperkirakan kubikasinya, sebab terbenam di dalam tanah. Demikian pula di kiri-kanannya.&lt;br /&gt;   Adakah karena ia sebuah peninggalan agama Hindu, lalu boleh diperlakukan dan dirusak sewenang-wenang?&lt;br /&gt;   Kita boleh Islam, boleh Nasrani, sekarang ini. Tapi jangan sangkal, nenek-moyang kita beragama Hindu. Prasasti itu jejak langkah, sebuah kabar dari masa lampau dari nenek-moyang kita sendiri, bagi anak-cucunya sepanjang zaman yang datang kemudian!&lt;br /&gt;   Sebuah “malapetaka” telah terjadi akibat kejahilan!&lt;br /&gt;   Ahli sejarah di dunia, pencinta sejarah di dunia telah kehilangan sebuah Kitab Batu! Dan itu terjadi di Kota Dara Nante: Sanggau! Ada yang peduli!? &lt;br /&gt;   Mat Belatong dan sahabatnya lunglai meninggalkan tempat itu.   &lt;br /&gt;   Apa yang menimpa Batu Sampai ini jangan dianggap enteng: “Sanggau telah menghancurkan sejarahnya sendiri, telah menghapus situs kegemilangan masa lalunya sendiri!” &lt;br /&gt;   Hal ini jangan terjadi di tempat lain! ***&lt;br /&gt;                                                                                        &lt;br /&gt;( Pontianak, 10 September 2005 )&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-2078313525239307522?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/2078313525239307522/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=2078313525239307522' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/2078313525239307522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/2078313525239307522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-dan-situs-sejarah.html' title='MAT BELATONG DAN SITUS SEJARAH'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-2938275521414663511</id><published>2007-07-27T10:44:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.340-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG DAN WAJAH DIRI</title><content type='html'>Oleh A. Halim  R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   YOMANDI  LOKA, sahabat Mat Belatong, seorang fotografer “nyentrik” dari Kota Amoy Singkawang. Fotografer berusia kepala lima itu, bukan cuma berhasil menempatkan dirinya sebagai seorang pengusaha, yaitu Boss Teknik Foto Singkawang, tetapi juga seorang yang gila memotret, seorang fotografer kawakan yang selalu dahaga untuk hunting – mencari objek-objek foto – yang indah, aneh, bahkan nyeleneh!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   Sesuatu yang tak ditoleh oleh fotografer lain untuk dipotret, dibidik olehnya, dan ternyata hasilnya: fantastik!&lt;br /&gt;   Seekor keramak, sekuntum bunga putri malu, tetesan embun yang menggelantung di ujung daun, lewat lensa kamera Yomandi, membuat kita terperangah tatkala menyaksikan hasil potretannya. Benda “remeh” itu menjadi sesuatu yang menarik, menampilkan komposisi warna yang luar biasa, yang tak muncul bila dilihat dengan mata telanjang!&lt;br /&gt;   Mat Belatong terkagum-kagum menyaksikan foto seekor keramak yang besarnya 10 – 15 kali keramak sesungguhnya! Mat Belatong yang dulunya gemar juga  makan asinan keramak, kini telior-lior melihat komposisi warna yang ditampilkan Allah lewat penampakan seekor keramak! Dan itu baru tampak olehnya lewat karya foto “si gila” Yomandi Loka! Iya, Yomandi menjadi “gila” tatkala berada di lapangan, di ladang pemotretan, ketika keluar dari ruangan studio fotonya!  &lt;br /&gt;   Cocoknya, ia dilepaskan ke arena Perang Vietnam (kalau dulu!), ke rimba belantara Kalbar! Niscaya ia akan menjadi seorang perekam terulung dan terlengkap dalam mengumpulkan perbendaharaan, kekayaan alam, flora, fauna, human interest, seni-budaya, serta berbagai hal yang tak terpikirkan oleh kita!    &lt;br /&gt;   Kendati ia seorang pengusaha, namun tampak bahwa ia memotret bukan untuk duit! Duit bisa ditunggunya di studio foto – lewat karyawannya – sedangkan memotret untuk pemuasan dan pengayaan ruhaninya!  &lt;br /&gt;   Terbayang oleh Mat Belatong, betapa sesungguhnya Yomandi Loka, tak kalah dari fotografer profesional seperti Dennis Lau, Lim Poh Chiang, Lucas Chin ataupun Hedda Morrison, yang karya fotonya banyak terekam di buku-buku tebal yang cukup mahal, yang berperan besar dalam mengekspos eksotisme alam dan manusia Borneo bagi kepentingan antropologi maupun pariwisata Malaysia!&lt;br /&gt;   Yomandi dengan rambut panjang berkuncir, dengan topi jungle, dengan rompi bersaku banyak, dengan seabrek ambinan berupa bag punggung yang berisi peralatan kamera, dengan kamera sekian buah menggelantung di lehernya, cocok sekali untuk kawan seperjalanan dalam berpetualang merekam wajah bumi Kalimantan!&lt;br /&gt;   Suatu hari, Mat Belatong mendapat kiriman sebuah foto dari Yomandi. &lt;br /&gt;   Ketika dibuka, foto yang ukurannya sekitar 40 x 60 cm itu ternyata potret wajah Mat Belatong!&lt;br /&gt;   Diam-diam, dalam sebuah kesempatan bersama, Yomandi Loka ternyata telah memotret close up, wajah Mat Belatong dari samping! &lt;br /&gt;   Dan wajah yang terpampang di foto – yang lebih besar dari wajah aslinya itu – membuat Mat Belatong terperangah!&lt;br /&gt;   “Lewat foto ini, Bung Yo mengingatkanku, betapa sesungguhnya aku telah menjadi tua! Dan si tua di foto ini, lebih sering lupa kalau dirinya tua!“ ucap Mat Belatong di dalam hati. &lt;br /&gt;   Tatkala bertemu dengan Yomandi Loka, Mat Belatong berkata,”Terimak kaseh Bung Yo, atas kiriman fotonye. Ente telah mengingatkan ana, bahwa ana bukan agik anak mude, tapi seorang lelaki tue! Terimak kaseh banyak atas peringatannye! Ana ni memang banyak tak tahu dirik, Bung Yo!“&lt;br /&gt;   Yomandi Loka rada bingung juga mendengar celoteh Mat belatong. “Bukan begitu Bang Mat, itu kan foto buat kenang-kenangan,” jawab Yomandi.   &lt;br /&gt;   “Iye, foto kenang-kenangan, yang membuat ana berutang duet maokpon budi dengan Bung Yo. Cobe kalau  ana nyetak sendirik, dah berape duet tu!“ ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Yomandi tertawa dan berkata,”Tak osah piker itu Bang Mat! Bang Mat ni ade-ade jak,&lt;br /&gt;macam kite tak kawan jak!“&lt;br /&gt;   Tak lama setelah itu, kembali Mat Belatong menerima kiriman dari Singkawang, dari Yomandi Loka.&lt;br /&gt;   Kiriman itu lewat seorang teman, dikemas dalam packing yang rapi, sehingga terjaga keutuhan barangnya. Ternyata berisi foto lagi, sudah berfigura bagus, lengkap dengan kacanya! &lt;br /&gt;   Foto tersebut berukuran sekitar 35 x 60 cm, terdiri dari 4 buah foto yang dicetak di atas satu lembar kertas foto.&lt;br /&gt;   Foto pertama, potret seekor ulat yang tengah merayap di sebuah ranting. Ulatnya diperbesar sehingga menjadi lebih panjang dari telunjuk orang dewasa. Seekor ulat dengan warna yang indah, hitam berlurik putih, bertotol kuning-jingga! Ada selembar daun di ranting itu, tinggal pangkal daunnya saja. Bagian lain dari daun itu, tentu telah habis disantap ulat tersebut!&lt;br /&gt;   Foto kedua, gambar sebuah kepompong yang ujung bagian atasnya lengket di sebuah ranting. Sepertinya ranting tersebut adalah dari pohon yang sama. Kepompong bewarna putih itu bagus bentuknya, bagian bawah berbentuk bulat memanjang, atasnya seperti kerucut. Kepompong itu dicetak besar sehingga ukurannya lebih besar dari ibu jari kaki orang dewasa!&lt;br /&gt;   Dua foto berikutnya adalah gambar kupu-kupu yang hinggap di ranting kayu yang sama. Kulit kepompong tampak masih bergantung di bawahnya, sudah kempis! Kupu-kupu pertama, mengesankan seperti belum lama keluar dari kepompongnya. Karena warna sayapnya belum matang dan belum secemerlang sayap kupu-kupu pada potret berikutnya. &lt;br /&gt;   Oleh Yomandi, perubahan warna kupu-kupu tersebut diikutinya dengan sabar, sampai seekor kupu-kupu tampil dengan warna sayap yang sempurna, dan siap terbang!&lt;br /&gt;   Foto tersebut oleh Yomandi diberi judul: Terciptalah Daku.&lt;br /&gt;   Mat Belatong termenung menatap foto tersebut.  &lt;br /&gt;   “Yomandi kembali mengajariku, dan mengingatkanku!“ ucap Mat Belatong dalam hati. Betapa tidak. Sebuah proses kejadian, sebuah proses penciptaan yang dilakukan Allah, dipajangkan Yomandi di depan biji mata Mat Belatong!&lt;br /&gt;   Dari sebutir “nutfah” (boleh dianggap: sebutir telur), telah hadir seekor ulat. Di sebuah pohon bisa hidup bermacam ulat dari berbagai bentuk serangga. Mereka hidup, dan mereka makan. Kalau perlu mereka bertarung untuk mendapatkan makanan, untuk keamanan dan kenyamanan pribadi! Dan itulah kehidupan yang tengah dijalani oleh Mat Belatong sekarang ini, oleh manusia di muka bumi ini!&lt;br /&gt;   Untuk kehidupan di muka bumi, manusia rela berkelahi, bertarung, bersaing, berebut jabatan dan kenyamanan. Bahkan menghalalkan segala cara untuk memperoleh kenyamanan hidup di “pohon dunia”!&lt;br /&gt;   Banyak yang beranggapan, kehidupan dunia adalah kehidupan yang sesungguhnya, sehingga apa-apa yang ada di “pohon dunia” harus diraup, dilahap! Dan tatkala itu yang dilakukan, niscaya ia akan menjadi ulat yang tak habis-habisnya bertarung demi nafsu. Dalam pertarungan di “pohon dunia”, ia bukan mustahil menjadi kotor, menjadi belepotan, bahkan menjadi invalid!&lt;br /&gt;   Padahal kehidupan belum selesai. Dan seekor ulat yang salih – yang paham makna kehidupan – tahu, bahwa ia harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya, sebab ada fase kepompong putih menunggunya. Sedangkan seekor ulat yang pekak-lantak, dengan segenap kecacatannya pun harus melalui fase masuk kepompong putih. Kalau manusia: masuk kain putih (kafan), masuk peti mati, masuk tanah, menjalani kehidupan alam kuburan (barzah).&lt;br /&gt;   Kehidupan dalam selimut putih – kepompong – tidak butuh makanan. Kebagusan bentuk kepompong, kemilau warna kepompong, tercipta dari perilakunya tatkala menjadi ulat. Belepotan ulat itu, belepotan pula kepompongnya! Invalid ulat itu, cacat pula ia di kepompongnya.&lt;br /&gt;   Dan tatkala fase kepompong mesti ditinggalkan, mereka akan menjadi kupu-kupu! Inilah kehidupan yang sesungguhnya bagi seekor ulat, kehidupan akhirat bagi manusia. &lt;br /&gt;   Akankah ia menjadi kupu-kupu yang indah, yang perkasa untuk terbang bebas meninggalkan pohon? Kembali tergantung kepada perilakunya tatkala menjadi ulat, sulit dan mudahnya ketika menjadi kepompong.&lt;br /&gt;   Kalau cacat, kalau invalid, mampukah ia terbang dengan perkasa mengarungi jurang dan ngarai  yang menganga, di mana beragam predator berkeliaran!? Bukan mustahil ia akan jatuh ke ngarai kesia-siaan, menjadi mangsa predator yang ganas! Kalau manusia: ia akan jatuh ke jurang neraka, menjadi mangsa api yang dipeliharanya sendiri di dunia, dan dinyalakannya sendiri di akhirat!     &lt;br /&gt;   Ulat yang tenang di ranting – bagaikan bertafakur – dan kupu-kupu yang indah, yang menjadi sasaran kamera Yomandi Loka, mungkin berasal dari ulat yang salih.   &lt;br /&gt;   Mat Belatong masih tercenung, menatap kepompong putih dan kupu-kupu di hadapannya. “Terima kasih, Bung Yo, Anda masih mengingat dan mengingatkan saya,” ucapnya di batin. ***&lt;br /&gt;                                                                                     ( Pontianak, 4 Oktober 2005 )&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-2938275521414663511?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/2938275521414663511/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=2938275521414663511' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/2938275521414663511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/2938275521414663511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-dan-wajah-diri.html' title='MAT BELATONG DAN WAJAH DIRI'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-6190908897238980140</id><published>2007-07-27T10:43:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.340-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG DAN RASA MALU</title><content type='html'>Oleh A. Halim  R.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   SI POLTAK, bertanya dalam sebuah dialog budaya, yang telah diadakan pada bulan September 2005 lalu: Apakah budaya malu yang ada sekarang ini warisan tradisional nenek-moyang, atau sekadar warisan dari bangsa penjajah?&lt;br /&gt;   Sebab si Poltak melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa budaya malu yang dikatakan sebagai salah satu warisan “adiluhung” dari para leluhur telah beralih posisi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   Kini, orang menjadi malu kalau hanya punya rumah sebuah, kalau cuma punya mobil satu. Biar tak malu, perlu rumah bagus beberapa buah, perlu mobil bagus 4-5 buah! Bagaimana cara mendapatkannya, tentu menghalalkan segala cara!&lt;br /&gt;   Jalan pikiran si Poltak bagus juga, cerdas dia menyindir! Mungkin hatinya pun pedih, melihat kenyataan: budaya malu telah berubah menjadi budaya tak tahu malu! Budaya malu mencuri telah beralih menjadi malu kalau tak mencuri. &lt;br /&gt;   Apa yang disindir Poltak, terlihat  nyata pula oleh Mat Belatong. Dan menurut Mat Belatong, dalam hal ini, kita tak perlu menyalahkan penjajah, atau arus globalisasi yang mirip tsunami itu! Keruntuhan akhlak seseorang, suatu bangsa, bukan karena orang lain, melainkan karena diri sendiri. Bisa karena pondasi moral atau akhlaknya memang labil – tidak kuat – bisa pula karena pilar maupun tembok moral memang rapuh.&lt;br /&gt;   Contoh nyata, tatkala tsunami meluluh-lantakkan Aceh, sebuah masjid masih tetap berdiri tangguh!&lt;br /&gt;   Masjid, rumah ibadah: lambang moral dalam pengertian yang luas dan dalam. Sebuah rumah ibadah – tatkala ia dimaknai sebagai rumah Tuhan – tatkala pondasi dan pilar-pilarnya telah tertancap kokoh di hati, niscaya tiada tsunami mampu menggongcangkan nya, bahkan dunia pun tiada mampu menggetarkannya! Allah hadir di dirinya, petunjuk Allah senantiasa membimbingnya: yang benar dan yang batil menjadi nyata, malu dan tak tahu malu bukan hal yang samar!&lt;br /&gt;   Dan kini, menurut Mat Belatong, rasa malu memang telah berubah posisi. Dia tidak lagi ditempatkan di hati, yang marwahnya mengalir ke wajah, ke kening, ke hidung (dua dari delapan titik sujud yang bersentuhan dengan “sajadah”). &lt;br /&gt;   Kini, rasa malu tak lagi ditempatkan di muka, tetapi (maaf ): di pantat!  &lt;br /&gt;   Dan tatkala pantat sudah dijadikan muka, semua orang pasti tahu akibatnya.  &lt;br /&gt;   Apa yang keluar dari pantat, sudah menjadi najis semua. Anginpun yang keluar, sudah bukan lagi bermakna “nafas” atau “serdawa”, tapi kentut! Batal wudu karenanya!&lt;br /&gt;   Dan itulah yang terjadi, bila seseorang telah bermuka dengan pantat, yang keluar dari mulutnya, kalau bukan najis, ya  kentut! Yang keluar dari mulutnya tatkala bicara, kalau bukan suatu yang memalukan – yang membuka aib kadar  kapasitas dirinya  sendiri – iya: angin! Yang namanya angin, pagi-sore, bisa berubah arah! Terkadang membawa bau harum bunga tanjung, tapi paling sering membawa bau busuk hasil pengolahan sampah di dalam perut! &lt;br /&gt;   Tatkala investor ingin menanam modal, dan berhadapan dengan manusia bermuka pantat, yang pertama-tama ditanya olehnya: Berapa saham untukku, pembagianku sudah kau hitung belum!?  &lt;br /&gt;   Dia malu tak punya saham (walau tanpa setor modal sepeser pun!), untuk bekal setelah pensiun. Ia ragu terhadap masa depan Indonesia, sebab dia paham: dia sendiri punya andil untuk membangkrutkan negeri ini! Lebih dari itu: ia termasuk golongan orang-orang yang tak yakin atas janji Allah!  &lt;br /&gt;   Ini hanya sebuah contoh, perhatikan sendiri di lingkungan kita, di tempat kita bekerja, dan becerminlah. Jangan-jangan yang terlihat di cermin itu bukan wajah!?&lt;br /&gt;   Dalih, hasil putar-belit otak, bisa diciptakan untuk pembenaran di hadapan sesama manusia. Bukti hitam di atas putih bisa dibuat, untuk pembenaran di majelis hukum manusia. Bahkan firman dan hadis sering dipakai atau diselewengkan untuk pembenaran kepentingan sepihak. &lt;br /&gt;   Namun Allah, Penyaksi yang sangat dekat, punya “hukum kebenaran“ yang tak bisa diatur oleh manusia, yang tak mungkin diputar-belit oleh akal dan kolusi manusia.&lt;br /&gt;   Dan tatkala pantat telah dijadikan wajah, tentu kehadiran Allah yang lebih dekat daripada urat batang leher itu tak bakal terpandang. Bagaimana mau merasakan kehadiran Allah, kalau Allah didurhakai dan dilecehkan. &lt;br /&gt;   Berbagai ragam “wajah” manusia tampak jelas di sekitar kita.&lt;br /&gt;   Orang arif, berkat kerahiman Allah, dianugrahi dapat memandang wujud beragam  manusia dalam penampilan sosok binatang sebagai gambaran simbolik kebejatan moral dan nafsu seseorang! Pembohong, penipu, pemutar belit diperlihatkan dalam berbagai bentuk dan jenis ular! Si rakus, tamak, tak membedakan halal-haram, busuk dan baik, niscaya tergambar sebagai sosok: buaya! Demikian pula para penjilat, para penghasut dan pemfitnah, pun punya gambaran masing-masing! &lt;br /&gt;   Bagaimana kalau dalam “figur ruhani” serupa itu seseorang harus menghadapi sakaratul maut!? Dan seyogianya semua kita ingat, betapa kematian bisa datang di mana saja dan kapan saja! &lt;br /&gt;   Banyak orang kaya, tapi “rendah hati”, tak mau memperlihatkan dirinya kaya dengan cara: enggan berinfak dan bersedekah! Ada orang mampu, yang malu mengaku dirinya mampu, sehingga ikut mendaftar menjadi penerima: raskin dan dana kompensasi BBM. Sedangkan yang miskin, tahan berhutang (ke bank), agar terpandang!&lt;br /&gt;   Ada pula orang kaya dan punya kedudukan, tetapi tetap merasa miskin, sehingga membuatnya menjadi pengemis dan peminta-minta! Kalimah “wirid”-nya: duit-duit!&lt;br /&gt;   Sampai-sampai ada pula yang bersikokoh mempertahankan status “mualaf”-nya belasan tahun, agar  memperoleh simpati dan sumbangan.&lt;br /&gt;   Untung saja para sahabat Nabi, seperti Abubakar, Umar, Usman, Ali, Abu Dzar tak bertingkah seperti itu. Begitu menjadi muslim, mengucap dua kalimah sahadat, langsung mantap, tanpa keraguan! Padahal para sahabat Rasulullah itu seluruhnya berasal dari orang kafir! Mereka tak butuh sedekah untuk peneguh tauhid. Bukan mustahil mereka tak suka kalau disebut mualaf. Sebab predikat mualaf seperti mengandung konotasi: masih baru, masih ragu, masih belum mantap! &lt;br /&gt;   Dan Abubakar, begitu menjadi Islam, bersedekah habis-habisan untuk perjuangan Islam! Sampai-sampai Nabi pun heran dan bertanya,“Apa lagi yang tersisa untukmu dan keluargamu?“ &lt;br /&gt;   Abubakar menjawab,”Untukku dan keluargaku, cukuplah Allah dan Rasul-Nya!“ ***&lt;br /&gt;                                                                                                                                                                          ( Pontianak, 30 September 2005 )&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-6190908897238980140?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/6190908897238980140/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=6190908897238980140' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/6190908897238980140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/6190908897238980140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-dan-rasa-malu.html' title='MAT BELATONG DAN RASA MALU'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-1694129570884989870</id><published>2007-07-27T10:42:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.341-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>HADIRKAN “SENI  PUBLIK“ DI SETIAP KOTA</title><content type='html'>Oleh  A. Halim  R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   SENI PUBLIK (Public Art) adalah karya seni yang sengaja diciptakan dan dibuat untuk masayarakat, ditempatkan di ruang kehidupan masyarakat suatu kota atau satu wilayah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   Di kota-kota di wilayah Kalbar, seni publik belum mendapat perhatian dan proporsi yang semestinya dari para pemegang kekuasaan dan kebijakan yaitu eksekutif dan legislatif. Memang ada yang telah memulainya, tapi perlu lebih dikembangkan.&lt;br /&gt;   Padahal, seni publik sangat dibutuhkan, antara lain untuk memberi identitas lokal, menunjang pariwisata, sarana pendidikan bagi generasi muda, pembudayaan moral manusia, dan sebagai indikasi dari sebuah masyarakat yang telah maju! &lt;br /&gt;   Tiadanya seni publik, atau minimnya seni publik di sebuah kota, niscaya membuat kota tersebut terasa “gersang”, suasana hati masyarakat tidak teduh, memicu keberangasan, hilang rasa memiliki, dan timbul keinginan untuk merusak.&lt;br /&gt;   Coreng-moreng, coret-moret di dinding dan tembok yang dilakukan sementara generasi muda, sebenarnya sebuah “protes” terhadap kegersangan sebuah kota. Sebuah kota, atau wilayah huni masyarakat, ibaratnya sebuah kanvas lukis. Tatkala yang dihadirkan di kanvas itu adalah bentuk-bentuk kaku, yang monoton dan menjemukan, niscaya timbul rasa kejenuhan dan kejemuan memandangnya. Lukisan di kanvas penaka itu, memang sepertinya tak perlu dipelihara, sebab si pelukisnya saja (pemegang kekuasaan dan kebijakan pembangunan) berbuat seenaknya! Akibatnya, maka timbullah keinginan untuk melecehkannya: Kalau tatanan kote cume macam itu, ape salahnye dicoreng-moreng, di-pylox warne-warni!  &lt;br /&gt;   Hadirnya seni publik di sebuah kota secara memadai, tentu bisa menjadi benang merah pengikat rasa kebanggaan dan kebersamaan seluruh masyarakat. Kota yang teduh, indah dan nyaman, tentu tak ingin dirusak oleh warganya. Sebuah “pencerahan” telah terjadi karena hadirnya seni publik!&lt;br /&gt;   Apakah bentuk  seni publik itu?                      &lt;br /&gt;   Seni publik boleh terdiri dari karya seni dua dimensi, tiga dimensi, holografi (foto yang terbuat dari sinar laser-bisa berubah-ubah), lampu hias, air mancur (muncrat), seni pertunjukan kolosal dan lain-lain.&lt;br /&gt;   Sifatnya, ada yang permanen, seperti: piramid, candi, museum, bangunan, gedung,  taman, lingkungan fisik, jembatan, jalan, patung, pintu gerbang, mural (lukisan dinding atau tembok), relief (gambar timbul), mosaik (lukisan terbuat dari potongan keramik, ubin, kayu), dan lain-lain.&lt;br /&gt;   Ada yang bersifat sementara, seperti panggung terbuka (tak tertutup kemungkinan: panggung terbuka permanen), instalasi untuk festival seni budaya, billboard, baliho dan lain-lain.&lt;br /&gt;   Lalu ada pula bentuk seni publik yang bergerak, seperti sarana angkutan atau transportasi kota, maupun antar-daerah, baik berupa kendaraan air maupun darat. Terlebih untuk angkutan wisata.  &lt;br /&gt;   Tatkala semuanya itu dihadirkan dengan memperhatikan aspek artistik dan memiliki ciri-ciri daerah, tentu kota dan daerah Kalbar bisa menjadi sebuah bentangan “kanvas” yang sangat indah. &lt;br /&gt;   Bangunan, baik rumah, rumah ibadah, pasar, mall, ruko, kios, kantor serta gedung-gedung bila diberi ciri khas daerah, antara lain ornamen tradisional Dayak dan Melayu, niscaya tak sekadar menjadi “bangunan telanjang” yang gersang. &lt;br /&gt;   Bangunan telanjang dan gersang yang telah kita miliki, sesungguhnya bangunan yang bersifat umum, yang bisa ditempatkan di mana saja. Di tempatkan di Australia, di Hongkong pun tak ada masalah. Sebab tak berciri khas daerah, hanya sekadar bangunan “globalisasi” yang bisa ditemukan di mana-mana. &lt;br /&gt;   Para arsitek dan pemegang kekuasaan perlu punya visi, bagaimana kita membuat sebuah gedung, sebuah bangunan, sebuah mall, yang hanya  cocok untuk ditempatkan di  daerah ini. Sebab bangunan tersebut berciri khas daerah Kalbar, tidak cocok bila berada di tempat lain! Hanya dengan cara ini kita membuat daerah kita, kota kita menjadi kota yang punya ciri tersendiri di dunia, kota yang eksotik! &lt;br /&gt;   Demikian pula dengan sarana lainnya, semisal sampan tambang, speedboat tambangan,&lt;br /&gt;motor klotok, kapal bandong, oplet maupun bus! Termasuk juga dalam membuat jembatan. Jangan hanya faktor fungsinya saja yang diutamakan, tetapi juga nilai-nilai estetisnya. Poleslah, berilah “aksesoris“ yang memiliki unsur-unsur seni. Sehingga sebuah sampan, sebuah jembatanpun bisa menyejukkan perasaan warga, bisa menghanyutkan warga untuk menjadi manusia beradab, punya rasa kemanusiaan yang tinggi, halus budi pekertinya. Demikian juga dengan jalan taman ataupun trotoar. Hiasilah dengan mosaik warna-warni berciri khas daerah. Trotoar dari paving block, tanpa penambahan biaya, bisa dibuat menjadi trotoar yang bagus: trotoar khas daerah Kalbar. Tinggal memasukkan zat pewarna tatkala paving block tersebut dibuat. Kemudian tatalah dengan motif-motif tertentu.  &lt;br /&gt;   Eksekutif dan legislatif perlu merancang kebijakan, baik berupa saran, himbauan, pedoman, peraturan, keputusan dan prosedur untuk kita mewujudkan hadirnya seni publik di kota-kota di daerah ini. &lt;br /&gt;   Patok-patok kilometer di sepanjang jalan antarkota, bisa dibuat berciri khas masing-masing. Bisa berbentuk patung sedernana, balok berukir, atau bentuk lainnya. Sehingga ketika kita memasuki wilayah Kapuas Hulu misalnya, patok kilometernya lain dengan yang ada di wilayah Kabupaten Sintang. Begitu pula dengan patok kilometer yang ada di daerah Kab Sambas dan Bengkayang. Alangkah indahnya. Alangkah uniknya Kalbar. Betapa pula bila pintu gerbang batas wilayah kabupaten dibuat bersama dengan dana bersama, tentu kemegahannya akan menjadi lebih nyata.         &lt;br /&gt;   Arsitektur bangunan, jembatan, pintu gerbang dan lain-lain, boleh modern, namun poleslah dengan ornamen, atau mural, atau mosaik berciri khas daerah. Demikian juga taman, hadirkan “petak alam daerah”, tambah dengan patung, totem yang ada kaitannya dengan Kalbar. &lt;br /&gt;   Sebuah patung ataupun monumen, sangat baik bila menampilkan figur-figur “legendaris” berbentuk manusia, simbol-simbol etnik, maupun keakraban etnik. Sosok binatang-binatang langka khas Kalbar, pun perlu ditampilkan dan tersebar di berbagai penjuru kota, diberi keterangan: nama, nama ilmiah (Latin) ataupun sedikit keterangan lain. Namun, kecuali menampilkan patung atau monumen yang naturalis, juga bagus ditampilkan patung-patung yang ekspresif yang punya ciri khas daerah yang kuat.&lt;br /&gt;   Pada FBBK (Festival Budaya Bumi Khatulistiwa) September 2005 lalu di Gedung PCC Pontianak, saya melihat karya-karya patung yang ekspresif muncul di stand pameran Sintang dan Landak! Patung-patung serupa itu, bila dibuat dalam bentuk yang besar – bisa dari bahan semen – sangat original dan kuat untuk menghiasi kota-kota di daerah ini.   &lt;br /&gt;   Daerah Melawi, artis pemahatnya pun tampak kuat sekali dalam menampilkan ornamen timbul (relief) pada “mandau raksasa”-nya. Ornamen-ornamen penaka itu sesungguhnya mampu tampil untuk monumen berbentuk pilar-pilar tunggal – Dayak Round Pole -- (tiang pantar – tiang sandong) dalam ukuran besar, ataupun sebagai pilar pintu gerbang! &lt;br /&gt;   Tatkala kebijakan berseni publik ini dilakukan oleh setiap gubernur, setiap walikota, setiap bupati  di daerah ini secara berkesinambungan, tentu wajah Kalbar dalam 10 tahun mendatang akan lain! Tatkala dianggarkan setiap tahun harus hadir sebuah monumen atau sebuah taman, atau sepetak “water front“ di tiap-tiap kota di daerah ini, berarti kita telah beranjak menapaki jalan masyarakat berbudaya!  &lt;br /&gt;   Anggota masyarakat yang mampu, pengusaha, sangat diperlukan untuk membantu kehadiran seni publik di daerah ini. Tatkala membangun rumah, taman, buatlah yang memiliki ciri khas daerah Kalbar. Setidaknya ada sentuhan seni, bisa berupa ornamen, relief, mosaik, ataupun ukiran kerawang. Begitu pula ketika membangun ruko, kios, bahkan pagar rumah !&lt;br /&gt;   Seandainya (mudah-mudahan tidak) terjadi kerusuhan di sebuah kota, niscaya sesuatu yang memiliki unsur seni publik, tak akan gampang dirusak atau dibakar massa. Sebab, ada rasa ikut memiliki, ada simbol-simbol di sana! &lt;br /&gt;   Beberapa elemen memang terlibat dalam pembangunan seni publik ini. Antara lain artis (pekerja seni), arsitek, juru desain, warga masyarakat (artisan: penggemar seni), pengusaha, maupun pihak pemerintah.&lt;br /&gt;   Roma, Paris, telah menata seni publik-nya sedemikian rupa, sejak berabad lampau, secara berkesinambungan dari satu raja ke raja lainnya. Dan kini seluruh masyarakat dunia mengaguminya, atau bisa menikmatinya!&lt;br /&gt;   Di Pontianak, bangunan GOR Pang Suma, Gedung Kartini, Kantor Gubernur, Gedung PCC, terasa sebagai sesuatu yang belum selesai sempurna. Ibarat baju dan celana telok belanga, ia dibiarkan polos. Tentu pakaian adat Melayu itu akan lebih anggun, bila di bagian kaki celana diberi bersulam, pergelangan tangan diberi bersulam, demikian juga leher dan dada! Tanjak di kepala, bukan cuma sekadar kain kosong polos, tentu lebih indah bersulam atau diberi pernak-pernik. Dan kain setengah tiang di pinggang, niscaya terasa hampa, bila hanya kain polos begitu saja. Tentu lebih gemerlap, dan marwah Melayu jadi terangkat kentara manakala menggunakan kain tenun bertabur motif benang emas atau kalengkang.&lt;br /&gt;   Sesungguhnya demikian pula yang perlu terjadi pada bangunan dan gedung di daerah ini. Dinding-dinding polos, akan menjadi lebih memikat dan punya identitas, bila diberi sentuhan seni seperti ornamen dan lain-lain. Contoh yang baik antara lain, gedung Kantor PLN di Jalan A.Yani Pontianak. Biarpun sedikit, namun nuansa Kalbarnya terasa menyentuh!&lt;br /&gt;   Dalam menggunakan hiasan bermotif burung enggang, seyogianya perlu dimengerti bahwa ada dua jenis enggang yang derajatnya setara dalam mitos tradisional Dayak. &lt;br /&gt;   Pertama, Enggang Gading (Rhinoplax vigil, Iban: Tajai) yang menjadi maskot daerah Kalbar. Enggang Gading (Kalbar), mahkota di kepalanya papak macam helm, sehingga disebut pula: Helmeted Hornbill.&lt;br /&gt;   Kedua, Enggang Badak (Buceros rhinoceros, Iban: Kenyalang) yang menjadi “Burong Negeri“ atau State Bird of Sarawak: burung Lambang Negeri Sarawak! Kenyalang sangat dilindungi di Sarawak, yang membunuhnya bisa mendapat hukuman.&lt;br /&gt;   Enggang Badak (Sarawak), mahkota di kepalanya mencuat ke atas bagaikan cula badak, sehingga disebut pula: Rhinoceros Hornbill. Oleh seniman tradisional Iban yang kreatif, cula itu distilir,  bahkan dibuat menjadi “bergulung”.&lt;br /&gt;   Dan hiasan enggang yang bertengger di atas atap Kantor Pelni di Jalan Sultan Abdurrahman Pontianak itu, adalah Enggang Badak, Burong Negeri Sarawak! Desain yang diterapkan di situ, pun desain: Lambang Museum Negeri Sarawak!    &lt;br /&gt;   Dalam menciptakan seni publik di daerah ini, memang diperlukan artis atau pekerja seni yang piawai, dan cukup paham terhadap tradisi seni budaya yang ada di daerah ini.&lt;br /&gt;   Mari berbuat, dan wariskanlah berbagai karya seni publik untuk generasi mendatang, sebagai pertanda bahwa kita pernah hidup! ***&lt;br /&gt;                                                                                     ( Pontianak, 3 Oktober 2005 )&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-1694129570884989870?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/1694129570884989870/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=1694129570884989870' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/1694129570884989870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/1694129570884989870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/hadirkan-seni-publik-di-setiap-kota.html' title='HADIRKAN “SENI  PUBLIK“ DI SETIAP KOTA'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-7325410777788298555</id><published>2007-07-27T10:40:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.341-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG PENYEBAR ISU</title><content type='html'>Oleh  A.Halim  R &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   CERITA ini anggap saja kejadiannya, berlangsung menjelang peringatan HUT Ke-60 Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2005 lalu.&lt;br /&gt;   Suatu hari Mat Ketumbi datang tergopoh-gopoh ke rumah rekannya Mat Belatong. Melihat rekannya  datang gopoh-gapah seperti membawa berita kematian dari salah seorang warga kampung, Mat Belatong langsung bertanya,”Siape agik yang kenak jempot Ijrael menghadap Allah, Ketuk!?“&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   “Sabar lok, bukan soal mati, surohlah ana ni dudok lok, siapkan kopi!“ ucap Mat Ketumbi sambil mengeluarkan rokok Pilkada yang masih tersisa sebungkus.&lt;br /&gt;   Setelah sama-sama duduk, Mat Ketumbi langsung melapor,”Jon, ini ibuk-ibuk di kampong kite ni mulai hilang lede! Macam ketadakan kerje jak. Untok memperingati hari tujoh belas Agustus ni nak ngadekan Kontes Long Deres pulak. Ndak ke ini kerje salah, mbuat dose ngolok-ngolok orang tue! Mentang-mentang Long Deres tu ade kelainan lalu nak disamekan dengan bintang felam macam si Tessy, Didik Nini Towok, Dorce jak!“  &lt;br /&gt;   “Benar ke ndak cakap awak ni Ketuk!?“ tanya Mat Belatong mulai terprovokasi.&lt;br /&gt;   “Eh, ente ni macam tak kenal ana jak. Dari ujong kampong ke ujong kampong jak orang udah nyeritekan ini semue, boleh ke ana bual!? Banyak dah yang mendaftarkan dirik ke panitia!“ jawab Mat Ketumbi meyakinkan.&lt;br /&gt;   Pikiran Mat Belatong mulai menerawang, membayangkan sesosok manusia di kampung mereka yang  biasa disapa: Long Deres. Bukan Deres anak muda yang pandai membuat patung itu! &lt;br /&gt;   Long Deres memang seorang figur yang unik. Namanya yang sebenarnya Idris, tapi kenak lidah Melayu jadi: Deres. Manggel orang dengan name dipleset-plesetkan ini, menurut sinyalemen Mat Belatong bisa pula terjadi karena memang: lidah tak bertulang! Bayangkan, kalau lidah itu bertulang, bisa-bisa bukan lagi Deres yang terucapkan, tapi: Delete! Ini lebeh parah agik, sebab maknanye tak laen: hapus dari layar monitor, lenyap dari muke bumi!&lt;br /&gt;   Akan halnya Long Deres, karena ia anak tertua dari enam bersaudara, lalu disapa dengan panggilan: Long, yang bermakna sulong atau sulung. Karena sudah rada berumur juga, jadi disapa: Pak Long.&lt;br /&gt;   Long Deres sosok figur yang cukup unik. Lebih banyak berkain panjang, ketimbang bercelana seperti umumnya pria. Dalam bahasa Arab mungkin termasuk golongan “hunsa”, tak boleh jadi imam salat kaum lelaki, boleh menjadi imam salat kaum wanita. Dalam bahasa Indonesia masa kini biasa disebut: waria! (Jangan sebut: wadam, sebab berkaitan dengan nama Nabi Adam Alaihi Salam!)   &lt;br /&gt;   Seperti tersentak dari lamunannya Mat Belatong bertanya,”Long Deres udah tahu belom pasal ini?“&lt;br /&gt;   Mat Ketumbi menjawab,”Ana belom tahu, pon ana belom ade betemu dengan Long Deres.”&lt;br /&gt;   “Ini bise celake ibuk-ibuk ni kalau tak ade persetujuan dari Long Deres. Kalau Long Deres tak terimak, ini sebuah bentuk pelecehan terhadap kaum hunsa. Pelecehan terhadap sesame manusia, pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia! Long Deres boleh mintak tolong Bang Taheri Noor dari Komnas HAM Pusat untok menjadikan masalah ini sebagai salah satu agenda dalam Sidang Umum PBB!” ucap Mat Belatong.    &lt;br /&gt;   “Macam mane pikeran ente kalau hal ini kite tanyakkan langsong ke Long Deres?“ usul Mat Ketumbi. &lt;br /&gt;   “Benar kate awak tu Ketuk, biar lebeh genah,“ jawab Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Kemudian kedua sahabat kental itu berjalan menuju ke ujung kampung, untuk menemui orang yang bernama Long Deres itu. Rumahnya memang agak di ujung kampung.&lt;br /&gt;   Kehadiran dua sahabat itu diterima Long Deres dengan segala kehangatan dan keramahtamahannya. Ditambah pula dengan gerak dan gaya Long Deres ketika berbicara, tangannya pun ikut bergerak dilemahgemulaikan. Kadang-kadang bibernye sampai teberot-berot kalau ngomong!&lt;br /&gt;   Mat Ketumbi rase dilebuk tatkala Long Deres menepuk pundaknya yang tipis itu sambil berkata,”Lamaknye gak kau Ketuk tak suah ke rumah. Dah kaye kali kau ni, tak suah agik mintak belikan rokok. Dah tak nyaman agik kali kopi di rumah aku ni?“&lt;br /&gt;   “Bukan begitu Long, saye ni hidop macam ayam! Tekikes-tekaes hari ini buat makan hari ini. Besok ngaes sanak-ngaes sinik buat makan anak-beranak besok!“ jawab Mat Ketumbi. &lt;br /&gt;   Adapun Long Deres ini postur body-nya gempal, kalau di sebuah kesebelasan sepakbola, cocok jadi bek ! Dan kehidupan Long Deres, dari segi finansiel, memang lebih makmur dari Mat Ketumbi. Maklum, sebagai waria, ia punya banyak keterampilan. Piawai masak, pintar merias pengantin, pandai menyulam dan lain-lain.  &lt;br /&gt;    Namun tatkala diceritakan perihal ibu-ibu yang akan menyelenggarakan kontes mengenai dirinya, sontak Long Deres tekanjat. Hilang cerita lemah gemulai, muncul cerita meradang.&lt;br /&gt;   “Celake jahanam siape pulak yang punye ide begini. Padahal bukan aku pernah bebuat jahat, khianat dengan ibuk-ibuk tu. Nempah kenak penampar kali! Ini, biasenye yang suke nak ngadekan kegiatan-kegiatan  macam ini bininye Wak Man tu! Cobe jak kalau berani ngolok-ngolok aku, pendeknye kuhancorkan acara yang dibuatnye tu!“ damprat Long Deres.&lt;br /&gt;   Tiba-tiba Mat Ketumbi mengajukan usul,“Baeknye sekarang kite ngagak Pak Kades, biar Pak Kades jak yang nyelesaikannye. Sebab kalau sampai ade yang beramok di kampong kite, pasti masok koran, polisi ikot campor tangan, berat urusannye!“&lt;br /&gt;   “Benar cakap awak tu Ketuk. Bagosnye kite ngagak Pak Kades sekarang ugak Long, biar genah,” ucap Mat Belatong menjawab Mat Ketumbi sekaligus berkata kepada Long Deres.&lt;br /&gt;   “Aa, kalau gituk, tunggu sebentar!“ ucap Long Deres beranjak dari kursinya sambil menyingkap kain panjangnya agar mudah bergerak. Ia masuk ke kamarnya sebentar untuk bersisir dan berbedak!&lt;br /&gt;   Setelah itu ketiganya lalu berjalan menuju ke kantor Kepala Desa.&lt;br /&gt;   Di tengah jalan, tampak anak Mat Ketumbi berlari-lari menemui ayahnya, sembari berkata,”Yah, ayah disuroh Mak balek. Ade datok dari Sungai Kambeng datang!“&lt;br /&gt;   Mat Ketumbi menoleh kepada Mat Belatong ingin mengatakan sesuatu. Tapi telah didahului oleh Mat Belatong,”Awak balek jak, uros dolok ayah mertue awak tu. Kali gak beliau tu saket!“&lt;br /&gt;   Di kantor Pak Kades, Long Deres langsong beleter, menceritakan hal-ikhwal yang tengah dihadapinya. Pak Kades tampak terkejut juga, tapi berupaya menenangkan Long Deres  yang tampak manas benar. “Sabar Long, sabar. Soal kegiatan ibuk-ibuk tu belom ade lapor dengan ana. Tapi tunggu sebentar, ana tanyakkan dolok ke staf ana,” kata Pak Kades. &lt;br /&gt;   Pak Kades keluar ruangan kerjanya, menemui salah seorang stafnya. Dan ternyata stafnya yang bernama Dolek Info itu, telah mendengar kabar tersebut. Bahkan ia tahu pula siapa yang menjadi ketua panitia kontes itu, walaupun surat panitia belum masuk.&lt;br /&gt;   Alhasil, si Dolek disuruh Pak Kades menjemput penyelenggara kontes.&lt;br /&gt;   Ternyata dugaan Long Deres betul, memang istri Wak Man yang menjadi ketua panitia, dan ia datang bersama dua orang ibu lainnya.&lt;br /&gt;   Begitu istri Wak Man masuk ruangan Pak Kades, meja Pak Kades meletop ditepok Long Deres, dan ia langsung beleter nyeranah  istri Wak Man dan kedua temannya.&lt;br /&gt;   Istri Wak Man kaget tak alang-kepalang, seorang rekannya sampai latah berkepanjangan nyebot barang yang tak pantas diucapkan di depan umum!&lt;br /&gt;   Untung Pak Kades segera menengahi dan menyabarkan Long Deres. Kemudian Pak Kades menceritakan pangkal sengketa yang diadukan oleh Long Deres kepada istri Wak Man. &lt;br /&gt;   Mendengar apa yang diungkapkan oleh Pak Kades, balik istri Wak Man yang meradang. “Ini mulot celake jahanam siape yang nyampaikan isu dan fitnah macam ini kepade Long Deres!“ ucap istri Wak Man.&lt;br /&gt;   Kemudian wanita itu berkata,“Maaf Long, ape yang nak kamek kerjekan ni, same sekali tak ade kaet-mengaetnye dengan Long Deres. Same sekali tak ade niat nak ngine ataupon melecehkan Long Deres. Jiwe Long Deres, bagian dari jiwe kamek. Pon selamak ini Long udah banyak membantuk warga kampong kite. Kalaupon Long Deres ade tekaet, tentulah berkenaan dengan rias-merias. Sebab udah pasti, banyak ibuk-ibuk yang mintak tolong Long Deres untok make up, ataupon menjaet pakaian. Sebab yang nak kamek adekan ni Kontes Long Dress atau Kontes Gaun Panjang!”&lt;br /&gt;   Lebih lanjut istri Wak Man bertanya,”Ini mulot celake jahanam siape yang nyampaikan isu sesat ini kepade Long Deres?“&lt;br /&gt;   Long Deres yang tampak terkesima dan menjadi paham atas persoalan yang sebenarnya lalu menjawab sambil menunjuk Mat Belatong,”Ini, tegal Mat Belatong ni becakap, bahwe ibuk-ibuk nak ngadekan Kontes Long Deres, kontes banci macam Long Deres, mangkenye aku ni meradang!“&lt;br /&gt;   “Memang celake sekok ni suke amat mbuat pasal!“ tuding istri Wak Man kepada Mat Belatong. Yang dituding tertunduk, meringkuk seperti orang yang serba salah.&lt;br /&gt;   “Kalau tak ngerti betanyak, kalau tak paham bagos diam. Bodo-bale tu dibagi-bagi, jangan dipakai sorang! Kalau bodo dipakai sorang, inilah akibatnye! Nyaketkan orang laen! Tegal bodo, timbol fitnah!“ damprat istri Wak Man geram. Kalau tak ade Pak Kades, barangkali dikeremosnye muke Mat Belatong.    &lt;br /&gt;   Sambil menunduk Mat Belatong berkata,”Buk, maaf Buk. saye jadi begini pon tegal Mat Ketumbi tu membagikan bodonye ke ana! Pon ibuk jangan cakap begitu. Tak piker ke ibuk akibatnye kalau saye bagikan bodo saye ke orang laen. Ndak ke makin banyak orang bodo-bodo di kampong kite. Akibatnye, name kampong kite pon bise berobah, jadi kampong bodo-bodo! Pak Kades pon bise disebot orang Pak Kades bodo-bodo!“&lt;br /&gt;   “Belatong celake,” ucap istri Wak Man,”tegal ngomong dengan awak ni akupon jadi bingong. Dah rase bodo-bodo gak aku sekarang ni!“ ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                     ( Pontianak, 21 September 2005 )&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-7325410777788298555?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/7325410777788298555/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=7325410777788298555' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/7325410777788298555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/7325410777788298555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-penyebar-isu.html' title='MAT BELATONG PENYEBAR ISU'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-588535093075209388</id><published>2007-07-27T10:39:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.341-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG DAN “DOKTER  SYARAF“</title><content type='html'>Oleh  A. Halim  R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   BAHWA Mat Belatong syarafnya agak korslet, tak banyak orang yang tahu. Oleh sebab itu dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini, setiap tiga bulan sekali ia berkonsultasi kepada dokter ahli syaraf beken Pontianak: dokter Ibnu Suhartono.&lt;br /&gt;   Payahnya, dokter ahli syaraf yang satu ini setiap hari belonggok pasiennya.&lt;span class="fullpost"&gt; Sehingga kalau mau berobat, mesti booking dulu seminggu atau sepuluh hari sebelumnya. Namun Mat Belatong – namanya juga pasien tetap – beroleh keistimewaan: boleh datang kapan saja. Tapi dapat nomor pasien paling buntut, sebelum dokter  itu  “diserbu” oleh belasan sales obat!&lt;br /&gt;   Suatu malam, setelah dipersilahkan masuk oleh amoy resepsionis, Mat Belatong nongol di pintu masuk ruang praktik dokter tersebut sembari memberi salam kepada dokter yang sudah dua kali naik haji itu. Sang dokter membalas salam, dan mohon maaf karena masih bicara lewat handphone-nya. Berbagai pertanyaan dan instruksi diberikannya lewat HP.  &lt;br /&gt;   “Ini pasti beliau tengah berhubungan dengan perawat jaga di salah satu rumah sakit. Tentu ada pasien gawat!“ pikir Mat Blatong.&lt;br /&gt;   Setelah selesai memberi instruksi, lalu dokter Ibnu mematikan HP-nya.  &lt;br /&gt;   “Lama tak ke sini, saya pikir sudah jadi Bupati Kapuas Hulu!“ ucap dokter Ibnu sembari terkekeh. Dia tahu beberapa waktu lalu Mat Belatong sering pulang-pergi ke Putussibau, untuk ambil bagian dalam menyukseskan gawai akbar MTQ XXI Tingkat Provinsi Kalbar  di Putussibau. &lt;br /&gt;   “Alah Bapak ni. Diangkat orang jadi bupati pon ana tak maok. Entah-entahlah kalau Pak Ibnu maok jadi Kepala Dinas Kesehatan Kapuas Hulu, baruklah ana bepiker maok atau ndak jadi bupati di sanak!“ jawab Mat Belatong. “Ana kan tak bise jaoh dari Pak Ibnu!“ lanjut Mat Belatong. Dokter Ibnu kembali terkekeh.&lt;br /&gt;   “Saket Pak jadi bupati, apelagik sekarang ni pemilehan langsong. Yang menang jak saket, apelagik yang kalah! Dan ana tahu, jadi bupati tu bukan dapat nyamannye jak tapi dapat saket gak. Apelagik kalau jadi bupati yang merakyat. Begitu celek mate, dah ade tamu, tak habes-habes sampai malam butak! Belom agik kalau turon ke daerah. Tengah malam, jam 02.00, jam 03.00, rakyatnye nyaman tidok bekoroh, bupati maseh tebanting-banting, lintang-pukang di tengah jalan naek mobel! Kalau jadi bupati, apelagik di daerah pedalaman, perlu pulak keterampilan khusus: bise tidok dudok di mobel walaupon tebanting-banting di jalan rosak. Ana sendirik, kalau naek mobel malam butak, dah beratos kali nguap, tapi mane bise tidok kenak goncangan macam itu! Jangan  Pak Ibnu, Bapak jangan nak jadi bupati.  Saket! Jadi walikota pon begitu, kalau tak tahu ape yang harus diperbuat untok rakyat. Membuat dose jak!“ ucap Mat Belatong. Dokter Ibnu terkekeh-kekeh lagi.  &lt;br /&gt;   “Disuroh jadi dokter ahli syaraf macam Pak Ibnu ini pon ana tak maok. Saket gak! Biar banyak duet! Ana tak mampu betemu dengan segale macam penyaket syaraf. Pagi-pagi dah bangon, bekelileng ke romah saket merikse pasien. Belom agik nguros pasien yang harus operasi, harus ditebok kepalaknye! Belom agik melayani pasien di tempat praktek macam ini. Belom agik tengah malam butak abes praktek harus ke rumah saket agik, ngurus pasien gawat. Belom agik harus nerimak belasan orang sales obat, padahal hari dah tengah malam! Ini sekarang dah hamper jam 11 malam, di luar tu belonggok belasan sales yang nak ketemu Bapak. Kalau macam ini mane ana mampu.  Ndak jadi bupati, ndak jadi dokter syaraf pon, syaraf ana dah karot. Apelagik kalau jadi bupati, jadi dokter terkenal,” lanjut Mat Belatong. &lt;br /&gt;   Dokter Ibnu tinggal terkekeh-kekeh saja mendengar celoteh Mat Belatong. Dia maklum, “orang syaraf“ memang tidak normal. Banyak orang merasa dirinya normal, padahal “syaraf “, banyak orang “syaraf“ tapi masih bergaya normal. Contoh nyatanya: Mat Belatong!     &lt;br /&gt;   Hanya saja stadium yang dialami oleh Mat Belatong ini: orang “syaraf“ yang tahu dirinya “syaraf“. Masih punya kesadaran! Tahu diri!&lt;br /&gt;   Setelah itu, dokter Ibnu bertanya,”Pak Mat sekarang keluhannya apa?“&lt;br /&gt;   “Biase Pak, maseh perlu Feprax untok bise tidok nyenyak! Kalau ndak, tidok sih tidok, tapi mimpi sambong-menyambong yang tak tentu pasal!“ jawab Mat Belatong. Dokter Ibnu terkekeh-kekeh lagi.&lt;br /&gt;   “Coba baring dulu!“ ucap dokter Ibnu.&lt;br /&gt;   Mat Belatong melepaskan jas biru tua-nya yang berharga sekitar Rp 25.000,-.  Tinggal kaos oblong.&lt;br /&gt;   Perkara jas ini pun, bisa membuat orang lain risau melihatnya. Tapi dokter Ibnu tak asing lagi, sebab setiap datang konsultasi, tetap jas itu juga yang dipakainya. Kalau orang normal, berjas, berdasi untuk ke acara resmi. Tapi Mat Belatong tak peduli tempat. Ia berkaos oblong hitam, celana training hitam, sandal jepit, pakai jas! Merusak tatanan berbusana yang berlaku umum! Mungkin terkategori “aliran sesat“ di mata para ahli mode dan fashion! Kalau ke daerah-daerah, di rumah panjang ataupun di bagan nelayan, jas itu juga dipakai untuk tidur! Jas untuk segala cuaca! Bininya sampai malu melihat jas yang itu ke itu saja dipakai. Sampai bebueh mulot nyuroh Mat Belatong membeli jaket: tadak dipedulikannye. Malah bininye kenak leter berkepanjangan! Bini Mat Belatong memang buntat manusie, tahan idop berdampingan dengan “orang pening”, yang tiba-tiba bisa berubah jadi: tsunami!  &lt;br /&gt;   Setelah di tempat baring, Mat Belatong disuruh angkat tangan, menggenggam tangan dokter, angkat kaki. Semuanya normal. Tensi darah terbilang normal: 150 per 90.&lt;br /&gt;   Tatkala dokter Ibnu memegang bahu dan tengkuknya, dokter berkata,”Ini masih tegang.”&lt;br /&gt;   Setelah duduk kembali, dokter Ibnu berkata sambil ketawa,”Pak Mat ini bekerja dan berpikir seperti orang yang masih muda, tetapi usia sudah tidak sesuai lagi. Dan jadi orang yang selalu diburu deadline! Sehingga waktu tidur, apa yang dipikirkan masih terbawa!“  &lt;br /&gt;   “Betol Pak Dokter. Contoh orang tua yang tak sadar diri, sayalah itu. Sampai-sampai, saya pernah disindir secara halus oleh Imam Masjid Mujahiddin – Bapak Drs H.Thamrin Abdul Salam – yang mungkin risih melihat rambut saya agak gondrong. Sambil melirik rambut saya yang mencuat di balik kopiah ia berkata:  Ente ni lawar, macam anak mude!  Jumat berikutnya ia melihat lagi rambut saya belum berubah, dan sambil bersalaman ia berkata: Ente ini bekelahi ke ape dengan tukang gunting!? Jumat berikutnya lagi, rambut saya belum juga berubah, sehingga beliau menyindir lagi: Orang Islam kalau bekelahi, tak betegor, tak boleh lewat dari tige hari. Ente ni ana tengok, musoh teros dengan tukang gunting! Dan saya menjawab: Mintak ampon ana! Kalau Pak Thamren naek mimbar, kalau nak nunjok orang tue yang tak sadar dirik, tunjok jak ana! Pak Thamren ngelakak ketawak sambel bekate: Celake!“ cerita Mat Belatong. Dokter Ibnu terkekeh-kekeh.&lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong berkata,”Daripade Pak Ibnu diserbu sales, bagos kite becerite jak!“ Lalu Mat Belatong meneruskan ceritanya,”Ade yang ana maok tanyakkan dengan Pak Ibnu. Mungkin gak termasok penyaket syaraf. Yaitu, ana ni tak pernah merase tue! Padahal cucuk dah duak! Dan kawan ana, umumnye orang mude, maklom para pekerja seni. Yang tue-tue udah balek dolok, bahkan yang lebeh mude daripade ana dah banyak yang meninggal! Alhamdulillah Pak Ibnu, kalau soal bejalan, kalau soal di lapangan, yang mude-mude belom tentu mampu melawan ana. Naek Buket Tekenang di Danau Sentarum ana maseh lancar. Kawan yang lebeh mude, baruk separo jalan jak dah posoh-posoh, balek turon!“&lt;br /&gt;   Sambil mendengar cakap Mat Belatong, dokter Ibnu terkekeh-kekeh terus. Apakah karena cerita Mat Belatong memang cukup lucu untuk membuat orang tertawa, atau: justru dokter Ibnu mentertawakan perangai yang tengah dipertontonkan oleh seorang pasien syaraf! Wallahu alam bissawab.   &lt;br /&gt;   Dokter ahli syaraf itu kemudian berkata,”Alhamdulillah Pak Mat, itu semua karunia Allah. Berjiwa muda, bagus! Hanya saja kita perlu ingat, bahwa organ fisik kita termasuk jantung, syaraf, bisa berkurang kemampuannya karena faktor usia. Kalau kita lupa, dan menggunakannya di luar batas kemampuan yang dimilikinya, bisa berakibat jelek!“    &lt;br /&gt;   “Iye Pak, makenye ana tak maok maen bal, sebab ade kawan ana yang gem waktu maen bal. Termasok ape yang dialami oleh bintang felam kite Bunyamin Suaeb!“ ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Sambil terkekeh dokter Ibnu berkata,“Bukan cuma main bola Pak Mat, tapi juga main dan kerja lainnya yang terbilang berat. Jangan forsirlah!“ &lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong berkata,”Ana piker memang tak perlu forsir, pon dalam becakap-cerite macam ini. Hari pon dah malam gak. Saye balek ke rumah, makan obat, bise langsong tidok! Pak Ibnu maseh harus berhadapan agik dengan belasan sales, pon dah balek ke rumah bise-bise ade perawat ngebel dari rumah saket! Memang saket gak jadi dokter!“&lt;br /&gt;   Sebelum beranjak meninggalkan dokter Ibnu, sambil bersalaman masih sempat-sempatnya Mat Belatong memberi nasihat,”Pak Ibnu pon jangan gak forsir amat, jangan sampai berobah status: dari dokter ahli syaraf menjadi  dokter syaraf !“&lt;br /&gt;   Dokter Ibnu ngelakak ketawa, dan menjawab,”Insya Allah, terima kasih Pak Mat!“&lt;br /&gt;   “Assalamu ‘alaikum Wr Wb. Alaikum salam Wr Wb!“ keduanya berbalas salam. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                     ( Pontianak 25 Agustus 2005 )&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-588535093075209388?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/588535093075209388/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=588535093075209388' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/588535093075209388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/588535093075209388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-dan-dokter-syaraf.html' title='MAT BELATONG DAN “DOKTER  SYARAF“'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-5122069906098860426</id><published>2007-07-27T10:38:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.341-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'></title><content type='html'>MAT BELATONG DAN “DOKTER  SYARAF“&lt;br /&gt;Oleh  A. Halim  R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   BAHWA Mat Belatong syarafnya agak korslet, tak banyak orang yang tahu. Oleh sebab itu dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini, setiap tiga bulan sekali ia berkonsultasi kepada dokter ahli syaraf beken Pontianak: dokter Ibnu Suhartono.&lt;br /&gt;   Payahnya, dokter ahli syaraf yang satu ini setiap hari belonggok pasiennya. Sehingga kalau mau berobat, mesti booking dulu seminggu atau sepuluh hari sebelumnya. Namun Mat Belatong – namanya juga pasien tetap – beroleh keistimewaan: boleh datang kapan saja. Tapi dapat nomor pasien paling buntut, sebelum dokter  itu  “diserbu” oleh belasan sales obat!&lt;br /&gt;   Suatu malam, setelah dipersilahkan masuk oleh amoy resepsionis, Mat Belatong nongol di pintu masuk ruang praktik dokter tersebut sembari memberi salam kepada dokter yang sudah dua kali naik haji itu. Sang dokter membalas salam, dan mohon maaf karena masih bicara lewat handphone-nya. Berbagai pertanyaan dan instruksi diberikannya lewat HP.  &lt;br /&gt;   “Ini pasti beliau tengah berhubungan dengan perawat jaga di salah satu rumah sakit. Tentu ada pasien gawat!“ pikir Mat Blatong.&lt;br /&gt;   Setelah selesai memberi instruksi, lalu dokter Ibnu mematikan HP-nya.  &lt;br /&gt;   “Lama tak ke sini, saya pikir sudah jadi Bupati Kapuas Hulu!“ ucap dokter Ibnu sembari terkekeh. Dia tahu beberapa waktu lalu Mat Belatong sering pulang-pergi ke Putussibau, untuk ambil bagian dalam menyukseskan gawai akbar MTQ XXI Tingkat Provinsi Kalbar  di Putussibau. &lt;br /&gt;   “Alah Bapak ni. Diangkat orang jadi bupati pon ana tak maok. Entah-entahlah kalau Pak Ibnu maok jadi Kepala Dinas Kesehatan Kapuas Hulu, baruklah ana bepiker maok atau ndak jadi bupati di sanak!“ jawab Mat Belatong. “Ana kan tak bise jaoh dari Pak Ibnu!“ lanjut Mat Belatong. Dokter Ibnu kembali terkekeh.&lt;br /&gt;   “Saket Pak jadi bupati, apelagik sekarang ni pemilehan langsong. Yang menang jak saket, apelagik yang kalah! Dan ana tahu, jadi bupati tu bukan dapat nyamannye jak tapi dapat saket gak. Apelagik kalau jadi bupati yang merakyat. Begitu celek mate, dah ade tamu, tak habes-habes sampai malam butak! Belom agik kalau turon ke daerah. Tengah malam, jam 02.00, jam 03.00, rakyatnye nyaman tidok bekoroh, bupati maseh tebanting-banting, lintang-pukang di tengah jalan naek mobel! Kalau jadi bupati, apelagik di daerah pedalaman, perlu pulak keterampilan khusus: bise tidok dudok di mobel walaupon tebanting-banting di jalan rosak. Ana sendirik, kalau naek mobel malam butak, dah beratos kali nguap, tapi mane bise tidok kenak goncangan macam itu! Jangan  Pak Ibnu, Bapak jangan nak jadi bupati.  Saket! Jadi walikota pon begitu, kalau tak tahu ape yang harus diperbuat untok rakyat. Membuat dose jak!“ ucap Mat Belatong. Dokter Ibnu terkekeh-kekeh lagi.  &lt;br /&gt;   “Disuroh jadi dokter ahli syaraf macam Pak Ibnu ini pon ana tak maok. Saket gak! Biar banyak duet! Ana tak mampu betemu dengan segale macam penyaket syaraf. Pagi-pagi dah bangon, bekelileng ke romah saket merikse pasien. Belom agik nguros pasien yang harus operasi, harus ditebok kepalaknye! Belom agik melayani pasien di tempat praktek macam ini. Belom agik tengah malam butak abes praktek harus ke rumah saket agik, ngurus pasien gawat. Belom agik harus nerimak belasan orang sales obat, padahal hari dah tengah malam! Ini sekarang dah hamper jam 11 malam, di luar tu belonggok belasan sales yang nak ketemu Bapak. Kalau macam ini mane ana mampu.  Ndak jadi bupati, ndak jadi dokter syaraf pon, syaraf ana dah karot. Apelagik kalau jadi bupati, jadi dokter terkenal,” lanjut Mat Belatong. &lt;br /&gt;   Dokter Ibnu tinggal terkekeh-kekeh saja mendengar celoteh Mat Belatong. Dia maklum, “orang syaraf“ memang tidak normal. Banyak orang merasa dirinya normal, padahal “syaraf “, banyak orang “syaraf“ tapi masih bergaya normal. Contoh nyatanya: Mat Belatong!     &lt;br /&gt;   Hanya saja stadium yang dialami oleh Mat Belatong ini: orang “syaraf“ yang tahu dirinya “syaraf“. Masih punya kesadaran! Tahu diri!&lt;br /&gt;   Setelah itu, dokter Ibnu bertanya,”Pak Mat sekarang keluhannya apa?“&lt;br /&gt;   “Biase Pak, maseh perlu Feprax untok bise tidok nyenyak! Kalau ndak, tidok sih tidok, tapi mimpi sambong-menyambong yang tak tentu pasal!“ jawab Mat Belatong. Dokter Ibnu terkekeh-kekeh lagi.&lt;br /&gt;   “Coba baring dulu!“ ucap dokter Ibnu.&lt;br /&gt;   Mat Belatong melepaskan jas biru tua-nya yang berharga sekitar Rp 25.000,-.  Tinggal kaos oblong.&lt;br /&gt;   Perkara jas ini pun, bisa membuat orang lain risau melihatnya. Tapi dokter Ibnu tak asing lagi, sebab setiap datang konsultasi, tetap jas itu juga yang dipakainya. Kalau orang normal, berjas, berdasi untuk ke acara resmi. Tapi Mat Belatong tak peduli tempat. Ia berkaos oblong hitam, celana training hitam, sandal jepit, pakai jas! Merusak tatanan berbusana yang berlaku umum! Mungkin terkategori “aliran sesat“ di mata para ahli mode dan fashion! Kalau ke daerah-daerah, di rumah panjang ataupun di bagan nelayan, jas itu juga dipakai untuk tidur! Jas untuk segala cuaca! Bininya sampai malu melihat jas yang itu ke itu saja dipakai. Sampai bebueh mulot nyuroh Mat Belatong membeli jaket: tadak dipedulikannye. Malah bininye kenak leter berkepanjangan! Bini Mat Belatong memang buntat manusie, tahan idop berdampingan dengan “orang pening”, yang tiba-tiba bisa berubah jadi: tsunami!  &lt;br /&gt;   Setelah di tempat baring, Mat Belatong disuruh angkat tangan, menggenggam tangan dokter, angkat kaki. Semuanya normal. Tensi darah terbilang normal: 150 per 90.&lt;br /&gt;   Tatkala dokter Ibnu memegang bahu dan tengkuknya, dokter berkata,”Ini masih tegang.”&lt;br /&gt;   Setelah duduk kembali, dokter Ibnu berkata sambil ketawa,”Pak Mat ini bekerja dan berpikir seperti orang yang masih muda, tetapi usia sudah tidak sesuai lagi. Dan jadi orang yang selalu diburu deadline! Sehingga waktu tidur, apa yang dipikirkan masih terbawa!“  &lt;br /&gt;   “Betol Pak Dokter. Contoh orang tua yang tak sadar diri, sayalah itu. Sampai-sampai, saya pernah disindir secara halus oleh Imam Masjid Mujahiddin – Bapak Drs H.Thamrin Abdul Salam – yang mungkin risih melihat rambut saya agak gondrong. Sambil melirik rambut saya yang mencuat di balik kopiah ia berkata:  Ente ni lawar, macam anak mude!  Jumat berikutnya ia melihat lagi rambut saya belum berubah, dan sambil bersalaman ia berkata: Ente ini bekelahi ke ape dengan tukang gunting!? Jumat berikutnya lagi, rambut saya belum juga berubah, sehingga beliau menyindir lagi: Orang Islam kalau bekelahi, tak betegor, tak boleh lewat dari tige hari. Ente ni ana tengok, musoh teros dengan tukang gunting! Dan saya menjawab: Mintak ampon ana! Kalau Pak Thamren naek mimbar, kalau nak nunjok orang tue yang tak sadar dirik, tunjok jak ana! Pak Thamren ngelakak ketawak sambel bekate: Celake!“ cerita Mat Belatong. Dokter Ibnu terkekeh-kekeh.&lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong berkata,”Daripade Pak Ibnu diserbu sales, bagos kite becerite jak!“ Lalu Mat Belatong meneruskan ceritanya,”Ade yang ana maok tanyakkan dengan Pak Ibnu. Mungkin gak termasok penyaket syaraf. Yaitu, ana ni tak pernah merase tue! Padahal cucuk dah duak! Dan kawan ana, umumnye orang mude, maklom para pekerja seni. Yang tue-tue udah balek dolok, bahkan yang lebeh mude daripade ana dah banyak yang meninggal! Alhamdulillah Pak Ibnu, kalau soal bejalan, kalau soal di lapangan, yang mude-mude belom tentu mampu melawan ana. Naek Buket Tekenang di Danau Sentarum ana maseh lancar. Kawan yang lebeh mude, baruk separo jalan jak dah posoh-posoh, balek turon!“&lt;br /&gt;   Sambil mendengar cakap Mat Belatong, dokter Ibnu terkekeh-kekeh terus. Apakah karena cerita Mat Belatong memang cukup lucu untuk membuat orang tertawa, atau: justru dokter Ibnu mentertawakan perangai yang tengah dipertontonkan oleh seorang pasien syaraf! Wallahu alam bissawab.   &lt;br /&gt;   Dokter ahli syaraf itu kemudian berkata,”Alhamdulillah Pak Mat, itu semua karunia Allah. Berjiwa muda, bagus! Hanya saja kita perlu ingat, bahwa organ fisik kita termasuk jantung, syaraf, bisa berkurang kemampuannya karena faktor usia. Kalau kita lupa, dan menggunakannya di luar batas kemampuan yang dimilikinya, bisa berakibat jelek!“    &lt;br /&gt;   “Iye Pak, makenye ana tak maok maen bal, sebab ade kawan ana yang gem waktu maen bal. Termasok ape yang dialami oleh bintang felam kite Bunyamin Suaeb!“ ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Sambil terkekeh dokter Ibnu berkata,“Bukan cuma main bola Pak Mat, tapi juga main dan kerja lainnya yang terbilang berat. Jangan forsirlah!“ &lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong berkata,”Ana piker memang tak perlu forsir, pon dalam becakap-cerite macam ini. Hari pon dah malam gak. Saye balek ke rumah, makan obat, bise langsong tidok! Pak Ibnu maseh harus berhadapan agik dengan belasan sales, pon dah balek ke rumah bise-bise ade perawat ngebel dari rumah saket! Memang saket gak jadi dokter!“&lt;br /&gt;   Sebelum beranjak meninggalkan dokter Ibnu, sambil bersalaman masih sempat-sempatnya Mat Belatong memberi nasihat,”Pak Ibnu pon jangan gak forsir amat, jangan sampai berobah status: dari dokter ahli syaraf menjadi  dokter syaraf !“&lt;br /&gt;   Dokter Ibnu ngelakak ketawa, dan menjawab,”Insya Allah, terima kasih Pak Mat!“&lt;br /&gt;   “Assalamu ‘alaikum Wr Wb. Alaikum salam Wr Wb!“ keduanya berbalas salam. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                     ( Pontianak 25 Agustus 2005 )&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-5122069906098860426?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/5122069906098860426/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=5122069906098860426' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/5122069906098860426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/5122069906098860426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-dan-dokter-syaraf-oleh.html' title='&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-6307032138367629824</id><published>2007-07-27T10:37:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.341-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG DI TENGAH PERBEDAAN</title><content type='html'>Oleh A. Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   MAT BELATONG tengah membaca buku kecil “Surat ke Baghdad“ yang antara lain bercerita : &lt;br /&gt;   Hoja Nasruddin Affandi bersama putranya melakukan suatu perjalanan. Hoja Nasruddin lebih suka menyuruh anaknya menunggang keledai dan ia berjalan kaki.&lt;br /&gt;   Di tengah perjalanan mereka mendengar  beberapa orang berkata: Lihatlah anak yang bahagia itu! Itulah pemuda masa kini. Mereka tidak hormat kepada orang tua. Dia menunggang keledai, sementara ayahnya menderita berjalan kaki!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   Mendengar komentar itu putra Hoja Nasruddin merasa sangat malu. Lalu ia bersikeras untuk berjalan kaki, dan ayahnya naik keledai.  Maka Hoja Nasruddin pun naik keledai, sedangkan anaknya berjalan di sampingnya.&lt;br /&gt;   Tak lama, mereka berpapasan dengan beberapa orang lainnya, yang berkata: Lihatlah itu! Kasihan anak itu harus berjalan kaki, sementara ayahnya naik keledai!&lt;br /&gt;   Setelah melewati orang-orang tersebut, Hoja Nasruddin berkata kepada anaknya: Anakku, tampaknya yang paling baik kita lakukan adalah kita berjalan kaki bersama-sama. Dengan demikian tidak akan ada lagi seorang pun yang bisa mengeluhkan kita.&lt;br /&gt;   Mereka pun meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Di jalan yang menurun mereka bertemu dengan beberapa orang yang mentertawakan mereka dan berkata: Lihatlah mereka yang totol itu! Keduanya berjalan kaki di bawah terik matahari, dan tiada seorang pun dari mereka yang menunggang keledai!&lt;br /&gt;   Kemudian Hoja berkata kepada anaknya: Itulah, betapa susahnya lari dari perbedaan pendapat manusia! &lt;br /&gt;   Mat Belatong ingat kepada sebuah perumpamaan yang sudah sangat umum, berkenaan dengan perbedaan. Yaitu cerita tentang sejumlah orang buta yang memegang seekor gajah. Ada yang memegang kakinya, ada yang memegang kupingnya, ada yang memegang belalainya, ada yang memegang ekornya .&lt;br /&gt;   Setelah itu, tatkala ditanya bagaimana tentang bentuk binatang gajah itu, maka jawaban mereka pun berbeda-beda. Tergantung di mana mereka berdiri dan apa yang dipegangnya!&lt;br /&gt;   Cerita ini menurut Mat Belatong, bisa terjadi di kalangan orang buta. Baik buta fisik maupun buta mata hati! Dan si buta itu tak ingin “celik”, dan tak ingin “berjalan”! &lt;br /&gt;    Daripada menjadi manusia buta fisik maupun buta mata hati, lebih baik menjadi seekor bakteri! Sebab seekor bakteri yang hinggap di kuping, di belalai, di kaki maupun di ekor  gajah, biarpun buta tetapi tidak buta mata hati. Ia punya tujuan, atau naluri. Bukan hanya sekadar ingin hinggap dan memegang gajah, tetapi juga harus “berjuang” dan “berjalan” menembus pori kulit gajah, kemudian mengalir lewat pembuluh darah. &lt;br /&gt;   Apa yang terjadi kemudian? Ternyata semua bakteri, baik yang hinggap di kaki, di kuping, di belalai gajah, setelah melewati perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya bertemu di jantung! Tatkala semua bakteri telah sampai ke “jantung“ gajah, niscaya tiada lagi kalut-ribut tentang gajah itu lebar, gajah itu bulat panjang, gajah itu bulat besar macam pohon! Mereka fana dalam kearifan, hilang debat, sirna perbedaan!&lt;br /&gt;   Jantung, makna fisiknya dalam bahasa Arab adalah: qalb. Dan qalb atau kalbu itu, kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “hati”. Padahal senyata-nyata bentuk fisiknya adalah: jantung! Dan di balik makna fisik itu ada makna yang lebih dalam yaitu: hati sanubari! Dalam makna inilah hati itu sebagai “rumah Allah: Baitullah“, atau dikenal juga dengan sebutan “Latifah Rabbani“.&lt;br /&gt;   Bagi para peniti jalan ruhani, jantung adalah salah satu “latifah“ atau salah satu titik “cakra“ (sumber energi) di dalam diri manusia!&lt;br /&gt;   Perjalanan menuju ke “ketiadaan perbedaan“ itu, adalah sebuah perjalanan intensif yang panjang. Secara fisik, sebuah perjalanan seperti yang dilakukan oleh para bakteri itu. Namun perjalanan yang sesungguhnya adalah perjalanan ke dalam diri, menemukan: hati! Sebuah pekerjaan berat memang harus dilakukan, yaitu melawan diri, membersihkan hati dari segala kekotoran dan penyakitnya!&lt;br /&gt;   Contoh populer yang tidak rumit, ambil saja apa yang telah dialami oleh Anand Krishna pria berdarah India kelahiran Solo.&lt;br /&gt;   Menurutnya: Saya pernah mendalami aliran-aliran dari berbagai agama yang ikut bicara tentang meditasi. Saya tidak puas, sampai saya bertemu dengan guru saya Sheikh Baba dan lewat beliau menemukan meditasi sufi yang dikembangkan oleh Mustafa Jallaluddin Rumi (sekitar 1200 M). Di situ saya menemukan betapa nikmatnya meditasi. &lt;br /&gt;   Pun Anand Krishna berkata: Mereka yang masih melihat perbedaan, melihat kehidupan dari satu sisi, memilah suka dari duka, kelahiran dari kematian, belum mengalami kelahiran spiritualitas dalam dirinya. Mereka masih mandul!&lt;br /&gt;   Mau memahami “ketiadaan perbedaan“ sampai ke tahap yang “dahsyat“, baca saja kitab Al Mawaqif karya An-Nafri! Lembut sedikit, bisa diperoleh dari kitab-kitab Syaikh Abdul Qadir Jailani, ataupun Syaikh Fariduddin Attar. &lt;br /&gt;   Mengucapkan kalimat “berbeda pendapat adalah rahmat“ memang mudah di lidah, gampang: sebagai basa-basi! Namun untuk menjalankannya sampai kepada “kita sepakat untuk berbeda pendapat“ dan “kita tetap bersatu“ bukanlah hal yang mudah. &lt;br /&gt;   Dan perbedaan pendapat bukanlah hal baru, bahkan telah ada sejak zaman Rasulullah masih hidup. Sekelompok kalangan sahabat Nabi Muhammad SAW, ada yang dikatakan sebagai orang-orang riya dan munafik!&lt;br /&gt;   Beda pendapat dalam sejarah, tak jarang mengakibatkan pengucilan, pengusiran, pengkafiran bahkan pembunuhan dan peperangan.&lt;br /&gt;   Iman Al-Ghazali pernah dicap sebagai kafir, dan kitab Ihya Ulumuddin pernah dibakar! Di antara orang-orang yang mensponsori cap kafir dan menyuruh bakar kitab Ihya Ulumuddin itu adalah  Al-Qadhi ‘Iyadh dan Ibnu Rusyd.&lt;br /&gt;   Al-Ghazali yang digelar Hujjat al-Islam itu hanya membalas dengan doa agar Allah menimpakan kehancuran kepada Al-Qadhi ‘Iyadh. Entah secara “kebetulan“ tatkala doa itu naik ke langit, Al-Qadhi ‘Iyadh mendadak meninggal di kamar mandi!&lt;br /&gt;   Syaikh Abu Yazid Al-Busthami, pernah diusir dari tanah kelahirannya sampai tujuh kali, oleh orang-orang yang tidak menyukainya. Tokoh yang memprovokasi orang untuk membencinya itu adalah imam Al-Husain bin Isa Al-Busthami.&lt;br /&gt;   Setelah Al-Husain meninggal, barulah Abu Yazid pulang ke Bustham. Ternyata ia dicintai dan dimuliakan oleh masyarakat negerinya!  &lt;br /&gt;   Dalam bermazhab pun sesungguhnya orang tak perlu ngotot-ngototan, sebab  Muhammad bin Idris Al-Syafii yang mazhabnya banyak dianut di negeri kita ini – Mazhab Syafii – pernah menjadi murid Imam Malik. Bahkan Imam Safii yang lahir bertepatan dengan wafatnya Imam Abu Hanifah, sempat pula belajar ilmu fikih kepada salah seorang murid Imam Abu Hanifah. &lt;br /&gt;   Sebuah mutiara dari ucapan Al-Syafii adalah: Tidak ada sesuatu yang lebih indah disandang oleh seorang ulama melebihi  kemiskinan dan sifat qanaah (menerima apa adanya), serta sikap rela memiliki dua hal itu. &lt;br /&gt;   Al-Syafii tak risih bergaul dengan kaum sufi, sebab beliau sendiri pernah bergaul dan berkawan dengan para sufi selama sepuluh tahun. Dan beliau berkata,”Aku tidak mendapatkan sesuatu manfaat dari mereka, kecuali dua kalimat berikut ini: waktu itu pedang , dan sifat terjaga paling utama adalah tidak menemukan apa-apa!“      &lt;br /&gt;   Imam Ahmad bin Hambal – tokoh Mazhab Hambali – pun pernah pula menimba ilmu dari Imam Safii.&lt;br /&gt;   Pada zaman pemerintahan Khalifah Al-Muktashim – Khalifah Abbasiyah – Imam  Ahmad bin Hambal pernah dipenjara selama 28 bulan, karena ia berada di pihak yang berbeda paham dengan pihak Al-Muktashim. Setiap malam dia dicambuk, disiksa, dibanting dan diinjak-injak penjaga tahanannya. Hal yang lebih berat dirasakannya lagi tatkala Al-Muktashim meninggal dan digantikan oleh Al-Watsiq. Baru setelah khalifah  itu meninggal, setelah pucuk pemerintahan beralih ke tangan Khalifah Al-Mutawakkil, Ahmad bin Hambal dibebaskan.&lt;br /&gt;   Tentang “mudah”-nya satu pihak mengkafirkan pihak atau orang lain, Taqiuddin Al-Subki seorang ulama yang mendapat gelar Syaikh al-Islam antara lain berkata,”Mengkafirkan orang lain yang masih mengucapkan ‘La ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah‘ adalah suatu perkara yang tidak boleh dianggap remeh!“   &lt;br /&gt;   Tokoh sufi kontroversial Husain Al-Halaj dihukum mati lantaran tuduhan yang dilayangkan oleh  Amr bin Utsman Al-Makki. Beda paham dan pendapat bisa menjurus kepada perebutan pengaruh dan kekuasaan, contohnya terjadi pada Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib – cucu Rasulullah – yang terbunuh dan dipenggal kepalanya, pada usia 56 tahun. Beliau mempunyai lima orang anak dan mempunyai banyak keturunan, yang hingga kini menurunkan para habib, sayyid ataupun syarif!&lt;br /&gt;   Tentang perselisihan dan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan umat Islam, Abdul Wahhab Al-Sya’rani, seorang ulama besar Mesir abad ke-10 berkata: Sudah menjadi hikmah ketuhanan bahwa tidak ada satu pun orang yang diyakini kebenarannya  seratus persen dan dapat diterima oleh semua orang. Ini merupakan rahasia yang tersembunyi. Karena jika semua orang membenarkannya, tentu ia tidak akan mendapat pahala bersabar atas pendustaan orang-orang yang mendustakannya. Sebaliknya, jika semua orang mendustakannya, tentu ia akan kehilangan pahala bersyukur atas adanya orang-orang yang membenarkannya serta mengikuti jejaknya. ***&lt;br /&gt;                                                                                                                                                                        (Pontianak, 1 Agustus 2005 )&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-6307032138367629824?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/6307032138367629824/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=6307032138367629824' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/6307032138367629824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/6307032138367629824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-di-tengah-perbedaan.html' title='MAT BELATONG DI TENGAH PERBEDAAN'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-2400432075640730582</id><published>2007-07-27T10:35:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.341-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>PAK AWENG TUKANG JAM</title><content type='html'>Oleh  A. Halim  R.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;   MAT BELATONG jerak udah membetulkan jam tangan sembarangan. Soalnya, sudah pengalaman waktu memperbaiki jam tangan merek Titoni-Cosmo King warisan dari ayahnya. Rusaknya sedikit, dibetulkan jadi “porak-peranda“! Cuma sempat jalan 3 hari, habis itu tombol pemutar jarumnyapun bisa lepas!&lt;span class="fullpost"&gt; Tukang jamnya mungkin termasuk kelas: tikos membetolkan labuk!&lt;br /&gt;   Terakhir ini jam tangan yang biasa dipakainya sering ngadat. Hidup 2-3 menit mati lagi. Digoyang-goyang, seperti ada barang lepas di dalamnya. Gimane akal, pikir Mat Belatong. Dibetolkan sembarangan, tadaklah. Keledai jak tak maok masok  lobang duak kali. Dan jam yang satu ini ade gak mereknye: Maurice Lacroix!&lt;br /&gt;   Akhirnya, waktu bertemu dengan kawan kentalnya Asai, Mat Belatong bertanya. Sebab Mat Belatong tahu, Asai ini kecuali terbilang boss besar, juga termasuk “kaki pasar“. Seluk beluk pasar, yang orang tak tahu, dia tahu!&lt;br /&gt;   Dan Asai yang tak suka menunda waktu itu, malam itu juga menunjuki Mat Belatong tempat ia biasa membetulkan jam. Tempatnya di dereten ruko sederhana, bukan di jalan besar. Ruko tersebut sudah tutup, soalnya sudah jam 22.00 WIB.&lt;br /&gt;   “Pokoknye Bang Mat bawak jak jam tu ke sinik! Besok kalau sempat saye kasik tahu die, ade kawan maok membetolkan jam ke sinik,”  ucap Asai. “Tapi Bang Mat jangan tekejot, orang yang membetolkan jam tu aneh. Orang tue, namenye Pak Aweng. Die kerje tu macam iseng jak, bukan benar-benar macam encarik duet! Kerjenye pon cume dari pagi sampai jam 12.00, abes itu tutop. Pernah saye membetolkan jam, dan tak perlu tunggu lamak-lamak. Begitu jam dikasik, langsong dibukaknye. Diutak-atek sikit, diganti beterai, dah betol. Sekali saye tanyak berape bayarnye, die bilang: duak puloh ribu jak. Saye tekejot gak, ngape murah benar. Padahal jam tu jam bagos, saye beli di Singepor! Tapi ape jawab Pak Aweng: Eh, aku kan cume ganti baterai. Kau bayar harge baterai jak! “ cerita Asai.&lt;br /&gt;   Dua hari kemudian, sekitar jam 09.00 WIB, Mat Belatong datang untuk mencari Pak Aweng tukang jam itu. Bingung juga, sebab di tempat yang ditunjuki Asai itu yang terlihat adalah tukang jual bubur! Tatkala ditanya kepada amoy penjual bubur itu, ternyata memang benar ada tukang jam di situ. Rupanya Pak Aweng “betapok“ di dalam, di salah satu sudut warung bubur itu.&lt;br /&gt;   Mat Belatong masuk, memberi salam kepada Pak Aweng, dan bersalaman sambil memperkenalkan diri,” Name saye Mat Belatong, kawan Asai.“&lt;br /&gt;   “Oo, ye Asai memang udah kasik tahu. Tadik pagi pon die ade ke sinik, tanyak apekah Pak Mat udah datang,“ jawab Pak Aweng sambil ketawa.&lt;br /&gt;   Mat Belatong melihat, postur tubuh lekaki tua itu normal, tidak gemuk, tidak kurus. Terbilang langsing. Dan yang mengesankan, air mukanya: bersih!&lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong menyerahkam jamnya sambil berkata,“Jam saye ni suke mati,  tampaknye ade barang yang lepas di dalamnye.” &lt;br /&gt;   Tatkala Mat Belatong menyerahkan jam tangannya kepada lelaki itu, tanpa lagi tengok merek jam, langsung saja ia membuka jam tersebut. Beberapa perkakas halus diangkat dari jam itu. Kemudian tampak Pak Aweng berpikir sejenak. Lalu kemudian ia berkata,”Jam ini istimewa o, tak bise diangkat sikit-sikit. Maok diangkat semue!”&lt;br /&gt;   “Kalau Pak Mat tunggu, bise lamak o. Baeknye tinggalkan jak dolok,“ lanjutnya.&lt;br /&gt;   “Saye piker begitu lebeh baek. Biar Pak Aweng bise kerje lebeh tenang. Kire-kire berape hari saye boleh ke sinik agik,”  jawab Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Oo, besok pagi Pak Mat boleh datang!“ jawab lelaki itu.&lt;br /&gt;   Keesokan harinya Mat Belatong datang. Pak Aweng tampak santai menghadapi meja jamnya, tapi tidak memegang jam melainkan baca koran!&lt;br /&gt;   Setelah bersalam Mat Belatong duduk dekat meja Pak Aweng. Lelaki berwajah bersih itu lalu menyerahkan jam Mat Belatong yang telah dibetulkan.&lt;br /&gt;   “Jam ini belinye di luar negeri ye Pak Mat?“ ucap Pak Aweng.&lt;br /&gt;   “Aa, soal beli, saye tak tahu Pak Weng. Saye tak pernah beli jam, tapi kenak kasik!”  jawab Mat Belatong ketawa. Setelah melihat jamnya sudah oke, Mat Belatong lalu mengenakan jam tersebut ke pergelangan tangannya. Kemudian Mat Belatong bertanya,”Berape ongkosnye Pak Aweng?“ &lt;br /&gt;   Tukang jam itu berkata,”Sepuloh ribu jak!“ Kemudian ia melanjutkan,“Kalau Pak Mat betolkan di toko-toko besak, bise kenak  60 – 70  ribu o!“  &lt;br /&gt;   Sambil ketawa Mat Belatong menjawab,“Tentang Pak Aweng, Asai udah cerite dengan saye.”&lt;br /&gt;   “Oo, ye, tadik pagi Asai ade datang lagik ke sinik. Die tanyak, Pak Mat udah datang belom? Saye jawab udah!“ ucap Pak Aweng.&lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong menyerahkan lagi dua jam tangan rusak kepada tukang jam itu, masing-masing bermerek: Sandoz dan Mido. “Duak jam ini udah lamak saketnye, tapi saye biarkan jak, sebab tak tahu  tempat membetolkan jam yang baek,” ucap Mat Belatong. Pak Aweng langsung membuka bagian belakang jam Sandoz punya bini Mat Belatong itu. Kemudian ia mengganti baterainya. Celakanya, payah mau melihat jam itu hidup atau mati, sebab memang tak punya jarum sekon.&lt;br /&gt;   “Baterai jam ini udah lamak sekali o tak dikeluarkan, jadi udah meleleh dan kenak ke bagian laennye. Tapi saye cobe doloklah betolkan. Tinggalkan jak di sinik, besok Pak Mat datang agik,” kata Pak Aweng. Kedua jam itu ditinggalkan Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Sambil pulang Mat Belatong melihat jam Maurice Lacroix-nya, dan berpikir: kalau di toko-toko jam, bise-bise bukan cume kenak 60 – 70  ribu aku, bise-bise kenak gerek 200-an ribu!&lt;br /&gt;   Keesokan harinya Mat Belatong datang lagi ke tempat tukang jam itu. Ternyata jam Sandoz memang tak bisa dibetulkan. Perkakas dalamnya sudah pada lengket dan berkarat. Sedangkan jam Mido, sudah betul. Dan karena talinya sudah rusak, Mat Belatong minta digantikan sekalian.&lt;br /&gt;   “Berape ongkosnye Pak Weng?” tanya Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Yang tak bise betol itu tak osah pakai ongkos, yang ganti tali itu jak. Talinye 8 ribu, jadi Pak Mat  kasik saye 18 ribu jak!” jawab Pak Aweng.  &lt;br /&gt;   Mat Belatong menyodorkan duit lembaran 20 ribuan kepada tukang jam itu sambil berkata,”Lebehnye tak osah Pak Aweng balekkan!” &lt;br /&gt;   Lelaki itu menjawab,“Mane pulak boleh begitu. Ini pon saye dah untong. Saye ade duet kecik!”  Dan ia memberi 2 lembar uang ribuan kepada Mat Belatong. &lt;br /&gt;   “Inilah die yang diceritekan Asai!” ucap Mat Belatong. Keduanya sama-sama ketawa.&lt;br /&gt;   Setelah itu Mat Belatong mengeluarkan dari saku celananya jam Titoni – Cosmo King yang sudah “porak-peranda“ itu. Tali logamnya pun sudah putus-putus.&lt;br /&gt;   Pak Aweng coba memutar tombol jam itu, ternyata sudah los, dan bisa dicabut!&lt;br /&gt;   Ia coba membuka bagian belakang jam tersebut, dan tampaknya sukar sekali. Apalagi sudah terlihat cacat di tempat itu, bekas pernah dibuka orang lain.&lt;br /&gt;   Terhadap jam yang satu ini, Mat Belatong memang sudah pasrah. Bisa betul alhamdulillah,  tak bisa betul  Allahu akbar!&lt;br /&gt;   Karena sukar membuka bagian belakang jam itu, Pak Aweng akhirnya berkata,“Tinggalkan jak jam ini di sinik. Biar saye cobe dolok. Bile-bile Pak Mat boleh datang, tapi kasik saye waktu beberape hari.”&lt;br /&gt;   “Begitu lebeh baek,” ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Sekitar lima hari kemudian Mat Belatong kembali. Tukang jam itu berkata bahwa ia telah mencari onderdil jam itu yang rusak ke beberapa tempat, tapi tidak ketemu. Dan akhirnya ia coba “meng-akali-nya“ dengan apa yang ada. Dan ternyata jam itu bisa jalan.   “Tapi otomatis-nye udah tak jalan Pak Mat, jadi Pak Mat pakai putar jaklah!” ucap Pak Aweng. Kemudian Mat Belatong minta agar tali logam yang sudah putus-putus itu diganti dengan tali kulit saja.&lt;br /&gt;   Pak Aweng mengeluarkan tali kulit yang memang tersedia di tempatnya. “Ini Pak Mat, kalau ade tande ini, berarti kulet benar,” ucapnya sambil memutuskan tanda yang ada di tali jam itu. &lt;br /&gt;   Ketika Mat Belatong bertanya berapa ongkosnya, apa jawab lelaki tua itu?&lt;br /&gt;   “Pak Mat kasik  buat bayar tali jak, 8 ribu!” jawabnya.&lt;br /&gt;   Mat Belatong terkesima. Dan ia tahu kalau di toko-toko jam, tali kulit sintetis saja sudah 40 – 50 ribu! &lt;br /&gt;   “Mane pulak bise begituk Pak Weng. Pak Weng kan udah leteh-leteh encarik onderdilnye, udah buang waktu dan tenage agik. Tak kan pulak lalu tak bayar?” ucap Mat Belatong. “Tadak, aku tak beli onderdil bah. Aku tak rugilah!” jawabnya.&lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong setengah tak sampai hati, menyerahkan lembaran 10 ribuan, sambil berkata,”Lebehnye tak osah Pak Weng balekkan!“&lt;br /&gt;   “Mane pulak boleh begitu!” ucap Pak Aweng, sambil menyerahkan 2 lembar duit seribuan kepada Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Pulang ke rumah, Mat Belatong termenung dan berpikir. Ternyata dunia masih memiliki manusia seperti Pak Aweng ini!&lt;br /&gt;   Mat Belatong berpikir, memang tak ada manfaatnya Pak Aweng mengambil kelebihan uang yang cuma dua ribu itu. Sebab kalau mau, ia bisa memperoleh puluhan ribu, bahkan ratusan ribu. Tinggal sebut saja. Namun laki-laki itu seperti telah menyukat diri, berapa yang perlu ia terima dari apa yang dikerjakannya. Cukup sekian, lebih tidak! Ia jauh dari sifat serakah dan tamak! Dan tentu jauh pula dari sifat pembohong, penipu dan pencuri!&lt;br /&gt;   Kerjanya tak lain: berbuat baik, menolong orang, terus-menerus bersedekah kepada orang lewat pekerjaannya. Diperalat oleh toko-toko jam pun dia mau untuk membetulkan jam rusak. Dia hanya meminta sekian, sementara orang toko menerima 5 – 6 kali lipat. Dia tahu, tapi dia ikhlas! ***&lt;br /&gt;                                                                                     ( Pontianak, 2 Juli 2005) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-2400432075640730582?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/2400432075640730582/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=2400432075640730582' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/2400432075640730582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/2400432075640730582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/pak-aweng-tukang-jam.html' title='PAK AWENG TUKANG JAM'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-2081271475906533387</id><published>2007-07-27T10:34:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.341-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG DAN PEMATUNG</title><content type='html'>Oleh  A.Halim R.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   SUATU hari Mat Belatong berjalan-jalan, dan tiba-tiba ia membelokkan langkahnya memasuki sebuah taman kota. Ia tertarik melihat seseorang tengah membuat patung di taman itu. Ia mendekati si pematung tersebut, yang ditemani oleh dua orang pembantunya. Mat Belatong menyalami pematung itu, dan memperkenalkan diri,“Mat Belatong!”&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   “Deres!“ jawab si pematung. &lt;br /&gt;   “Name ente ni bagos sebenarnya,“ ucap Mat Belatong,”name nabi: Idris! Tapi kenak lidah Melayu yang suke makan ikan asin, lalu jadi: Deres! Tapi tak osah awak ambek ati, maafkanlah orang-orang yang dalam ketidaktahuannya itu!“&lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong bertanya,“Udah lamak awak jadi tukang buat patong?”&lt;br /&gt;   “Kurang lebeh sepuloh taonlah Bang. Saye ni ape jak saye kerjekan. Baek patong, baek taman, baek baliho, baek membuat relief, sampai ngecat atap rumah orang!” jawab si Deres .&lt;br /&gt;   “Pantas, pantas!“ jawab Mat Belatong. “Ente ni walaupon umor maseh mude, tapi jam terbang udah temasok tinggi. Dan ini tecermen dari hasel karya ente ini. Luar biase! Dari segi ide, sangat original! Dari segi teknik pon piawai! Ana belom pernah ketemu dengan seniman yang bise menghaselkan karya macam ente ni! Sangat luar biase, tak tepiker oleh seniman laen baek di dalam maokpon luar negeri. Bahkan Tuhan pon tampaknye ‘belom bepiker‘ untok membuat karya macam ini!“ ucap Mat Belatong. &lt;br /&gt;   Karya patung yang tengah dikerjakan Deres itu memang sudah mendekati selesai. Sudah bisa dilihat secara utuh. Deres sedang melakukan finishing-touch (sentuhan akhir) dalam pengecatannya saja, setelah itu beres!&lt;br /&gt;   Mendengar komentar Mat Belatong itu, si Deres “kembang hidongnye“. Namun seperti orang yang merendahkan diri, ia berkata,“Ndaklah Bang, saye bekarya biase-biase jak, entahlah kalau di mate orang laen jadi luar biase, syukorlah!”  &lt;br /&gt;   “Karya biase kate kau? Kau udah membuat sesuatu yang luar biase! Ide kau hebat Deres! Membuat patong betandok rusak (rusa-pen), kepalak sapi, badan kerbau!“ ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Mendengar cakap Mat Belatong itu, Deres dan kawannya kaget dan tergemam. &lt;br /&gt;   “Pertahankan kepribadian kau dengan ide-ide yang cemerlang ini, jangan mudah terpeleset kepada ide-ide murahan dan gampangan! Selamat Deres, aku nak bejalan lok”, ucap Mat Belatong sambil menyalami Deres dan kedua temannya. Setelah itu iapun pergi .&lt;br /&gt;   Begitu Mat Belatong pergi, otak Deres dan kedua temannya geger alias pambar! Benarkah apa yang dikatakan oleh Mat Belatong itu?! Kalau benar berarti malapetaka! Sebab yang di-order oleh Pak Wali adalah membuat: patung rusa!&lt;br /&gt;   “Cobe gak kau panggel beberape orang yang tengah bejalan tu ke sinik,” ucap Deres kepada kedua temannya sambil menunjuk ke jalan raya.&lt;br /&gt;   Setelah terkumpul beberapa orang, Deres lalu berkata kepada orang-orang itu,”Saye mintak tolong lihat oleh Bapak-Bapak, apekah dah benar saye ni membuat patong betandok rusak, kepalak sapi, bebadan kerbau?“&lt;br /&gt;   Orang-orang itu mengamati dengan serius patung tersebut. Mereka coba memandang dari beberapa angle of view – sudut pandang – baik dari jauh maupun dekat. Akhirnya mereka berkata,”Sesungguhnyalah demikian!“&lt;br /&gt;   “ Terimak kaseh Pak,“ ucap Deres lunglai.&lt;br /&gt;   Esok harinya, Deres Cs bekerja keras, pahat sana, pahat sini untuk merevisi patung tersebut. Jongor dan kepala sapi coba dirampingkan, agar menyerupai kepala rusa. Demikian juga badan maupun kakinya. Hampir seminggu Deres dan kawan-kawan bekerja keras, akhirnya selesai juga.&lt;br /&gt;   Tatkala dilakukan finishing-touch, tahu-tahu Mat Belatong nongol lagi! Deres Cs bebar!&lt;br /&gt;   Setelah menyalami Deres dan teman-temannya, Mat Belatong berucap,”Benar kate aku! Kau memang hebat Deres, tak ade lawan. Kau bukan cuma pandai membentuk, tapi juga mengisi sesuatu yang hidup, yang bisa metamorphose ke dalam hasil karyamu!”   &lt;br /&gt;   “Ape yang kutengok minggu lalu, ternyate sekarang udah berobah menjadi kambeng betandok rusak! Luar biase, luar biase! Tak mungkin dapat dilakukan oleh seniman laen!“ lanjut Mat Belatong.   &lt;br /&gt;   “Teroskan karir kau tu Deres, jangan agik nak pindah-pindah profesi!“ tambah Mat Belatong sambil berlalu.  Setelah Mat Belatong pergi, Deres Cs kembali terhenyak.&lt;br /&gt;   Seperti sebelumnya, mereka memanggil lagi beberapa orang yang tengah berjalan, untuk menyaksikan karya mereka. &lt;br /&gt;   Deres bertanya,”Adakah Bapak-Bapak melihat bahwa ini patung kambing bertanduk rusa?”&lt;br /&gt;   Spontan orang-orang itu menjawab,”Sesungguhnyalah demikian!“&lt;br /&gt;   Setelah orang-orang pergi, Deres berkata kepada teman-temannya,”Udahlah boy, daripade kenak seranah Pak Wali, daripade tak dipakai agik oleh Pak Wali, memang lebeh baek kite dikriktik Mat Belatong. Mulai besok kite rombak agik!” &lt;br /&gt;   Lebih kurang seminggu  Deres Cs bekerja keras untuk merevisi patung itu lagi. Dan ketika Deres tengah melakukan finishing-touch terhadap patungnya, Mat Belatong muncul lagi. Kehadirannya setengah tak dikehendaki oleh Deres, tapi setengah lagi bagaikan diperlukan. &lt;br /&gt;   Begitu melihat patung tersebut, Mat Belatong langsung berkomentar,”Jangan tak pecayak cakap aku. Deres ni bukan sembarang seniman. Minggu lalu yang kutengok kambeng betandok rusak, sekarang ini persis macam rusak benar-benar. Minggu depan berobah jadi ape agik, hanye Deres yang tahu!“&lt;br /&gt;   Tiba-tiba tanpa dinyana, Pak Wali datang ke tempat itu untuk melihat barang yang di-order-nya. Mat Belatong terkejut dan langsung memberi salam,“Assalamu’alaikum Pak Wali.”  Dan Pak Wali menjawab sebagaimana mestinya. &lt;br /&gt;   Tanpa basa-basi, Mat Belatong berkata kepada Pak Wali,”Pak, kite beruntong punye seniman macam si Deres ni. Die bukan seniman biase, tapi udah mencapai tingkat mpu atau wali. Mate ana sendirik nengok, barang yang dibuatnye bise berobah-obah! Patong ini mengalami beberape kali perobahan bentok, baruk macam rusak benar. Same dengan belatong gak, untok jadi belatong perlu mengalami beberape kali pergantian wujud, termasok perubahan habitat. Dari aek pindah ke darat, ganti kerubong, baruk terbang jadi belatong!“&lt;br /&gt;   Belum sempat Pak Wali menyahut, Mat Belatong terus menyambung omongannya,”Tolong Bapak piare benar-benar budak ini, jangan lepas ke orang laen. Jangan sampai dibawak ke Sarawak ataupun ke Brunei Darussalam macam para pengrajin tenun Sambas tu! Deres ni orang berilmu, orang pandai. Cume untok menutopek ketinggian  maqam-nye die purak-purak jadi tukang buat patong!”  &lt;br /&gt;   Pak Wali agak bingung juga mendengar omongan Mat Belatong. Dan ia memang tidak kenal dengan Mat Belatong. &lt;br /&gt;   Bagi seorang Pak Wali, memang tak perlu kenal dengan seluruh masyarakatnya. Yang penting kalau Pilkada, bisa menang. Dan ia paham, bentuk, ragam tabiat warga masyarakatnya memang bermacam-macam. &lt;br /&gt;   Namun terlepas dari omongan Mat Belatong, Pak Wali melihat bahwa hasil karya si Deres, memang sesuai benar dengan yang dihajatkannya. Ia puas sekali.&lt;br /&gt;   Dan sejak itu, entah karena omongan Mat Belatong, entah karena apa, Pak Wali benar-benar memperhatikan si Deres. Ia menyukai, memerlukan, dan menghormati Deres seperti orang Itali menghargai dan menghormati para senimannya, semisal Michel Angelo ataupun Leonardo da Vinci. Mungkin juga seperti Bung Karno dengan pelukis Dullah.&lt;br /&gt;   Akan halnya Mat Belatong, seminggu kemudian datang lagi ke taman kota itu, tapi ia tak menemukan Deres di tempat itu. Dan patung rusa itu masih tetap patung rusa, tidak mengalami perubahan.&lt;br /&gt;   “Terimak kaseh Deres,” ucapnya perlahan,”engkau telah mengajariku, memberi contoh kepadaku, mengingatkanku betapa sebuah kejadian tidak terjadi begitu saja. Tapi mengalami proses panjang. Pun begitulah yang dilakukan Allah terhadap alam semesta ini. Bangsanya dinosaurus pernah hadir di muka bumi, sosok pithecanthropus erectus  pernah hadir di muka bumi ini, namun kemudian lenyap dan berganti dengan bentuk dan kehidupan lain. Begitu juga kejadian manusia, dari alam nur dibawa Jibrail ke tulang sulbi, kemudian jadi sebutir nutfah di alam rahim. Lalu jadi segumpal darah, kemudian jadi segumpal daging, dan mengalami proses perubahan bentuk 7 x setiap 40 hari di alam rahim. Orang kata: 9 bulan 10 hari! Setelah itu barulah keluar jadi anak manusia sempurna – insan kamil!“&lt;br /&gt;   “Bang Mat, terimak kaseh banyak Bang Mat,” tiba-tiba sebuah suara menegurnya. Tatkala ia menoleh, telah hadir Deres di tempat itu.&lt;br /&gt;   “Aa, kebetolan  Deres, aku memang tengah encarik kau!“ ucap Mat Belatong. “Aku ade maksod membuat patong: badan manusie, kepalak kambeng, dan bersayap macam sayap belatong (capung – pen). Dibuat di depan rumah aku, biar aku dapat menyaksikan perubahan wujudnya dari hari ke hari, dan akhirnya berbentuk apa dia!“ lanjut Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Mintak ampon Bang Mat, jadi-jadilah ngerjekan saye! Dan Bang Mat pon udah memberek sesuatu yang tak ternilai buat saye, sebab Pak Wali makin baek jak dengan saye!” jawab Deres.&lt;br /&gt;   “Siketpon tak ade niat aku nak ngakalek awak. Aku cume  nak mintak buatkan patong di depan rumah aku, dan aku membayar macam orang laen gak!” ucap Mat Belatong.  &lt;br /&gt;   “Udahlah Bang Mat, saye mintak ampon mintak maaf, suroh orang laen jaklah!” jawab Deres . &lt;br /&gt;   Belum sempat Mat Belatong menjawab, Deres sudah menangkap tangan Mat Belatong  dan menciumnya. “Salam’alaikom Bang Mat!“ ucap Deres lalu pergi.&lt;br /&gt;   “Ini die,” kata Mat Belatong berbicara sendiri,”orang pandai, berilmu tinggi, tapi tak tahu kalau dirinya berilmu dan pandai! Tangan aku pulak yang diciomnye!“ ***&lt;br /&gt;                                                                              &lt;br /&gt;                                                                                     ( Pontianak, 27 Juni 2005 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-2081271475906533387?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/2081271475906533387/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=2081271475906533387' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/2081271475906533387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/2081271475906533387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-dan-pematung.html' title='MAT BELATONG DAN PEMATUNG'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-3030207578621702692</id><published>2007-07-27T10:33:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.342-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG DAN SAMPAH</title><content type='html'>Oleh  A.Halim  R.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   SUATU hari Mat Belatong berjalan-jalan meniti trotoar di dalam kota. Di suatu tempat, matanya terpandang kepada sebuah tripleks yang terpacak di pinggir trotoar itu.  Di triples tersebut tertulis: Yang Membuang Sampah di Sini Anjing!&lt;br /&gt;   Mat Belatong melihat, di trotoar, di bawah tripleks itu memang ada onggokan sampah, bahkan sampai menutupi trotoar&lt;span class="fullpost"&gt;.&lt;br /&gt;   “Ini pasti anjing yang membuang sampah di sini,“ gumamnya.&lt;br /&gt;   Mat Belatong berhenti  dan berpikir memandang apa yang terpajang di depannya itu. “Luar biasa,“ ucap Mat Belatong di dalam hati,”banyak hal yang tidak kuketahui, banyak perkembangan kota yang tidak kuikuti!“ &lt;br /&gt;   “Ternyata kini, anjing saja sudah pandai membuang sampah sendiri. Ternyata Pemkot telah menyediakan tempat pembuangan sampah khusus untuk anjing. Ini sungguh suatu kemajuan dan kebijaksanaan yang brillian. Dan tentulah ini berkat dukungan dari para anggota dewan yang berpandangan maju dan jauh ke depan!“ pikir Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Sambil ketawa sendiri ia berucap,”Pasti ini sebuah program yang bertahap, dan berkesinambangan. Untuk langkah pertama, mungkin perda sampah margasatwa yang dibuat, baru untuk bangsa anjing. Setelah sukses bukan mustahil diikuti perda sampah untuk bangsa babi, kerbau, beruk, monyet, keledai dan lain-lain!“&lt;br /&gt;   “Jangan aneh bila suatu ketika di kota ini akan terpasang banyak pelang yang bertulisan: Yang Membuang Sampah di Sini Babi! Yang Membuang Sampah di Sini Monyet! Yang Membuang Sampah di Sini Biawak! Yang Membuang Sampah di Sini Keledai!“ lanjut Mat Belatong.   &lt;br /&gt;   Dan tiba-tiba Mat Belatong dikejutkan oleh kedatangan serombongan kambing. Dari anak kambing sampai kambing bandot, termasuk induk kambing, kambing dare dan kambing bujang! (bukan Bujang Kambeng!).&lt;br /&gt;   Melihat gelagatnya, kambing-kambing tersebut bakal main seruduk saja. Daripada melabor ke paret, Mat Belatong menghindar. Dan ia ingin menyaksikan apa yang dikehendaki oleh rombongan kambing itu. &lt;br /&gt;    Apa yang disaksikannya, sangat menakjubkan! Rupanya rombongan kambing itu adalah “tim kebersihan“! Sampah-sampah yang dibuang anjing itu, disortir, diangkut oleh rombongan kambing. Mungkin karena belum ada anggaran untuk pengadaan truk bagi “tim kebersihan“ berkaki empat itu, untuk sementara sampah-sampah tersebut dimasukkan kambing ke dalam perutnya! Dan pasti akan dibuang di tempat lain yang telah ditentukan!  &lt;br /&gt;   “Luar biasa,” pikir Mat Belatong,“bukan hal yang mudah untuk merancang dan merealisir hal seperti ini. Yang membuang sampah binatang, yang mengangkut sampah juga binatang! Yang membuang sampah anjing, yang mengangkut sampah kambing! Dua satwa berbeda  karakter, ternyata bisa diatur bekerja sama!”&lt;br /&gt;  Mat Belatong ingat akan sebuah riwayat, zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Saking adil dan arifnya Sang Khalifah, sampai-sampai serigala dan domba bisa hidup bersama di sebuah padang gembalaan. Tidak saling mengusik, tidak yang satu memangsa yang lainnya! Kiranya kota ini sudah sampai ke posisi atau maqam yang demikian itu! &lt;br /&gt;   Mat Belatong bersyukur, khalifah dan para pemimpin kota ini ternyata manusia-manusia yang adil, arif bijaksana. “Tanda-tanda”-nya telah terpentang di trotoar itu, tersaksikan sendiri oleh Mat Belatong !&lt;br /&gt;   Dengan hati berbunga Mat Belatong meneruskan perjalanannya menyusuri kota.    &lt;br /&gt;   Sambil berjalan, pikirannya menerawang ke beberapa tahun silam. Dulu, kalau tak salah, Pemkot pernah “mencanangkan“ bahwa untuk mengatasi masalah sampah di kota ini, akan dilakukan program “cacingisasi“! Seorang pejabat Pemkot, dengan semangat berapi-api, bagaikan telior-lior ngomong di suratkabar, akan mendatangkan cacing ke kota ini untuk memusnahkan sampah. Bibit cacing yang kabarnya bercikal-bakal dari Australia itu akan dibagikan kepada penduduk terutama petani untuk diternakkan!&lt;br /&gt;    Sedangkan sampah akan dipilah, di mana sampah organik untuk makanan cacing, sedangkan sampah nonorganik semisal plastik, panci pesok, belangak sombeng dijadikan santapan mesin penggiling sampah!&lt;br /&gt;    Tentang manfaat cacing diuraikan cukup panjang lebar. Cacingnya sendiri setelah beranak-pinak, bisa dijual dengan harga puluhan ribu per kg. Sedangkan kotorannya sangat baik dipakai untuk rabuk tanaman! &lt;br /&gt;    Bahkan sang pejabat bersangkutan dengan bangga mengatakan, ia sendiri pernah menikmati kripik cacing. Enak, lezat, bergizi tinggi, bahkan bisa untuk mengobati berbagai jenis penyakit! Mendengar provokasi, eh propaganda Pak Pejabat, Mat   Belatong sampai telior-lior. Padahal baruk membace koran jak, belom agik nengok kripeknye ! &lt;br /&gt;   “Sungguh ide yang cemerlang juga, untuk membersihkan sampah kota menggunakan laskar bawah tanah: cacing!“ pikir Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Namun “program cacingisasi“ itu bagaikan tak berbuntut, menguap begitu saja. Malah sebaliknya orang dipambarkan dengan berita baru: anak-anak SD di Pontianak sebagian besar cacingan! Ini tindakan nekad: beternak cacing dalam perot!&lt;br /&gt;   Dan ternyata, hal terkini yang terjadi dalam dunia persampahan, tampaknya Pemkot telah mengganti cacing dengan kambing untuk membersihkan kota dari sampah.&lt;br /&gt;   Ini pasti lebih bijaksana daripada membiarkan anak-anak SD memelihara cacing di dalam perut!&lt;br /&gt;   Melewati Jalan Apel, Mat Belatong melihat tumpukan sampah. Walau pun tak ada pelang bertulisan “Yang Membuang Sampah di Sini Manusia!“, Mat Belatong tahu di tempat itu manusia suka membuang sampah. Kebetulan ada ibu-ibu bersepeda motor mencampakkan bungkusan sampah ke situ.   &lt;br /&gt;   Di tempat itu ia menyaksikan beberapa orang tengah mencari sesuatu. Dari penampilannya, mereka bagaikan pengembara dari negeri yang jauh. Berbusana lusuh seadanya, bahkan ada yang hampir tak berbusana. Rambut gondrong awut-awutan, bahkan ada yang berambut gimbal.&lt;br /&gt;   Apa yang mereka lakukan, hampir sama dengan kambing. Ketemu kulit semangka mereka kunyah dan mereka telan. Ketemu buah durian busuk mereka santap. Ketemu bungkusan daun pisang mereka buka, ternyata masih ada tersisa nasi di situ!&lt;br /&gt;   Mereka hidup benar-benar mandiri. Ketawa sendiri, dan berbicara pun tidak membutuhkan orang lain untuk menjadi pendengar. Mereka pengembara tanpa beban, tanpa buntalan pakaian, tanpa sekepal makanan pun untuk bekal.&lt;br /&gt;     “Mungkin beginilah kehidupan para darwis, sufi pengembara berpuluh abad  lampau, seperti yang banyak diceritakan dalam kitab-kitab tua. Tak ada makanan, mereka makan akar rumput. Pantang mengemis atau meminta!“ pikir Mat Belatong.&lt;br /&gt;    Di mata Mat Belatong, mereka manusia yang sangat mengagumkan! Manusia pengembara yang menjalani hari-hari dalam hidupnya penuh rasa optimis. Untuk makan besok, tak perlu dipikirkan hari ini, sebab besok niscaya terselesaikan. Mereka, sama halnya dengan burung, sangat yakin atas janji Allah tentang rezeki. &lt;br /&gt;   Mereka datang dan pergi ke tempat sampah, dengan tangan kosong, kecuali mungkin perut yang sedikit terisi.  &lt;br /&gt;   Sampai di Pasar Sentral, dekat tugu yang seperti kubah masjid itu, Mat Belatong bertemu dengan seorang pemancing. Penampilannya, hampir sama dengan yang ditemukannya di Jalan Apel. Rambutnya gimbal, menyatu, bagaikan bantal!&lt;br /&gt;   Ia memancing di selokan kecil dekat tugu itu, sambil menggoncang-goncangkan bambu joran pancingnya. &lt;br /&gt;   Mat Belatong mengeleng-gelengkan kepalanya penuh kekaguman. “Ilmu orang ini pasti sangat tinggi!“ gumam Mat Belatong. Betapa tidak, lelaki itu memancing tanpa menggunakan tali pancing!  &lt;br /&gt;   Kalau ia mengharapkan ikan, jelas tidak! Mana kailnya? Kalau “mengail“ tidak mengharapkan ikan, lalu apa yang dicarinya!?&lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong berkata,“Luar biasa, betapa orang ini bekerja, memancing, tanpa mengharapkan akan beroleh sesuatu apapun! Ia memancing karena memegang amanah: joran pancing ada di tangannya, entah ditemukan di mana! Joran pancing harus diperlakukan sebagai joran, kendati tak berkail! Ia ikhlas, kendati hanya  kepuasan rasa yang ditemukannya, nun di lubuk terdalam di hatinya! Sama halnya: organ tubuh telah diamanahkan sebagai anggota sujud, maka bersujudlah!“&lt;br /&gt;   Tatkala melewati pemancing itu, Mat Belatong berkata,“Terima kasih!“ &lt;br /&gt;   Si pemancing hanya ketawa, melihat Mat Belatong berlalu.&lt;br /&gt;   “Terima kasih,” ucap Mat Belatong mengulangi kalimatnya,”engkau telah mengajariku tentang keikhlasan yang sesungguhnya!“&lt;br /&gt;   Melihat banyaknya jumlah “darwis“ di dalam kota ini, Mat Belatong berpikir, bukan mustahil ini sebuah program yang sengaja dilakukan oleh Pemkot, yaitu: menyebarkan “guru-guru ruhani“ untuk masyarakat kota yang sibuk, yang tak dekat dengan mimbar khotbah, yang  jauh dari majelis pengajian, yang lepas dari jangkauan para penceramah agama! Sebab bagi orang yang mau belajar, di manapun ia bisa belajar. Bahkan dari majnun pun bisa dipetik pelajaran! Bukankah: senyata-nyatanya Al-Quran adalah alam yang terbentang, senyata-nyatanya masjid adalah setiap jengkal bumi Allah?&lt;br /&gt;   Sebuah kalimat terngiang di kupingnya: Mau menjadi waras, belajarlah dari orang gila. Mau gila, belajarlah dari orang yang mengaku dirinya waras!&lt;br /&gt;   Oleh sebab itu, berhati-hatilah terhadap orang yang mengaku dirinya waras. Sebab ia bisa mengajarkan dan menularkan berbagai macam penyakit gila! Antara lain: gila harta, gila tahta, gila wanita, gila babi, gila pangkat, gila hormat, gila kuasa, gila pujian,  gila pamer, gila judi, dan lain-lain! ***&lt;br /&gt;                                                                                     ( Pontianak, 16 Juli 2005 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-3030207578621702692?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/3030207578621702692/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=3030207578621702692' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/3030207578621702692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/3030207578621702692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-dan-sampah.html' title='MAT BELATONG DAN SAMPAH'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-2593673674792451590</id><published>2007-07-27T10:32:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.342-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG DAN SEMINAR MANDOR</title><content type='html'>Oleh A. Halim  R &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   SUATU waktu di bulan Agustus 2005, Mat Belatong diajak oleh kawan-kawannya untuk ikut seminar. Tema seminar telah ditentukan: Mengungkap Sejarah Peristiwa Mandor 1942 – 1945 di Kalbar. Dan Mat Belatong, bukan cuma diminta datang sebagai undangan biasa – sebagai peserta – tetapi diminta untuk menjadi salah seorang pembicara alias menjadi penyampai materi!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   “Eh, benar gak kitak ni,“ ucap Mat Belatong,“tak salah ke nunjok ana sebagai penyampai makalah?! Ana tengok dalam jadual seminar ni, paling ndak ade sekitar 10 orang pembicare. Semuenye dengan titel betepek, baek di belakang maokpon di depan namenye! Pon dengan jabatan yang tak tanggong-tanggong. Ade Sekda Kalbar Pak Henri Usman, ade Bang Kamaruzzaman Calon Sekda Kalbar, ade Bang Zulfadhli Ketue DPRD Kalbar, ade Wakel Ketue Komnas HAM Pusat Bang Dr Taheri Noor, ade Bang Dr Mardan Adijaya, ade gak Bang Djun Ks Bos EQUATOR dan laen-laen. Ndak kelirukah kitak narok Mat Belatong dudok di antare mereka. Ndak salahkah kitak, tak malukah kitak, narok si lingau di tengah-tengah orang arif bijaksana!?“&lt;br /&gt;   “Tadak Bang Mat, orang laen boleh bekate Bang Mat lingau, tapi kamek kan tahu dengan kapasitas dan kredibilitas Bang Mat,” jawab Nur Iskandar Ketua Panitia Seminar.&lt;br /&gt;   “Yang sangat ana takotkan,” ucap Mat Belation, eh Mat Belatong,“di tengah majelis yang tehormat dan penting itu, ana lalu tampel mempertontonkan kebodohan ana!“&lt;br /&gt;   “Tadak Bang Mat, udah kamek seleksi bah siape-siape yang pantas bicare dalam seminar ini,” jawab Nur Is – sapaan sehari-hari Nur Iskandar SP – meyakinkan dan memberi spirit kepada Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Aa, kalau begitu terserah kitak jak. Tapi jangan salahkan ana kalau terjadi ape-ape di majelis tehormat itu dengan kehadiran ana sebagai pembicara,” ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Terimak kaseh banyak Bang Mat,” balas Nur Is dengan senyum di wajahnya yang baby face itu. Tak berlama-lama, Nur Is lalu cao meninggalkan Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Dan tinggallah Mat Belatong dengan setumpuk beban di kepalanya untuk menghadapi seminar itu. Tapi bukan Mat Belatong namanya kalau menghindar dari tantangan. Sebab lelaki tua yang sudah berada di fase lingau, untuk berubah ke fase mamau alias melilu (pikun) itu berprinsip: terhadap sebuah beban, sebaiknya memang dielakkan. Tetapi pantang lari dari tanggung jawab kalau harus juga memikulnya!&lt;br /&gt;   Tegal Nur Is Cs-lah Mat Belatong kemudian tekacal-ganyah mengaduk-aduk dokumen dan map-map lama, untuk menyusun sebuah makalah.&lt;br /&gt;   Pendek cerita, tibalah hari yang membuat Mat Belatong bebar itu. &lt;br /&gt;   Seminar dibuka di lantai tiga Gedung Rektorat Untan (Universitas Tanjungpura) Pontianak, dihadiri sejumlah pemakalah terkemuka (kecuali: Mat Belatong). Pun dihadiri oleh sejumlah cerdik-cendekia, baik tua maupun muda. &lt;br /&gt;   Mat Belatong, agar tak sesat di jalan, membawa dua rekan kentalnya, Mat Ketumbi dan Zein Lupaklapek.&lt;br /&gt;   Setelah acara seminar dibuka oleh Nur Is selaku ketua panitia, lalu dimulailah sesi demi sesi yang menampilkan pembicara demi pembicara. Semuanya berjalan mulus dalam kadar ilmiah yang tinggi. Demikian juga tanggapan demi tanggapan yang diberikan oleh para peserta penuh dengan respek yang rasional dan intelektual.&lt;br /&gt;   Di sesi yang kedua, tampil Mat Belatong sebagai pembicara terakhir! Moderatornya pun tak tanggung-tanggung: Ir Gusti Hardiansyah,MQM – Sekretaris Relawan Bangsa Provinsi Kalbar. &lt;br /&gt;   Setelah membuka kata dengan berbasa-basi serta memberi salam sebagaimana mestinya, Mat Belatong pun memulai pembicaraannya.&lt;br /&gt;   “Jepang, sejak zaman Belanda telah menyebarkan intelijennya ke Kalbar, sehingga tatkala tentara Jepang masuk, mereka telah tahu dengan pasti di mana tempat mendarat, di mana tangsi militer Belanda. Bahkan mereka sudah tahu di mana lokasi bahan-bahan tambang dan tempat penebangan kayu yang mudah untuk dikeluarkan ke Sungai Kapuas. Oleh sebab itu, tatkala tentara Jepang masuk ke Kalbar diikuti pula oleh dua perusahaan. Yaitu perusahaan Nomura yang bekerja di pertambangan, baik pertambangan batu tungau bahan baku mesiu atau alat peledak, maupun tambang emas. Sedangkan sebuah perusahaan lagi yaitu  Sumitomo bergerak di usaha penebangan kayu,” ucap Mat Belatong. &lt;br /&gt;   Baru saja Mat Belatong menarik napas untuk memulai kalimat berikutnya, sudah diinterupsi oleh Anwar Saleh SH. “Sabar Mat, setahu saye perusahaan Sumitomo tu sebuah perusahaan perkapalan, bukan perusahaan kayu!“ ucapnya.&lt;br /&gt;   “Iye betol Bang Nuar, kapal-kapal Sumitomo tu sejak zaman Jepang udah belaboh di Telok Aek, nunggu lanting kayu log dari ulu. Mereka juga mengkoordinir penebangan kayu di daerah pedalaman Kalbar, kemudian dihanyutkan ke hilir. Sampai di Suka Lanting, mereka tidak belok kanan menuju Pontianak, melainkan belok kiri menuju Telok Air Batu Ampar! Taon 1970-an kapal-kapal Sumitomo masok agik ke Telok Aek ngangkot kayu kite waktu log bebas diekspor ke luar negeri!“ jawab Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Betol Mat, betol!“ balas Anwar Saleh SH yang SMA ditamatkannya dalam waktu 5 tahun itu. Sedangkan gelar SH diperolehnya dari Untan hampir memakan waktu 20 tahun! Bayangkan menuntut ilmu selama itu. Cerdik-cendekia yang satu ini ilmunya memang tak tanggung-tanggung. Makenye Mat Belatong agak ngeper diinteruspsinye!&lt;br /&gt;   Belum sempat Mat Belatong meneruskan omongannya, sudah meletop lagi sebuah interupsi. Sekali ini datang dari Syarif Selamat Yusuf Alkadri, putra Ratu Perbu Wijaya. Tokoh yang biasa disapa Om Simon ini nyeletuk,“Tentere Jepang tu memang celake. Sampai-sampai Umi (maksudnya: Ibunda Ratu Perbu Wijaya) melarang anak-cucuknye nonton felam Oshin. Sebab itu felam Jepang! Saket benar ati beliau tu dengan Jepang!“&lt;br /&gt;   Selesai Om Simon ngomong, lalu Ami Syarif Ahmad Muhammad Alkadri mengacungkan telunjuk dan langsung bicara,“Ape yang awak cakapkan tu betol Mat! Salah seorang intelijen Jepang yang sudah masok ke Kalbar pada zaman Belande adalah Tuan Honda. Kerjenye jadi tukang Kodak, atau sekarang disebot tukang potret! Die bekelileng, moto sanak- moto sinek!“&lt;br /&gt;   Mat Belatong mengacungkan dua jempol kepada orang tua itu, sembari berkata,”Terimak kaseh Mi, memang salah seorang dari mereka itu adalah Tuan Honda.  Sekok agik bename Tuan Takeda. Mungkin maseh ade sejumlah name laen, misalnya Tuan Suzuki, Tuan Yamaha, Tuan Kawasaki, Tuan Mitsubisi, Tuan Toyota, Tuan Daihatsu dan laen-laen!“&lt;br /&gt;   Mendengar kalimat terakhir Mat Belatong ini hadirin saling berpandangan, dengan tanda tanya di kepala masing-masing.&lt;br /&gt;   Zein Lupaklapek menggamit Mat Ketumbi sembari berkata,”Ayap, kawan kite ni mulai merayau!“&lt;br /&gt;   Lebih lanjut Mat Belatong meneruskan penyajian materinya,”Ape kate Om Simon tu tadik memang benar. Jepang tu memang celake. Die tak maok berenti menjajah kite. Jepang tak maok berenti membunoh rakyat kite! Kate kite, kite udah merdeka, padahal maseh dijajah Jepang. Jepang menjajah kite di bidang ekonomi, kite teros-meneros betoke dengan Jepang. Contohnye LNG kite yang di Bontang Kaltim tu kite jual ke toke Jepang. Sehingge, ekonomi kite ade di ujong samurai Jepang. Dan kite tepakse: ape kate toke jaklah! Belom agik, rakyat kite teros dibunohnye! Bukan dibantai di Mandor, tapi di jalan raya. Tuan Honda, Tuan Yamaha, Tuan Suzuki dan laen-laen bukan agik jadi tukang foto, bukan agik sebagai intelijen, tapi masok secare terang-terangan. Bahkan sengaje didatangkan! Dan celakenye, terutama remaja kite, belom puas kalau nenek-moyangnye banyak dibunoh Jepang. Dan sekarang malah mereka sendiri yang bersedia mati di tangan Tuan Honda, Tuan Suzuki, Tuan Yamaha dan laen-laen dengan care kebut-kebutan di jalan raya. Kadang-kadang matinye ngajak orang laen pulak, merudu orang tak tentu pasal!“&lt;br /&gt;   Mendengar “materi” yang disampaikan oleh Mat Belatong itu, hadirin kembali saling berpandangan dan bergumam.   &lt;br /&gt;   Seorang peserta seminar, Yan Cucuknda mengacungkan tangan lalu interupsi,“Bang Mat,  kite ni seminar ke ngomel!?“&lt;br /&gt;   “Cucuknda,“ jawab Mat Belatong,”antara seminar dan ngomel, banyak persamaannya! Duak-duaknye pakai mulot. Cume, ngomel tindakan spontan tak perlu membace makalah! Begitu pulak soal mandor, awak maok mandor yang mane. Mandor yang makam atau mandor tali kawat, kerje kendor makan kuat? Dan mungkin karena mandor yang terakhir inilah kita jadi bangsa yang merdeka tapi terjajah, tidak mandiri!“&lt;br /&gt;   Tanpa disangka-sangka Mat Ketumbi pun mengacungkan tangan pertanda mau bicara. Tanpa dipersilahkan, Mat Ketumbi langsung tancap,”Ana piker, seminar kite ni berkenaan dengan orang yang udah mati. Jangan kite terlalu banyak berharap. Jangankan nguros yang udah mati, yang maseh idop jak tak teruros! Sebab ana tengok, baek aparat maokpon pejabat kite sekarang ni, sibok nguros dirik masing-masing! Ana khawater, Kompleks Makam Juang Mandor yang ade sekarang, bise-bise satu saat kelak kenak tukarguling! Sebab banyak pejabat kite yang hobi tukarguling. Di tanah yang sebenarnye milek pemerintah, tahu-tahu dah bediri ruko!“&lt;br /&gt;   “Benar kate awak tu  Ketuk!“ sambut  peserta riuh.&lt;br /&gt;   Moderator Ir Gusti Hardiansyah MQM bagai tergemam berada di majelis seminar macam ini. Ia heran! Tak pernah ia bertemu dengan majelis seminar yang pada akhirnya berubah suasana menjadi warung kopi!        &lt;br /&gt;   Sang moderator akhirnya berteriak di depan mikrofon,“Oi, kite ni seminar ke maen ketoprak humor!?“&lt;br /&gt;   Tanpa diduga, hadirin ngelakak ketawa dan berkata,”Duak-duaknye!“&lt;br /&gt;   Yan Cucuknda kemudian menimpal,”Seminar jadi begini, tak laen tegal Bang Mat Belatong!“&lt;br /&gt;   “Eh, benar sikit cakap awak tu Cucuknda! Kucucok lobang idong awak karang! Bagos awak ngasah gigi jak! Ana jadi begini tegal diinterupsi Bang Anwar Saleh, ditambah agik Ami Ahmad tu nyebot pulak name Tuan Honda! Akhernye ana jadi meracau! Tapi itupon bukan gak salah Bang Nuar Saleh dan Ami Ahmad. Ana ni kalau kenak interupsi mendadak apelagik berunton, jadi gagap-gugop! Kau Cucuknda, jangan nak nyalahkan aku! Sebaeknye kite jangan saling salah-menyalahkan. Sebab udah terlalu banyak hal yang bersalah-salahan di negeri ini. Kalau kite pon salah-menyalahkan, bise betengkar, bise betombok macam wakel rakyat di korsi tehormat. Lalu ilang cerite Jepang, timbol muke bengap-biru!“ jawab Mat Belatong. Hadirin tertawa. “Hidop Mat Belatong!“ pekik peserta.&lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong berkata,”Daripade kacau, bagos ana berenti jak ngomong. Pon makalah yang ana suson udah ade di tangan hadirin semuenye. Sebagai akher kate ana nak menyampaikan sebuah panton buat hadirin semue , tapi lebeh utame buat Bang Anwar Saleh, yang dari tadik mintak para pemakalah bepanton. Ini die pantonnye: buah kuini ikan biles, dengan ini cerite pon abes!” ***&lt;br /&gt;                                                                                     ( Pontianak, 21 Agustus 2005 )&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-2593673674792451590?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/2593673674792451590/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=2593673674792451590' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/2593673674792451590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/2593673674792451590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-dan-seminar-mandor.html' title='MAT BELATONG DAN SEMINAR MANDOR'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-2735488236361069102</id><published>2007-07-27T10:31:00.001-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.342-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG DAN PASAR IKAN</title><content type='html'>Oleh A. Halim R&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   SUATU waktu Mat Belatong  pergi ke Ketapang, turun di Kali Nilam (pakai pesawat, die!), langsung dibawa ke hotel. Kebetulan telah ada teman yang menjemput: Cek Mat Gesekgesek! Begitu naik tangga hotel, 3 – 4 orang yang tampak santai duduk di situ langsung menyapa,”Pijit Pak!“&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   Mat Belatong menoleh kepada Mat Ketumbi alias Ketuk yang kebetulan ikut,“Ape kate ana Ketuk, orang Ketapang ni ramah-ramah, sangat menghormati tamu! Baru gak kite naek tanggak, belom agik masok kamar udah ade yang  nak ngurot!“&lt;br /&gt;   Mat Ketumbi menjeling kepada rekan yang menjemput, dengan perasaan sikit tak nyaman. Tapi syukur juga Cek Mat cepat tanggap,”Bang Mat, kalau maok nengok tradisi keramahtamahan budaye Melayu Ketapang, bagosnye besok-besok ke sinik, pakai kapal ekspres. Di sanak, di Suka Bangun, sambotan lebeh meriah agik!“&lt;br /&gt;   Mat Belatong tampak heran. &lt;br /&gt;   “Sambotan macam ape pulak tu?” tanya Mat Belatong .&lt;br /&gt;   “Biase,” jawab Cek Mat selembe, “tukang ojek!“&lt;br /&gt;   “Oh ye, sebaeknye memang begitu. Maju boleh maju, adat budaya jangan ditinggalkan. Biar gak jadi tukang ojek, telok belangak, kaen setengah tiang, tanjak jangan dilupakkan!” ucap Mat Belatong. “Nantik kalau ana balek ke Pontianak, ape yang terjadi di Ketapang ini akan ana laporkan ke Bang Imin Thaha Ketue MABM Kalbar. Biar hal semacam ini dilakukan ugak oleh daerah laen di Kalimantan Barat! Tak payah bah memasyarakatkannye, tinggal disyaratkan jak terhadap budak-budak ojek tu waktu minta izin! Dan tukang urot di hotel-hotel ni pon perlu ugak begituk. Yang perempuan pakai baju kurong, bekaen, besanggol model ayam ngeram, pakai kerudong!” lanjut Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Mendengar jawaban Mat Belatong, balik Cek Mat Gesekgesek jadi pening! Ia melirik Mat Ketumbi. Mat ketumbi sambil senyam-senyum, menunjukkan jari telunjuk miring di keningnya!&lt;br /&gt;   Setelah menyimpan barang di kamar hotel, Mat Belatong langsung berkata,“Cek Mat, kite pegi ke pasar ikan dolok. Mumpong maseh pagi!“&lt;br /&gt;   Cek Mat Gesekgesek heran juga, urusan yang sesungguhnya ke Ketapang ini belum dilaksanakan, tahu-tahu udah nak ke pasar ikan. Maok membeli ikan ke ape ?! Kemudian ia berkata,“Tenang jak Bang Mat, urusan makan, urusan laok, gampang. Selamak restoran Pak Uti Konsen maseh bukak, gampang. Maok asam pedas sirep belidak, maok kepalak ikan merah, maok udang galah, beres!“&lt;br /&gt;   “Bukan begituk Cek Mat. Ini bukan urusan makan, tapi urusan kite sebagai khalifah di muke bumi!“ jawab Mat Belatong . &lt;br /&gt;   Karena sudah menyangkut urusan Mat Belatong sebagai seorang “khalifah di muka bumi“, Cek Mat dan Mat Ketumbi tak bisa membantah. Sebab kedua-duanya sama tahu, betapa berat urusan seorang khalifah! Sampai-sampai Khalifah Umar bin Abdul Aziz, sekali pandang orang bisa menghitung tulang rusuknya tanpa orang harus menyentuhnya, saking takutnya ia akan tanggung jawab di hari akhirat! &lt;br /&gt;   Pendek kisah, pergilah ketiganya ke pasar ikan lama, di pinggir Sungai Pawan di tengah kota Ketapang.&lt;br /&gt;   Sampai di pasar ikan, Mat Belatong mengamati hampir semua ikan yang ada di sana. Sampai-sampai yang di dalam peti es pun dilihat. Anehnya semua pedagang ikan di sana menaruh respek atas kunjungan Mat Belatong. Apakah karena getaran aura yang memancar dari tubuh Mat Belatong sebagai seorang “khalifah“, atau karena selama ini mereka jarang mendapat kunjungan orang “aneh“ semisal pejabat. Ataukah karena melihat kehadiran Cek Mat Gesekgesek! Sebab hampir semua orang Ketapang tahu kalau Cek Mat Gesekgesek itu tangan kanan salah seorang kepala bank di Ketapang.&lt;br /&gt;   Tatkala melihat sejumlah ikan tapah yang besar-besar di dalam peti es, Mat Belatong bertanya,”Kire-kire sekok beratnye berape kilo ni Pak!“&lt;br /&gt;   “Rate-rate sekitar 30 kilo Pak,” jawab penjual ikan. “Tapi belom lamak ini ade yang dapat tapah beratnye lebeh dari 60 kilo!“ lanjut penjual ikan itu. &lt;br /&gt;   “Alhamdulillah, kalau ikan di Ketapang ini bise mencapai berat maksimal, baruk tertangkap oleh nelayan!“ jawab Mat Belatong .&lt;br /&gt;   “Tapi ngerik gak Pak e, kalau melihat tapah sampai 60 – 70 kilo tu! Manusie, budak kecik bise ditalenye!” ucap penjual ikan.&lt;br /&gt;   “Kalau itu yang terjadi tak perlu dipermasalahkan! Selamak ini, kan tapah teros yang dimakan orang. Ape salahnye kalau sekali-sekali tapah pulak yang makan orang!” jawab Mat Belatong. Para penjual ikan yang berkerumun, ngelakak ketawa.&lt;br /&gt;   “Bapak orang perikanan ye?“ tanya salah seorang.&lt;br /&gt;   “Tadak, kalau ana orang perikanan, apelagik kepalak perikanan, tadak macam ini naseb nelayan, tadak macam sekarang ini naseb ikan, biota aek, sungai dan danau di Kalbar!“ jawab Mat Belatong. Cek Mat dan Mat Ketumbi berpandangan. &lt;br /&gt;   Dari percakapan lebih lanjut dengan para pedagang ikan itu, diketahui bahwa di daerah Ketapang ikan air tawar melulu diperoleh dari sungai. Tak ada danau. Dari pengamatan Mat Belatong, ikan-ikan tangkapan nelayan itu masih banyak yang berukuran besar, hampir mencapai berat maksimal. Ikan belida yang tertangkap beratnya antara 0,5 – 10  kg. Hampir setiap bulan, masih ada ikan silok (hijau) yang dibawa ke pasar ikan, beratnya 3 – 5 kg.     &lt;br /&gt;   Menurut Agusni Fawazi, seorang pedagang pengumpul ikan, pada awal musim air sungai surut, ia bisa mengumpulkan ikan belida sekitar 200 kg sehari. Padahal, ada sejumlah pengumpul belida lainnya di Ketapang, untuk menyuplai kebutuhan pembuat amplang (sejenis kerupuk, berbentuk hampir bundar). &lt;br /&gt;   Ada beberapa sungai yang terbilang besar di Ketapang, yang menghasilkan ikan air tawar, yaitu Sungai Pawan, Sungai Kendawangan, dan Sungai Manis Mata. Masing-masing memiliki lagi anak sungai yang kecil-kecil. Umumnya ikan yang masuk ke kota Ketapang, bersumber dari Sungai Pawan sendiri.    &lt;br /&gt;   Selaku seorang “khalifah“, Mat Belatong senang, tidak terlalu getir melihat situasi  ikan sungai di Ketapang. Dari ukuran ikan yang besar-besar, jelas populasi ikan masih boleh dianggap berjalan “normal“. Tak ada serok “waring“ yang bisa memusnahkan semua jenis anak ikan semua ukuran, seperti yang terjadi di Danau Sentarum Kapuas Hulu.&lt;br /&gt;   Dan yang menggembirakan lagi, kini populasi “ale-ale“ (sejenis kerang), telah marak kembali. Sebab pernah untuk sekian tahun, tatkala penebangan kayu masih berlangsung dahsyat, dan pencemaran sungai maupun pinggir pantai oleh racun kayu terjadi melampaui ambang batas, ale-ale tak sanggup berpopulasi. Ale-ale hampir naas, tinggal nama!&lt;br /&gt;   Dan tiba-tiba mata Mat Belatong terlihat kepada setumpuk anak ikan baong, yang mengap-mengap, pertanda masih hidup. Ia menggamit Mat Ketumbi dan berbisik,”Jon, awak tengok ikan tu ngap-ngap! Ade yang diomongkannye, ade yang diucapkannye waktu napasnye turon-naek!“&lt;br /&gt;   “Tolong timbang baong tu Pak, pileh yang maseh hidop!“ ucap Mat Belatong kepada pemilik ikan. Setelah ditimbang hampir 4 kg. “Tolong, masokkan cepat ke dalam ember ini!“ lanjut Mat Belatong sambil meminjam sebuah ember hitam milik seorang pedagang ikan. Setelah itu, tak seorangpun menyangka, baong di ember itu dicurahkan Mat Belatong ke Sungai Pawan!&lt;br /&gt;   “Maulaya, terima kembali makhluk-Mu, jadikan ia tumbuh besar dan beranak-pinak, baru kembali ke pasar ikan ini lagi!“ ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Dan ketika Mat Belatong mau membayar harga ikan tersebut, Pak Alang Kaulan penjual ikan itu berkata,”Tidak, tak usah bayar! Saya akan menerima harganya nanti ketika ia telah kembali lagi ke meja tempat jualan saya!“&lt;br /&gt;   Mat Belatong terpana mendengar jawaban itu.&lt;br /&gt;   Ternyata Kalbar masih menyimpan “orang-orang arif ”, dan tempatnya tidak di rumah bagus, tidak di gedung dan kantor besar, bukan di posisi mapan yang terpandang, tapi di pasar ikan yang becek dan bau. ***&lt;br /&gt;                                                                                     ( Pontianak, 12 Juli 2005 ).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-2735488236361069102?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/2735488236361069102/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=2735488236361069102' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/2735488236361069102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/2735488236361069102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-dan-pasar-ikan.html' title='MAT BELATONG DAN PASAR IKAN'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-7340232140458589102</id><published>2007-07-27T10:29:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.342-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG DAN ARAK KAMPEL</title><content type='html'>Oleh  A. Halim  R.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   PAGI hari Mat Belatong tampak santai membaca suratkabar sambil menghadapi sarapan pagi rutin: rokok, kopi, dan pisang goreng telanjang. Ia cuma berkain sarung, kaus oblong. Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk orang. Begitu pintu dibuka, tampak tiga orang pemuda tanggung. Salah seorang dari mereka langsung bertanya,”Ade bende Bang?”&lt;br /&gt;   “Bende ape?!“ tanya Mat  Belatong&lt;span class="fullpost"&gt;. “Biase! Kate budak-budak, Abang ade jual!” jawab pemuda tersebut.&lt;br /&gt;   “Salah kali kitak ni. Dolok di sebelah ini memang ade warong, tapi dah tutop! Kalau aku ni tak pernah jual ape-ape!“ jawab Mat Belatong. &lt;br /&gt;   Ketiga pemuda itu saling berpandangan, kemudian pergi setelah mengucapkan maaf dan terima kasih. Tak lama, lagi-lagi Mat Belatong dikejutkan oleh serombongan anak-anak berusia sekitar 10 – 12 tahun. Lima orang!&lt;br /&gt;   Anak-anak tersebut langsung berkata,”Kamek maok beli anok Pak e!“&lt;br /&gt;   “Beli ape?!“ tanya Mat Belatong heran.&lt;br /&gt;   “Biase, yang bekampel tu!“ jawab salah seorang dari mereka.             &lt;br /&gt;   “Oo, tadak! Tadak jualan ape-ape!” jawab Mat Belatong. &lt;br /&gt;   Begitu anak-anak itu pergi, ia menutup pintu rumahnya. Setelah mengisap rokok, menghirup kopi, baru otak Mat Belatong connect dengan kata “kampel“. &lt;br /&gt;   “Celake, jahanam, dikirenye aku ni jual arak kampel!“ pisuh Mat Belatong ngomong sendiri. “Ini pasti ade yang khianat ngerjekan aku ni, bilang di rumah ini ada jual arak, jual madat!“ omel Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Baru saja sebentar duduk di kursi tuanya, sudah ada lagi yang mengetuk pintu.&lt;br /&gt;   “Celake jahanam siape agik ni!?“ ucap Mat Belatong berjalan untuk membuka pintu. &lt;br /&gt;   Begitu pintu dibuka, nongol wajah Mat Ketumbi alias Ketuk, kawan Mat Belatong berdekatan rumah. “Kau gak, nak beli arak kampel ke sinik!?“ sergah Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Eh Jon, ape pasal? Cobe gak suroh ana ni masok dolok, baruk ngomong!“ jawab Mat Ketumbi slow. Ia melihat muka Mat Belatong merah, macam habis marah. Tapi bagi Mat Ketumbi, no problem, sebab dia tahu benar tingkah Mat Belatong. Angin-anginan! Kadang-kadang tak ada angin tak ada ribut, “syaraf ”-nya korslet!&lt;br /&gt;   Setelah keduanya sama duduk, Mat Ketumbi bertanya,”Ade pasal ape dengan arak kampel? Memangnye ana ni peminom?“&lt;br /&gt;   Kemudian berceritalah Mat Belatong tentang anak-anak yang datang itu. Mendengar cerita Mat Belatong tersebut, Mat Ketumbi tekial-kial ketawa.  &lt;br /&gt;   “Ngape pulak ente ketawak, memangnye aku ni ade potongan jadi tukang jual arak kampel?!“ tanya Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Kalau soal potongan, bagosnye becermen sorang jak! Soal minum, kalau dilihat dari curriculum vitae alias riwayat hidup: memang bisa dibuktikan, dengan menghadirkan banyak saksi yang masih hidup!“ jawab Mat Ketumbi. &lt;br /&gt;   “Celake jahanam! Itu masa jahiliyah Ketuk, jangan sebot-sebot agik. Aku jak sekarang tengah berperang melawan kejahilan-kejahilan yang ade di diriku sendirik. Benar kate Nabi, tak ade musoh besak melaenkan dirik sendirik! Oleh sebab itu aku sangat memusuhi kejahilan-kejahilan yang pernah kulakukan, kalau kulihat orang laen melakukannye. Maoknye: jangan agik orang laen melakukannye, cukop Mat Belatong.  Jangan mengulangi sejarah Mat Belatong, bikin sejarah sendirik yang cemerlang!“ ucap Mat Belatong. &lt;br /&gt;   Kemudian setelah berpikir sejenak, Mat Belatong bertanya,“Macam mane pikeran awak Ketuk,  untok mengajar budak-budak itu!“&lt;br /&gt;   Mat Ketumbi berpikir sampai keningnya bekerot! Ia minta air kopi, dan merokok. Setelah itu ia mengungkapkan idenya kepada Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Mat Belatong terdiam, kemudian ia berkata,“Bolehkah itu dilakukan?!“&lt;br /&gt;   Mat Ketumbi langsung menjawab,“Boleh jak, untok kebaikan!“&lt;br /&gt;   Alhasil setelah itu, Mat Ketumbi yang pernah tahu tentang susur-galur perdagangan miras lokal, lalu membeli 15 kampil arak capcuan, dimasukkan ke dalam kantung plastik  hitam. Sedangkan Mat Belatong pergi ke warung Siti Fatimah tukang jual daging.&lt;br /&gt;   Sampai di rumah, daging 2,5 ons itu direbus sebentar lalu dipotong kecil-kecil seukuran ruas kelingking. Kemudian setiap daging itu dimasukkan ke dalam kampel arak tersebut.  &lt;br /&gt;   Belum lama pekerjaan keduanya selesai, sudah datang 4 remaja tanggung naik sepeda motor berboncengan. Mat Ketumbi nongol ke depan pintu.&lt;br /&gt;   “Ade Bang?“ tanya salah seorang. Mat Ketumbi langsung menjawab,“Berape kampel?“&lt;br /&gt;   “Limak jak!“ jawabnya sambil menyodorkan duit lembaran 10 ribu. Kemudian Mat Ketumbi masuk dan mengambil lima kampil arak dimasukkan ke dalam sebuah kantung plastik hitam, dan duit Rp 2,5 ribu untuk kembali. Umumnya harga sekampil arak lokal termurah adalah Rp 1.500,-. Sehabis menerima kantung tersebut, pemuda-pemuda tanggung itu bedesut dengan sepeda motornya.&lt;br /&gt;   Pendek cerita, tak perlu berlama-lama 15 kampel arak yang disediakan, pesai dibeli budak-budak. &lt;br /&gt;   Mat Ketumbi sudah mengontek Johny Beres dan Bujang Lonang, untuk datang ke rumah Mat Belatong. Sebab sudah diperkirakan, pasti budak-budak itu protes. Kalau macam-macam, tinggal Johny jak yang membereskannye, atau Bujang Lonang nyampakkan budak-budak itu ke parit. Siapa tak kenal Bujang Lonang! Tapi alhamdulillah, tinggal gelarnye jak, pekerjaan sesat itu telah ditinggalkannya setelah beranak-bebini.&lt;br /&gt;   Sesuai dengan perkiraan, tak lama datang budak-budak pembeli arak tersebut. Melihat Johny Beres dan Bujang Lonang muncul di pintu, budak-budak langsung ngeper. Mereka tak berani masuk ke rumah mendengar sergah Bujang Lonang, “Kitak ni ngape ramai-ramai datang ke sinik?!“&lt;br /&gt;   Salah seorang menjawab,“Kamek nak betemu dengan Bang Mat Belatong, ade yang maok ditanyakkan!“ &lt;br /&gt;   “Aa, kitak maok tanyak ape, sile!“ ucap Mat Belatong muncul di pintu, lalu turon ke kaki tanggak menemui budak-budak itu.&lt;br /&gt;   “Kamek tengok di dalam kampel, ade sekerat daging! Daging ape tu Bang Mat!?“ tanya mereka . &lt;br /&gt;   “Kalau kitak maok tahu, itu daging babi!“ jawab Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Tampak anak-anak itu kaget dan tergemam sebentar.&lt;br /&gt;   “Ngape pulak daging babi dimasokkan ke arak, kamek kan tak makan daging babi!“ ucap budak-budak tersebut.&lt;br /&gt;   “Merampot kitak tak makan daging babi! Kalau kitak menghalalkan arak, ngape pulak nolak daging babi!“ ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Lebih lanjut, bagaikan di majelis dakwah, Mat Belatong nyerocos: Adek-adek yang saye hormati dan saye cintai! Akher-akher ini saye tengok, kelakuan budak-budak kite, termasok kitak ni, dari kecik sampai besak, udah mulai rosak! Sampai-sampai tak peduli pagi, tak peduli siang atau malam, kerjenye nak mabok jak! Nak muntah darah! Sampai-sampai rumah aku pon digedor, dikire ade jual ‘bende‘, ade jual arak kampel! Kalau begini modelnye, maknanye tak ade laen, melainkan menuju kehancuran zahir maupun batin! Kitak kan tahu, bahwa di dalam Al-Quran jelas-jelas: arak, tuak, anjing dan babi itu haram! Sekali agik: arak – tuak – anjing – babi! Yang pertama dilarang: arak! Baru tuak, baru anjing, baru babi! Tanggung-tanggung kalau orang Islam jual arak untuk menghidupi anak-bini, lebih baik jual daging anjing, daging babi! Tidak meracuni orang lain, tidak membuat orang lain ketagihan, tidak membuat orang lain mabuk, muntah darah! Tidak membuat orang lain hilang ingatan, bikin onar, dan berbagai kejahatan lainnya! Kalau memang tak bisa mengelak dari makan-minum barang haram, orang pintar akan lebih memilih makan daging anjing, ataupun daging babi. Mungkin badan bisa gemuk! Jangan mencari sengsara di dunia, neraka jahanam di akhirat. Jangan jadi orang, udah gak bodo-bale, miskin, hidup sakit di dunia, lalu matinya masuk neraka!  Masih untung jadi orang hidup enak makan barang haram, mati masuk neraka. Paling tidak dia sudah kebagian surga di dunia, walaupun neraka di akhirat!&lt;br /&gt;   “Ngape gak Bang Mat jual arak!?“ tanya salah seorang dari budak-budak itu.&lt;br /&gt;   “Demi untok kebaikan kitak, baruk hari ini aku jual arak sekalian dengan daging ‘babi’-nye!“ jawab Mat Belatong . &lt;br /&gt;   “Sekali lagi aku pesankan kepada kalian, jangan minum apalagi jual arak. Sebab sama dengan makan atau jual daging babi! Bahkan arak mudaratnya lebih besar! Pun dalam hidup ini jangan membual, mencuri, main judi, mabuk, madat dan melonte! Itu jalan penghancuran bagi moral dan jasmani Islami!“  ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Akhirnya Mat Belatong berkata: Sayangi dirimu! Sebab engkau bukan dibuat oleh mesin, pun bukan oleh manusia! Tidak pula oleh kedua ibu-bapakmu! Sebab kalau Allah mau, Ia bisa menjadikan manusia di muka bumi ini, tanpa perantaraan ibu-bapak, contohnya Adam! Ia bisa membuat perempuan melahirkan tanpa perlu campur tangan lelaki, contohnya Isa Ibnu Maryam. Dan ketahuilah, engkau telah dijadikan oleh “tangan”  Allah Yang Maha Suci! Adakah dari tangan seorang maestro semisal pelukis Affandi tercipta sesuatu karya yang konyol dan tak bermutu? Engkau telah tercipta oleh  “tangan”  Maha Maestro! Engkau sebuah karya yang sangat bermutu! Oleh karena itu pelihara dan rawat dirimu lahir dan batin sebaik-baiknya! Jangan rusak dan cemari dirimu dengan arak, narkoba dan lain kekotoran! Dan ingatlah selalu kepada  Maha Maestro penciptamu! Jadikan Dia idolamu!&lt;br /&gt;   Begitu Mat Belatong selesai “dakwah“, Mat Ketumbi langsung membagi-bagikan duit Rp 1.500,- kepada setiap orang budak-budak itu. Duit mereka dikembalikan, kampel arak dicurahkan ke parit! Anak-anak, remaja dan para pemuda itu akhirnya pulang sambil mengucapkan terima kasih serta menyalami Mat Belatong, Mat Ketumbi, Johny Beres dan Bujang Lonang. “Jadi-jadilah menggile tu!” pesan Bujang Lonang. Dan tak seorang budak-pun tahu, kalau potongan daging yang ada di dalam kampel arak itu adalah daging  sapi. Gile ke ape Mat Belatong encarik daging babi di warong Siti Fatimah! ***  &lt;br /&gt;                                                                 &lt;br /&gt;                                                                                    ( Pontianak, 4 Juli 2005 )&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-7340232140458589102?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/7340232140458589102/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=7340232140458589102' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/7340232140458589102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/7340232140458589102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-dan-arak-kampel.html' title='MAT BELATONG DAN ARAK KAMPEL'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-3453918728294674121</id><published>2007-07-27T10:26:00.001-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.342-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG DAN “ALIRAN  SESAT “</title><content type='html'>Oleh  A. Halim  R.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   SUATU waktu, Mat Belatong diajak kawan-kawannya mengadakan pameran lukisan. Yang datang ke rumahnya  beberapa orang pelukis profesional, seperti Zein Lupak Lapek  SSn, Lia Lemah Lecok SSn dan Zul Keple SSn.&lt;br /&gt;   “Kite haros unjok gigi Bang Mat!“ ucap Lia salah seorang pelukis wanita Pontianak itu bersemangat&lt;span class="fullpost"&gt;.&lt;br /&gt;   “Ape agik pameran sekali ini di Gedong PCC – Pontianak Convention Center – yang bergengsi itu Bang Mat,” tambah si Zul. &lt;br /&gt;   “Macam mane ana nak ikot, sebutik lukisan pon dah tadak. Kan kitak tahu  kalau  ana ni dah jadi tukang ander. Sampai-sampai jadi tukang solder panci pesok pon ana kerjekan. Kalau agik ade keramaian, ana membuat maenan budak kecik, lele dumbo, untok dijual!” jawab Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Bang Mat mesti ikot, biarpon cume duak-tige lukisan,” jawab Zein Lupak Lapek, “buat ngeraskan semangat kamek dan budak-budak laen tu!“&lt;br /&gt;   Dan ternyata keesokan harinya  ketiga pelukis jebolan ISI Yogya itu datang lagi. Di depan mata Mat Belatong mereka togokkan 2 bidang kain kanvas, cat minyak dan kuas.&lt;br /&gt;   “Pokoknye, tige hari sebelom pameran, jadi tak jadi lukisan Bang Mat kamek ambek,“ ucap Lia.&lt;br /&gt;   Kemudian ketiga pelukis itu cao, naek sedan si Zein Lupak Lapek yang baru dibelinya seharga Rp 20 juta.   &lt;br /&gt;   Setelah ketiga pelukis itu pulang, Mat Belatong termenung menatap dua kanvas yang kosong itu. “Ini budak-budak ni nak ngerjekan aku, pandai akal!” ucap Mat Belatong .&lt;br /&gt;   Tapi, bukan Mat Belatong namanya kalau kehabisan ide, tak kreatif.&lt;br /&gt;   Tak berlama-lama Mat Belatong mulai melukis. Ia melukis sesosok manusia berjubah, besorban besar di kepala, naik keledai! Mereka yang “arif” pasti mengenal, itu sosok tokoh terkenal asal Turki: Hoja Nasruddin Affandi!&lt;br /&gt;   Hoja Nasruddin dilukiskan berada di sebuah pulau kecil, seperti Tanah Lot di Bali. Pulau kecil itu, permukaan tanahnya memang agak tinggi dari permukaan laut. Ukuran pulau itu kalau dilihat perbandingannya dengan keledai dan manusia, sekitar 10 x 5 meter. Di sekelilingnya lautan luas. Ombak dilukiskan menghantam dahsyat bagian bawah pulau itu, sehingga menjadi genting terkikis! Sedangkan permukaan tanah pulau tersebut tampak hijau ditumbuhi rumput, dan ada beberapa ekor ikan yang digambarkan tinggal kepala dan tulangnya. (Bekas dimakan Hoja Nasruddin barangkali!?).&lt;br /&gt;   Sebuah kanvas yang lain, digunakan oleh Mat Belatong sebagai palette, tempat mencampur cat.&lt;br /&gt;   Setelah lukisan “Hoja Nasruddin“ selesai, lalu semua cat yang ada di dalam tube, dipencet Mat Belatong ke atas kanvas yang dijadikannya palette itu. Sehingga di bagian tengah kanvas tersebut, tampak cat warna-warni betukuk-tukuk macam taik ayam!&lt;br /&gt;   Seperti janji semula, tiga hari sebelum pameran, Zein Cs datang untuk mengambil lukisan Mat Belatong. Walaupun Mat Belatong kebetulan tak ada di rumah, kedua lukisan tanpa bingkai itu dibawa ke Gedung PCC.&lt;br /&gt;   Keesokan harinya, semua lukisan yang masuk diseleksi “kelayakan tampil“- nya oleh sejumlah kurator, pengamat seni yang sengaja didatangkan dari Jakarta, Bandung, Yogya dan Bali!  &lt;br /&gt;   “Balak gak kerje panitia ni,”  ucap Mat Belatong ketika keesokan harinya datang ke PCC. “Mendatangkan pengamat seni jak 15 orang!“ tambahnya.&lt;br /&gt;   Berdasarkan penilaian orang-orang yang diakui sebagai  ahli dan pengamat seni  itu, semua lukisan lolos, kecuali satu! Yaitu karya Mat Belatong di kanvas yang dijadikannya palette itu! Sebab para ahli seni itu tahu kalau kanvas itu bukan lukisan, melainkan cuma dijadikan palette oleh pelukisnya.&lt;br /&gt;   Mengetahui hal tersebut Mat Belatong protes. “Kalau cume masok salah-satu, lebeh baek duak-duaknye tak ikot! Duak kanvas itu satu kesatuan, tak bise dipisahkan!” ucap Mat Belatong di hadapan para ahli seni itu.   &lt;br /&gt;   Karena omongannya tak digubris, Mat Belatong bergerak ingin mengambil kedua lukisannya untuk dibawa pulang. Namun Lia Cs masih menahan Mat Belatong. Negosiasi dengan Tim Penyeleksi segera dilaksanakan. Ternyata Tim Penyeleksi masih ngotot dengan setumpuk kriteria dan alasan! &lt;br /&gt;   Suasana panas timbul, dan para pelukis Kalbar mengambil keputusan yang sama sekali tak terduga. Pameran batal, kalau lukisan Mat Belatong tidak diikutsertakan dua-duanya! Para ahli seni kalot, panitia dan para sponsor belingsatan!&lt;br /&gt;   Akhirnya lukisan Mat Belatong lolos. Dan syarat lain yang diajukan Mat Belatong pun dipenuhi: dua kanvas itu harus diletakkan berdampingan!&lt;br /&gt;   Setelah itu semua acara berjalan lancar, dan pengunjung berlimpah. Apalagi karena mendengar kabar dari mulut ke mulut bahwa Mat Belatong tampil dengan lukisan “Hoja Nasruddin“ dan “taik ayam“. Kalangan yang mengenal baik tokoh  Hoja Nasruddin dari banyak literatur, ikut berdatangan. Baik dari STAIN, UNTAN, para pengikut tarikat, dan pengamal sufisme! Benar-benar heboh! Komentar, opini, maupun debat di antara para penonton terjadi!&lt;br /&gt;   Salah seorang guru tarikat dari Paret Bakong, melihat lukisan Hoja Nasruddin  sampai berucap,”Beginilah keadaan para penganut tarikat dan tasawuf di daerah ini. Terkucil, terpencil, dan terus dihantam oleh gelombang ketidaksetujuan yang dahsyat! Contoh nyata telah dialami oleh Syaikh Ahmad Khatib As-Sambasi Ibnu Abdul Ghaffar. Aliran tarikatnya sirna dari bumi Kalbar, untung saja murid-muridnya banyak tersebar di Jawa dan Madura!“&lt;br /&gt;   Terhadap kanvas yang satunya lagi, Haji Kasem sufi dari Sungai Dungun berucap,”Siape bilang ini lukisan taik ayam?!  Kalau taik ayam tadak warne-warni macam ini. Ape yang dituangkan Mat Belatong ke kanvas ini adalah gambaran dari qalbu manusia yang penuh kekotoran dewasa ini, penuh warna-warni hawa nafsu! Kalau hati udah mengeras, betukuk-tukuk , belepotan seperti ini, lalu mana  lagi untuk Allah?!“&lt;br /&gt;   Sejumlah komentar, disampaikan oleh Zul Keple kepada Mat Belatong. “Haa, sampai begitu cakap orang?! Tapi alhamdulillah, itulah karya seni. Walau tanpa judul, ia telah berbicara kepada setiap orang, berdasarkan kapasitas, persepsi, dan imajinasi orang itu masing-masing,“ ucap Mat Belatong. “Padahal ana sorang tak tepiker yang macam itu!” lanjutnya. “Tapi jelas, orang Kalbar khususnya orang-orang tarikat itu apresiasi seninya sangat tinggi! Mereka bukan cuma memandang yang tersurat, tapi juga yang tersirat! Dan mereka siap ‘berijtihad’ dalam memecahkan sesuatu  fenomena yang dihadapi. Dan kite tak dapat menahan orang bepiker dan berpendapat  sekarang ni. Termasok mane kite mampu menolak fitnah orang, sedangkan Rasulullah jak kenak fitnah!“ tambah Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Akan halnya kanvas Mat Belatong yang dijadikan palette itu, dicap oleh para kurator dan ahli seni sebagai: aliran sesat! Sebab sukar memasukkannya ke dalam kategori lukisan maupun sesuatu aliran lukisan! Tidak memenuhi, bahkan “menyimpang “ dari kriteria umum yang berlaku!   &lt;br /&gt;   Malam terakhir pameran, semua ahli seni kumpul, semua pelukis kumpul. Demikian juga sejumlah penonton yang berminat tinggi. Sebab malam itu akan diadakan: bedah karya! Semua ahli akan memberikan kritik, saran maupun pujiannya, dan semua pelukis berhak melakukan pembelaan.&lt;br /&gt;   Suasana memang hangat!  &lt;br /&gt;   Alhasil, sampailah kepada kedua karya Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Karya Mat Belatong yang dianggap “aliran sesat“ dibedah habis-habisan. Berkeluaran semua dalil, semua fatwa, semua hujah dari para ahli seni itu. Namun berbagai pendapat, berbagai tafsiran dan  pujian diungkapkan oleh para ahli seni itu   &lt;br /&gt;terhadap lukisan “Hoja Nasruddin“.&lt;br /&gt;   “Aneh,” pikir Mat Belatong,”bagaimana mereka bisa berbuat seperti ini, tidakkah mereka melihat, hanya ada satu pelaku dalam dua karya yang berbeda itu?!“  &lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong, di hadapan kedua lukisannya dipersilahkan untuk menjelaskan, memberikan pembelaan terhadap karyanya. &lt;br /&gt;   Dengan tenang Mat Belatong berkata,”Saye tak maok cakap banyak. Bise-bise pon ape yang ana cakapkan ini tak dimengerti oleh Bapak-Bapak para ahli. Maklomlah cakap saye, cakap orang bodo, sedangkan Bapak-Bapak orang pintar! Agik pulak, biarlah karya saya saja yang berbicara tentang dirinya kepada setiap orang dalam bahasa rasa! Tapi baeklah, saye hanya akan menambahkan sedikit ungkapan dalam bahasa Indonesia yang bersahaja, dan dengan kalimat yang bersahaja.”&lt;br /&gt;   Sambil menunjuk kepada lukisan Hoja Nasruddin, Mat Belatong berkata,”Tatkala memandang gambar, engkau lupa akan catnya!“&lt;br /&gt;   Kemudian ia menunjuk kepada cat yang betukuk-tukuk di kanvas yang satu lagi sembari berkata,”Tatkala memandang catnya, engkau lupa akan gambarnya!“&lt;br /&gt;   “Oleh sebab itulah saya tak mau kedua lukisan ini dipisahkan, sebab ia merupakan satu kesatuan,” lanjut Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Karena melihat para ahli dan penonton diam, Mat Belatong memecah keheningan dengan ujarnya,”Dengan kata lain: tatkala memandang huruf engkau lupa akan dawatnya, tatkala memandang dawat engkau lupa akan hurufnya!“&lt;br /&gt;   “Demikian Bapak-Bapak dari saya, lebih dan kurang mohon dimaafkan, ana takot kepanjangan!” ucap Mat Belatong mengakhiri pembicaraannya. ***&lt;br /&gt;                                                                              &lt;br /&gt;                                                                                          ( Pontianak, 29 Juni 2005 ).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-3453918728294674121?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/3453918728294674121/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=3453918728294674121' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/3453918728294674121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/3453918728294674121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-dan-aliran-sesat.html' title='MAT BELATONG DAN “ALIRAN  SESAT “'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-6271734944703723901</id><published>2007-07-27T10:26:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T11:12:34.673-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG DAN “ALIRAN  SESAT “</title><content type='html'>Oleh  A. Halim  R.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   SUATU waktu, Mat Belatong diajak kawan-kawannya mengadakan pameran lukisan. Yang datang ke rumahnya  beberapa orang pelukis profesional, seperti Zein Lupak Lapek  SSn, Lia Lemah Lecok SSn dan Zul Keple SSn.&lt;br /&gt;   “Kite haros unjok gigi Bang Mat!“ ucap Lia salah seorang pelukis wanita Pontianak itu bersemangat&lt;span class="fullpost"&gt;.&lt;br /&gt;   “Ape agik pameran sekali ini di Gedong PCC – Pontianak Convention Center – yang bergengsi itu Bang Mat,” tambah si Zul. &lt;br /&gt;   “Macam mane ana nak ikot, sebutik lukisan pon dah tadak. Kan kitak tahu  kalau  ana ni dah jadi tukang ander. Sampai-sampai jadi tukang solder panci pesok pon ana kerjekan. Kalau agik ade keramaian, ana membuat maenan budak kecik, lele dumbo, untok dijual!” jawab Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Bang Mat mesti ikot, biarpon cume duak-tige lukisan,” jawab Zein Lupak Lapek, “buat ngeraskan semangat kamek dan budak-budak laen tu!“&lt;br /&gt;   Dan ternyata keesokan harinya  ketiga pelukis jebolan ISI Yogya itu datang lagi. Di depan mata Mat Belatong mereka togokkan 2 bidang kain kanvas, cat minyak dan kuas.&lt;br /&gt;   “Pokoknye, tige hari sebelom pameran, jadi tak jadi lukisan Bang Mat kamek ambek,“ ucap Lia.&lt;br /&gt;   Kemudian ketiga pelukis itu cao, naek sedan si Zein Lupak Lapek yang baru dibelinya seharga Rp 20 juta.   &lt;br /&gt;   Setelah ketiga pelukis itu pulang, Mat Belatong termenung menatap dua kanvas yang kosong itu. “Ini budak-budak ni nak ngerjekan aku, pandai akal!” ucap Mat Belatong .&lt;br /&gt;   Tapi, bukan Mat Belatong namanya kalau kehabisan ide, tak kreatif.&lt;br /&gt;   Tak berlama-lama Mat Belatong mulai melukis. Ia melukis sesosok manusia berjubah, besorban besar di kepala, naik keledai! Mereka yang “arif” pasti mengenal, itu sosok tokoh terkenal asal Turki: Hoja Nasruddin Affandi!&lt;br /&gt;   Hoja Nasruddin dilukiskan berada di sebuah pulau kecil, seperti Tanah Lot di Bali. Pulau kecil itu, permukaan tanahnya memang agak tinggi dari permukaan laut. Ukuran pulau itu kalau dilihat perbandingannya dengan keledai dan manusia, sekitar 10 x 5 meter. Di sekelilingnya lautan luas. Ombak dilukiskan menghantam dahsyat bagian bawah pulau itu, sehingga menjadi genting terkikis! Sedangkan permukaan tanah pulau tersebut tampak hijau ditumbuhi rumput, dan ada beberapa ekor ikan yang digambarkan tinggal kepala dan tulangnya. (Bekas dimakan Hoja Nasruddin barangkali!?).&lt;br /&gt;   Sebuah kanvas yang lain, digunakan oleh Mat Belatong sebagai palette, tempat mencampur cat.&lt;br /&gt;   Setelah lukisan “Hoja Nasruddin“ selesai, lalu semua cat yang ada di dalam tube, dipencet Mat Belatong ke atas kanvas yang dijadikannya palette itu. Sehingga di bagian tengah kanvas tersebut, tampak cat warna-warni betukuk-tukuk macam taik ayam!&lt;br /&gt;   Seperti janji semula, tiga hari sebelum pameran, Zein Cs datang untuk mengambil lukisan Mat Belatong. Walaupun Mat Belatong kebetulan tak ada di rumah, kedua lukisan tanpa bingkai itu dibawa ke Gedung PCC.&lt;br /&gt;   Keesokan harinya, semua lukisan yang masuk diseleksi “kelayakan tampil“- nya oleh sejumlah kurator, pengamat seni yang sengaja didatangkan dari Jakarta, Bandung, Yogya dan Bali!  &lt;br /&gt;   “Balak gak kerje panitia ni,”  ucap Mat Belatong ketika keesokan harinya datang ke PCC. “Mendatangkan pengamat seni jak 15 orang!“ tambahnya.&lt;br /&gt;   Berdasarkan penilaian orang-orang yang diakui sebagai  ahli dan pengamat seni  itu, semua lukisan lolos, kecuali satu! Yaitu karya Mat Belatong di kanvas yang dijadikannya palette itu! Sebab para ahli seni itu tahu kalau kanvas itu bukan lukisan, melainkan cuma dijadikan palette oleh pelukisnya.&lt;br /&gt;   Mengetahui hal tersebut Mat Belatong protes. “Kalau cume masok salah-satu, lebeh baek duak-duaknye tak ikot! Duak kanvas itu satu kesatuan, tak bise dipisahkan!” ucap Mat Belatong di hadapan para ahli seni itu.   &lt;br /&gt;   Karena omongannya tak digubris, Mat Belatong bergerak ingin mengambil kedua lukisannya untuk dibawa pulang. Namun Lia Cs masih menahan Mat Belatong. Negosiasi dengan Tim Penyeleksi segera dilaksanakan. Ternyata Tim Penyeleksi masih ngotot dengan setumpuk kriteria dan alasan! &lt;br /&gt;   Suasana panas timbul, dan para pelukis Kalbar mengambil keputusan yang sama sekali tak terduga. Pameran batal, kalau lukisan Mat Belatong tidak diikutsertakan dua-duanya! Para ahli seni kalot, panitia dan para sponsor belingsatan!&lt;br /&gt;   Akhirnya lukisan Mat Belatong lolos. Dan syarat lain yang diajukan Mat Belatong pun dipenuhi: dua kanvas itu harus diletakkan berdampingan!&lt;br /&gt;   Setelah itu semua acara berjalan lancar, dan pengunjung berlimpah. Apalagi karena mendengar kabar dari mulut ke mulut bahwa Mat Belatong tampil dengan lukisan “Hoja Nasruddin“ dan “taik ayam“. Kalangan yang mengenal baik tokoh  Hoja Nasruddin dari banyak literatur, ikut berdatangan. Baik dari STAIN, UNTAN, para pengikut tarikat, dan pengamal sufisme! Benar-benar heboh! Komentar, opini, maupun debat di antara para penonton terjadi!&lt;br /&gt;   Salah seorang guru tarikat dari Paret Bakong, melihat lukisan Hoja Nasruddin  sampai berucap,”Beginilah keadaan para penganut tarikat dan tasawuf di daerah ini. Terkucil, terpencil, dan terus dihantam oleh gelombang ketidaksetujuan yang dahsyat! Contoh nyata telah dialami oleh Syaikh Ahmad Khatib As-Sambasi Ibnu Abdul Ghaffar. Aliran tarikatnya sirna dari bumi Kalbar, untung saja murid-muridnya banyak tersebar di Jawa dan Madura!“&lt;br /&gt;   Terhadap kanvas yang satunya lagi, Haji Kasem sufi dari Sungai Dungun berucap,”Siape bilang ini lukisan taik ayam?!  Kalau taik ayam tadak warne-warni macam ini. Ape yang dituangkan Mat Belatong ke kanvas ini adalah gambaran dari qalbu manusia yang penuh kekotoran dewasa ini, penuh warna-warni hawa nafsu! Kalau hati udah mengeras, betukuk-tukuk , belepotan seperti ini, lalu mana  lagi untuk Allah?!“&lt;br /&gt;   Sejumlah komentar, disampaikan oleh Zul Keple kepada Mat Belatong. “Haa, sampai begitu cakap orang?! Tapi alhamdulillah, itulah karya seni. Walau tanpa judul, ia telah berbicara kepada setiap orang, berdasarkan kapasitas, persepsi, dan imajinasi orang itu masing-masing,“ ucap Mat Belatong. “Padahal ana sorang tak tepiker yang macam itu!” lanjutnya. “Tapi jelas, orang Kalbar khususnya orang-orang tarikat itu apresiasi seninya sangat tinggi! Mereka bukan cuma memandang yang tersurat, tapi juga yang tersirat! Dan mereka siap ‘berijtihad’ dalam memecahkan sesuatu  fenomena yang dihadapi. Dan kite tak dapat menahan orang bepiker dan berpendapat  sekarang ni. Termasok mane kite mampu menolak fitnah orang, sedangkan Rasulullah jak kenak fitnah!“ tambah Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Akan halnya kanvas Mat Belatong yang dijadikan palette itu, dicap oleh para kurator dan ahli seni sebagai: aliran sesat! Sebab sukar memasukkannya ke dalam kategori lukisan maupun sesuatu aliran lukisan! Tidak memenuhi, bahkan “menyimpang “ dari kriteria umum yang berlaku!   &lt;br /&gt;   Malam terakhir pameran, semua ahli seni kumpul, semua pelukis kumpul. Demikian juga sejumlah penonton yang berminat tinggi. Sebab malam itu akan diadakan: bedah karya! Semua ahli akan memberikan kritik, saran maupun pujiannya, dan semua pelukis berhak melakukan pembelaan.&lt;br /&gt;   Suasana memang hangat!  &lt;br /&gt;   Alhasil, sampailah kepada kedua karya Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Karya Mat Belatong yang dianggap “aliran sesat“ dibedah habis-habisan. Berkeluaran semua dalil, semua fatwa, semua hujah dari para ahli seni itu. Namun berbagai pendapat, berbagai tafsiran dan  pujian diungkapkan oleh para ahli seni itu   &lt;br /&gt;terhadap lukisan “Hoja Nasruddin“.&lt;br /&gt;   “Aneh,” pikir Mat Belatong,”bagaimana mereka bisa berbuat seperti ini, tidakkah mereka melihat, hanya ada satu pelaku dalam dua karya yang berbeda itu?!“  &lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong, di hadapan kedua lukisannya dipersilahkan untuk menjelaskan, memberikan pembelaan terhadap karyanya. &lt;br /&gt;   Dengan tenang Mat Belatong berkata,”Saye tak maok cakap banyak. Bise-bise pon ape yang ana cakapkan ini tak dimengerti oleh Bapak-Bapak para ahli. Maklomlah cakap saye, cakap orang bodo, sedangkan Bapak-Bapak orang pintar! Agik pulak, biarlah karya saya saja yang berbicara tentang dirinya kepada setiap orang dalam bahasa rasa! Tapi baeklah, saye hanya akan menambahkan sedikit ungkapan dalam bahasa Indonesia yang bersahaja, dan dengan kalimat yang bersahaja.”&lt;br /&gt;   Sambil menunjuk kepada lukisan Hoja Nasruddin, Mat Belatong berkata,”Tatkala memandang gambar, engkau lupa akan catnya!“&lt;br /&gt;   Kemudian ia menunjuk kepada cat yang betukuk-tukuk di kanvas yang satu lagi sembari berkata,”Tatkala memandang catnya, engkau lupa akan gambarnya!“&lt;br /&gt;   “Oleh sebab itulah saya tak mau kedua lukisan ini dipisahkan, sebab ia merupakan satu kesatuan,” lanjut Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Karena melihat para ahli dan penonton diam, Mat Belatong memecah keheningan dengan ujarnya,”Dengan kata lain: tatkala memandang huruf engkau lupa akan dawatnya, tatkala memandang dawat engkau lupa akan hurufnya!“&lt;br /&gt;   “Demikian Bapak-Bapak dari saya, lebih dan kurang mohon dimaafkan, ana takot kepanjangan!” ucap Mat Belatong mengakhiri pembicaraannya. ***&lt;br /&gt;                                                                              &lt;br /&gt;                                                                                          ( Pontianak, 29 Juni 2005 ).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-6271734944703723901?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/6271734944703723901/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=6271734944703723901' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/6271734944703723901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/6271734944703723901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-dan-aliran-sesat_27.html' title='MAT BELATONG DAN “ALIRAN  SESAT “'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-4527697768519407773</id><published>2007-07-27T10:16:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.342-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG DAN “HIJAU  BUMIKU“</title><content type='html'>Oleh  A. Halim  R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   SEBUAH kebiasaan Mat Belatong, setiap kali ada bertemu kawan atau kenalan yang baru datang dari daerah pedalaman Kapuas, semisal Sanggau, Sintang, Kapuas Hulu, selalu ia bertanya: Air pasang atau surut!? &lt;br /&gt;   Kalau mendengar pasang, apalagi pasang kuat, apalagi tembok sampai lapot (jalan  sampai tergenang), Mat Belatong berdoa:&lt;span class="fullpost"&gt;Ya Allah, jangan terlalu lama pasang ini, cukuplah untuk sekadar membersihkan muka bumimu dari segala macam hama, cukuplah untuk membesarkan anak-anak ikan yang baru memijah, cukuplah sekadar membunuh gulma untuk menjadi rabuk tanah. Kalau pasang lama, hamba kasihan para penoreh karet tidak bisa bekerja. Dan yang terlebih hamba takutkan penebangan kayu makin bersimaharajalela! Air pasang makin mempermudah mereka mengeluarkan hasil tebangan ke sungai-sungai kecil, untuk kemudian keluar ke Sungai Kapuas!&lt;br /&gt;   Tatkala dikatakan air surut, apalagi sampai kelihatan pasir dasar sungai, Mat Belatong berdoa: Ya Allah hamba mohon jangan sampai kemarau berlama-lama, sebab kehidupan makhluk air-Mu sangat terancam. Danau-danau di Tayan, di Sintang, dan Kapuas Hulu menjadi kering, tanah dasar danau menjadi kerontang dan merekah. Yang tersisa, tinggal alur air yang kecil dan sempit, dengan air keruh bewarna coklat. Dan di mana-mana telah terpasang beragam alat penangkap ikan, bahkan telah menganga ribuan serok “waring“ penangkap anak ikan semua ukuran! Dan ikan-ikan yang hidup pun ketiadaan makanan, kecuali memangsa sesamanya! Lebih dari itu, bermunculan ribuan  mesin Dong Feng di sepanjang sungai, menyauk emas menebar merkuri!    &lt;br /&gt;   “Ya Allah, aku menjadi saksi kesemuanya ini, tanpa dapat berbuat apa-apa. Kudengar tangis bumi, kudengar tangis rimba. Kusaksikan pohon rebah satu demi satu, kudengar lengkingan terakhir dari banyak margasatwa tatkala mengakhiri hidupnya! Wewangian rimba telah berganti dengan sengaknya bau bensin dan solar, bisikan angin dan nyanyian margasatwa telah berganti dengan deru chainsaw dan logging truck! Kemurnian air sungai dan danau-Mu telah tercemar oleh racun dan tuba! Surga yang Engkau ciptakan di bumi telah hancur sia-sia karena kerakusan sementara manusia!“ ucap Mat Belatong mengadu kepada Tuhannya.&lt;br /&gt;   Syukurlah dalam keadaan hati luluh-lantak seperti muka bumi Kalbar ini, Mat Belatong masih terhibur membaca sebuah slogan di belakang baju kaus seseorang hamba Allah: Hijau Bumiku.&lt;br /&gt;   Mat Belatong berpikir, mungkin ada yang mentertawakan slogan itu, bahkan ingin menambah dua kata di belakangnya: Hijau Mataku!&lt;br /&gt;   Kalau sudah  “hijau mataku“ tentu yang terbayang adalah: duit! Dan untuk duit, banyak orang  rela mengorbankan manusia dan makhluk  lain, menimbulkan kerusakan di muka bumi! Karena duit, orang bisa lupa mati, menafikan kehidupan akhirat!&lt;br /&gt;   Padahal, sebatang pohon, bukan cuma milik manusia, tapi juga diperuntukkan Allah bagi berbagai makhluk ciptaannya. Dari akar, batang, daun, bunga hingga buahnya. &lt;br /&gt;   Sebatang pohon tengkawang yang tumbuh di pinggir sungai, bukan hanya bisa memberi manfaat kepada manusia, tetapi juga menghidupi serangga, kancil, babi,  termasuk ikan dan lain margasatwa. &lt;br /&gt;   Tatkala rimba telah hilang, sirna pulalah segala makhluk yang mengambil manfaat darinya, hilanglah mata rantai lingkaran  kehidupan yang ada di sana. Keseimbangan alam goncang, musim tak berjalan normal, pasang-surut air tak beraturan lagi!&lt;br /&gt;   Mat Belatong pernah terpana menyaksikan padang hilalang seluas mata memandang di Kecamatan Ella, dekat Bukit Baka, di bibir perbatasan Kalbar-Kalteng. Di sana, terasa sebuah kesunyian yang mencekam, di tengah teriknya matahari.&lt;br /&gt;   Tiada seekor satwa yang terlihat, tiada cericit burung, tiada seekor unggas pun yang  berani melintas di tengah lautan  hilalang itu. Tiada tempat berteduh, tiada tempat hinggap!&lt;br /&gt;   Akan begitukah masa depan permukaan bumi Kalbar. Akan masih adakah mata air di muka bumi yang demikian itu. Bahkan sungai pun akan kehilangan hulunya!&lt;br /&gt;   Perbuatan manusia hari ini akan dirasakan akibatnya esok, perbuatan aniaya sang ayah akan diderita oleh anaknya kelak!&lt;br /&gt;   Dan tatkala Allah bertindak, bencana alam datang, semuanya tergulung bencana. Termasuk yang tidak berbuat aniaya! &lt;br /&gt;   Kalaupun terjadi penghijauan hari ini – seperti yang diajak oleh sebuah slogan --     sebaiknya bukan sekadar penghijauan asal hijau! Melainkan rehabilitasi terhadap hutan dan rimba Kalbar yang telah musnah. Kendati berdikit-dikit, tapi berkesinambungan. Seyogianya, jangan tampal bumi Kalbar yang sudah banyak plontos dan botak itu dengan tanaman asing. Melainkan dengan bibit tanaman lokal, yang memenuhi keinginan:  penghijauan terlaksana, dijadikan duitpun bisa. Lebih dari itu, bermakna pula sebagai rehabilitasi terhadap habitat margasatwa, rehabilitasi terhadap populasi margasatwa Kalbar yang kian punah! Bukan cuma manusia yang menikmatinya, tapi juga makhluk Allah yang lain! &lt;br /&gt;    Alangkah baiknya bila setiap daerah, kabupaten  di Kalbar ini merehabilitasi hutannya dengan tanaman ungggulan masing-masing. Tak dirawat baikpun bisa tumbuh, apalagi jika dirawat baik seperti perlakuan kita terhadap tanaman asing, tentu ia akan memberikan manfaat maksimal!&lt;br /&gt;    Ada yang menanam kayu belian, ada yang menanam berbagai jenis meranti, ada yang menanam jambu mete, ada yang bertanam coklat, ada yang bertanam melinjo, karet dan lain-lain. Tanamlah sesuatu yang penjualannya bisa dilakukan oleh petani sendiri, tidak tergantung kepada sesuatu pihak atau penampung. Terutama untuk daerah perbatasan, tanamlah sesuatu yang dapat dilego sendiri ke luar negeri oleh petani. Jangan dulu berbicara  “pajak tak masuk“, tapi biarkan dulu masyarakat meraih kesejahteraannya! Tatkala petani berduit, anaknya bersekolah dan pintar, itu sebuah investasi besar untuk masa depan Kalbar. Pemasukan pajak  akan datang sendiri!&lt;br /&gt;   Tatkala reboisasi, pemanfaatan lahan diperuntukkan bagi tanaman monokultur “asing” semisal sawit, bertanyalah kepada para petani lokal di daerah Ngabang, Perindu dan beberapa daerah lain. Apa yang telah didatangkan sawit kepada mereka? Dan bertanyalah kepada mereka, lahan di pinggir jalan itu sudah milik siapa? Masih milik merekakah, atau sudah tergadai dan terjual kepada orang-orang yang masih ada kait-mengaitnya dengan perusahaan sawit bersangkutan!&lt;br /&gt;   Sebuah “penghinaan“ telah diderita petani sawit lokal, ongkos angkutan buah sawit ke pabrik per kg bisa lebih mahal dari harga pembelian buah sawit segar yang dilakukan oleh pihak perusahaan (pabrik). Dan adakah kebun sawit bisa menjadi habitat margasatwa, selain tikus dan bangsa kecoa? Tanah macam apa yang tersisa dari bekas kebun sawit yang tidak produktif itu lagi? &lt;br /&gt;   Dan tatkala demam penanaman pohon jati melanda sementara orang, adakah ini benar menjanjikan? Niscaya jati yang dihasilkan tidaklah sekualitas jati Jawa, sama halnya batang kelapa Kalbar tak sama kekuatannya dengan kelapa Jawa! Kecuali itu, adakah manfaatnya untuk margasatwa?  &lt;br /&gt;   Lalu, apa kabar dengan proyek reboisasi akasia di daerah Kebebu  Nanga Pinoh – berpuluh tahun lalu – yang sering benar “terbakar“?! &lt;br /&gt;   Mat Belatong tak lupa, sampai salah seorang insinyur karyawan perusahaan yang menangani proyek tersebut bunuh diri terjun dari jembatan Kapuas Pontianak!&lt;br /&gt;   Proyek ini salah satu cermin tempat berkaca!  &lt;br /&gt;   Sungguh benar bila penanaman pohon engkaras (pohon biang getah gaharu) digalakkan di daerah ini. Sungguh benar bila orang Dayak Bukat dan Punan diajak ke Jawa untuk belajar membuat rumah walet, agar mereka tak begitu tergantung lagi dari walet gua!  Banyak hal yang bisa dibuat, asal tulus dan berpikir.&lt;br /&gt;   “Hijau Bumiku, Hijau Mataku“ mungkin sebuah slogan yang paling kena untuk kita saat ini. Apalah maknanya sebuah semboyan, tatkala pembabatan hutan, pengrusakan alam terpampang di depan mata aparat, dan pejabat (baik sipil maupun bersenjata), namun ia tidak berbuat sesuatupun! Sama seperti yang dilakukan Mat Belatong,          namun  berbeda! Diam-nya Mat Belatong memanjatkan doa, diamnya aparat dan pejabat  kejatuhan keponjen (kantung duit – pen) hijau! &lt;br /&gt;   Sebuah riwayat menceritakan, pada suatu malam Imam Al-Ghazali bermimpi, Allah memperlihatkan surga kepadanya. Sang Iman bertanya-tanya, amal kebajikan apa yang telah dilakukannya sehingga Allah berkenan memperlihatkan  surga kepadanya? Adakah karena ia telah menulis kitab Ihya Ulumuddin yang  terkenal itu?&lt;br /&gt;   Suatu malam ia bermimpi, Allah berkata kepadanya: Lupakah engkau pada suatu ketika engkau menulis, seekor lalat telah masuk ke dalam tempat dawatmu? Dan engkau mengeluarkannya, lalu membersihkannya dengan penuh rasa kasih sayang. Dan engkau melepaskannya dan  membiarkannya terbang!&lt;br /&gt;   Sang Imam termangu. Kiranya rasa kasih sayang yang ditebarkan kepada sesama makhluk, lebih bermakna dari mengarang Kitab Ihya Ulumuddin?!  ***      &lt;br /&gt;                                                                                               &lt;br /&gt;                                                                                     (Pontianak, 10 Juli 2005)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-4527697768519407773?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/4527697768519407773/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=4527697768519407773' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/4527697768519407773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/4527697768519407773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-dan-hijau-bumiku.html' title='MAT BELATONG DAN “HIJAU  BUMIKU“'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-2400714497197632639</id><published>2007-07-27T09:52:00.001-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.343-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG DAN “ORANG  PANDAI“</title><content type='html'>Oleh  A.Halim  R.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   MAT BELATONG, walaupun bingung, tapi paham juga bahwa dewasa ini sangat banyak orang pintar. Yang namanya perguruan tinggi juga sudah belonggok, baik yang negeri maupun yang swasta, baik yang mahasiswanya benar-benar kuliah  ataupun yang kuliahnya  sangsot  tapi pasti dapat gelar.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   Yang namanya gelar, pun sudah bermacam-macam, bahkan ada yang “berdepa-depa” di belakang nama seseorang! Tingkatannya, ada S1, S2 dan S3, dengan  beragam-ragam singkatan.&lt;br /&gt;   Mau yang lebih, masuk S4 (S Opat). Di strata ini bisa kumpul dengan si Asep, Kang Ujang, Mang Dudung bahkan kalau nasib baik bisa ketemu dengan si Iteung dan si Kabayan. Paling tidak bisa ngumpul dengan Kang Dedi penabuh gendang dari grup kesenian “Gentra Siliwangi“ Pontianak itu!&lt;br /&gt;   Namun menurut pengamatan Mat Belatong, banyak di antara orang-orang pintar itu yang bertekuk lutut kepada orang-orang yang menamakan dirinya atau dinamakan “orang pandai“ alias dukun! Golongan ini, juga membuat Mat Belatong pening. Mana “orang pandai“ benar, mana “orang pandai ngakal” atau sekadar “pandai sulap“. Tak jelas!&lt;br /&gt;   Secara kasat mata, Mat Belatong melihat, yang menamakan dirinya atau dianggap oleh orang lain itu “orang pandai“, ada yang tak pernah “ngunyah bangku sekolah“, ada  yang cuma setakat SD atau Lanjutan, dan ada pula mantan mahasiswa drop-out! Ada juga yang sarjana, barangkali.&lt;br /&gt;   Dan anehnya sering terlihat, orang-orang pintar banyak yang bertekuk lutut, sangat membutuhkan, bahkan sampai pada stadium ketergantungan kepada “orang pandai“.   Kendati “orang pandai“ itu cuma  “mengunyah“ bangku  SLTP.&lt;br /&gt;   Lalu orang pintar itu ilang cerite pintarnye, ilang cerite S1, S2, S3, timbol cerite: S Teler, S Lingau, S Kampel!&lt;br /&gt;   “Di sinilah fenomena antara orang pintar dan orang pandai,” pikir Mat Belatong  yang  sedang-sedang  gak lingau-nye itu.&lt;br /&gt;   Pada suatu kesempatan, Mat Belatong berkunjung ke suatu daerah yang kebetulan mengadakan gawai resmi. Karenanya tak aneh bila banyak orang pintar (umumnya pejabat) yang datang ke sana. Dan banyak yang Mat Belatong  kenal baik. Maklumlah, walaupun lingau, dalam pergaulan hidup Mat Belatong terbilang  bergaul lintas strata sosial. Dari pemulung sampai ke peringkat “elit“, dari tukang “gulung” sampai kepada Pak Pelit, dari kakilima sampai kakiseribu! Tak percuma gelar “belatong“ yang disandangnya!&lt;br /&gt;   Suatu malam dalam majelis yang terbatas, dan sangat tidak resmi, ia tampak bersama dengan beberapa orang pintar yang dikenalnya. Dan tiba-tiba masuk seorang penjaga rumah memberi laporan kepada salah seorang pintar yang ada di situ.&lt;br /&gt;   “Assalamu’alaikum Pak, tadik ade saye lihat si Mendan lewat, pegi ke pasar!” ucapnya dengan hormat.&lt;br /&gt;   “Ha, kalau begitu panggel jak ke sinik, bilang aku yang manggel, sebab ade yang maok diobat!” ucap Pak Pintar yang pejabat itu.&lt;br /&gt;   Dari omong-omong selanjutnya, tahulah Mat Belatong bahwa orang yang disebut Mendan itu, termasuk “orang pandai“ di daerah itu.&lt;br /&gt;   Namanya yang sebenarnya Hamdan, kenak lidah Melayu terjadi modifikasi, jadi: Mendan! Same gak dengan Bugis: Bapak Abdurrazak jadi Wak Cak, Rasyid jadi Sidek, Ma’aruf jadi Marupek, Jamaluddin jadi Maluk!&lt;br /&gt;   Tak lama kemudian si penjaga rumah datang, dan memberi laporan,”Pak, malam ini si Mendan belom dapat datang. Sebab, menurot peritongan die, malam ini tak bagos untok berobat. Besok malam jak , die bilang.” &lt;br /&gt;   “Aa, iyelah,”  kata Pak Pejabat,”mak kaseh ye!”&lt;br /&gt;   Otak usil Mat Belatong, mulai mereka-reka. Karena dipanggil mendadak, tentu Mendan tak mau datang, karena ia “belum siap“ dengan peralatan ataupun barang-barang yang diperlukan untuk praktik “perdukunan“-nya. Mat Belatong memang banyak tak percaya daripada percaya terhadap hal-hal semacam itu. Biar gak lingau tapi terbilang kritis! Kadang-kadang, kritis Mat Belatong  nyaketkan hati!&lt;br /&gt;   Malam besoknya Mendan benar datang, berpakaian biasa, menenteng sebuah tas besar. Mat Belatong diajak untuk menyaksikan pengobatan itu, dan kebetulan ia memang diajak tidur sekamar oleh Pak Pejabat. Harap maklum, walaupun bodo-bale dan agak lingau, Mat Belatong disukai oleh banyak orang.&lt;br /&gt;   Di kamar, Mendan tampak membuka tasnya, lalu mengenakan jubah dan sorban. Dan ia mengeluarkan pula beberapa lembar kain. Semuanya bewarna putih, dan bertulisan  kalimah huruf Arab! Seluruh jubah dan sorbannya pun penuh dengan tulisan Arab!&lt;br /&gt;   Si pasien, duduk di kursi, Wak Dukun duduk di lantai (lantai kamar: karpet berbulu!). Yang akan diobati adalah betis pasien. Menurut Mendan perlu dioperasi untuk mengeluarkan penyakitnya. &lt;br /&gt;   Mat Belatong duduk di lantai menempatkan diri  dekat  benar dengan Wak Dukun.&lt;br /&gt;   “Aku  nak nengok care bualnye!” ucap Mat Belatong dalam hati.&lt;br /&gt;   Mendan mulai bekerja. Ia mengeluarkan sebuah gunting kecil dari dalam tasnya, dan selembar kain putih bertulisan kalimah ditutupkan di atas kaki yang akan dioperasi. Mulutnya komat-kamit, gerakan tangannya cepat, sehingga Mat Belatong agak “lengah“ dalam pengamatannya. Dan di bawah kain itulah tangan Mendan bekerja. Tampak pasien agak meringis, mungkin merasa sakit karena “digores“ dengan ujung gunting kecil itu. &lt;br /&gt;   Setelah beberapa saat Wak Dukun mengeluarkan tangannya dari bawah kain putih tersebut, dan tampak ia memegang sebuah benda berbentuk gumpalan kecil kira-kira seruas jempol tangan. Merah, seperti agak berlendir dan berdarah.&lt;br /&gt;   Kemudian ia meminta sebuah piring putih yang berisi air putih. Dan benda itu dimasukkan ke dalam piring tersebut. Air tampak agak berona merah.&lt;br /&gt;   Menurut Mendan, itulah penyakit yang membuat kaki sang pasien sakit! Dan “hebat“-nya, tak ada sedikitpun bekas luka di betis pasien!&lt;br /&gt;   Mat Belatong tak mudah percaya. Otak usilnya berputar, bise jak Mendan ini tadi siang pergi ke pasar ikan, dan mengambil bagian dari jeroan ikan yang terbilang besar untuk properti perdukunannya.&lt;br /&gt;   Alhasil, malam itu tibalah waktu tidur, setelah acara “pengobatan“ selesai dan setelah acara ngobrol selesai. Mat Belatong tidur satu bed (besar) bersebelahan dengan Pak Pejabat yang baik hati itu.&lt;br /&gt;   Tatkala berbaring, sebelum tidur, Mat Belatong berbuat “keusilan“ dan “kelancangan” lagi. Sekali ini bukan kepada manusia, tetapi kepada Tuhan!&lt;br /&gt;   Dengan segenap bodo-bale, ke-lingau-an, dan kedaifannya, Mat Belatong berkata kepada Allah di dalam hati: Ya Allah, perlihatkanlah kepadaku, di majelis apa aku berada tadi!&lt;br /&gt;   Begitu tertidur, Mat Belatong bermimpi. Ia merasa berada di suatu tempat yang kotor, kumuh, agak gelap. Dan ia duduk di atas sepotong kayu sepergelangan tangan, mirip alat penyuik buah kelapa – pembuka kulit buah kelapa tua – yang ujungnya runcing.  Bagian yang runcing itu, terasa kurang lebih sejengkal masuk ke dalam duburnya!&lt;br /&gt;   Pelan-pelan Mat Belatong berdiri, melepaskan pantatnya dari kayu tersebut.&lt;br /&gt;   Setelah terlepas dan bisa berjalan, ia terbangun dengan napas tejengap-jengap!&lt;br /&gt;   “Ya Allah,” ucap Mat Belatong dalam hati,”aye cume nak numpang nengok jak, cume nak tahu care bualnye jak, same sekali tak pecayak, udah beginik hukomannye! Ape agik yang pecayak, ape agik yang berobat! Bise-bise kenak cucok dari pantat sampai tembos ke ubon-ubon, macam  kenak sate!”&lt;br /&gt;   Jam menunjukkan sekitar pukul  02.00 WIB. Sampai pagi Mat Belatong masih merasa anusnya sakit!&lt;br /&gt;   Besok malamnya, ketika Wak Dukun datang lagi (karena memang dipesan), Pak Pejabat mengajak Mat Belatong menyaksikan lagi, karena ada beberapa orang pintar lain yang mau diobati juga.&lt;br /&gt;   “Udahlah Pak e, biar ana tak ikot jaklah malam ini,” ucap Mat Belatong dengan hormat. “Nempah kenak sate, kalau aku ikot agik!” ucap Mat Belatong dalam hati. ***&lt;br /&gt;                                                                            &lt;br /&gt;( Pontianak, 20 Juni 2005)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-2400714497197632639?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/2400714497197632639/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=2400714497197632639' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/2400714497197632639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/2400714497197632639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-dan-orang-pandai.html' title='MAT BELATONG DAN “ORANG  PANDAI“'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-3258034720569596495</id><published>2007-07-27T09:51:00.001-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.343-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG NANGKAP JIN</title><content type='html'>Oleh A. Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   SUATU hari orang pambar. Yang dikalot-ribotkan orang, perihal: besok pagi Mat Belatong mau menangkap jin! Hal itu diketahui dari semacam pamflet, yang ditulis tangan pakai spidol di atas kertas manila. Tulisan tersebut tertempel di pos ronda malam, di pokok-pokok akasia (di bawah iklan: sedot WC), di dinding sejumlah warung kopi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   Pada kertas tersebut tertulis jelas: Saksikan beramai-ramai peristiwa spektakuler, Mat Belatong akan menangkap jin. Tanggal sekian, bulan sekian, jam 09.00 – selesai, tahun 2005, bertempat di lapangan bekas kebun aloevera (lidah buaya – pen) milik Wak Upek di Jalan Perintis Kemerdekaan, Paret Kalot Ribot!&lt;br /&gt;   Berbagai opini terjadi di masyarakat. Ada yang percaya, ada yang tadak, ada yang bingung, ada yang sinis. Ada pula yang berbisik-bisik,”Rupenye diam-diam Mat Belatong udah jadi paranormal!” Namun ada yang menyangkal dengan tegas,“Merampot jak, jadi  abnormal kali, atau udah gile babi!”&lt;br /&gt;   Namun di tengah ke-pambar-an masyarakat itu, budak-budak Paret Kalot Ribot cepat tanggap, melihat peluang yang baik.&lt;br /&gt;   Mereka segera mengatur strategi, dan membagi personel  untuk: jadi tukang parkir!&lt;br /&gt;   Sebab sudah dapat dipastikan orang akan ramai berdatangan. Sejumlah ibu-ibu juga telah bersiap-siap untuk membuka warung kagetan.&lt;br /&gt;   Di rumahnya, Mat Belatong tampak tenang-tenang saja. Duduk mencangkung di kursi  tuanya  yang sudah 12 tahun dipakai untuk lebaran. Ia tengah menikmati rokok merek Pilkada (rejeki 5 tahun sekali!) dan segelas kopi yang agik berasap. Seperti tak ada persiapan yang perlu dilakukan oleh seseorang yang akan melaksanakan gawai spektakuler!&lt;br /&gt;   Tiba-tiba nyelonong masuk ke rumahnya sambil memberi salam, Mat Ketumbi alias Ketuk, kawan lawas Mat Belatong dari kecik. Tanpa basa- basi ia duduk di depan tuan rumah sambil berteriak,”Oi orang rumah, tolong aek kopi segelas agik. Gulenye sikit jak, kopi boleh banyak!”&lt;br /&gt;   Melihat si Belatong tenang-tenang saja, Mat Ketumbi bertanya,”Eh Jon, benarke besok awak nak nangkap jin? Orang dah pambar tu!“&lt;br /&gt;    Mat Belatong menjawab selembe,”Eh, awak kire aku ni maen-maen ke? Awak tengok jak besok!“&lt;br /&gt;   “Tapi kutengok ente ni tenang-tenang jak,” jawab Mat Ketumbi,“ape tak ade yang perlu dipersiapkan?“&lt;br /&gt;   “Persiapan ape? Sebentar jak kukerjekan udah kelar!“ jawab Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Ape ente tak perlu hio, tak perlu botol aqua untok narok jin tu? Kalau memang diperlukan, bise pulak ana bantuk, temasok tikar puron untok alas dudok!” balas Mat Ketumbi.&lt;br /&gt;   “Ah, merampot jak! Jangan nak niru-niru kesah dongeng jaman Tok Adam, kesah  Jin Botol! Memangnye nangkap jin tu macam nangkap nyamok jak?!“ jawab Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong menambahkan, “Udahlah Ketuk, awak tak perlu payah-payah. Pokoknye tenang jak. Kalau maok nolong, besok awak ator jak penonton.  Semue penonton harus menempati pingger sebelah laot kebon Wak Upek. Di pingger kirik-kanannye pon tak boleh ade orang. Sebab jin tu datang dari sebelah darat! Kau ajaklah budak-budak untok ikot ngator!”&lt;br /&gt;   “Beres,” jawab Mat Ketumbi,”kalau perlu ana pon bise mintak tolong Johny Beres, kawan lamak kite tu. Sebab biasenye, senike kerje yang dipecayakkan ke die, pasti beres . Takot benar die tu dipanggel Johny Tak Beres!”&lt;br /&gt;   “Ide  brillian,” puji Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Sore hari sebelum maghrib, tak seorang pun tahu kalau Mat Belatong telah datang ke kebun Wak Upek. Ia mempersiapkan sesuatu yang diperlukan di semak-semak, di pinggir sebelah darat kebun Wak Upek itu.&lt;br /&gt;   Keesokan harinya, orang telah datang berduyun-duyun ke kebun Wak Upek. Kebun itu memang pernah ditanam dengan lidah buaya, tapi karena pemasarannya buntu, harga anjlok, petani tejelepok! Akhirnya untuk sementara, lahan itu dibiarkan nganggur.&lt;br /&gt;   Tukang parkir amatiran dapat curahan rejeki belonggok (kebanyakan duet kecik sih!), demikian juga pedagang kagetan.&lt;br /&gt;   Suasana di kebun Wak Upek itu, walaupun ramai dengan manusia, tapi tampak tertib sesuai dengan skenario. Mat Belatong sendiri berada di depan barisan manusia yang berlapis-lapis di pinggir sebelah laot kebun Wak Upek. Ia duduk mencangkung sambil kepas-kepus mengisap rokok. Tak ada mulut kumat-kamit membaca mantra, tak ada perabon yang bau kemenyan. Tak ada tangan tejolor sanak, tejolor sinek macam orang nak nangkap nyamok. Hanya saja, matanya menatap serius ke suatu arah di pinggir sebelah darat kebun tersebut.&lt;br /&gt;   Sudah lebih dari satu jam orang-orang menunggu, tapi Mat Belatong masih tampak begitu-begitu juga dari tadi. Tak ada tingkah seperti akan menangkap sesuatu apapun. Hanya rokoknya saja yang sambong buntot.    &lt;br /&gt;   Penonton mulai tak sabar, dan ada yang berkata,”Bile agik kau nak mulai Mat?!“&lt;br /&gt;   Tapi syukur, sesuai dengan skenario, penonton tetap senyap. Tak ada yang berani banyak cakap, kenak jeling Johny  Beres!&lt;br /&gt;   Tiba-tiba orang tekanjat, karena Mat Belatong memekik,”Kenak!!”  Dan ia berlari melintasi kebun Wak Upek itu menuju ke pinggir sebelah darat. Tanpa dikomando lagi, pun tanpa bisa direm oleh Johny Beres, orang-orang berlari mengikuti Mat Belatong. Termasuklah Johny Beres dan Mat Ketumbi.&lt;br /&gt;   Apa yang terlihat di sana? Ternyata di semak-semak di pinggir kebun itu, jerat Mat Belatong telah mengena! Seekor makhluk bersayap tengah menggelepar karena sebelah kakinya terikat oleh tali jerat. Dengan cekatan Mat Belatong menangkap makhluk tersebut dengan kedua tangannya.&lt;br /&gt;   Setelah terlihat dengan jelas, orang-orang serentak berteriak,“Oo, itu sih burong keroak!” Dan kalimat itu masih sambung-menyambung dengan berbagai sumpah seranah:  Mat Belatong gile, jahanam, pembual, pening, masok nerake!”  &lt;br /&gt;   Di tengah caci-maki itu Mat Belatong melepaskan tali jerat, lalu membawa sang burung ke tengah kebun Wak Upek diikuti para penonton.   &lt;br /&gt;   Di tengah kebun itu Mat Belatong berkata,”Tolong sudare-sudare, mundor siket, berek tempat pakai ana benapas. Tolong  John, diator, buat lingkaran!“&lt;br /&gt;   Setelah penonton membuat lingkaran, walaupun berdesak-desakan, Mat Belatong lalu berucap,“Sudare-sudare, tolong tahan dolok sumpah seranah ente. Ana ni udah divaksinasi, jadi kebal terhadap sumpah seranah, caci maki! Bagi ana, caci maki, sumpah seranah, same jak dengan puji dan sanjong.“&lt;br /&gt;   Lebih lanjut ia berkata,”Ente semue bise lihat, makhlok ape di tangan ana ni?!” Serentak  penonton berteriak,”Keroak, bangkai !!“&lt;br /&gt;   “Syukor ente semua dapat melihat. Sebab ana memang berkeinginan menangkap sesuatu yang kasat mate, bise dilihat. Bukan nangkap angen!“ ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Ana bise jak belagak nangkap jin lalu dimasokkan ke dalam botol. Lalu ana bekate: yang dapat nengok jin di dalam botol ini temasok orang yang bemartabat tinggi bernasab mulie, panjang umor, orang pintar tembos pandang, punye  indera keenam, punye mate ketige! Tapi sudare-sudare, yang model begituk same jak dengan kesah Abu Nawas ngakalek raje!“ lanjut Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Kermudian Mat Belatong meneruskan  omongannya,”Yang ana tangkap ini memang wujud nyatanye burong keroak. Tapi konon, ndakke makhluk yang namenye jin itu bise nyerupe  anjing, ular, burong keroak, bahkan nyerupe manusie?“&lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong bertanya,“Siape yang bise nengok jin di dalam wujud burong keroak ini?!“&lt;br /&gt;   Tak satupun penonton  menjawab. Semuanya diam.&lt;br /&gt;   “Alhamdulillah, berarti saudara-saudara semua telah menggunakan mata dan akal dengan semestinya. Yang di tangan saya ini memang burung keroak,” lanjut Mat Belatong. “Tapi apa bedanya keroak dengan jin, apa bedanya si Aliong dengan Mat Ketumbi, apa bedanya habsyi dengan kulit putih, apa bedanya kulit merah dengan kulit kuning?“ ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Adakah Wak Upek itu pernah minta jadi bugis, Mak Nyah itu pernah minta jadi cina? Adakah keroak ini pernah minta jadi keroak, dan belatong mintak jadi belatong?   Ada sebuah riwayat, seekor anjing pernah berkata kepada Syaikh Abi Yazid Bistami: Wahai Syaikh Raja Kearifan, apakah dosaku dan apakah pahalamu pada awal kejadian dulu, sehingga aku berpakaian kulit anjing dan engkau menggunakan jubah kehormatan Raja Kaum Sufi?” ucap Mat Belatong lebih lanjut.&lt;br /&gt;   Kemudian ia  berkata,”Pikerkanlah sudare-sudare!”&lt;br /&gt;   Mendengar cakap Mat Belatong itu, penonton jadi hening.&lt;br /&gt;   “Bijak cakap awak tu Mat,” sela Wak Upek yang rupanya nonton juga di tempat itu.&lt;br /&gt;   “Tadak gak Wak e, cume ana nak ngajak kite same bepiker, biar tak mudah ikot-ikotan melabor ke paret!” jawab Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Kemudian tampak Mat Belatong menaikkan tangannya ke atas, dan burung keroak itu dilepaskannya. Tampak burung itu terbang melintasi kepala penonton, dan kembali ke semak-semak yang menjadi habitatnya.&lt;br /&gt;   “Tak ade hak bagi Mat Belatong untok menganiaya keroak itu, hanya meminjamnye sebentar untok acara kite ini.  Dan dengan ini acara selesai!“ ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Penonton tampak bingung sebentar dan bergumam, tapi kemudian bubar dengan tertib sesuai  skenario. Mat Belatong pun ngeloyor meninggalkan kebun Wak Upek itu.&lt;br /&gt;   Budak-budak tukang parkir berkerumun ngagak Mat Belatong. Mereka mengucapkan terima kasih, dan ada yang sampai hidungnya melepet mencium tangan Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Sering-sering jak Bang Mat, membuat acara macam ini,” ucap para pemuda Paret Kalot Ribot itu.&lt;br /&gt;   “Iye kate kau,” jawab Mat Belatong,”membuat acara macam ini resiko tinggi, tahu ndak!?“&lt;br /&gt;   “Kalau tadik tu acara tak bejalan sesuai dengan skenario, bise bekarong-karong peninju meletop ke muke aku ni!“  tambah Mat Belatong.&lt;br /&gt;   “Siape yang membuat skenario tu Bang Mat?“ tanya anak-anak itu.&lt;br /&gt;   “Aa, itu tak osah kau tanyak aku, tanyak jak Wak Upek tu, kali gak beliau tu maok ngasik tahu!” jawab Mat Belatong singkat. ***&lt;br /&gt;                                                                                    &lt;br /&gt; ( Pontianak, 18 Juni 2005 ).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-3258034720569596495?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/3258034720569596495/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=3258034720569596495' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/3258034720569596495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/3258034720569596495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-nangkap-jin.html' title='MAT BELATONG NANGKAP JIN'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-7375916574330161130</id><published>2007-07-27T09:49:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T10:59:03.343-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG “LINTAS  AGAMA“</title><content type='html'>Oleh  A. Halim  R&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   MAT BELATONG membuka pintu rumahnya, menunggu kedatangan seorang tamu. Sebab sang tamu sudah berjanji lewat telefon mau datang. Pintu rumah yang biasanya tertutup, telah dibuka lebar.&lt;br /&gt;   Soal pintu rumah, membuat Mat Belatong kadang-kadang agak runsing gak. Tak boleh tebukak. Tang ade jak yang mintak  sumbangan. Ada yang untuk TPA, ada yang untuk pesantren, ada yang untuk masjid, ada yang untuk panti asuhan, ada yang untuk keponjen pribadi&lt;span class="fullpost"&gt;.&lt;br /&gt;   Yang minta sumbangan itu pun sangat beragam. Ada yang lelaki ada yang perempuan, ada yang membawa map, ada yang membawa bas dari kotak sabun, ada yang membawa karong gendom, ada yang membawa bekas kaleng Milo! Ada yang berjilbab ada yang besongkok, ada yang pekak ada yang butak. Lebih perak lagi: ada yang seperti memaksakan kehendaknya! Perihal asal muasal peminta sumbangan itupun macam-macam. Ada yang dari daerah ini sendiri, tapi ada juga yang tepelesat dari daerah lain yang tak tanggung-tanggung jauhnya: Sulawesi dan Madura! &lt;br /&gt;   Itu yang bagian minta sumbangan, belum lagi yang namanya sales. Dari buku murah  sampai buku mahal, dari barang kosmetik sampai mobil.  &lt;br /&gt;   “Jaman ini memang dah gile,” pikir Mat Belatong, “cobe gak tengok model rumah ana ni! Ape memang dah pantas untok ngasik sumbangan betumpok tiap hari, ape memang dah pantas untok disandingkan dengan mobil bagos? Untok sumbangan masjed tiap Jumat jak  ana  cume bise ngasik limak ribu!“&lt;br /&gt;   Tak lama tamu yang ditunggu Mat Belatong datang dengan sepeda motor. Sambil mengepit helem standar, ia nongol di depan pintu sembari memberi salam: Assalamu’alaikum!&lt;br /&gt;   Mat Belatong membalas salam: ‘Alaikum salam!  “Silekan masok Pak Pastor Willi!“ lanjut Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Tamu yang datang itu memang seorang pastor, yang bukan lain adalah Dr  William Chang!  Mat Belatong tahu benar adat pastor yang satu ini, tak rikuh mengucapkan:  Assalamu ‘alaikum. Ia sangat rasional, menguasai sejumlah bahasa. Dan ia paham kalau ucapan singkat berbahasa Arab itu  “cuma “ bermakna: Sejahtera atasmu! &lt;br /&gt;   Artinya ya memang itu. Hanya saja diucapkan dalam bahasa Arab. Dan Arab tidaklah bermakna Islam.&lt;br /&gt;   Islam bukanlah agama milik sesuatu kaum atau bangsa, melainkan untuk umat manusia! Tak sedikit orang Arab yang beragama non-Islam. Omar Syarif yang bintang filem Mesir terkenal itu, pun kebetulan bukan Islam. Apalagi yang namanya orang Libanon , Palestina dan lain-lain.&lt;br /&gt;   Dan Mat Belatong pun pernah gak membaca riwayat, kalau salam tersebut mula pertama diucapkan oleh seseorang yang belum Islam yaitu Abu Dzarr Al-Ghifari kepada Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;   Tatkala itu Rasulullah sedang berada di persembunyiannya, di rumah Arqam bin Abi Arqam di Bukit Safa. Abu Dzarr  putra  Junadah, seorang Arab Badui  dari kampung Ghifar di kawasan gurun Rabadzah antara Mekah dan Madinah. Abu Dzarr yang ingin bertemu dengan Rasulullah itu diantarkan oleh pemuda tanggung Ali bin Abi Thalib.&lt;br /&gt;   Tatkala bertemu Rasulullah, spontan Abu Dzarr berucap: Salam ‘alaik! Maknanya, ya: Sejahtera atasmu!&lt;br /&gt;   Dan Rasulullah menjawab: ‘Alaika salam wa rahmatullah!&lt;br /&gt;   Dan inilah salam pertama dilakukan dalam Islam.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;   Setelah itu, sejarah mencatat bahwa Abu Dzarr Al-Ghifari adalah orang keempat atau kelima yang masuk Islam.&lt;br /&gt;   Beda ‘alaik (‘alaika) dengan ‘alaikum, hanyalah tunggal dan jamak. &lt;br /&gt;   Akan halnya pastor William, walaupun tak tergolong kepada “masyarakat adat“ tapi penyandang gelar S3 keluaran Roma ini bagos benar adatnya.&lt;br /&gt;   Kalau berjanji dia tepat waktu, kalau terhalang oleh sesuatu hal ia cepat memberi tahu via telefon. Jadi orang tak buang waktu tertunggu-tunggu. Tak macam kebanyakan “orang kite“ kalau bejanji suke telambat, lebeh parah agik suke mungker! Bekabar ade halangan lewat telefon pon, belom jadi adat kebiasaan. Embutakkan orang pon macam bukan masalah!&lt;br /&gt;   Adat lain dari pastor ini, biarpun ke rumah orang, atau ke kantor orang, pasti helem standarnya dibawa masuk.&lt;br /&gt;   Bukan apa-apa, ya: takut hilang! Lebih dari itu, barang tersebut bukan milik pribadi, tapi barang titipan atau amanah. Sebab pemilik sepeda motor dan helem itu: gereja!&lt;br /&gt;   Bayangkan, betapa ketatnya ia memegang amanah! Coba kalau kebanyakan orang diberi amanah, baik oleh negara ataupun  manusia lain?!&lt;br /&gt;   Sebagai seorang biarawan, hak kepemilikan pribadinya sangat terbatas. Seluruh hidupnya untuk kepentingan gereja dan Tuhannya, seluruh keperluan hidupnya ditanggung oleh gereja.&lt;br /&gt;   “Cobe kalau tak jadi pastor, tentu Pak Willi tak perlu bepanas-panas naek motor. Mane ade doktor naek motor di Kalbar ini. Yang tak sekolah jak bise jadi toke, naek sedan,“ gurau Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Sang pastor cuma ketawa. Kemudian ia berucap,”Dulu, orang tua saya di Singkawang, memang tak setuju saya jadi biarawan. Tapi setelah melihat keseriusan saya, mereka jadi mengerti.”&lt;br /&gt;   Obrolan Mat Belatong dan  Romo William – begitu ia biasa disapa – tampak asyik, santai dan bisa serius. Baik menyangkut soal politik, situasi daerah, nasional sampai hal-hal yang berkenaan dengan keagamaan.&lt;br /&gt;   Aneh juga, Mat Belatong yang cuma S Lingau itu bisa nyambung omongannya  dengan Romo William yang S3 itu. Mat Belatong memang manusia di segala cuaca, pergaulannya bukan cuma “lintas  sektoral“ saja, tapi lintas agama, lintas etnik, lintas bangsa, lintas batas dan lintas alam!&lt;br /&gt;   Dan biasanya, Romo William berkunjung tidaklah lama. Paling lama 45 menit, sebab ia memang tak punya waktu banyak untuk ngobrol. Pola kehidupan sehari-harinya telah terprogram, demikian juga penggunaan waktu.&lt;br /&gt;    Dalam percakapannya dengan Mat Belatong, pernah Romo William bercerita, bahwa sewaktu kuliah di Roma, beberapa temannya sesama pastor ada yang berasal dari Turki dan Libanon. Dan kalau melaksanakan misa, kedua rekan ini tak sungkan-sungkan menggunakan bahasa Arab dialek Turki ataupun Libanon.&lt;br /&gt;   Bahkan kalau ditanya: Apa kabar? Mereka menjawab: Hamdallah! Ya, kata ini ucapan ringkas yang sama dengan: Alhamdulillah. Artinya tak beda: Sekalian puji bagi Allah!   &lt;br /&gt;   Berkenaan dengan masalah agama, pernah Mat Belatong  bertanya,”Pak Willi kalau pagi bangon jam berape?”&lt;br /&gt;   Pastor William menjawab,“Pukul setengah lima.”&lt;br /&gt;   “Berapa lama waktu yang Pak Willi berikan untuk berhubungan dengan Tuhan setiap pagi?“ tanya Mat Belatong lagi.&lt;br /&gt;   “Satu setengah jam,“ jawab Romo William.&lt;br /&gt;   Setelah Romo William balek, Mat Belatong temenong, bepiker.&lt;br /&gt;   Peribadatan yang dilakukan oleh setiap pemeluk agama, tujuannya  tidak lain: untuk mencari keselamatan hidup di dunia dan akhirat! Semua ajaran agama menyatakan:  ada kehidupan setelah mati yaitu kehidupan akhirat! Semua umat beragama yang baik, ingin mencari ridha Tuhan, dan ingin masuk surga!&lt;br /&gt;   Untuk mencari “tiket ke surga“ itu, Romo William saja memberi waktu satu jam setengah untuk Tuhannya setiap subuh, awal pagi. Belum lagi di bagian waktu yang lain. “Lalu awak sorang bagaimane?“ pikir Mat Belatong.&lt;br /&gt;  Mat Belatong introspeksi diri: dengan waktu 10 - 15 menet, duet 5 – 6  ribu, pengen masok sorge! Masok akal ndak? Ape agik kalau kelakuan tak senonoh, hati gelap penoh dengan iri-dengki, rakos-tamak, masin-kedekot, tukang bual, zalim, pencuri, perampok. Udah intensifkah awak bejalan dengan jiwa-raga menuju Tuhan? Safari Ketuhanan bukanlah sekadar macam ikot apel “ ikan sepat- ikan gabos“, makin cepat makin bagos! Melainkan sebuah perjalanan jasmani dan ruhani (terutama) yang panjang dan rawan. Kesesatan yang nyata mudah terlihat, bisa disadari, bisa dibetulkan,  bisa diluruskan. Kesesatan yang tidak nyata sangat membahayakan! &lt;br /&gt;   Akhirnya Mat Belatong tesandar sorang. &lt;br /&gt;   Melihat kenyataan yang ada, buntut-buntutnya ia berkesimpulan: dunia ini memang dah kacau-balau!&lt;br /&gt;   Perilaku “ancor-lebor“ dewasa ini menurut kacamata Mat Belatong, telah dilakukan oleh sedemikian banyak orang, hampir di semua strata sosial, oleh manusia dari berbagai agama. Terbanyak tentu saja oleh orang agama awak, pikir Mat Belatong. Karena agama awak  ini paling banyak penganutnya di Indonesia!&lt;br /&gt;   Kapan bisa berubah baik? Hanya Allah jaklah yang tahu. ***&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;                                                                                      ( Pontianak , 23 Juni 2005 ).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-7375916574330161130?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/7375916574330161130/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=7375916574330161130' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/7375916574330161130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/7375916574330161130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-lintas-agama.html' title='MAT BELATONG “LINTAS  AGAMA“'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-4890518696033240010</id><published>2007-07-24T01:51:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T11:12:11.257-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG DAN ZAMAN JAHILIYAH</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Oleh A.Halim R.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   YANG namanya “zaman jahiliyah“ bukan hanya pernah dialami oleh bangsa Arab, tetapi juga oleh Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Bahkan bukan hanya sekadar “jahil“ tetapi  seringkali Mat Belatong menjadi bangsanya  “jin dan setan“. Jadi dia tahu benar barang apa yang paling disukai oleh jin dan setan. Paling tidak, barang-barang apa yang paling sering disuguhkan oleh manusia kepada mahluk-mahluk tersebut dalam bentuk ancak atau sesajenan, atau ada pula yang menyebutnya &lt;em&gt;“buang-buang “.&lt;/em&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   Dalam sebuah ancak yang biasanya digantungkan pada sepotong kayu, umumnya “sopui“ yang diberikan berupa: nasi kuning, panggang ayam, sirih yang telah dikemas lengkap dengan kapur, gambir, dan pinang. Tak lupa pula: rokok daun  nipah, lengkap pula dengan tembakau tepek (jawa) untuk susur atau sugi!&lt;br /&gt;   Kalau di tempat yang agak lapang dan dianggap ada “penunggunya“, tak jarang dihamburkan  orang beras kuning bercampur duit logam.&lt;br /&gt;   Dan ada pula yang namanya &lt;em&gt;“lanting ajong“&lt;/em&gt; yang terbuat dari batang pisang, lalu dibuatkan seperti rumah-rumahan di atasnya. Di dalamnya, dimuat pula barang-barang seperti tersebut di atas. Dan biasanya nasi kuning dibentuk seperti sosok manusia yang terbaring. Dan di lanting ajong itu sangat sering ditambatkan seekor atau dua ekor ayam jantan hidup! Karena namanya juga “lanting“ maka “buang-buang“ seperti itu biasanya dihanyutkan di sungai!&lt;br /&gt;   Ragam lain dari perbuatan manusia untuk “nyopui“ bangsa jin dan setan adalah, menyuguhkan aneka ragam bunga, bahkan menyuguhkan kepala kambing, sapi atau kerbau. Biasanya dilabuhkan di muara sungai ataupun ditanam di dalam tanah di lubang tiang jembatan!&lt;br /&gt;   Dulu, Mat Belatong dan kawan-kawan sebayanya, tingkat budak-budak dan remaja tanggung, sering benar mengintai, tatkala orang memberikan sesajian itu.&lt;br /&gt;   Begitu si pemberi sajian pergi, kawanan “setan“ Mat Belatong Cs langsung menyerbu! Biasanya yang menjadi sasaran utama adalah ayam panggang! Termasuk duit logam, terkadang tertemu juga dengan lembaran rupiah kertas.&lt;br /&gt;   Dan bila melihat lanting ajong hanyut di sungai, Mat belatong bergegas membuka tali sampan lalu menyerbunya. Terkadang juga langsung buka celana dan baju, melabor ke sungai, berenang  mengejar rakit-rakitan itu! Yang paling diincar, ya ayam jago itu! Tak jarang Mat Belatong Cs kecewa, karena lanting telah kosong. Ayamnya telah disikat oleh “jin dan setan“ di sebelah hulu!&lt;br /&gt;   Pemberian &lt;em&gt;sopui&lt;/em&gt; kepada “jin dan setan“ itu tampak oleh Mat Belatong masih ada berlangsung hingga sekarang.&lt;br /&gt;   Sering terlihat bahwa barang yang diberikan itu, ya kebanyakannya masih barang-barang “kuno“ seperti itu.  &lt;br /&gt;   Mat Belatong berpikir, padahal bangsa “jin dan setan“ juga ikut maju sesuai dengan perkembangan zaman. Selera “jin dan setan“ juga berubah.&lt;br /&gt;   Hal ini bisa dibuktikan. Cobalah ancak itu diisi: nasi kuning diganti dengan pizza, dunkin donat, Mac Donald. Ayam panggang diganti dengan fried chiken, rokok daun nipah  diganti dengan 1-2 slop LA ataupun Wismilak. Duit juga semestinya bukan lagi duit logam dan recehan tapi duit lembaran 25 – 50-an ribu rupiah, ataupun cheque. Sedangkan kepala kambing atau sapi, sebaiknya diganti saja dengan kambing guling atau steak! Sebab betapapun juga lior budak-budak, eh “jin dan setan“, telah berubah mengikuti perkembangan zaman. Keperluan, dan harga barang juga terus meningkat!    &lt;br /&gt;   Dan tatkala barang-barang serupa itu yang “disajikan“ niscaya ranap seketika, begitu “orang pintar“ yang  melakukan upacara sesajenan meninggalkan  tempat.&lt;br /&gt;   Untuk “jin dan setan“ yang mendiami gedung-gedung besar, seperti kantor dan lain-lain, maka sopui yang diberikan perlu lebih bervariasi lagi, agar maksud kita cepat terkabul. Sebab di kalangan “hantu blau“ kantoran itu ade pulak falsafah: kalau urusan bise dipersulet, ngape pulak dipermudah!&lt;br /&gt;   Pemberian tersebut dapat dimulai dari barang-barang kecil berupa jam tangan bermerek (&lt;em&gt;memangnye ade jam tangan tak bemerek?&lt;/em&gt;), dasi berkelas, sekeponjen &lt;em&gt;duet,&lt;/em&gt; mobil, sampai saham! &lt;br /&gt;   Dalam memberi ancak, juga perlu dilihat termasuk kategori kantor atau gedung  apa itu. Sebab masing-masing “penunggunya“ punya kegemaran dan selera yang terkadang berbeda. Ada yang gemar menyeruput aspal, bercampur batu dan pasir. Ada juga yang gemar teler-teleran menenggak BBM, dan ada pula yang tak malu-malu: mintak mentahnye jak!&lt;br /&gt;   Maka dalam memberikan sesajenan ini, si “orang pintar“ perlu mengerti tentang kode-kode, istilah-istilah, atau tata cara yang baik, yang berlaku di dunia per-sopui-an!&lt;br /&gt;   Sebab, Mat Belatong pernah ketahuan “&lt;em&gt;bodo-bale&lt;/em&gt;”-nya, waktu nak membuat KK (Kartu Keluarga) di sebuah kantor.&lt;br /&gt;   Maksud hati mau berbaik-baikan sekaligus silaturrahim, sebab di kantor itu bekerja seorang kawannya yang dulu pernah jadi “setan“ juga seperti  Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Untuk keperluan itu, Mat Belatong membawa kue “nage sari“ sekantong plastik.&lt;br /&gt;   Tahu-tahu kawannya ngomong,“&lt;em&gt;Mat, Mat, daripade awak leteh-leteh membawak  bende macam ini, bagos awak ngasik mentahnye jak!“&lt;br /&gt;   “Iyelah kalok gituk, besok jaklah ana bawakkan mentahnye!”&lt;/em&gt; jawab Mat Belatong sambil menenteng kembali kantong  plastik tersebut. “&lt;em&gt;Kuberekkan ke anak, kenyang anak-anak aku&lt;/em&gt;,“ ucap Mat Belatong dalam hati.&lt;br /&gt;   Keesokan harinya Mat Belatong menunaikan janjinya. Ia membawa: sesisir  pisang nipah, sekilo tepong gendom dan setengah kilo gule paser!&lt;br /&gt;   Begitu menerima barang tersebut, Bujang Kambeng kawan Mat  Belatong itu meledak ketawanya, sehingga membuat kantor jadi pambar. Dan orang-orang berkerumun ingin menyaksikan  apa yang terjadi. Dan terlihatlah “sopui“ yang dibawa oleh Mat Belatong itu. Situasi jadi riuh-endah. Ada yang bingung dan ada pula yang berkata,“Nak jual sayok ke ape?!”&lt;br /&gt;   Di tengah kerumunan orang-orang itu, Mat Belatong mencoba membela diri,“&lt;em&gt;Kemaren kuberek kau nage sari, kau ngomong mintak mentahnye jak! Hari ini kuberek kau mentahnye, kau ketawakkan! Sekali kambeng tetap kambeng jaklah kau ni!” &lt;br /&gt;&lt;/em&gt;   Mendengar “pledoi“ Mat Belatong  itu semua yang ada di tempat itu tertawa. Ada yang sampai &lt;em&gt;tekeruk-keruk ketawak, sampai beraek-aek mate, ada yang sampai tebatok-batok lalu  temuntah-muntah, telior-lior!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;   &lt;em&gt;“Kau tu yang belatong, tak pandai berobah-obah, tak ngerti istilah masa kini!”&lt;/em&gt; balas Bujang Kambeng.&lt;br /&gt;   &lt;em&gt;“Jadi kau mintak ape!?”&lt;/em&gt;  tanya  Mat Belatong merah-merah muke.&lt;br /&gt;  &lt;em&gt; “Dueeeeet!!”&lt;/em&gt;  teriak seseorang, tak diketahui siapa orangnya. ***&lt;br /&gt;                                                                                                &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;( Pontianak, 15 juni 2005 ).                               &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-4890518696033240010?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/4890518696033240010/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=4890518696033240010' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/4890518696033240010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/4890518696033240010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-dan-zaman-jahiliyah.html' title='MAT BELATONG DAN ZAMAN JAHILIYAH'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-1737028972581495916</id><published>2007-07-24T01:14:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T11:12:11.258-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG DAN “FAUZI  GILA“</title><content type='html'>Oleh  A.Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   SEBUAH pepatah Arab mengatakan: orang biasa belajar dari pengalaman sendiri, orang bijak belajar dari pengalaman orang lain, sedangkan orang bodoh tidak belajar dari pengalaman siapapun!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   Pasti yang terakhir ini termasuk golongan: &lt;em&gt;pekak-lantak , bodo-bale!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;   Dan, Mat Belatong seorang warga Kampung Paret Kalot Ribot tak jauh dari Kampung Paret Gadoh, paling tak mau kalau &lt;em&gt;dikatekan bodo-bale&lt;/em&gt;, dikatakan tak punya ilmu. Oleh karena itu sedapat-dapatnya jugalah ia menuntut ilmu macam orang. Walaupun tak sampai ke negeri Cine – seperti kata hadis – di sekitar &lt;em&gt;kampong&lt;/em&gt;  pun jadilah.&lt;br /&gt;   Tersebutlah kisah, &lt;em&gt;menurot kabar angen&lt;/em&gt;, bahwa tak jauh dari kampung mereka, di &lt;em&gt;Buket Belantau&lt;/em&gt; berdomisili seorang cerdik cendekia, arif bijaksana. Separuh orang mengatakan bahwa orang tersebut sudah tergolong arifin, bahkan seorang wali.&lt;br /&gt;   Orang arif itu bernama Fauzi.&lt;br /&gt;   Dari namanya saja orang sudah mafhum, bahwa nama itu bukanlah sembarang nama. Dari maknanya saja sudah berarti: orang yang sukses, yang beruntung (tak pernah ada istilah rugi atau tekor!).&lt;br /&gt;   Pada suatu hari, dengan perbekalan seadanya namun dengan sekarung tekad dan harapan, Mat Belatong bertolak ke sana.&lt;br /&gt;   Singkat cerita, suatu pagi di kaki bukit ia bertemu dengan seorang laki-laki setengah baya. Penampilannya acak-acakan. Malahan kelakuannya terlihat aneh. Ia tengah jongkok, merunduk, menghadapi sebuah &lt;em&gt;sepan&lt;/em&gt; (sumber air) yang berbentuk kolam kecil.&lt;br /&gt;   Ia melihat dengan serius ke air sepan itu, sambil mengaduk-aduknya dengan sepotong kayu , sehingga air kolam  itu menjadi keruh.&lt;br /&gt;   Setelah berlama-lama mengamati sosok dan perbuatan orang itu, Mat Belatong  akhirnya tak tahan, ia lalu memberi salam: Assalamu’alaikum!&lt;br /&gt;   Tanpa menoleh orang itu membalas salam Mat Belatong. Ia terus asyik dengan pekerjaannya.&lt;br /&gt;   Akhirnya Mat Belatong melangkah mendekati, dan jongkok di samping orang itu. Kemudian ia bertanya,”&lt;em&gt;Ape yang agik ente buat Jon?“&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;   Beberapa kali Mat Belatong bertanya, barulah orang itu menjawab,”Aku ingin melihat diriku di dalam air ini!“&lt;br /&gt;   Orang ini pasti gila, pikir Mat Belatong. Tak mungkin orang waras mau mencari bayangannya sendiri di air yang keruh!&lt;br /&gt;   “&lt;em&gt;Kalau maok becermen, aeknye jangan diadok!&lt;/em&gt; “ ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Orang itu tetap dengan perbuatannya.&lt;br /&gt;   Kemudian secara untung-untungan Mat Belatong bertanya,”&lt;em&gt;Eh, ente pernah ndak tahu atau betemu dengan orang yang bename Fauzi&lt;/em&gt;?“ Orang itu diam saja. Kemudian Mat Belatong berkata,”&lt;em&gt;Ana encarik Ustaz Fauzi yang dikabarkan orang wali tu!”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;   “Eh kau cariklah sorang! Setahu aku tak ade duak-tige orang yang bename Fauzi di sinik selaen aku! Ape agik Fauzi yang wali tu! Tak ade!” jawab orang itu acuh tak acuh.&lt;br /&gt;   Sambil mengamati sosok Fauzi yang aneh itu, Mat Belatong berpikir keras. Akhirnya ia memutuskan untuk beberapa waktu akan bersama “orang gila“ itu. Ketika hal itu ia ungkapkan, orang itu berkata,”Jangan, nanti tak tahan awak. Pasti kau tak mampu, bisa-bisa timbul fitnah!“&lt;br /&gt;   “Ndaklah,” jawab Mat Belatong seperti memelas.&lt;br /&gt;   Karena Mat Belatong bekuat benar ingin ikut bersamanya, akhirnya orang itu berkata,”&lt;em&gt;Terserah kaulah kalau ingin ikut aku!&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Tapi jangan nak beragam!”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;   “Alhamdulillah Beb, terimak kaseh, ana siap!“ jawab Mat Belatong. Secara tak sadar ia telah memanggil “Habib“ kepada orang itu. Sebab di kampung ataupun di pasar sudah sangat biasa ia bertegur sapa dengan teman-temannya menggunakan panggilan “habib“ itu.&lt;br /&gt;   Demikianlah untuk hari-hari seterusnya Mat Belatong bersama dengan “Ustaz Fauzi”-nya berjalan dalam pengembaraan di rimba  misteri Bukit Belantau.&lt;br /&gt;   Banyak hal yang dirasakannya aneh, banyak hal yang dirasakannya janggal, namun terkadang beberapa kebenaran dan kearifan tertemukan juga olehnya pada kelakuan maupun omongan lelaki itu.&lt;br /&gt;   Salah satu kalimat yang membuat Mat Belatong pening adalah: Kalau maok belajar melihat, belajarlah dengan orang butak! Kalau nak belajar mendengar, belajarlah dari orang tuli. Kalau maok belajar membace, belajarlah dari orang butak urof!&lt;br /&gt;   Suatu hari Fauzi dan Mat Belatong sampai ke pinggir sebuah sungai kecil. Kebetulan ada sebuah perahu tertambat di situ. Dengan menggunakan perahu itulah dua orang “darwis” itu menyeberangi sungai.&lt;br /&gt;   Setelah sampai di seberang, perahu itu lalu ditambatkan oleh Mat Belatong. Namun sebelum pergi meninggalkan tempat itu, masih sempat-sempatnya Fauzi melantak perahu tersebut dengan tongkatnya hingga tebok dan bocor!&lt;br /&gt;   Dan kemudian, tak seberapa jauh berjalan mereka bertemu dengan seorang anak kecil yang lagi mencungkil-cungkil tanah, tengah bermain sendiri. Tanpa terduga sama sekali oleh Mat Belatong, Fauzi tiba-tiba saja melebau kepalak budak itu dengan tongkatnya. Anak itu tak sempat memekik, hanya berkelojot sebentar lalu: &lt;em&gt;innalillahi wainna ilaihiraji’un&lt;/em&gt;. Mereka terus berlalu, meninggalkan mayat bocah tersebut tergeletak di tanah.&lt;br /&gt;   Belum lagi habis pening Mat Belatong memikirkan perbuatan “Fauzi yang arif“ itu, mereka lalu menemukan sebuah pondok ladang yang sepertinya sengaja dirobohkan.   Tahu-tahu Fauzi mengajak Mat Belatong mendirikan kembali pondok ladang itu.&lt;br /&gt;   Mat Belatong tak habis pikir, atas perbuatan “Habib Fauzi“ yang aneh, bahkan mengerikan dalam satu hari ini. Kalau ditinjau dari KUHP ataupun hukum syariat, niscaya  Fauzi itu tergolong kepada orang yang aniaya, jahil dan melanggar hukum. Mat Belatong  terkena hukom sebahat!  Mat Belatong berpikir, ini jelas merupakan: kesesatan yang nyata! Akhirnya ia pun bertanya kepada Fauzi, apa makna dan latar belakang dari semua perbuatannya itu.&lt;br /&gt;   Jawaban  Fauzi sungguh mengagetkan,”Akupun tak tahu apa sebab kulakukan itu. Dan aku tak bisa memberikan jawaban kepadamu, sebab aku bukan Khidir dan engkau bukan Musa!“ Lebih lanjut ia berkata,”Pikirkanlah olehmu apa yang kujalani ini. Kalau engkau belum juga mendapatkan jawabannya, daripada otak kau karot, lebih baik engkau berpendapat: Fauzi gila!“&lt;br /&gt;   Mat Belatong berpikir beberapa saat, dan akhirnya ia berkata,”&lt;em&gt;Maaf Beb, sampai di sinilah ana bisa mengikuti ente. Memang ana tak mampu. Besok lusa entah apa lagi yang akan ente buat!“&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;   &lt;em&gt;“Assalamu’alaikum Beb, vaya condios,”&lt;/em&gt; lanjut Mat Belatong sambil balik belakang setelah menyalami pria bernama Fauzi itu.&lt;br /&gt;   Mat Belatong bergegas meninggalkan tempat itu, untuk segera sampai ke kampungnya.&lt;br /&gt;   Begitu memasuki mulut kampungnya, Mat Belatong segera berteriak-teriak,”Fauzi gila! Fauzi gila! Kita harus segera menghentikan perbuatannya yang jahil, aniaya dan tak senonoh! Dia telah membunuh dan merusak barang orang!“&lt;br /&gt;   Alhasil, orang kampung jadi pambar. Dan ternyata masalah ini tak hanya jadi perbincangan umum, tetapi sampai dilaporkan juga kepada polisi, instansi berwenang ataupun lembaga terkait lainnya.&lt;br /&gt;   Akhirnya secara beramai-ramai masyarakat di-backup pihak kepolisian, masuk ke hutan untuk menangkap Fauzi.  &lt;br /&gt;   Namun apa yang mereka temukan, tak ada satupun mayat anak kecil, demikian juga sampan yang rusak ataupun pondok ladang.&lt;br /&gt;   Mat Belatong bersumpah-sumpah, bahwa di tepi sungai itulah mereka meninggalkan sampan bocor itu, di bawah pohon asam pauh itulah mayat bocah itu terkapar, dan dekat pohon jaung itulah ia dan Fauzi menemukan pondok ladang.&lt;br /&gt;   Namun apa yang diungkapkan Mat Belatong sama sekali tak ada buktinya. Apa lagi batang hidung Fauzi, sama sekali tak kelihatan.&lt;br /&gt;   Akhirnya orang pulang meninggalkan hutan itu dengan rasa dongkol, marah, dan tak ketinggalan   mengeluarkan sumpah –seranah  terhadap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Ada yang bilang Mat Belatong gila, ada pula yang mengatakan Mat Belatong nak mampos, ada pula yang bilang  si Belatong udah syaraf !&lt;br /&gt;   Kalau waktu pergi mencari “si arif Fauzi“ Mat Belatong berbekal sekarung tekad dan harapan, kini ia menyandang berkarung-karung sumpah seranah!&lt;br /&gt;   Tapi ape nak dikate, segala sesuatu telah terjadi. Tinggal Mat Belatong tersandar di rumahnya, letoi, bingung, pening sorang tak habis pikir.&lt;br /&gt;   Apa yang sesungguhnya telah terjadi?&lt;br /&gt;   Apakah memang ia pergi berjalan ke dalam hutan itu dan bertemu Fauzi? Ataukah hanya semacam halusinasi dan ia tidak berjalan sama sekali? Ataukah, ia memang telah berjalan meniti jalan spiritual dan mendapat pengalaman batin, lalu jadi mudarat begini karena dipambarkan kepada orang lain?&lt;br /&gt;   Dan sejak itu sebuah derita lain ia pikul: omongannya sudah tak begitu dipercayai orang. Bahkan telah muncul sebuah pemeo baru di masyarakat bila mendengar “isu-isu“ yang kurang bisa dipercayai: Ah, itukan cuma omongan Mat Belatong! ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;* Inspirasi: berita koran dan kisah di Al-Quran – Surat Kahfi. Kalau ada persamaan nama, anggap saja kebetulan.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;                                                                                                  &lt;br /&gt;(Pontianak, 11 Juni 2005)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-1737028972581495916?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/1737028972581495916/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=1737028972581495916' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/1737028972581495916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/1737028972581495916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-dan-fauzi-gila.html' title='MAT BELATONG DAN “FAUZI  GILA“'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-6151955625732588833</id><published>2007-07-13T23:32:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T11:12:11.258-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG  DAN  MIRAS</title><content type='html'>Oleh  A.Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   MIRAS bisa membunuh, bisa membuat orang sengsara atau setengah mati, sudah pasti ! Makanan yang halal saja, bisa membunuh, apalagi yang haram.&lt;br /&gt;   Mau tahu contoh yang halal bisa membunuh, coba sempalkan buah durian ke mulut orang yang sehat wal afiat, tegap dan kekar, tapi penderita darah tinggi ! Umpan orang-orang hipertensi itu dengan makanan lezat: udang galah, daging kambing. Kalau tak membawa ke lubang kubur, minimal bisa membawa ke rumah sakit.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   Apalagi miras, terlebih lagi miras kampungan (lokal) yang berbahan baku beras di mana proses fermentasi dan pembuatannya sama sekali tak berdasarkan kaidah ilmiah dan higiene !&lt;br /&gt;   Bangsa miras kampungan ini (sebut saja: arak) di tangan kedua – biasanya pembeli per jeriken - yaitu penjual arak kampilan, ditambah lagi dengan berbagai ramuan, konon untuk menimbulkan aroma harum, melezatkan, dan membangkitkan energi!&lt;br /&gt;   Bagaimana jika di antara ramuan itu ada bangkai, semisal anak tikus, daging anjing, ular dan lain-lain!?   &lt;br /&gt;   “Proyek-proyek ke neraka yang ada di muka bumi ini memang harum, lezat dan membuat orang bernafsu dan bersemangat!“ gerutu Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Adapun miras kampungan itu, mulai dari pembuat, peramu maupun konsumennya adalah orang-orang kecil. Miras jenis ini yang paling tingginya resikonya meracuni masyarakat di Kalimantan Barat, paling luas peredaran hingga ke kampung-kampung.   Pun paling marak penggunaannya di kalangan generasi muda (yang tua tak perlu disebut:  memang sudah bau tanah!)&lt;br /&gt;   Sebab, miras lokal ini murah meriah untuk berteler ria, paling efektif peracunannya untuk membunuh masa depan! &lt;br /&gt;   Mereka membuat racun, lalu mereka yang lain bersedia meminum racun untuk mencapai ekstase semu, kesenangan sesaat!&lt;br /&gt;   Pembuat miras, peramu miras, konsumen miras, pasti pemeluk sesuatu agama. Namun dalil agama sama sekali tak masuk ke otak mereka. Di kepala mereka, kalimat Tuhan: mantul ! Tapi mereka tidak pernah digolongkan sebagai “aliran sesat”!&lt;br /&gt;    Sadarkah kita, bahwa miras, madat bisa dipakai untuk “alat perang“, menghancurkan sesuatu kaum atau masyarakat, bahkan suatu bangsa!&lt;br /&gt;   Pernah penjajah Inggris ingin menaklukkan Cina dengan candu! Pernah para pendatang Barat ingin meracuni orang Indian dengan “air api” – miras !&lt;br /&gt;   Akan halnya para pemiras “kelas bawah” itu, etika minumnya pun sangat berlainan dengan pengguna miras terhormat ala Barat.&lt;br /&gt;   Orang Barat minum sekadar untuk menghangatkan tubuh, membantu kelancaran peredaran darah, sekadar untuk membantu pencernaan setelah makan banyak daging. Miras sekadar untuk menunjang kesehatan.&lt;br /&gt;   Tapi peminum kita malah berprinsip: untuk apa minum kalau ndak mabuk!&lt;br /&gt;   Target minumnya : teler, mabuk!  Bahkan keterusan : sampai mati !   &lt;br /&gt;   Dengan target demikian ini memang banyak hal bisa dicapai. Si penakut bisa jadi berani, si pemalu jadi bermuka tebal, si pendiam bisa jadi pengoceh, si waras bisa jadi gila babi, si frustrasi jadi bahagia, si anak jadi kucing nanjal induknya, si bapak jadi ikan gabos melahap anaknya.&lt;br /&gt;   Cornelia Agatha bintang filem yang berperan sebagai Sarah dalam serial Si Doel  berkata : Miras itu biang kejahatan, banyak hal terjadi karenanya. Aku berharap polisi dan seluruh masyarakat bertindak tegas terhadap orang-orang yang membuat miras itu !  &lt;br /&gt;   Kemudian Cornelia berkata lebih lanjut: Aku tak mau kelihatan tolol menenggak miras. Kita bisa kehilangan akal, lalu bicara ngawur. Kan jadi tolol!     &lt;br /&gt;   “Benar kate kau tu Lia,” komentar Mat Belatong, “hanya orang tolol, bodo-bale, pekak-lantak, orang yang asyik di maqam jahiliyah saja yang mau minum miras ! Kalau orang pintar takkan ade! “     &lt;br /&gt;   Sering benar Mat Belatong menyaksikan orang-orang tolol itu, duduk melingkar di depan gang, di pos ronda malam, atau di mana saja, macam komunitas sufi zaman Jalaluddin Rumi ! Tak peduli siang ataupun malam.&lt;br /&gt;   Di depan mereka biasanya terhidang ceret aluminium, berisi sejumlah arak kampil yang telah dicurahkan. Tak cukup dengan ramuan entah-berentah yang telah dimasukkan oleh si penjual arak ke dalam jeriken araknya, mereka tambah lagi dengan berbagai ramuan lain sesuai selera dan target yang ingin dicapai!&lt;br /&gt;   Agar perbuatan tolol makin sempurna, mungkin perlu pula dicoba rasanya bila ditambah dengan: endrin, roundup, baygon, potas, cuka getah, atau tembakau tepek !&lt;br /&gt;   Komunitas Ceret ini bukannya melantunkan zikir dan bait-bait syair cinta kepada Allah seperti halnya komunitas Rumi atau komunitas Grup Nasyid “ Debu “, tapi tepekek-jeret macam kera terjepit biji “kelampai“-nya!&lt;br /&gt;   Adakah mereka tengah mencari “fana” atau berada dalam keadaan “fana”, seperti yang disebut-sebut oleh sementara orang yang menyebut dirinya pengamal tarikat, atau tasawuf ?&lt;br /&gt;   Kalau mereka mencari “fana“ dengan miras, memang paling mudah ketemunya. Bakal merusak dan menghancurkan semua latifah (titik cakra – pusat energi) dan “syaraf Ketuhanan” yang ada di zahir-bathin-nya. Dengan miras, fana memang bermakna: pengrusakan, penghancuran ruhani dan jasmani!&lt;br /&gt;   Lebih dari itu, agar keadaan fana yang ditempuh bisa membuahkan jasad “putih-kuning” setelah mati - tidak cepat busuk – boleh dicoba resep : miras plus formalin !   &lt;br /&gt;   Agar upacara ritual Komunitas Ceret ini lebih lengkap: kalau masuk liang kubur tak perlu dikucur dengan air mawar atau air zam-zam, tetapi siram dengan lonang ! Atau bekalkan dia satu jeriken arak!&lt;br /&gt;   Komunitas Ceret ini, menurut pengamatan Mat Belatong, bisa mencoreng keluhuran sufisme Jalaluddin Rumi, bisa menciptakan citra buruk bagi dunia tarikat dan tasawuf.&lt;br /&gt;   Anggur sufisme bukanlah miras, dia anggur cinta yang dikucurkan Allah dari ceret kerahiman-Nya ke sanubari hamba pilihan-Nya yang membuat pereguknya mabuk dalam cinta Ilahi!&lt;br /&gt;   Seyogianya, dalam hidup ini manusia perlu ingat sebuah nasihat, walaupun keluarnya dari mulut Nabi Muhammad SAW. Namun nilai pitutur ini sangat universal.&lt;br /&gt;   Beliau berkata:  Kutinggalkan untuk kalian dua pemberi nasihat, yang berbicara dan yang berdiam diri. Yang berbicara ialah Kitab Allah, yang berdiam diri tak bersuara ialah maut.&lt;br /&gt;   Selaku orang Indonesia, kita semua beragama, sesuai dengan sila pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Mahas Esa.&lt;br /&gt;   Berarti kita ber-Tuhan, kita punya Kitab Suci, apapun nama kitab itu. Di situ niscaya ada peraturan, ada yang disuruh kerjakan, ada yang dilarang.&lt;br /&gt;   Tentang maut, apa ada orang yang ndak bisa mati? Ateis pun dia tetap jadi bangkai!&lt;br /&gt;   Sebuah kematian, saat sakaratul maut, hendaknya menjadi sebuah momen yang indah bagi seseorang ketika meninggalkan dunia yang penuh tipu muslihat ini! Eloknya, dilalui dengan mudah, lembut dan ringan. Penuh ketenangan, keikhlasan, kegembiraan, dan kehormatan dari Allah.    &lt;br /&gt;   Mau melihat takar seseorang manusia, saksikan saat kematiannya, saat sakaratul mautnya. Sehebat apapun ketokohannya, sebaik apapun kelakuan dan perbuatannya di masyarakat dan mata manusia, saksikan saat kematiannya!  Adakah Allah menghadiahinya dengan kemuliaan, kehormatan, atau permaluan dan penghinaan? Ini bisa tampak jelas pada saat sakaratul maut!&lt;br /&gt;   Apakah yang tampak ketika kita menyaksikan, orang mati dalam keadaan teler, bau nage!? Ada pula waktu mau menghabiskan nyawa menggelepar dan berbuih-buih. Ada pula tatkala sakaratul maut berlari ke sana-sini ingin memanjat dinding!  Belum lagi bila “dihadiahi” kematian di kamar perselingkuhan, di rumah prostitusi, di ruang judi!&lt;br /&gt;   Banyak kesengsaraan dan kehinaan yang terlihat ketika orang melewati gerbang maut. Namun ada pula yang menampilkan keanggunan yang mengagumkan.&lt;br /&gt;   Kematian bisa datang di mana saja, kapan saja. Dan itu bukan akhir dari sebuah kehidupan. Bahkan awal dari kehidupan yang lebih lanjut!&lt;br /&gt;   Ragam sakaratul maut adalah gambaran dari apa yang akan dialami hari berikutnya!&lt;br /&gt;   Pada saat kematian atau sakaratul maut, kita akan mempertontonkan jati diri kita: terhina atau terhormat di mata Allah! Allah berbuat sekehendak-Nya, bisa mempermalukan seseorang di saat kematiannya, bisa pula menampakkan kasih-Nya!&lt;br /&gt;    Tentang miras, Isa putra Maryam Alaihis-Salam, pun ada berkata: Pangkal kesalahan adalah cinta kepada dunia dan wanita, sedangkan belenggu setan dan khamar (miras-pen.) merupakan kunci segala keburukan!  &lt;br /&gt;   Untuk para pemiras dan pembuat kerusakan di muka bumi, tatkala kalimat Tuhan dan nabi tidak lagi digubris, maka dengarlah kata iblis: Aku berlepas tangan dari apa yang kamu perbuat, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah!  &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pontianak 31 Oktober 2005).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-6151955625732588833?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/6151955625732588833/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=6151955625732588833' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/6151955625732588833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/6151955625732588833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-dan-miras.html' title='MAT BELATONG  DAN  MIRAS'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5508551759236279386.post-5647899287578104391</id><published>2007-07-13T20:50:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T11:12:11.258-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>MAT BELATONG   DAN  “KERE  AYEM“</title><content type='html'>Oleh A. Halim R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   MAT Belatong tengah berjalan di kota Pontianak yang panas dan berdebu.&lt;br /&gt;   Tiba-tiba ia dikejutkan oleh kehadiran seorang pemulung yang menghela gerobaknya, persis sapi benggala dan gerobaknya yang pernah ada di Pemangkat sekian tahun yang lalu. Hanya saja, sapi benggala itu menghela gerobaknya sambil geleng-geleng kepala mirip orang sakau menikmati house music. Entah-entah pula tengah berzikir: meniti titik-titik latifah (cakra : sumber energi ) yang ada ditubuhnya.  &lt;br /&gt;   Melihat pemulung itu lewat, Mat Belatong terkagum-kagum. Betapa tidak? Di gerobak pemulung itu tertulis dengan huruf besar-besar bewarna merah: Kere Ayem!&lt;br /&gt;   Mat Belatong membetulkan kaca matanya, sambil melotot : Kari Ayam ataukah Kere Ayem !?  Membayangkan kari ayam, Mat Belatong telior-lior !&lt;br /&gt;   Akhirnya ia paham, yang tertulis di gerobak itu memang: Kere Ayem. Istilah Jawa, yang maknanya kurang-lebih: miskin tapi tenang alias tenteram!&lt;br /&gt;   Luar biasa ! Ternyata, jadi kere saja orang bisa tenang bahagia. Si kere ini pasti termasuk golongan Ibrahim bin Adham raja yang jadi sufi pengembara, atau Sidarta Gautama putra raja yang jadi pertapa!&lt;br /&gt;   Mat Belatong berpikir, kemudian tertawa sendiri. “Pemulung ini termasuk pendekar juga. Nyindir Pemkot secara halus: tak mampu mengatasi masalah sampah kota! Menyindir wujud program pemerintah yang telah berlangsung sekian lama ini: memproduksi kemiskinan masyarakat! Menyindir para koruptor yang tak pernah puas dengan kekayaannya. Menyindir orang-orang yang tahan betombok, tegal berebot duet kompensasi BBM! Menyindir orang-orang miskin yang gelisah, yang gila togel karena ingin kaya mendadak.”&lt;br /&gt;   Di mata Mat Belatong, pemulung yang satu ini luar biasa. Dia ikhlas menjadi pemulung, ikhlas menghela gerobak kemiskinannya. Hatinya tenteram meniti jalan tanpa ujung. Yang demikian ini pasti tak dimiliki oleh semua pemulung dan kaum kere. Pun belum tentu ada di dada setiap orang kaya.&lt;br /&gt;   Mat Belatong ingat dengan cerita Syaikh Abu Yasid Busthami dan anjing hitam. Ia bercanda sendiri sambil tertawa: Siapa yang memasang pakaian kere ke tubuh lelaki itu, apa dosanya di awal kejadian sehingga ia harus menyeret gerobak kemiskinan?!&lt;br /&gt;   Adakah kebodohan telah memiskinkan dia, siapakah yang mengayakan dan memiskin manusia, siapakah yang membuat manusia ketawa dan menangis?&lt;br /&gt;   “Jalan terus Mas Kere, ikat erat cindai qanaah di pinggangmu, jangan lepaskan selimut istiqamah yang telah engkau cap dengan kata: kere ayem, di tubuhmu! Niscaya Allah tersenyum melihatmu, “ucap Mat Belatong.&lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong membayangkan, sesungguhnya ia menyeret gerobak juga. Gerobak dunia, dalam sebuah perjalanan panjang yang tidak berakhir dengan kematian.&lt;br /&gt;   Adakah ia tengah menghela gerobak duniawi yang berat dan meletihkan, padahal perjalanan di dunia ini hanya perjalanan maya yang singkat?&lt;br /&gt;   Adakah ia telah mengisi gerobak dan ambinan di punggungnya dengan barang dunia, yang menyita pikiran dan hatinya, yang sama sekali tak bisa menjamin dirinya untuk bisa melewati gerbang sakaratil maut dengan lembut dan elok ? Adakah gerobak yang dihelanya menjadi beban yang menghimpitnya tatkala memasuki negeri barzah, kemudian membelenggu dirinya tatkala melanjutkan perjalanan ke negeri akhirah?&lt;br /&gt;   Mat Belatong mengusap keringat dan debu di keningnya. Cuaca panas memanggang kota. Mat Belatong berkata sendiri,” Ini baruk panas di pasar padang sayok, belom agik panas di padang mahsyar! “&lt;br /&gt;   Sambil berteduh di emperan toko, Mat Belatong ingat kepada Rasulullah SAW. Beliau pernah berkata: Sesungguhnya perumpamaanku dengan dunia ini penaka seorang pengembara, berteduh sebentar di bawah pohon, kemudian meninggalkannya.&lt;br /&gt;   Aisyah RA isteri Nabi Muhammad SAW bercerita:  Ada seorang wanita Anshar yang masuk ke rumahku. Dia melihat kasur Rasulullah SAW berupa mantel yang ada talinya. Wanita itu pulang, lalu mengutus seseorang sambil membawa kasur yang isinya kain wool. Ketika Rasulullah SAW pulang, masuk ke dalam rumah, beliau bertanya,” Apa ini?” Aku menjawab,” Fulanah Al-Anshariyah masuk ke rumah, dan ia melihat kasurmu. Maka ia mengirimkan kasur ini.” Rasulullah SAW berkata,” Kembalikan lagi kepadanya!” Tapi aku tidak mengembalikan kasur itu karena aku masih menikmati keberadaannya di dalam rumahku, sehingga beliau berkata seperti itu sampai tiga kali kepadaku. Akhirnya beliau berkata, “Wahai Aisyah, kembalikan barang itu. Demi Allah, kalau engkau menghendaki, Allah dapat memberikan kepadaku gunung dari emas dan perak ! “Maka aku pun mengembalikan kasur itu.&lt;br /&gt;   Rasulullah tak ingin menghela gerobak duniawi dalam kembaranya, walaupun hanya berbentuk kasur yang sekadar bisa membuatnya lebih nyaman berbaring. Sehingga tatkala meninggal, beliau tak ada meninggalkan warisan satu dinar, atau satu dirham pun, tidak pula budak laki-laki maupun budak wanita. Beliau hanya meninggalkan sebuah tamengnya yang menjadi jaminan di tangan seorang Yahudi untuk pinjaman tiga puluh shak bahan makanan!&lt;br /&gt;   Sang arif dari negeri Cina – Khong Hu Chu – pun berkata: Dengan makan nasi kasar, minum air tawar dan tangan dilipat sebagai bantal, orang masih dapat merasakan kebahagiaan di dalamnya. Maka harta dan kemuliaan yang tidak berlandaskan kebenaran, bagiku laksana awan berlalu saja!&lt;br /&gt;  Mat Belatong berpikir, tentu Mas Kere Ayem itu paham terhadap ini semua. Alangkah hebatnya dia , menapak jalan dunia hanya memungut apa yang sudah dibuang orang. Ia ikut membersihkan kota dari sampah, tak berharap upah dan bingkisan dari Walikota. Upah diperolehnya dari Allah lewat tangan seorang hamba yang lain.&lt;br /&gt;   Di punggungnya tentu bergayut sekian mulut yang perlu makanan untuk hidup.&lt;br /&gt;   Layak dan cukupkah makanan mereka? Sementara di sekelilingnya menari manusia yang berkelimpahan makanan dan kemewahan.&lt;br /&gt;   “ Mas Kere Ayem, tabah dan sabarlah. Ingin kuhibur engkau dengan sebuah cerita, tatkala engkau terbadai dalam letihmu di sebuah pondok, atau mungkin hanya di emperan toko, beralas koran berselimut embun. Bukan mustahil, engkau pun telah tahu dengan cerita ini, sehingga engkau adem ayem dalam kemiskinan, ” ucap Belatong.&lt;br /&gt;   Lewat hatinya Mat Belatong bertutur: Saad Radhiyallahu Anhu berkata,” Aku adalah orang yang pertama dari bangsa Arab yang terkena anak panah fi sabilillah. Kami pernah bersama Rasulullah SAW, sementara kami tidak mempunyai makanan apa pun kecuali rumput dan daun anggur. Sampai-sampai di antara kami ada yang makan seperti kambing betina yang sedang makan, karena tidak ada yang lain.” Hal yang sama pun diungkapkan oleh Utbah bin Ghazwan ,”  Engkau sudah tahu bahwa aku adalah salah seorang di antara tujuh orang yang bersama Rasulullah SAW, sementara kami tidak memiliki makanan apapun selain dari daun anggur, sampai-sampai ujung mulut kami luka karena memakannnya.”&lt;br /&gt;   Kemudian Mat Belatong melanjutkan tutur kalbunya:&lt;br /&gt;   Abu Hurairah, suatu hari melewati rumah Ibnul Ahnas, lalu ia masuk, yang saat itu mereka sedang makan. “Apa yang kalian makan? “tanya Abu Hurairah.&lt;br /&gt;   “Kami makan roti yang diremukkan dan dicampur kuah dengan daging panggang,” jawab mereka.&lt;br /&gt;   “Sepeninggal Rasulullah SAW justru kalian bisa makan enak,” kata Abu Hurairah, lalu ia pun menangis. Kemudian ia berkata,” Keluarga Rasulullah SAW pernah melewati dua kali kemunculan hilal, sementara api dapur tidak pernah dinyalakan di rumah mereka, tidak ada yang membuat adonan roti dan tidak ada yang memasak.”&lt;br /&gt;   Mereka bertanya,” Lalu bagaimana mereka hidup? “&lt;br /&gt;   Abu Hurairah menjawab,” Dengan al-aswadani, yaitu buah kurma dan air. Beliau juga mempunyai beberapa orang tetangga dari kalangan Anshar, semoga Allah memberikan pahala kebaikan kepada mereka. Mereka memiliki sedikit susu yang mereka hadiahkan kepada keluarga beliau.”                              &lt;br /&gt;   Rasulullah pun pernah berkata,” Tak seorang pun di antara kalian yang amalnya dapat menyelamatkan dirinya. Tidak pula aku, kecuali jika Allah melingkupiku dengan rahmat-Nya. Pergilah kalian pada waktu pagi dan sore hari dan perhatikan sebagian dari akhir malam. Kesederhanaan, kesederhanaan yang mesti kalian capai! “                                        &lt;br /&gt;   Pun beliau pernah berkata,” Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tapi kekayaan itu hanya karena kaya jiwa!“ &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;(Pontianak 22 Oktober 2005) &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5508551759236279386-5647899287578104391?l=pontianakmatbelatong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/feeds/5647899287578104391/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5508551759236279386&amp;postID=5647899287578104391' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/5647899287578104391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5508551759236279386/posts/default/5647899287578104391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pontianakmatbelatong.blogspot.com/2007/07/mat-belatong-dan-kere-ayem.html' title='MAT BELATONG   DAN  “KERE  AYEM“'/><author><name>MAT BELATONG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01469450582972997169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
